My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Terimakasih


__ADS_3

Sanaya dan Abimanyu sudah keluar dari kantin, mereka


berjalan beriringan. Sesekali terlihat Sanaya tertawa setiap kali berhasil menjahili Abimanyu, sebenarnya Sanaya anak yang baik hanya saja banyak anak


perempuan yang tidak begitu suka dengan Sanaya karena menurut mereka Sanaya


terlalu banyak yang mengagumi, hampir semua cowok di sekolah itu menjadikan sanaya sebagai tolak ukur cewek mereka.


Dia tidak pernah punya teman dekat selain Riska, entah karena apa Riska mau dekat dengan Sanaya. Mungkin salah satunya karena ia suka sama Abimanyu, ia tahu jika saudara kembar Sanaya adalah teman dekat


Abimanyu.


Semacam simbiosis mutualisme.


Sanya butuh teman dan Riska butuh dekat dengan Abimanyu, tapi bukannya selama ini Sanaya tidak membantu Riska tapi memang Abi bukan orang yang mudah untuk di dekati.


 Abimanyu sengaja mengantar Sanaya sampai di kelasnya.


“Makasih ya Bi, kalau setiap hari kayak gini, uang saku kamu habis dong!”


“Jangan khawatir, kamu lupa kalau aku sudah kerja!”


“Ahhhh iya …!”


Sanaya menghentikan langkahnya dan menoleh kepada


Abimanyu saat mengingat sesuatu membuat pria itu ikut berhenti.


“Ada apa?”


“kenapa aku tidak melihat Sagara? Dia ke mana?”


“Dia harus menyiapkan materi untuk nanti sore, dia sekarang ada di perpustakaan!”


“Kasihan Gara …, bisa-bisa wajahnya jadi kayak buku


dia!”


Walaupun dia juga di hukum, tapi setidaknya hukumannya lebih ringan dari Sagara. Ia tidak bisa membayangkan kalau


hukumannya di balik. Ia pasti bisa gila gara-gara setiap hari setiap waktu


harus belajar.


Mereka kembali berjalan, hingga akhirnya sampai juga


di depan kelas Sanaya.


“Aku pergi ya!” ucap Abimanyu, tapi belum sampai ia


benar-benar meninggalkan Sanaya tiba-tiba seorang anak laki-laki menghampiri


mereka.


“Hai Nay …!” sapanya. Aditya, anak dengan penampilan


ugal-ugalan itu sudah tersenyum padanya.


Sanaya tidak kalah terkejutnya, “Kamu?”


Anak itu benar-benar seperti jelangkung, datang


tidak di jemput dan pulang tak di antar.


“Terimakasih ya bajunya!” ucap Aditya sambil mengacungkan surat yang di tulis oleh Sanaya, “Dan ini!”


“Sama-sama, seharusnya aku yang terimakasih!”


Abimanyu mengamati kedekatan sanaya dengan anak


laki-laki itu, sebelumnya sanaya tidak pernah sedekat itu dengan anak laki-laki selain dirinya dan Sagara. Katanya ia tidak ingin membuat anak-anak itu baper,


tapi kenapa ini rasanya beda.


“Lupakan!” ucap Aditya.


Kemudian Aditya mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya,


“Ini punya kamu ya?”


Sebuah buku yang tadi pagi sudah membuat geger. Sebuah


buku bersampul pink dengan nama Sanaya di bagian depannya.

__ADS_1


Sanaya segera menyahutnya dan memastikan jika itu


benar bukunya. Abimanyu juga tidak kalas penasarannya.


Sanaya menatap tajam pada Aditya, ia butuh kejelasan


tentang bukunya, “Kok bisa ada sama kamu?”


Tidak mungkin jika anak laki-laki itu yang melakukan,


kalau iya lalu modusnya apa?


“Tidak sengaja tadi pagi pas aku di belakang sekolah


tiba-tiba buku ini jatuh menimpa kepalaku, aku pikir mungkin kamu tidak sengaja


menjatuhkannya makanya aku kembalikan, mungkin kamu butuh!”


“Di jatuhkan?” tanya Sanaya dan abimanyu bersamaan. Lalu


barulah aditya sadar jika ada orang lain bersama Sanaya di sama. Ia mengamati


Abimanyu, seperti pernah melihatnya.


“Dimana ya aku lihat lo?” tanya Aditya.


“Dia saingan lo!” ucap Sanaya.


“Saingan? Maksudnya saingan apa nih?” tanya Aditya


sambil mengerutkan keningnya hingga alis tebalnya menyatu.


“Abimanyu ini yang juara dua kemarin pas olimpiade!”


“Wow …, keren! Rupanya salah satu anak jenius ya!”


Abimanyu memilih tidak menanggapi ucapan Aditya.


“Aku pergi dulu ya!” pamit Abimanyu sambil mengusap


kepala Sanaya lalu pergi begitu saja.


Sanaya terus menatap punggung Abimanyu hingga punggung itu menghilang di balik kelokan.


“Suka ya sama dia?” pertanyaan Aditya itu membuat


“Nggak, cuma dia baik banget sama aku!”


“Aku juga baik, tapi kamu nggak pernah mandang aku


kayak gitu!”


“Memang aku harus mandang semua orang baik gitu?”


“Tadi kamu sendiri yang bilang kalau kamu mandang


dia gara-gara dia baik!”


“ihhhh kenapa setiap kali debat sama kamu aku selalu


nggak menang ya?”


“Karena kamu belum kenal sama aku!”


Tetttttt tetttttt tettttt


Bel berbunyi membuat perbincangan mereka terhenti


dan mereka harus kembali ke kelasnya masing-masing.


Di dalam kelas, Sanaya terus menatap bukunya, ia


melihat ke jendela yang tidak jauh dari tempat duduknya.


Kalau jatuhnya ke belakang sekolah, belakang kelas ini berarti besar kemungkinan


kalau pelakunya anak kelas ini …., batin Sanaya.


Lalu ia pun menoleh pada Riska, semenjak kejadian


dia makan siang di kantin dengan Abimanyu, Riska masih marah padanya.


Atau jangan-jangan

__ADS_1


Riska yang melakukannya gara-gara dia kesal sama aku karena aku dekat dengan


Abi …., batin Sanaya.


Anak perempuan itu memilih tetap cuek padanya


membuat Sanaya semakin curiga.


Ahhh masak sih Riska setega itu …, atau masih ariel …?


***


Hari terus bergilir, pagi ini Sanaya sengaja


berangkat lebih pagi dari biasanya. Ia berangkat bersama


sopir dan tidak menunggu Sagara.


Ia ingin tahu siapa yang melakukan itu padanya.


Sanaya langsung menuju ke belakang gedung sekolah. Mendongakkan kepalanya tepat


kea rah kelasnya.


“Tinggi juga, kan kalau kayak gini nggak keliatan


siapa yang melakukannya!” gumamnya.


Sanaya masih terus mendongakkan kepalanya, ia


berharap punya bukti yang bisa di jadikan petunjuk. Bahkan hingga sekolah itu


semakin ramai, Sanaya masih setia di tempat itu.


Bel sekolah pun sudah berbunyi, Sanaya pun


memutuskan untuk kembali ke kelasanya saja, karena sudah hampir setengah jam di


tempat itu tapi ternyata tidak membuahkan hasil.


Tapi belum juga ia beranjak tiba-tiba saja …


Bukkkk


Sesuatu seperti terjatuh di belakangnya, dengan


reflek Sanaya segera menoleh ke belakang dan ternyata …


“Jelangkung!”


“Kok Jelangkung sih, mana ku bagus loh Aditya!”


“Abis kamu tiba-tiba datang aja tanpa di undang,


trus …!” Sanaya mendongakkan kepalanya, kalau tidak salah anak laki-laki di


depannya itu pasti melompat dari tembok tinggi itu.


“Kamu lompat ya dari sana?”


“Iya …!”


“Curang ihhh …!”


“Aku bukannya curang, aku hanya mencoba memanfaatkan


waktu sebanyak-banyaknya! Coba bayangin kalau aku datang lebih pagi, aku nggak


bisa ngelakuin banyak hal sebelumnya!”


‘Sok sibuk kamu!” ledek Sanaya.


“Memang aku sibuk!" ucap Aditya, "trus kamu ngapain di sini?”


Sanaya pun menjelaskan semuanya pada Aditya dan maksudnya berdiri di tempat itu. Sepertinya Aditya mengerti apa yang di maksud oleh Sanaya. Sebuah barang bukti yang


mungkin dia tahu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2