
Setelah urusannya dengan ibu mertuanya selesai, Ara segera mencari suaminya karena mendapat laporan dari Sanaya bahwa papinya
sendang mencari.
“Bby …, apa kau di dalam? Apa kau mencariku?” Tanya Ara saat memasuki kamar.
“Ahhhhh …!” Ara benar-benar terkejut saat tiba-tiba tubuhnya melayang di udara. Agra sudah mengangkat tubuhnya dan menjatuhkannya di tempat tidur.
“Sayang ..., hari ini aku sangat bahagia!” ucap Agra sambil menghujani ciuman pada istrinya.
“Apa sih bby, kau ini mengagetkanku saja!” keluh Ara, ia hendak bangun tapi tubuh Agra menahannya.
“Aku sudah tahu kepastiannya sayang!”
“Kepastian apa?”
“Kalau Aril adalah anak Jerry!”
“Oh …., astaga …, jadi kamu tadi mencari tahu
kebenarannya?”
“Iya …!”
Ara menatap suaminya, dan mengelus pipi suaminya. Ia
jadi merasa bersalah, pasti karena ucapannya kemarin membuat suaminya tidak tenang.
“Maafkan aku ya bby!”
“Kenapa malah minta maaf sayang?”
“Karena aku sudah buat kamu kepikiran, bby!”
“Sayang …., kamu tahu, apa yang paling membuatku khawatir!”
“Apa?”
“Saat kamu merasa ragu dengan cintaku, aku aku begitu takut jika sampai itu terjadi. Kau tahu sampai kapanpun tak akan pernah
ada yang bisa menggantikan mu!”
Ucapan suaminya benar-benar membuat Ara terharu, tanpa terasa air mata itu mulai menetes.
“Aku tahu …!”
“Kenapa malah menangis sayang?” Agra segera menghapus air mata istrinya, ia menakup kedua pipi Ara menciumnya di sana,
menyesap air mata itu.
“Aku terharu bby …, kau membuatku menangis!”
“Aku tahu …, aku memang romantis, dan pastinya tampan …!”
“kau ini …, mulai deh …!” Ara kesal dengan gaya
tengil suaminya, ia memukul dada suaminya kesal, tapi bukannya marah Agra malah
memeluknya dengan erat.
__ADS_1
“Aku mencintaimu sayang …., sangat mencintaimu ….!”
“Aku juga ….!”
Di tempat lain, Sanaya yang menunggu hingga pelajaran Sagara dan Abimanyu selesai segera menghampiri mereka. Ia sudah sangat bosan bermain sendiri.
“Gara, Abi …., kalian mau ke mana?” Tanya Sanaya saat melihat Sagara dan Abimanyu berjalan begitu saja melewatinya. Pertanyaan Sanaya berhasil membuat Sagara berhenti.
“Kami mau bermain bola di lapangan belakang, jadi kamu nggak usah ikut!”
“Kenapa nggak boleh ikut?”
“Nanti aku bisa kena marah oma kalau ketahuan ngajak kamu!”
“Aku nggak mau tahu, pokoknya aku mau ikut!” Sanaya memaksa, ia sudah cukup lama menunggu.
“Nay …, jangan keras kepala. Nanti oma marah!”
“Nggak akan marah ….!”
“terserah kau saja lah …!”
Akhirnya Sagara mengijinkan Sanaya untuk ikut dengan mereka, mereka menuju ke lapangan belakang, lapangan umum, di sana biasanya
banyak anak-anak yang sedang bermain bola. Walaupun pergi ke luar tidak terlalu
jauh, mereka tetap di awasi oleh bodyguard.
“Kamu di sini saja ya, kami akan bermain dengan mereka, ok!” Sagara meminta Sanaya untuk duduk di kursi yang ada di samping
lapangan. Sagara segera mengajak Abimanyu untuk bergabung dengan anak-anak itu.
Sanaya hanya menjadi penonton sepanjang Sagara dan Abimanyu bermain bola. Lama-lama Sanaya merasa bosan, ia pun memilih berjalan-jalan, ia meninggalkan tempatnya dengan membawa bonekanya.
Abimanyu yang menyadari Sanaya sudah tidak lagi di tempatnya segera keluar meninggalkan permainan, ia mengedarkan pandangannya
mencari keberadaan Sanaya. Ternyata Sanaya sudah berjalan hendak menuju ke
taman yang berada di seberang jalan.
“Nona ….!” Panggil Abimanyu pada Sanaya, tapi
sepertinya Sanaya tidak mendengarnya. Ia pun segera berlari mendekat ke arah Sanaya.
“Nona berhenti!” panggilan Abimanyu yang kedua akhirnya berhasil di dengar oleh Sanaya, sanaya sudah hamper mencapai taman, ia
menoleh ke arah Abimanyu.
“Ada apa?” Tanya Sanaya.
Abimanyu hendak menyeberang dan menghampiri Sanaya, tapi sebuah sepedah motor melaju dengan kencang mengarah ke Sanaya, membuah Abimanyu begitu terkejut. Abimanyu pun berteriak memperingatkan Sanaya.
‘Nona …, minggir!”
“Apa?” Sanaya tidak bisa mendengar jelas perkataan Abimanyu. Motor semakin dekat membuat Abimanyu segera berlari dan mendorong tubuh Sanaya hingga tubuh mungil Sanaya mendarat di semak-semak.
Brakkkk
Motor itu mengerem tepat waktu, tapi tetap saja, tubuh abimanyu terserempet. Hingga tubuh kecilnya terpental di aspal, motor itu
__ADS_1
juga kehilangan keseimbangan hingga terguling.
Pengendara motor segera bangun dan menghampiri motornya, bukannya menolong Abimanyu, pengendara motor itu segera meninggalkan tubuh Abimanyu yang tergeletak penuh darah.
Abimanyu yang sudah tidak sadarkan
diri dengan luka di tangan, lutut dan kepalanya. Sanaya masih tertegun di
tempatnya, bahkan mulutnya tidak mampu mengeluarkan suara saat melihat darah
yang mengalir dari tubuh Abimanyu.
Untung saja seorang pengguna jalan segera
menghampirinya, ia berusaha mengejar premotor itu, tapi tidak bisa. Ia segera
menghampiri Abimanyu.
“Tolong …., tolong ….!” Teriak pengguna jalan itu,
ia membopong tubuh kecil Abimanyu, bodyguard segera membawa mereka ke dalam
mobil dan salah satu dari mereka menghubungi Agra. Dan salah satu dari mereka
mengejar premotor itu.
Sagara yang melihat kejadian itu dari kejauhan
menjatuhkan bolanya yang berada di tangannya begitu saja. Ia segera berlari
menghampiri Sanaya.
“Nay ….!”
Sagara menggoyang-goyang tubuh Sanaya yang masih
terdiam tertegun. Bodyguard yang menyadari kelalaiannya segera melarikan
Abimanyu ke rumah sakit.
“Kita ikut ke rumah sakit!” ucap Sagara sambil
menuntun Sanaya.
“Jangan tuan muda, nantu tuan marah!”
“Tidak, pokoknya kami ikut!”
Akhirnya Sanaya dan Sagara ikut bersama mereka ke rumah sakit.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘
__ADS_1