
Rapat pun telah selesai, senua peserta rapat meninggalkan ruangan satu persatu. Hingga di dalam ruangan itu masih tersisa Agra , Divta, Ratih, Rendi, Salman dan Aruni. Mereka terdiam, entah apa yang sedang mereka pikirkan masing-masing.
Setelah merasa puas dengan kebisuannya. entah apa yang sedang di rencanakan. Aruni pun memilih beranjak dari duduknya hendak meninggalkan ruangan.
“nyonya Aruni bisa menunggu sebentar, kita bisa bertemu dengan
pengacara pak Wijaya” ucap Salma menghentikan langkah Aruni yang hendak melangkah meninggalkan
ruangan, Akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali duduk.
Dan benar saja tak berapa lama orang yang sedang mereka tunggu
datang juga.
“selamat siang..., maaf saya terlambat ...” sapa orang yang mungkin
disebut pengacara jika di lihat dari pakaiannya yang rapi.
“silahkan pak Ridwan ....” Salman pun segera mempersilahkan orang
itu untuk bergabung dimeja rapat yang masih sama.
“silahkan duduk ...”
“terimakasih ...”
Setelah benar-benar duduk barulah orang yang di panggil Ridwan itu
mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tas yang berada di tangannya.
“karena semuanya sudah lengkap, maka saya akan membacakan surat
wasiat yang di tinggalkan tuan Wijaya sebelum beliau meninggal” ucap Ridwan dengan tegas.
“silahkan pak ...” ucap Ratih mempersilahkannya.
“untuk istri pertama tuan Wijaya mewariskan sebuah rumah di
singapura dan sebuah fila di Bali dan beberapa aset beliau di singapura”
“untuk istri ke dua tuan Wijaya mewariskan beberapa rumah dan rumah
besar, serta deposito atas nama tuan
Wijaya, beberapa saham di beberapa perusahaan pengembang”
“anak pertama tuan Wijaya , beliau mewariskan 30% saham perusahaan,
sedang untuk putra ke dua akan mewarisi 70% dari seluruh perusahaan yang di
miliki tuan Wijaya kecuali yang di wariskan kepada nyonya Ratih”
brakkk
“saya tidak terima ....” Aruni menggebrak meja, tampak begitu marah
..., ia benar-benar tidak terima dengan keputusan dari pengacara.
“sabar mam ....” Divta berusaha menenangkan mamanya yang memang sangat tempramen.
“aset di singapura tidak sebesar aset yang di berikan kepada Ratih, bahkan nilainya lehih kecil dari satu perusahaan pengembang di sini. dan lagi, kenapa putra saya Divta malah hanya dapat 30%, sedang putra kedua
malah dapat 70%? Mereka sama-sama putra Wijaya” tanyanya berapi-api
“tapi ini semua sudah keputusan beliau nyonya, kami tidak bisa
merubahnya, ini semua sudah berdasarkan persetujuan kuasa hukum dan saya
sebagai pengacara beliau”
"saya keberatan, ini tidak adil..., bagaimana bisa seperti itu ...." ucap Aruni dengan begitu emosi.
“tapi ini hanya sementara nyonya ...." ucapan pengacara itu sedikit memberi angin segar untuk Aruni
"maksudnya ....?"
"iya nyonya ....., yang bisa merubahnya hanya tuan Divta sendiri.” Lanjut pak
Ridwan
"maksud pak Ridwan apa?" Ratih pun ikut penasaran.
“apa itu ...?” tanya Aruni penuh dengan penasaran.
“syaratnya di sini tertulis, jika tuan Divta dapat membuktikan dirinya bisa bekerja sama dengan baik bersama tuan Agra, maka setelah satu tahun maka saham akan di bagi rata. Tapi tetap Tuan Agra memimpin tertinggi perusahaan.”
“saya tidak terima ...., bagaimana mungkin putra saya bekerjasama...."
"sabar nyonya ..." Salman pun ikut angkat bicara.
"saya tidak mungkin bekerja sama dengan mereka ...." ucap Divta tidak terima
__ADS_1
"tapi itu syarat yang harus anda penuhi tuan ..."
"aku tidak akan membiarkan putra saya bekerja sama dengan mereka...., lihat saja semua ini belum berakhir ....,
ingat itu ...” ucap Aruni sambil menunjuk ke arah Ratih dengan mata yang
berapi-api, ia pun meninggalkan ruangan dengan penuh amarah.
“mam ...” teriakan Divta pun tak di gubrisnya, ia keluar sambil
membanting pintu, Divta yang ingin mengejar ibunya segera di hentikan oleh Agra.
“bang..... tunggu ....” ucap Agra saat Divta juga hendak meninggalkan
ruangan, Divta menoleh ke arah Agra, ia menatap Agra dengan penuh ancaman. tapi tatapan yang penuh keyakinan berhasil menghentikan langkahnya
“ada apa lagi ..., kamu belum puas ....?” tanya nya dengan nada yang begitu di tekankan.
“bisa tinggalkan kami berdua ...” ucap Agra meminta kepada semua
yang ada di dalam ruangan untuk meninggalkan ruangan, semua pun mengerti,
mereka satu persatu meninggalkan ruangan dan hanya menyisakan Divta dan Agra.
Setelah semuanya sudah
keluar, Agra pun kembali duduk.
“abang mungkin begitu membenciku, apalagi setelah ini ...”
“ya ...., aku begitu membencimu ..., kenapa harus ada kamu dan
ibumu ..., aku membenci kehadiranmu ...,
I hate you ....”
“tapi apakah abang tidak ingin tahu kebenarannya ...?”
“kebenaran yang mana lagi ..., kebenaran jika kaulah yang membuat
ayah begitu membenciku dan mam ...”
“bukan aku atau ibuku yang membuat ayah membenci mama abang, tapi
mama abang sendiri, keegoisan, keserakahan mama abang yang menjadikan semua ini
terjadi”
"dengarkan saya baik-baik tuan Divta yang terhormat, saya tidak akan bicara tanpa bukti yang kuat, jadi terserah anda mau percaya atau tidak. setelah ini terserah anda." ucap Agra dengan penuh ketegasan yang begitu di tekankan.
"bukti apa yang kamu punya yang bisa membuat saya percaya?"
“anda bisa lihat sendiri ini ....,” Agra menyerahkan berkas yang
sama yang Rendi berikan kepada Agra beberapa waktu lalu, Divta pun membukanya lembar demi lembar dengan seksama.
“itu adalah bukti-bukti kecurangan nyonya Aruni dan adaiknya, paman
abang yang sekarang mendekam di penjara karena kasus sabotase mobil milik ayah
yang kebetulan yang menjadi korban adalah ayah dan sopirnya, ayah dokter Frans”
“ini tidak mungkin ..., ini cuma tulisan bisa direkayasa” Divta nampak tidak percaya, Ia masih bersikukuh dengan pendiriannya.
"di situ juga ada beberapa bukti foto" ucap Agra dan Divta pun mengamati foto itu satu persatu. Ia mendudukkan tubuhnya dengan sangat lemas, sepertinya tulang belulangnya telah lepas dari tempatnya. ia tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
“berkas itu berhasil ayah amankan sebelum beliau meninggal, ayah
menitipkannya ada paman Salman."
" dan ini adalah bukti terbaru yang saya peroleh mengenai nyonya Aruni” Agra menunjukkan layar ponselnya pada Divta.
“apa lagi ....?” tanya Divta yang nampak tidak semangat. ia seakan tak punya pendirian lagi. selama ini ia hanya percaya pada ibunya. tapi ternyata ibunya sudah merubahnya menjadi robot yang siap dengan perintahnya.
“silahkan abang lihat sendiri, ini adalah rekaman CCTV di kantor
sesaat setelah ayah meninggal, ini percakapan antara paman dan ibu abang ...”
Di kantor sabtu, 19 september 2005
“*kak saya berhasil” ucap seorang pria
“apa kamu bilang, berhasil..., kamu gagal ...”
“gagal ...., wijaya sudah mati kak ...”
“ya tapi tidak dengan wanita itu ada anaknya ...”
“benarkah* ...”
“*iya ..., mereka tidak jadi pergi bersama ...”
__ADS_1
“tapi setidaknya wijaya sudah mati ...”
“tapi kita tidak tahu bukti itu masih ada atau tidak, kau harus
tetap berusaha menyingkirkan mereka”
“siap kak ..., apapun untuk kakak ....”
“aku dan Divta akan keluar negri, kami akan kembali setelah mereka
semua sudah mati, biar tidak ada yang mencurigaiku*”
Off
“mama ....., ini tidak mungkin ...” Divta tampak frustasi, ia memegang kepalanya dan mengacak rambutnya asal.
“sekarang terserah abang, saya rasa abang sudah bisa membedakan
mana yang benar dan salah..., kalau begitu saya permisi ...”
Agra pun meninggalkan Divta, membiarkan ia dengan pemikirannya
sendiri, menimbang mana yang benar dan mana yang salah.
Setelah kepergian Agra, Divta meluapkan emosinya dengan membuang
semua yang ada di hadapannya, kemudian ia beralih ke dinding dan meninjunya
beberapa kali hingga mungkin jika dinding itu makluk hidup yang bisa mengaduh,
dinding itu akan memohon untuk di lepaskan. Buku-buku jari Divta mengeluarkan
darah, tapi entah rasa sakit itu telah menguap ke mana. Tak di rasakan lagi.
Setelah puas melampiaskan kekesalannya. Ia pun menjatuhkan tubuhnya.
Ia menyandarakan kepalanya di kedua lututnya yang di tekuk.
“mama ..., kenapa mama lakuin semua ini ...” mata Divta sudah mulai
memerah, ia enggan beranjak dari tempatnya.
“aku mempercayai mama melebihi diriku sendiri, tapi kenapa ma...,
kau membuatku kehilangan papa ...”
***
Di tempat kali, setelah keluar dari ruang rapat dengan penuh
amarah, Aruni segera mencari ponselnya yang ternyata ada di tas tangannya.
Setelah menemukan benda pipih itu. Ia segera menghidupkan layarnya.
Ia tampak mencari kontak seseorang, setelah ketemu barulah ia
melakukan panggilan
Tut tut tut
Di panggilan ke dua barulah telponnya tersambung
“hallo nyonya ...’
“bagaimana..., sudah beres ...”
“beres nyonya ..., seperti yang nyonya perintahkan”
‘jangan lakukan apa-apa dulu, tunggu saya datang ...”
“baik nyonya .....”
Aruni pun memutuskan sambungan telponnya, senyum tampak mengenbang
di bibirnya. Senyum yang sama. Senyum begitu misterius.
“kau salah jika berhadapan dengan ku Agra..., anak kemarin sore mau
bermain-main denganku, jika ayahmu saja aku bunuh maka bukan tidak mungkin aku
akan mengulang hal yang sama ...”
Setelah puas dengan monolognya, Aruni pun menuju ke mobilnya yang
sudah terparkir di depan loby.
BERSAMBUNG
jangan lupa bayar authornya dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
dan lagi vote nya juga
__ADS_1