
Sanaya dan Abimanyu sudah keluar dari kantin, mereka
berjalan beriringan. Sesekali terlihat Sanaya tertawa setiap kali berhasil menjahili Abimanyu, sebenarnya Sanaya anak yang baik hanya saja banyak anak
perempuan yang tidak begitu suka dengan Sanaya karena menurut mereka Sanaya
terlalu banyak yang mengagumi, hampir semua cowok di sekolah itu menjadikan sanaya sebagai tolak ukur cewek mereka.
Dia tidak pernah punya teman dekat selain Riska, entah karena apa Riska mau dekat dengan Sanaya. Mungkin salah satunya karena ia suka sama Abimanyu, ia tahu jika saudara kembar Sanaya adalah teman dekat
Abimanyu.
Semacam simbiosis mutualisme.
Sanya butuh teman dan Riska butuh dekat dengan Abimanyu, tapi bukannya selama ini Sanaya tidak membantu Riska tapi memang Abi bukan orang yang mudah untuk di dekati.
Abimanyu sengaja mengantar Sanaya sampai di kelasnya.
“Makasih ya Bi, kalau setiap hari kayak gini, uang saku kamu habis dong!”
“Jangan khawatir, kamu lupa kalau aku sudah kerja!”
“Ahhhh iya …!”
Sanaya menghentikan langkahnya dan menoleh kepada
Abimanyu saat mengingat sesuatu membuat pria itu ikut berhenti.
“Ada apa?”
“kenapa aku tidak melihat Sagara? Dia ke mana?”
“Dia harus menyiapkan materi untuk nanti sore, dia sekarang ada di perpustakaan!”
“Kasihan Gara …, bisa-bisa wajahnya jadi kayak buku
dia!”
Walaupun dia juga di hukum, tapi setidaknya hukumannya lebih ringan dari Sagara. Ia tidak bisa membayangkan kalau
hukumannya di balik. Ia pasti bisa gila gara-gara setiap hari setiap waktu
harus belajar.
Mereka kembali berjalan, hingga akhirnya sampai juga
di depan kelas Sanaya.
“Aku pergi ya!” ucap Abimanyu, tapi belum sampai ia
benar-benar meninggalkan Sanaya tiba-tiba seorang anak laki-laki menghampiri
mereka.
“Hai Nay …!” sapanya. Aditya, anak dengan penampilan
ugal-ugalan itu sudah tersenyum padanya.
Sanaya tidak kalah terkejutnya, “Kamu?”
Anak itu benar-benar seperti jelangkung, datang
tidak di jemput dan pulang tak di antar.
“Terimakasih ya bajunya!” ucap Aditya sambil mengacungkan surat yang di tulis oleh Sanaya, “Dan ini!”
“Sama-sama, seharusnya aku yang terimakasih!”
Abimanyu mengamati kedekatan sanaya dengan anak
laki-laki itu, sebelumnya sanaya tidak pernah sedekat itu dengan anak laki-laki selain dirinya dan Sagara. Katanya ia tidak ingin membuat anak-anak itu baper,
tapi kenapa ini rasanya beda.
“Lupakan!” ucap Aditya.
Kemudian Aditya mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya,
“Ini punya kamu ya?”
Sebuah buku yang tadi pagi sudah membuat geger. Sebuah
buku bersampul pink dengan nama Sanaya di bagian depannya.
__ADS_1
Sanaya segera menyahutnya dan memastikan jika itu
benar bukunya. Abimanyu juga tidak kalas penasarannya.
Sanaya menatap tajam pada Aditya, ia butuh kejelasan
tentang bukunya, “Kok bisa ada sama kamu?”
Tidak mungkin jika anak laki-laki itu yang melakukan,
kalau iya lalu modusnya apa?
“Tidak sengaja tadi pagi pas aku di belakang sekolah
tiba-tiba buku ini jatuh menimpa kepalaku, aku pikir mungkin kamu tidak sengaja
menjatuhkannya makanya aku kembalikan, mungkin kamu butuh!”
“Di jatuhkan?” tanya Sanaya dan abimanyu bersamaan. Lalu
barulah aditya sadar jika ada orang lain bersama Sanaya di sama. Ia mengamati
Abimanyu, seperti pernah melihatnya.
“Dimana ya aku lihat lo?” tanya Aditya.
“Dia saingan lo!” ucap Sanaya.
“Saingan? Maksudnya saingan apa nih?” tanya Aditya
sambil mengerutkan keningnya hingga alis tebalnya menyatu.
“Abimanyu ini yang juara dua kemarin pas olimpiade!”
“Wow …, keren! Rupanya salah satu anak jenius ya!”
Abimanyu memilih tidak menanggapi ucapan Aditya.
“Aku pergi dulu ya!” pamit Abimanyu sambil mengusap
kepala Sanaya lalu pergi begitu saja.
Sanaya terus menatap punggung Abimanyu hingga punggung itu menghilang di balik kelokan.
“Suka ya sama dia?” pertanyaan Aditya itu membuat
“Nggak, cuma dia baik banget sama aku!”
“Aku juga baik, tapi kamu nggak pernah mandang aku
kayak gitu!”
“Memang aku harus mandang semua orang baik gitu?”
“Tadi kamu sendiri yang bilang kalau kamu mandang
dia gara-gara dia baik!”
“ihhhh kenapa setiap kali debat sama kamu aku selalu
nggak menang ya?”
“Karena kamu belum kenal sama aku!”
Tetttttt tetttttt tettttt
Bel berbunyi membuat perbincangan mereka terhenti
dan mereka harus kembali ke kelasnya masing-masing.
Di dalam kelas, Sanaya terus menatap bukunya, ia
melihat ke jendela yang tidak jauh dari tempat duduknya.
Kalau jatuhnya ke belakang sekolah, belakang kelas ini berarti besar kemungkinan
kalau pelakunya anak kelas ini …., batin Sanaya.
Lalu ia pun menoleh pada Riska, semenjak kejadian
dia makan siang di kantin dengan Abimanyu, Riska masih marah padanya.
Atau jangan-jangan
__ADS_1
Riska yang melakukannya gara-gara dia kesal sama aku karena aku dekat dengan
Abi …., batin Sanaya.
Anak perempuan itu memilih tetap cuek padanya
membuat Sanaya semakin curiga.
Ahhh masak sih Riska setega itu …, atau masih ariel …?
***
Hari terus bergilir, pagi ini Sanaya sengaja
berangkat lebih pagi dari biasanya. Ia berangkat bersama
sopir dan tidak menunggu Sagara.
Ia ingin tahu siapa yang melakukan itu padanya.
Sanaya langsung menuju ke belakang gedung sekolah. Mendongakkan kepalanya tepat
kea rah kelasnya.
“Tinggi juga, kan kalau kayak gini nggak keliatan
siapa yang melakukannya!” gumamnya.
Sanaya masih terus mendongakkan kepalanya, ia
berharap punya bukti yang bisa di jadikan petunjuk. Bahkan hingga sekolah itu
semakin ramai, Sanaya masih setia di tempat itu.
Bel sekolah pun sudah berbunyi, Sanaya pun
memutuskan untuk kembali ke kelasanya saja, karena sudah hampir setengah jam di
tempat itu tapi ternyata tidak membuahkan hasil.
Tapi belum juga ia beranjak tiba-tiba saja …
Bukkkk
Sesuatu seperti terjatuh di belakangnya, dengan
reflek Sanaya segera menoleh ke belakang dan ternyata …
“Jelangkung!”
“Kok Jelangkung sih, mana ku bagus loh Aditya!”
“Abis kamu tiba-tiba datang aja tanpa di undang,
trus …!” Sanaya mendongakkan kepalanya, kalau tidak salah anak laki-laki di
depannya itu pasti melompat dari tembok tinggi itu.
“Kamu lompat ya dari sana?”
“Iya …!”
“Curang ihhh …!”
“Aku bukannya curang, aku hanya mencoba memanfaatkan
waktu sebanyak-banyaknya! Coba bayangin kalau aku datang lebih pagi, aku nggak
bisa ngelakuin banyak hal sebelumnya!”
‘Sok sibuk kamu!” ledek Sanaya.
“Memang aku sibuk!" ucap Aditya, "trus kamu ngapain di sini?”
Sanaya pun menjelaskan semuanya pada Aditya dan maksudnya berdiri di tempat itu. Sepertinya Aditya mengerti apa yang di maksud oleh Sanaya. Sebuah barang bukti yang
mungkin dia tahu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰