
Janganlah pernah menyerah ketika Anda masih mampu berusaha lagi. Tidak ada kata berakhir sampai Anda berhenti mencoba” - Brian Dyson
****
Mereka menikmati sarapan bersama, sambil mengobrol santai. Setelah selesai sarapan, mereka menikmati kopi mereka yang sudah mulai dingin.
"Apa rencana pak Roy hari ini?" tanya Salman.
"Kalau pak Salman tidak keberatan, bisakah kita mencari istri dan putri Dafian, kata ibu Dafian meninggalkan surat wasiat untukku."
"Baiklah, kita bisa menunda kepulangan kita, aku akan menemani pak Roy untuk mencari mereka."
"Terimakasih banyak ..."
"Jangan sungkan."
"Ibu ambilkan dulu alamatnya ya ....!" Nani pun masuk ke dalam kamar, dan kembali lagi dengan secarik kertas yang tampak sudah sangat lusuh. Roy pun segera mengambilnya dari tangan Nani. Ia memperhatikan alamat itu.
"Pak Salman, apa kau mengenali daerah ini?" tanya Roy pada Salman. Salman pun segera mengambil kertas itu dari tangan Roy.
"Kita bisa memulai pencarian, kita bisa gunakan map." ucap Salman sambil memperhatikan kertas itu.
"Kalau begitu, bukankah sebaiknya kita berangkat sekarang, karena kita tidak tahu bagaimana medannya nanti." usul Salman.
"Ya, pak Salman benar, aku ambil tasku dulu." Roy pun segera masuk ke dalam kamar yang semalam ia tinggali, ia mengambil tas kecil yang selalu ia bawa kemana-mana, tak lupa ia juga mengambil hp yang semenjak semalam telah ia cas.
Roy kembali keluar, ia berpamitan pada Nani, ibunya.
"Kalian akan kembali ke sini kan?" tanya Nani sendu, terlihat sekali begitu berat melepaskan putranya itu.
"Iya ibu, kami pasti kembali, kami akan membawa ibu ke Jakarta." ucap Roy menenangkan ibunya.
"Ya sudah ibu restui kalian, hati-hati di jalan."
***
Roy dan Salman kembali melakukan pencarian, mereka melakukan pencarian hanya berbekal secarik kertas yang berisi alamat dan jaringan internet.
Mereka harus menempuh perjalanan hingga tiga jam dari pusat kota Samarinda menuju ke sebuah desa yang ada dalam kertas itu. Jaringan internet pun kini sudah menghilang. Sekarang mereka hanya mengandalkan kertas itu dan berkali-kali harus turun untuk bertanya pada pejalan kaki yang lalu lalang.
Jalanannya pun tak semulus saat mereka di pusat kota. Kini mereka harus melewati jalanan aspal yang sudah berlubang di sana-sini, dengan batu-batu yang saling menonjolkan diri.
Setelah sekian banyak orang yang di tanyai, akhirnya mereka sampai pada sebuah rumah yang lebih mirip seperti gubuk.
"Permisi .....!" ucap Roy mengetuk pintu yang tertutup itu, pintu itu seperti hampir lepas dari engselnya.
"Pak Roy, sepertinya rumah ini kosong." ucap Salman.
"Iya ....!"
__ADS_1
Kemudian melintaslah di depan mereka. Seorang ibu dengan menggendong bayinya.
"Maaf ...., bolehkah kami bertanya?" Salman segera menghampiri wanita itu.
"Iya pak, ada apa?"
"Pemilik rumah ini kemana ya?"
"Mbak Dewi?"
"Iya...!"
"Biasanya, kalau jam segini mbak Dewi di ladang, pak."
"Putrinya?"
"Putrinya di kota, katanya putrinya sedang kuliah. Tapi jika hari sabtu seperti ini, putrinya pasti pulang pak. oh .... itu putrinya ...!" ucap wanita itu sambil menunjuk seorang gadis yang baru saja turun dari motornya.
"Siapa bi?" tanya gadis itu, saat menghampiri mereka.
"Mereka mencari ibumu."
"Ibu ....?"
Penampilan mereka sepertinya orang kaya, siapa mereka, apa mereka salah satu penagih hutang? Batin gadis itu.
"Maaf bapak-bapak, kalau kedatangan kalian ke sini hanya untuk menagih hutang bapak saya, saya harap kalian pergi saja dari sini, itu tidak akan ada gunanya. Apa kalian tidak bisa lihat, rumah kami saja reyot, bagaimana kami bisa membayar hutangnya." Gadis itu begitu terlihat marah.
"Maaf, bukan itu maksud kedatangan kami." Salman mencoba menjelaskan.
"Sudah banyak yang bicara seperti itu, jadi aku mohon! Pergilah dari sini, jangan ganggu hidup kami lagi." ucap gadis itu sambil menakupkan kedua tangannya di depan dadanya.
Toy yang sedari tadi masih di depan pintu dan hanya melihatnya. Ia pun segera menghampiri Salman dan gadis itu.
"Maaf nak, benar ...., kedatangan kami bukan untuk menagih hutang." ucap Roy.
Gadis itu mengalihkan tatapannya. Tatapan yang awalnya begitu tajam dan penuh amarah, seketika berubah saat melihat Roy.
"Bapak .....!" ucapan gadis itu tercekat di tenggorokan.
Mereka di kejutkan kembali oleh kedatangan seseorang, seseorang itu tampak begitu terkejut hingga semua barang bawaannya terjatuh ke tanah.
"Mas Dafian .....!"
****
Setelah keluar dari keterkejutannya. Akhirnya Salman dan Roy di persilahkan masuk.
"Minumlah ...." Dewi menaruh dua gelas teh di atas meja.
__ADS_1
"Duduklah nyonya!" perintah Salman. Dewi dan putrinya pun duduk berjejer di kursi kayu yang tampak sudah hampir lapuk itu.
"Siapa kalian? Dan kenapa wajah anda mirip almarhum suami saya?" tanya Dewi.
"Biar pak Roy yang menjelaskan, silahkan pak Roy." ucap Salman. ia meminta Roy untuk menjelaskannya sendiri.
Roy pun memposisikan diri, bersiap untuk menjelaskan.
"Jadi kami datang dari jakarta. Tujuan kami datang ke sini adalah untuk mencari saudara kembar saya."
"Saudara kembar?" tanya gadis itu tampak tidak sabar. Dewi pun segera memegang tangan putrinya itu. Memintanya untuk diam terlebih dulu.
"Sesampai di sini, ternyata saya mendapat berita bahwa saudara kembar saya sudah meninggal. Saya bertemu dengan ibu saya, beliau memberitahu bahwa ia meninggalkan surat wasiat untuk saya, itulah kenapa saya datang ke sini."
"Jadi anda saudara kembar suami saya?" tanya Dewi.
"Jika suami anda Dafian Wijaya, ya karena saya Roy Wijaya."
"Setelah tahu bahwa saya istri saudara kembar anda, lalu apa yang akan anda lakukan?"
"Saya datang ke sini untuk melihat surat wasiat itu." ucap Roy tegas.
"Ibu menyimpan surat wasiat?" tanya putrinya pada Dewi.
"Iya nak, tapi ibu tidak pernah membukanya, ibu terlalu takut, jika isi surat wasiat itu berisi tentang hutang-hutang bapakmu, ibu tidak sanggup jika harus membayarnya. Makanya ibu memilih meninggalkan kota dan tinggal di sini." ucap Dewi dengan air mata yang berurai.
"Bisakah kami melihatnya, nyonya?" tanya Salman.
"Baiklah biar saya ambilkan dulu." ucap Dewi lalu pergi meninggalkan mereka. Dan tak berapa lama ia kembali dengan membawa sebuah amplop besar, amplop itu tampak lusuh dan berdebu.
"Maaf ..., amplopnya berdebu, karena saya menyimpannya di atas lemari." ucap Dewi sambil menyingkirkan debu-debu yang menempel di amplop itu.
Setelah lebih bersih akhirnya Dewi menyerahkan amplop itu pada Roy. Roy membolak-balik amplop yang masih merekat erat itu. Sangat jelas jika amplop itu tidak pernah di buka sekalipun.
Roy membuka perekatnya. Di dalamnya ada selembar kertas, dengan sangat hati-hati Roy membukanya.
****
**Cara paling mendasar dan kuat untuk terhubung dengan orang lain adalah dengan mendengarkan. Cukup Dengarkan. Mungkin hal terpenting yang bisa kita berikan kepada orang lain adalah perhatian kita” - Rachel Naomi Remen
BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya
Terimakasih
Happy reading 😘😘😘😘😘**
__ADS_1