My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
extra part 2


__ADS_3

Jangan membenci mereka yang mengatakan hal buruk tuk menjatuhkanmu, karena merekalah yang buatmu semakin kuat setiap hari.


***


Berbagai macam bentuk masalah yang senantiasa membuat hidup kita semakin sulit baik secara fisik maupun mental. Terkadang kita membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat kita untuk senantiasa membuat hidup kita lebih berarti.


"Sayang apa kau bahagia?" tanya Agra sambil tak hentinya ia memandangi kedua malaikat kecilnya yang sedang tertidur.


"Aku sangat bahagia bby. Kehidupan kita tak ubah layaknya roda kehidupan yang terus berputar, terkadang kita sering merasa masalah yang kita hadapi berat dan membuat kita berpikir bahwa masalah tersebut tidak akan berlalu.


Namun percayalah, semua hal di dunia ini tidak ada yang permanen dan suatu saat akan berlalu termasuk masalah kita." ucap Ara sambil memeluk suaminya dari belakang. Ia melingkarkan lengannya di pinggang suaminya.


"Ya ...., aku suka dengan pemikiranmu sayang. Memang rasanya sulit untuk berpikir positif ketika sedang tertimpa masalah, namun perlu diingat dengan berpikir positif kita mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari masalah yang sedang kita alami.


Bahkan dengan bersikap positif, kita bisa tetap tenang dalam menghadapi masalah yang muncul dan mencari solusi yang terbaik dalam menyelesaikannya."


"Ya aku ingat sekali bby. Bagaimana kau mencurigai ibu dan Rendi ..." ucap Ara sambil mencubit pipi Agra. Agra pun segera membalik badannya dan memeluk istrinya itu.


***


Lusa adalah tasyakuran kelahiran baby kembar. Rumah besar itu terlihat begitu sibuk. Semua pelayan sibuk menyiapkan untuk acara besok.


"Kita akan mengundang siapa saja bby?" tanya Ara sambil memangku Sanaya.


"Kita akan mengundang tetangga kita di kontrakan. karyawan kafe dan tamu-tamu ibu, apa masih ada yang ingin kau undang?" tanya Agra pada istrinya.


"Aku rasa cukup bby ..."


***


Di rumah sederhana itu tiba-tiba ramai karena kedatangan seseorang yang tak di duga.


Pria paruh baya itu dengan beberapa ajudannya.


"Selamat siang ..." Sapa pria itu. dia adalah Salma.


"Tuan Salman ....., selamat siang ...." jawab Nadin terlihat bertanya-tanya.


"Apa ayahmu ada?"


"Ayah .....?"


"Iya ..., ayahmu. Apa beliau ada?" Tanya Salman dengan sangat hangat. tak sedingun biasanya.


"Ayah sedang keluar sebentar. Apa tuan ingin menunggunya?"

__ADS_1


"Tentu aku akan menunggunya."


"Silahkan duduk tuang, biar aku ambilkan minum." Nadin pun mempersilahkan Salman untuk duduk di kursi yang ada di teras rumahnya. Tanpa sungkan Salman pun segera duduk.


Tak berapa lama Nadin kembali dengan membawa nampan yang berisi satu cangkir minuman.


"Silahkan minum tuan ...."


"Terimakasih ....., bisakah temani aku selama menunggu ayahmu datang."


"Tentu ...., tentu tuan."


"Duduklah ...." Salman menyuruh Nadin untuk duduk di kursi kosong di sebelahnya, hanya terpisah meja kecil di sana.


"Ngomong-ngomong ...., kau boleh memanggilku paman saja." ucap Salman saat Nadin sudah duduk.


"Saya merasa tidak pantas, tuan ..." Nadin sedari tadi hanya menunduk.


"Jangan sungkan begitu ...., Paman dari dulu sangat menginginkan mempunyai putri. Pasti jika punya putri hidup paman tidak akan sesepi sekarang."


Ya ... hari ini Salman begitu berbeda. Dia tidak irit bicara seperti biasanya.


"Pa-man ...." ucap Nadin. ia begitu kaku untuk mengucapkannya.


Obrolan mereka harus terhenti ketika motor milik Roy berhenti di halaman di samping mobil Salman yang sedang terparkir.


"Itu ayah sudah datang, Paman .," Nadin pun segera berdiri dari duduknya.


"Pak Salman ...."


"Maaf pak Roy jika kehadiran saya mengagetkan anda."


"Jangan sungkan pak Salman." Roy pun segera duduk di tempat yang baru saja di duduki Nadin.


"Apa gerangan yang membuat pak Salman singgah di gubuk saya ini?" tanya Roy.


"Saya ada kabar baik buat pak Roy."


"Kabar baik."


"Iya ...., Anak buah saya sudah berhasil menemukan keberadaan saudara kembar pak Roy."


"Benarkah ...? Apa saya tidak salah dengar pak?"


"Benar pak Roy ....., saya sudah memenuhi janji saya pada pak Roy."

__ADS_1


"Lalu bagaimana?"


"Apa pak Roy tidak oeberatan jika nanti sore kita berangkat ke Samarinda?"


"Nanti sore?"


"Iya ...., karena saya sudah memesan dua tiket untuk kita."


"Tapi lusa bukankah acara tasyakuran kelahiran Cucu-cucu saya, pak?"


"Iya ...., maafkan saya ini duluar dugaan. Tapi mungkin jika kita segera berangkat nanti sore. Jika tidak ada halangan lusa kita sudah bisa kembali. Bagaimana?"


"Baiklah jika begitu saya setuju ...."


"Saya kira sudah cukup yang harus saya sampaikan. Saya permisi dulu. Sampai jumpa nanti sore."


Salman pun segera meninggalkan rumah Roy. Setelah mobil Salman tak terlihat lagi. Roy pun segera masuk ke dalam rumah dan di ikuti Nadin.


"Ayah tidak pa pa pergi hari ini?" tanya Nadin.


"Iya sayang ....., mungkin ini jalan ayah untuk bisa ketemu sama paman kamu."


"Nadin cuma bisa mendo'akan semoga sukses. dan paman bisa berkunjung ke sini."


"Terimakasih sayang ...."


"Nadin bantu berkemas ya yah ..." Roy pun mengangguk. Nadin segera menyibukkan diri untuk mengemas keperluan ayahnya.


***


Sore ini Salman sudah menjemput Roy di rumahnya.


"Hati-hati ya yah ...."


"Kamu jaga diri di rumah. Jangan biarkan rumah kosong terlalu lama. Jangan pulang larut malam."


"Iya ... ayah ." ucap Nadin sambil memeluk ayahnya. "Paman tolong jaga ayahku untukku ya ..." ucap Nadin saat menatap Salman.


"Iya nak ...., paman pasti menjaga ayahmu ...."


"Kami harus segera pergi ...." ucap Salman lagi setelah melihat jam yang melingkar di tangannya.


***


Salah satu hal terbaik dalam hidup adalah melihat senyum di wajah orang tuamu, dan menyadari bahwa kamulah alasannya.

__ADS_1


Happy Reading 😘😘😘😘


__ADS_2