
"Ketika tiba di sebuah persimpangan dan harus memilih jalan yang
dilalui. Terkadang, rasanya seperti berjalan di atas treadmill,
berlarian di tempat yang sama."
*****
Hemmmm
Tiba-tiba sebuah deheman menghentikan aktifitas mereka, ternyata tanpa di sadari oleh mereka berdua,
tak jauh dari tempatnya berdiri sudah ada ibunya Agra dengan tatapan yang
begitu menakutkan
"ibu ..." agra menatap ibunya tak percaya, karena tak biasanya ia berkunjung di apartemen Agra apalagi dalam waktu yang kurang tepat seperti saat ini
"ibu.....?" ternyata Ara tak kalah terkejutnya, ia mengulang kata Agra, karena baru kali ini melihat ibu dari bosnya itu
"ikut aku ..., kita bicara" ibu agra berjalan mendahului mereka, ia duduk dengan elegan di sofa ruang tamu dengan seorang pria paruh baya yang berdiri tegak di belakang ibu agra dia adalah ayah Rendi, tangan kanan ayah Agra dan sekarang menjadi tangan kanan ibunya, dia adalah salman
agra dan ara hanya bisa mengikutinya dan duduk di sofa lain berhadapan dengan ibu agra, tatapan ibu agra masih sama, begitu menyeramkan
Agra menatap Salman tapi masih tak mendapat jawaban
"percuma juga tanya paman ..., pasti ia lebih memilih ibu ..." batin Agra, ia menundukkan pandangannya mencari-cari jawaban sendiri atas sikap ibunya , memang tak bisa di pungkiri tatapan tajam ibunya bisa membuat orang yang melihatnya bergidik ngeri
"dia ibu pak agra ..., tapi kenapa menakutkan sekali ..., pantas sih anak sama ibu sama-sama menakutkan" batin ara
“jadi seperti ini” ibu Agra memulai pembicaraan memecah hawa dingin yang sejak tadimenyelimuti atmosfir ruangan itu, ara hanya bisa menunduk dan terus meremas ujung kaosnya
“ibu salah paham” Agra pun hanya bisa menunduk tak berani terlalu
banyak menjawab ucapan ibunya
“ini tujuanmu tinggal di apartemen, supaya bisa seenaknya sendiri
menghamili anak orang” seketika Ara dan agra terkaget dengan ucapan ibu Agra
“ibu..., biar saya jelaskan tid ...” agra mencoba menjelaskan yang sebenarnya terjadi, tapi kata-katanya yang masih menggantung segera di potong oleh ibunya
"ibu tak mau tahu, kamu harus tanggung jawab"
"tapi bu ..., semuanya tak seperti yang ibu pikirkan, kami tidak ada ..." lagi-lagi ucapan Agra hanya menggantung di udara
“sudah, saya nggak suka ada
__ADS_1
bantahan, lusa kalian harus menikah, saya tidak mau wartawan sampei mengendus
berita ini”
“ini tidak seperti yang nyonya pikirkan, kami bisa jelaskan” Ara
pun ikut bicara tapi tak mampu menatap ibunya Agra, ia bicara sambil menunduk
“keputusan saya sudah bulat” ibu Agra beranjak dari duduknya dan
menuju ke arah pintu hendak keluar dari apartemen Agra,
Salman menbukakan pintu untuk ibu agra, tapi sebelum melangkahkan kakinya keluar, beliau berbalik kenatap mereka berdua
“mulai besok kamu harus tinggal di rumah besar” belum mendapat
jawaban dari Agra , ibunya sudah lebih dulu keluar dari apartemen
"permisi tuan muda ..." Salman menyempatkan berpamitan pada Agra, tapi sebelum keluar dari apartemen agra segera memanggilnya
"paman ..." agra berdiri dan menghampiri Salman
"iya tuan muda ...."
"tolong paman jelaskan pada ibu ya ...., aku mohon ..." agra memohon pada Salman supaya menjelaskan kesalah pahaman ini pada ibunya
"sirtttt ...." agra mengayunkan tinjuannya ke udara mengeluarkan kekesalannya
***
Salman mengikuti Ratin dan berjalan di belakangnya keluar dari gedung apartemen Agra
"silahkan masuk nyonya ..." salman membukakan pintu mobil bagian belakang, ratih pun segera masuk ke dalam mobil tapi sebelum pintu di tutup
"apa anak itu keberatan?"
"iya nyonya, tuan muda meminta saya menjelaskan pada anda"
"baiklah aku mengerti ..." Salman pun segera menutup pintu mobil dan dan kembali membuka pintu depan , segera masuk dan duduk di samping kursi pengemudi
"jalankan pak ..."
"baik tuan"
"besok kita ke rumah gadis itu" ucap Ratih kembali saat mobil sudah mulai berjalan meninggalkan apartemen
***
__ADS_1
Setelah kepergian ibu Agra , meraka hanya bisa saling pandang dan duduk berhadapan di sofa yang mereka duduki bersama ibu agra tadi
“bagaimana ini pak?” Ara begitu panik
“gue juga nggak tau” Agra mengacak rambutnya frustasi
Ibu Agra mengira jika Agra sudah menghamili Ara gara-gara Ara yang
muntah-muntah di tambah lagi dengan percakapan Ara dan Agra barusan membuat
kesalah pahaman itu semakin meyakinkan
“memang bapak nggak bisa bicara sama ibu anda?” badannya yang lemas
tadi kini bertambah semakin lemas
“kamu lihat kan ibu ku, dia itu begitu menakutkan ...., dia itu kalau punya keputusan nggak bisa di
tentang” ternyata agra begitu segan terhadap ibunya
-
-
-
-
-
"Stadar hidup yang ditetapkan oleh dunia kini semakin tinggi
layaknya Gunung Everest. Semakin tinggi mendekati puncak, semakin
membuatku merasa tertekan."
-
-
-
-
-
jangan lupa LIKE dan KOMENTARNYA ya reader .....
apalagi kalau mau ngasih VOTE
__ADS_1