My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Ekstra part 5


__ADS_3

Sore itu, Salman sudah menjemput Roy di rumahnya. Mereka akan mengikuti penerbangan terakhir ke Samarinda.


Di Samarinda mereka sudah langsung di sambut oleh anak buah Salman. Mereka di antar menuju ke hotel terdekat dari rumah saudara kembar Roy.


"Pak Roy bisa istirahat dulu di sini, jika butuh sesuatu jangan sungkan panggil saya, kamar saya ada di sebelah." tutur Salman sambil membukakan sebuah kamar untuk Roy tinggali.


"Terimakasih pak Salman, anda sungguh baik, aku tidak bisa membalas semua kebaikan pak Salman ini, nanti jika di beri kesempatan, ijinkan saya membalas semua ini." ucap Roy.


Salman pun memegang pundak Roy. "Nanti ...., jika aku memintanya padamu, jangan menolaknya."


"Tidak, apapun itu, asal aku bisa melakukannya."


"Sudah masuklah..! Ini sudah malam, besok kita akan melakukan perjalanan yang sedikit melelahkan."


"Baiklah ...., selamat istirahat ...!"


Mereka pun memasuki kamarnya masing-masing. Roy menaruh tasnya dan segera menjatuhkan tubuhnya ke kasur empuk itu.


Esok harinya mereka langsung melakukan pencarian, ternyata informasi yang mereka dapat adalah tempat kerjanya. Mereka mencari saudara kembar Roy ke tempat kerjanya.


Tapi sayang hasilnya nihil. Karena menurut informasi dari perusahaan, saudara kembar Roy dengan nama Dafian Sanjaya sudah lima bulan ini tidak bekerja. Pihak kantor tidak mengetahui alasan kenapa Dafi tidak bekerja. Lalu dari perusahaan tempat Dafian bekerja memberikan alamat terakhir dia tinggal.


Roy dan Salman melanjutkan pencarian. Berbekal alamat yang di berikan oleh perusahaan. Mereka mencarinya, ya mereka sampai di sebuah perumahan yang tak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk di tinggali.


Rumah dengan ukuran lima kali sembilan meter persegi itu tampak sudah lama tidak di tinggali, lalu kemana penghuninya?


Mereka mengitari rumah itu, siapa tahu ada petunjuk yang di tinggalkan oleh penghuni rumah.


"Kita harus mencari dimana lagi pak Salman?" tanya Roy.


"Kita pasti akan menemukannya, kita tidak akan pulang dengan tangan kosong."


"Saya percaya sama pak Salman, baiklah ..., kita lanjutkan saja pencarian, mungkin kita dapat bertanya pada ketua RT di sini." ucap Roy memberi saran.


"Anda benar pak Roy ..., mari kita ke sana!"


Tapi belum sampai mereka memasuki mobil kembali, langkahnya terhenti karena seseorang wanita yang sudah renta memasuki halaman rumah yang baru saja akan di tinggalkan.


Roy dan Salman pun kembali dan menghampiri wanita itu.


"Nyonya ...., nyonya ....!" panggil Salman pada wanita itu.


"Iya ....?"


"Apa anda kenal dengan pemilik rumah ini?" tanya Salman.


"Kalian siapa? Apa saya mengenal kalian?" tanya nenek itu.


"Maaf nyonya, kami datang dari Jakarta, kami ingin mencari pak Dafian Sanjaya."


"Jakarta?"


"Iya nyonya."


"Untuk apa kalian mencari Dafian? dan kamu kenapa ....?" tanya nenek itu sambil memperhatikan wajah Roy dengan seksama.


"Saya ...." belum sempat Roy menjawab, nenek itu sudah memotongnya.


"Kenapa Dafian, kau Dafian? Tapi tidak mungkin, kenapa kau mirip dengannya?" nenek itu bertanya-tanya tanpa mengalihkan pandangannya pada Roy.


"Saya Roy Sanjaya, saya saudara kembar Dafian Sanjaya." ucap Roy.


"Roy ....., kamu Roy ..." ucap nenek itu dengan matanya yang sudah tertutup sebagian oleh kulit keriputnya itu tampak mengeluarkan cairan beningnya.

__ADS_1


"Kenapa ibu menangis?" tanya Roy.


"Kau tak mengenaliku? Aku Naniyah, aku ibumu ...." ucapknya tanpa beralih dari menatap putranya itu.


"Ibu ...., benarkah ini ibu ....?" tanya Roy tak percaya.


"Iya ini ibu nak ....!"


"Ibu ....." Roy tak mampu membendung rasa di hatinya, haru, sakit, rindu, senang dan tak menyangka semua campur aduk menjadi satu.


Roy pun langsung bersujud dan bersimpuh di kaki ibunya. Ibu yang tak pernah ia lihat, tak sempat ia memeluknya di waktu kecil. Wajah cantik ibunya dulu kini sudah keriput, renta, entah lari kemana kecantikannya yang dulu. Roy menangis di kaki ibunya. Mengutuki kebodohannya karena tak segera mencari ibunya.


"Ibu maafkan aku, maafkan putramu yang tak berguna ini ibu ...." ucap Roy sambil terus menangis, kali ini Salman hanya bisa menjadi penonton, menyaksikan keharuan pertemuan anak dengan ibunya yang sudah terpisah puluhan tahun yang lalu.


"Roy benar-benar anak yang tidak berbakti ibu, maafkan aku ...., seharusnya aku mencari ibu sejak dulu."


"Bangunlah nak, jangan seperti ini, maafkan ibu karena sudah meninggalkanmu nak." ucap nenek Nani. Dengan tangannya yang renta itu, ia menggapai punggung putranya. Nani berusaha membangunkan putranya.


Roy pun setelah bangun dari sujud nya kembali memeluk ibunya.


Setelah keadaan kembali tenang. Nenek Nani mengajak Roy dan Salman ke rumahnya. Rumah nenek Nani tak jauh dari rumah pertama yang mereka kunjungi. Rumah itu tak jauh beda dengan rumah itu. Ukurannya juga sama. Tapi terlihat bersih dengan berbagai bunga yang tumbuh di halaman.


"Masuklah nak, ini rumah ibu ...." ucap nenek Nani sambil membukakan pintu untuk tamunya.


"Rumah ibu tidak sebagus rumah kalian di sana pasti..., rumah ibu hanya sederhana ...." ucap nenek Nani.


"Ini bagus ibu ...., ibu di sini tinggal sendiri?" tanya Roy sambil memperhatikan seisi rumah itu.


"Iya ....., sekarang....!" ucap nenek Nani, tapi terlihat sendu.


"Lalu dulu?" tanya Roy.


"Sudah duduklah dulu, biar ibu buatkan minum."


"Maafkan ibu, cuma bisa memberi ini." ucap nenek Nani.


"Ini sudah lebih dari cukup ibu." ucap Salman.


"oh ... iya dari tadi ibu belum bertanya denganmu nak, siapa teman kamu ini?" tanya nenek Nani.


"Saya Salman, bu. Teman nya pak Roy dari jakarta." ucap Salman memperkenalkan diri.


"Dia ini yang membantu saya sampai di sini, bu ..."


"Terimakasih nak, ibu bersyukur bisa bertemu dengan putra ibu lagi."


"Saya senang bisa membantu, bu." ucap Salman.


"Sekarang ceritakan pada ibu, bagaimana kehidupanmu nak, bagaimana ayahmu?"


"Ayah sudah lama sekali meninggal bu, ayah gagal ginjal ..."


"Kasihan. sekali ayahmu, ibu menyesal sudah meninggalkannya."


"Tak usah di sesali, bu. Semuanya sudah berlalu ..."


"Lalu bagaiman dengan keluargamu, nak?"


"Aku punya dua putri yang cantik-cantik bu, putri sulung ku sudah menikah dan sekarang sudah memiliki anak kembar, sedang putri bungsuku masih kuliah, bu."


"Alhamdulillah, aku sudah punya cicit ...., lalu bagaimana dengan istrimu?"


"Istriku sudah meninggal tak lama setelah ayah meninggal ibu, sudah hampir lima belas tahun."

__ADS_1


"Masyaallah ...., kau pasti kesusahan sekali membesarkan putri-putri mu seorang diri."


"Tidak ibu ....,mereka putri-putri yang baik dan penurut, aku bangga pada mereka."


"Ibu ikut senang bila seperti ibu ...."


"Oh iya ...., ibu belum menceritakan kehidupan ibu, bagaimana kehidupan ibu selama ini?" tanya Roy. Salman tetap setia menjadi pendengar.


"hehhhh ......" nenek Nani menghela nafasnya dalam, seperti ada beban berat untuk bercerita.


"Ada apa ibu ....?" tanya Roy tak sabar.


"Mungkin memang benar keputusan yang salah bagi ibu meninggalkanmu dan ayahmu, mungkin ini balasan bagi ibu. Setelah ibu pergi ibu membesarkan Dafian seorang diri. Dafian tumbuh menjadi anak yang keras. Dia salah pergaulan, minum minuman keras sudah menjadi kebiasaannya, ia berjudi, mabuk-mabukan, hingga akhirnya ia menikah dengan seorang gadis. Tapi kebiasaan buruknya setelah menikah tak juga berkurang." nenek Nani kembali menghela nafas. Seperti sedang menyiapkan kembali tenaganya untuk memulai bercerita kembali.


"Setiap hari yang dia lakukan hanya memukuli istri dan anak-anaknya. Walaupun ia bekerja di perusahaan yang cukup besar, tapi istrinya harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Uang yang di hasilkan Dafian habis untuk membayar hutang-hutangnya."


"Lalu ...?" Roy benar-benar di buat tak sabar, ia benar-benar trenyuh mendengarkan cerita kehidupan saudara kembarnya.


"Hingga suatu hari, dokter memvonisnya terkenal gagal ginjal akut, nyawanya tak akan bertahan lama, istrinya begitu terpukul. Tapi karena penyakit itu, membuat Dafian berubah total, dia menjadi baik dan perhatian dengan istri dan anak-anaknya. Tapi tetap saja maut tak dapat di hindari, hanya dalam waktu satu tahun ia dapat bertahan hidup. Dia, Dafian putraku sudah meninggal ..." ucap nenek Nani yang memperlihatkan luka yang mendalam. Roy pun memeluk ibunya, menyalurkan kekuatan untuk ibunya agar bisa tabah.


"Jadi saudara kembar ku sudah meninggal?" tanya Roy yang masih tak percaya.


"Iya nak, Dafian sudah meninggal tiga bulan lalu."


"Lalu bagaimana dengan keluarganya?" tanya Salman yang tiba-tiba ikut angkat bicara.


"Iya ibu ...., bagaimana dengan mereka?" tanya Roy.


"Setelah satu bulan Dafian meninggal, mereka memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Sebenarnya mereka mengajak ibu, tapi ibu memilih untuk tetap tinggal, karena di sinilah ibu bisa terus mengenang Dafian."


"Maafkan aku ibu, karena aku terlambat datang..." ucap Roy sambil kembali memeluk ibunya.


"Iya ...., ini bukan salahmu nak, seharusnya ibu yang minta maaf ...., oh iya kalian menginap di sini kan?" tanya nenek Nani.


"Tapi barang-barang kami masih di hotel ibu." ucap Roy.


"Tidak pa pa pak Roy, aku akan mengambilkannya untukmu, aku akan mengurus semua, kau bisa menghabiskan waktumu lebih lama dengan ibumu, biar barang-barang itu aku yang mengambilkannya. nanti akan buahku akan ke sini mengantarkannya."


"Itu akan merepotkan sekali pak Salman."


"Sudah ku bilang jangan sungkan."


"Terimakasih banyak pak Salman, anda benar-benar banyak sekali membantuku."


"Baiklah kalau begitu saya permisi, saya akan kembali ke hotel, kita bertemu lagi besok, besok saya akan kembali lagi ke sini." ucap Salman sambil menepuk punggung Roy. Roy pun hanya bisa mengangguk.


"Ibu saya permisi dulu, besok saya akan kembali lagi."


"Terimakasih banyak ya nak, dan ibu berharap nak Salman bisa menginap di sini barang semalam."


"Maafkan saya, tapi ada hal yang harus saya kerjakan bu, besok pasti jika ada waktu saya pasti menginap. Saya permisi bu, pak Roy."


"Iya nak hati-hati di jalan ...."


*****


**Penantian tidak ada yang sia-sia jika di tambah dengan sedikit saja usaha. Karena dengan usaha dan do'a segalanya akan lebih mudah.


BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


kasih Vote juga ya

__ADS_1


Happy Reading 😘😘😘😘**


__ADS_2