
“Ara ...” saat Ara dan Nadin sedang asyik berbincang, tiba-tiba
seseorang menyapanya dari belakang
“Dio ...”
“apa kabar Ra?’’
“aku ..., baik ....” Ara sedikit canggung menjawab sapaan Dio,
keadaannya sekarang sudahh tidak seperti dulu lagi
“bisa kita bicara ...”
“bicaralah ...”
“berdua saja”
“aku rasa sudah tidak ada yang perlu di bicarakan berdua”
“kakak ..., biar aku pergi” tapi segera Ara menarik tangan Nadin
supaya tidak meninggalkannya sambil menggelengkan kepalanya
“tapi kak ...” lagi Ara hanya menggelengkan kepalanya tanda tak
ingin di tinggal
“Ra ..., aku minta maaf, bisakah kau memberiku kesempatan kedua,
aku akan merubah semuanya”
“aku sudah memaafkan, tapi untuk kesempatan kedua maaf, aku tidak
bisa”
“kenapa?”
Tampa mereka sadari ternyata percakapan mereka sudah di lihat
oleh orang yang berdiri tak jauh dari
mereka berbicara
“karena Ara sudah menikah denganku” seketika ucapan Agra
mengagetkan ketiga orang itu
“agra ...” Ara segera menoleh ke sumber suara yang sangat ia kenal
“menikah ...?” Dio masih tak percaya dengan pernyata agra
“ya kami sudah menikah ...” Agra mendekati Ara dan segera
melingkarkan tangannya di pinggang Ara, Ara yang masih berada dalam zona
keterkejutannya belum terlalu siap menerima perlakuan manis Agra
“bisakah kau tak membuat drama seperti itu, itu menyedihkan sekali,
Ara begitu membencimu, kenapa dia harus menikah denganmu” bantah Dio sambil
menarik kerah baju Agra hingga tangganya terlepas dari tubuh Ara, hingga Ara
hampir saja kehilangan keseimbangan, untuk saja Nadin dengan sigap menahan
__ADS_1
tubuh Ara agar tak terjatuh
“cih ...., aku bukan sepertimu yang suka membuat drama” Agra tak
mau kalah, ia pun membalas menarik kerah baju Dio
Bug
Tapi ketidak siapan Agra di manfaatkan Dio, sebuah tonjokan
berhasil melayang di perut Agra
“kau pasti memaksa Ara” teriak Dio
Bug
Setelah sedikit menguasai diri, Agra pun membalas pukulan Dio
“kau , sudah melebihi batas, aku tidak akan mengampunimu” Agra tak
mau kalah, matanya yang sudah membulat sempurna dan dagunya mengeras seakan
ingin memangsa semua yang ada di depannya
Bug bug bug
Baku hantam puntak teralihkan, Ara dan Nadin hanya bisa mencoba
melerai mereka, Nadin memegangi Dio sedangkan Ara memegangi Agra, tapi karena
badan mereka tak sepadan dengan badan kedua pria yang saling bertarung itu,
rasanya usaha Nadin dan Ara untuk melerai sia-sia
“hentikan ...., aku mohon” terikan Ara dan Nadin seakan tidak di
Mereka adalah Rendi dan kedua ajudan Agra
“berhenti pak ...” saat tubuh Agra sudah mampu di pegang oleh Rendi
sedangkan tubuh Dio di pegang oleh kedua ajudan itu
“apa yang kau lakukan? Aku akan menghabisinya ...” teriak Agra tak
terima karena sudah di halangi
“lihat sekeliling anda, apa anda mau seluruh negri ini tahu...,
wajah anda akan berada di laman depan seluruh media” Rendi menyadarkan Agra
agar melihat sekeliling, dan benar sudah banyak orang yang memeperhatikan
mereka
“settthhh ...., lepaskan ....” Agra mengibaskan pegangan Rendi kuat
dan segera menarik tangan Ara meninggalkan tempat itu
Setelah Agra dan Ara tak terlihat lagi, kini Rendi menghampiri Dio
yang masih di pegangi oleh kedua orang berjas hitam itu
“dengarkan baik-baik, ini peringatan terakhirku ..., jangan dekati
nona Ara lagi, jika itu masih terjadi, jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi
__ADS_1
padamu ...” Rendi menajamkan matanya, benar-benar tatapan yang membunuh seperti
singa yang sedang lapar, dingindan menusuk
“lepaskan dia ...” Rendi menyuruh kedua ajudannya untuk melepaskan
Dio
Rendi meninggalkan Dio dan Nadin berdua saja, saat Rendi dan kedua
orang itu tak terlihat lagi, Nadin pun mendekati Dio yang begitu kacau dan
babak belur
“kak Dio ...., pasti sakit sekali ...” Nadin menyentuh ujung bibir
Dio yang berdarah, dan pipinya yang sudah lebam
“katakan padaku ...” suara Dio lemah
“apa kak ...?”
“katakan ini semua bohong ..., itu tidak benar kan ...” dio
mencengkeram kedua bahu Nadin dan menggoyangkannya keras hingga Nadin merasakan
kesakitan
“hentikan kak ....”
“katakan padaku , Nadin” dio meninggikan suaranya
“iya kak ..., itu semua benar ....” Nadin pun ikut berteriak
“berhenti mengharapkan kak Ara untuk kembali”
“ini tidak mungkin ..., ini tidak mungkin.....” Dio menjatuhkan
tubuhnya di atas tanah, ia duduk dengan lunglai, air matanya tampak menggenang
di pelupuk mata
“aku akan mengobatimu kak ...” Nadin ikut jongkok di depannya,
kemudian meninggalkannya sebentar untuk membeli obat untuk mengobati luka Dio,
mereka kembali duduk di kursi taman, Nadin begitu telaten mengobatinya
“seandainya kakak tahu ..., aku begitu mencintaimu kak ......”
batin Nadin
***
-
-
-
-
-
JANGAN LUPA KASIH LIKE DAN KOMENTARNYA YA
__ADS_1
BIAR ARA NYA NGGAK BANYAK NANGIS .....
AUTHORNYA JUGA BAKAL NANGIS SEMALAMAN LO KALAU NGGAK DI KASIH VOTE