
pagi yang cerah mengiringi hari ini, sinar mentari dengan hangat dan penuh kelembutan meresap dalam tubuh, Ara begitu menikmati belaian hangat sang mentari, ia menengadahkan tangannya menyapa mentari pagi di balkon kamar itu
setelah puas menikmati matahari pagi, ia kembali masuk ke dalam kamar, ia memperhatikan laki-laki yang sedang santai di atas tempat tidur dengan sebuah buku di tangannya
“apa kau ada acara?” tanyanya sambil berjalan mendekat, ara yang tadinya ingin turun untuk mengambil minum ia
urungkan niatnya dan ikut duduk di samping Agra
“kenapa?” Agra masih tak beralih dari buku yang ia baca
“aku ingin jalan-jalan, boleh ya?” Ara memiringkan wajahnya agar bisa melihat ekspresi wajah suaminya
“bukankah ibu melarangmu keluar?” Agra balik bertanya
“tapi jika aku keluar bersamamu , boleh ....” karena Ara benar-benar merasa bosan di rumah sepanjang hari, ia berfikir mungkin jika bisa keluar dengan Agra , ia bisa menikmati udara segar di luar
“tapi aku ada janji dengan Rendi dan dokter frans, jika kau ikut
kau pasti akan bosan” Agra mulai menutup bukunya dan beralih menatap Ara
“kau mau ke mana?” tanya Ara curiga karena hari ini hari sbtu mana mungkin ia pergi bekerja
“kami akan nongkrong, aku sudah lama tidak nongkrong bersama mereka”
“kau curang, kau bisa nongkrong sana sini, sedang aku ..., aku
harus menyepi di sini” gerutu Ara dengan wajah sebalnya dan di buat begitu memprihatinkan
“trus aku harus bagaimana? Kau mau ikut?” Agra merasa tidak tega
dengan Ara yang memang sudah dua minggu ini waktunya di habiskan di dalam rumah
“ya ...., aku ikut denganmu keluar, aku janji tidak akan merepotkanmu" lagi-lagi Ara menunjukkan wajah memelasnya " setelah itu aku akan menemui
Nadin, gimana?” tapi pria depannya masih tak mau begeming
"pliiisssss ......."
“baiklah, aku antar kamu ke rumah” akhirnya Agra mengijinkannya untuk ikut
“tidak..., antar saja aku ke kampus Nadin”
“kenapa?”
“ayah masih marah padaku ...”
“baiklah ...., siap-siaplah ...”
Tak butuh waktu lama, Ara pun sudah siap dengan mengenakan
baju polos warna putih dan celana warna abu-abu dipadukan dengan flatshoesnya
dan lagi tanpa kaca mata
__ADS_1
“aku siap ...” Ara keluar dengan senyum yang begitu indah menambah lengkap kecerahan pagi ini, membuat pria di depannya tak mampu beralih dari memandangnya
“kenapa kau cantik sekali?” gumam Agra tapi masih bisa di denga oleh Ara
“aku memang cantik” Ara yang merasa di puji benar-benar merasa bahagia
"bukan kau yang cantik, tapi bajumu, itu kan baju yang aku belikan kemarin, pilihanku memang tidak salah ..." Agra mencoba mencari alasan supaya tidak begitu terlihat jika dia sedang mengagumi gadis di depannya
"baju polos kayak gini di bilang cantik ...." gerutu Ara
“pakai kaca
matamu”perintah Agra saat memperhatikan ada yang berbeda dari Ara, yaitu tidak memakai kaca matamu
“kenapa aku harus pakai kaca mata? aku masih bis melihat jalan, Aku kan tidak mau membaca berbagai macam berkas,
aku tidak perlu kaca mata”
"aku tidak mau tahu, pakai kaca matamu, jika tidak, tidak usah pergi" Agra meninggikan suaranya
"menyebalkan ...." gerutu Ara
“terserah ..., tapi aku tidak mengijinkanmu pergi” Agra masih teguh dengan pendiriannya
"dasar..., jiwa bosnya kumat..., suka sekali menindasku" batin Ara
“dasar kau ini ..., merepotkan saja” gerutu Ara, tapi mau bagaimana
Agra dan Ara pun akhirnya turun, di bawah sudah ada ibu yang sedang
santai di ruang keluarga karena hari ini hari minggu jadi Ratih pun
menghabiskan waktunya untuk bersantai
“bu ....” Ara segera menyapa ibu mertuanya
“mau ke mana? Bukankah aku sudah melarangmu untuk tetap di
rumah” pandangan Ratih tajam menatap Ara
“Ara keluar denganku ...” Agra menjawab pertanyaan yang di ajukan
pada Ara dengan suara datarnya
“tapi dia tidak boleh kecapekan” batah Ratin
“aku yang akan menjaminnya”
“baiklah terserah kalian saja” Akhirnya ratih harus menyerah
“kami pergi dulu bu ...” ara menghampiri Ratih dan mencium punggung
tangannya, setelah selesai agra pun langsung menarik tangan Ara, tanpa menyapa
__ADS_1
ibunya
Setelah sampai di samping mobil yang akan di kendarainya, Ara pun
menarik tangannya
“kenapa lagi?” Agra sedikit kesal saat Ara menarik tangannya keras
“kamu yang kenapa? Kenapa sikapmu seperti itu pada ibumu ...? kau
membuatku takut”
“bukan urusanmu, cepat masuk” Agra pun membukakan pintu untuk Ara
“dasar keras kepala” gerutu Ara sambil masuk ke dalam mobil, dan di
susul Agra yang juga duduk di sampingnya
“kenapa tidak pakek sopir?” tanya Ara saat agra duduk di kemudi
“memang kau ingin orang rumah tahu jika kau tidak pergi denganku?”
“tidak”
“maka diamlah, jangan banyak bertanya, karena tembok pun bisa
mendengarkan obrolan kita” akhirnya ara pun hanya bisa diam tak banyak bertanya
lagi
“pakai seatbeltmu ...” perintah Agra saat sudah siap dengan mesin
yang sudah menyala, Ara tampak kesusahan memakainya
“tidak bisa?” tanya Agra lagi saat melihat Ara masih kesulitan
mengenakannya, Ara pun hanya mengangguk, tanpa basa-basi Agra langsung mendekat
pada tubuh Ara , begitu sangat dekat, pandangan mereka saling bertemu
Deg
Dan degupan jantung Agra, entah kenapa bisa bekerja dua kali lebih
cepat saat melihat mata Ara. Setelah selesai memasangkan seatbelt Ara, agra pun
segera menarik tubuhnya menjauh dari Ara
Ara pun juga tersadat dari ketarpanaannya terhadap wajah tampan
Agra bersamaan dengan beralihnya pria itu dari tubuhnya
****
__ADS_1