
Agra setelah selesai dengan kebingungannya, segera menyusul putri dan istrinya. Membayar semua belanjaan Sanaya. Agra mengeluarkan
kartunya, kasir menggesekkan ke mesin pembayaran.
“Selamat datang kembali!” ucap kasir setelah
menyelesaikan pekerjaannya.
Agra segera membawa keluarganya keluar dari toko, anak buah Agra tanpa di minta langsung mendekati. Pria dengan jas dan celana
hitam seperti biasa, dan sebuah aerophonenya yang selalu melekat di telinganya.
“Biar saya bawa tuan!”
“Baiklah, bawakan ke mobil!” ucap Agra sambil
menyerahkan dua kantong belanjaan milik sanaya.
“Baik tuan!”
Pria serba hitam itu segera meninggalkan mereka. Sanaya kembali mengedarkan pandangannya ke segala arah.
“Mau kemana lagi sayang?” Tanya Agra.
“Nay mau makan es krim!” ucap Sanaya dengan wajah yang di buat seimut mungkin, membuat hati siapapun yang melihatnya leleh segera.
“Baiklah sayang …!” ucap Agra sambil menggoyangkan pipi putrinya itu dengan penuh kegemaran.
“Tidak!” Ara segera menolaknya.
“Kenapa mom?” Tanya Sanaya dengan wajah kecewanya.
“Nggak boleh makan es krim dulu sebelum makan!”
“Tapi Nay belum lapar, mom!”
“Mau es krim atau tidak?” Ara tetap dengan
pendiriannya. Ia cukup tegas dengan putrinya itu.
“Mau!” jawab Sanaya dengan wajah lesunya.
“Ya udah , syaratnya makan dulu!”
“Nggak mau!" tapi Sanaya sepertinya tidak kalah keras kepalanya di bandingkan momynya.
Melihat Ara dan Sanaya yang keras kepalanya. Agra yang melihat putrinya mulai ngambek
segera berjongkok mensejajarkan diri dengan putrinya.
“Nay sayang …, momi benar. Nanti kalau Nay makan es krim dulu dan belum makan, nanti perut Nay sakit bagaimana, papi nggak mau ya
kalau sampai Nay sakit. Bagaimana kalau kita makan makanan kesukaan Nay dulu,
__ADS_1
Nay suka makan apa?” Agra berusaha membujuk putrinya itu.
“Baiklah …, Nay mau makan mie!”
Akhirnya Sanaya luluh juga dengan bujukan papinya, memang Sanaya sangat patuh pada papinya, berbeda dengan Sagara yang lebih condong pada momy nya.
“Harus mie ya?”
“Tadi papi sudah janji sama Nay kan!”
Astaga
…., dia persi sekali seperti mominya, makanan kesukaan kok mie, nggak ada yang
lain apa?
“Papi bohong kan sama Nay!” ucap Sanaya sambil menunduk kesal.
“Enggak sayang …, memang Nay pernah lihat papi
bohong?” Nay menggelengkan kepalanya.
“Bagus…, kita makan mie!”
“Terimakasih pap!” Nay segera berhambur memeluk
papinya, Agra pun segera mendaratkan kecupan di kening dan pipi putri kecilnya
itu.
Sanaya begitu lahapnya menyamtap mie.
“Sayang …, aku jadi teringat saat awal-awal kita
nikah!” bisik Agra pada istrinya.
“iya bby …, aku sampek seperti orang nyidam
gara-gara pengen makan mie, gara-gara hamil salah paham itu!”
“Iya …, jika ingat saat itu, aku jadi bersyukur
karena ibu mengatur semua rencana itu. Karena kesalah pahaman itu membuatku
menemukan wanita secantik dan sebaik dirimu, sayang!”
“Mom, pip …, kalian bisik-bisik apa sih?”
“Tidak sayang …, momimu dulu juga sangat suka mie, sayang!”
“benarkah mom?”
“Iya sayang!”
__ADS_1
Mereka menyelasikan makannya. Dan setelah itu
membelikan es krim untuk Sanaya. Berjalan-jalan seperti ini juga sangat di
tunggu oleh Sanaya, karena kalau di rumah makan persoalan makanan akan di atur
sedemikian ruma poleh omanya , tidak boleh makan sembarangan, hanya ada makanan
sehat.
Mereka hendak keluar dari mall, tapi Sanaya
tiba-tiba saja melepaskan genggaman tangan papinya dan menghampiri seseorang.
“Nay …, kemana?” teriak Ara. Kemudian mata Ara tertuju pada pria yang bersama anak kecil yang telah di hampiri oleh Sanaya.
“Jerry!” pekik Ara.
“Anak itu!” Ara kembali di kejutkan dengan anak yang di hampiri Sanaya, ia tahu anak itu satu sekolah dengan Sanaya, tapi kemarin ia tidak yakin jika pria itu adalah Jerry.
“Ada apa sayang?” Tanya Agra saat melihat istrinya terkejut.
“Itu …!” ucap Ara sambil menunjuk pada pria itu.
“Jerry!”
Agra dan Ara segera menghampiri pria dan anak
perempuan itu. Setelah sekian lama tidak bertemu, sekarang ia bertemu pria itu
dengan seorang anak perempuan seusia Sanaya.
“Aril!” sapa Sanaya. Tapi gadis kecil yang di sapa oleh
sanaya itu tetap diam seperti biasanya.
“Nak …, jawab dong temannya menyapa itu!” Aril malah
bersembunyi di balik kemeja pria itu.
“Sayang …., maaf ya …, Aril memang anaknya seperti
in, tapi nanti kalau sudah akrab, dia sebenarnya baik kok!”
“Paman, ayahnya Aril ya?” Tanya sanaya lagi.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 😘😘😘😘😘