
Roy kembali mengaduk-aduk isi kotak itu. Dan tak berapa lama ia menemukan sebuah amplop. Roy segera mengambilnya.
"Ada amplop lagi pak Salman." ucap Roy.
"Bukalah pak Roy, siapa tahu di situ petunjuknya."
"Iya paman, aku juga penasaran, apa isinya ..." ucap gadis yang sedari tadi buat penasaran itu.
Dengan sangat hati-hati Roy mulai membukanya. Ada tiga lembar kertas di dalamnya. Di tulis dalam waktu yang berbeda. Jangka waktunya cukup lama.
Roy pun membuka begitu satu lipatan kertas pertama.
26 September 2018
***Untukmu* saudaraku**
*Aku tahu jika aku mempunyai saudara kembar, untuk itu hari itu , dua tahun yang lalu di tanggal yang sama 20 September 2016. Aku pergi ke jakarta tanpa sepengetahuan ibu dan istriku.
Di Jakarta, aku mencarimu dan menemukanmu, aku melihatmu, aku melihat kalian bahagia bersama kedua putrimu, aku senang.
Awalnya aku berniat menemuimu, tapi hal tak terduga, tiba-tiba aku pingsan. Dan saat di rumah sakit aku baru tahu jika aku terkena gagal ginjal. Aku di vonis hidupku tak akan bertahan lama jika tidak ada pendonor ginjal.
Tapi bagaimana bisa aku menyusahkan orang-orang yang aku sayangi lagi dan lagi. Mungkin akan lebih baik buat mereka jika aku telah tiada. Tak akan ada penderitaan lagi ....
Hidupku seakan bertambah hancur, saat aku menemukanmu, tapi aku harus pergi ...., tapi aku bahagia karena aku tahu, kamu juga sedang mencariku.
Satu mingguku di Jakarta, aku rasa sudah cukup untuk mengenalmu, saudaraku ....
Kau orang yang baik, walau kita di lahirkan dari rahim yang sama, oleh ayah dan ibu yang sama, di waktu yang sama. Aku bersyukur karena kau menjadi orang yang baik. Setidaknya jika nanti aku tiada lagi di dunia ini, aku tenang meninggalkan ibu, istri dan putriku.
Maafkan aku karena tidak menghampirimu, sudah cukup luka yang ku torehkan pada orang-orang yang aku sayang. Tidak usah aku tambah lagi.
Setelah ini ......, aku akan tenang karena telah menemukanmu saudaraku ......
Roy Wijaya
semoga kelak kau akan membacanya
Dafian Wijaya*
Selesai sudah satu kertas yang Roy baca. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini benar-benar lolos dari matanya. Air mata itu mengalir begitu saja di pipinya.
"Dia mencari ku pak Salman, dia mencari ku ...., kenapa aku tidak menyadarinya dari awal? Saudara macam apa aku ini ...." ucap Roy meratapi kesedihannya.
"Sabar pak Roy, yang lalu biarlah berlalu ...., kita...., ikhlaskan semuanya ..." ucap Salman menenangkan Roy. Salman menepuk punggung Roy mencoba menyalurkan kekuatan.
__ADS_1
Setelah merasa hatinya sudah lebih baik, Roy kembali membuka lembar ke dua.
Januari 2019
*Aku harus melewati beberapa terapi untuk mempertahankan hidupku.
Setiap hari, setiap malam aku harus melihat air mata kesedihan di mata indah istriku.
Ibuku ...., dia tampak begitu lemah. Ibuku, dia ibu kita. Ingin sekali rasanya mengirimnya padamu sebelum aku tiada.
Tapi aku terlalu egois, aku tak mau jauh darinya walau sedetikpun di akhir hidupku.
Aku mengirim banyak sekali petunjuk kepadamu, semoga nanti kau akan menemukan ibu. Dia sangat merindukanmu ...
Walau aku tak bisa mempertemukannya dengan ayah kita, setidaknya ada dirimu yang bisa menggantikan ku saat aku tiada.
Aku tahu mungkin ini keputusan yang gila. Tapi aku sadar usiaku tidak akan lama lagi.
Aku sudah melihat kehidupanmu, bagaimana kau memperlakukan putri-putri mu, kau mampu jadi ayah sekaligus ibu bagi putri-putri mu ....
Ini permintaan terakhirku, semoga kamu bersedia mengabulkannya. Tolong gantikan aku sebagai seorang suami dan ayah bagi istri dan putriku*.
Isi surat yang kedua selesai. Roy begitu tercengang dengan isi surat itu. Ia masih tidak percaya jika saudara kembarnya itu bisa berfikir jauh ke depan. Dia memintanya untuk mengantikan perannya? Bagaimana ini?
"Maafkan suami saya, tapi itu bisa anda abaikan saja." ucap Dewi yang sedari tadi hanya mendengarkan saja, kini saat menyangkut dirinya. Dia pun angkat bicara.
April 2019
*Aku merasa sudah tak mampu menahan sakit ini lagi.
Aku berharap, aku bisa pergi dengan tenang. Dewi istriku sangat mencintaiku, aku pun demikian. Saudaraku aku mohon kabulkan permintaanku ....
Ya aku gila, aku memang gila kerena tidak bisa membahagiakan istri dan putriku. Kehidupanku sangatlah buruk...
Aku percaya, bersamamu mereka akan bahagia. Saat kau sudah menemukan kami, bawalah mereka bersamamu ....
Ibu ..., Dwei istriku dan Davina putriku ....
Jadikan mereka keluargamu ....
Kau orang yang sangat baik, aku percaya padamu.
Roy ....Roy ..... Roy .....
Aku sangat senang selalu menyebut namamu ...., walaupun kita tak bisa di pertemukan sekarang, setidaknya aku bangga mempunyai saudara sepertimu ....
__ADS_1
Dafian saudaramu*
Kini surat terakhir sudah selesai di baca. Roy sudah mampu menguasai hatinya. Setidaknya hatinya tak sehancur saat membaca surat pertama.
"Sekarang keputusan ada di tangan pak Roy, bagaimana menurut pak Roy?" tanya Salman.
Roy pun menatap bergantian dua wanita yang ada di hadapannya. Davina masih tiga empat tahun di atas usia putri bungsunya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana Davina bisa melanjutkan pendidikannya dalam kondisi yang seperti saat ini. Roy beralih menatap Dewi, wanita itu luar biasa. Dia dengan keadaannya tetap terlihat begitu tegar.
Bagaimana bisa ia mengabaikan semua ini, ia tidak mungkin membawa mereka kembali ke Jakarta tanpa sebuah ikatan.
"Saya setuju dengan permintaan Dafian, sekarang bagaimana denganmu, Dewi?" tanya Roy pada Dewi.
"Semua keputusan aku serahkan kepada Davina, hanya dia yang aku punya saat ini."
"Bagaimana nak, apa kau mau aku menjadi ayahmu, seperti yang ayahmu mau?" tanya Roy pada Davina.
"Davina mau ...."
Akhirnya setelah semuanya selesai. Sore harinya Roy dan Salman mengajak mereka kembali ke kota.
Mereka meminta restu pada Nani dan menceritakan semuanya pada nenek Nani, tentang surat wasiat dan permintaan terakhir Dafian. Nenek Nani pun akhirnya mengerti dan mereka menikah saat itu juga dengan di saksikan beberapa pemuka agama. Mengenai surat menyurat akan di urus belakangan.
Roy dan Salman sudah terlalu lama meninggalkan jakarta, tanpa tersa hampir satu minggu, jadi tidak mungkin menundanya lagi.
Setelah acara pernikahan selesai, mereka berkunjung terlebih dahulu ke makam Dafian. Kini Roy dan Dewi sudah menjadi sepasang suami istri.
Roy akan mengajak semuanya kembali ke jakarta. Pagi ini Roy sudah menghubungi putrinya untuk menyambut mereka ke bandara. Roy sengaja tidak bercerita terlebih dahulu perihal pernikahannya. Roy akan menceritakan semuanya setelah sampai di rumah.
Sedangkan Salman juga sudah meminta Rendi untuk menjemputnya. Kali ini ia tidak meminta anak buahnya untuk menjemput. Entah apa yang di rencanakan lagi oleh Salman.
**BERSAMBUNG
Nanti kelanjutan kisah keluarga Roy dan Dewi akan muncul di MY BLOCK OF ICE ya ...., tunggu aja di episode tiga puluhan ya .....
Untuk extra part selanjutnya akan ada yang seru-seru lagi .....
Tetap di tunggu extra partnya ya ....., nanti akan muncul potongan cerita dari tokoh-tokoh yang lainnya terutama si kembar Sagara dan Sanaya .....
Sabar nunggu ya .....
Jangan lupa tetap kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
KASIH Vote nya yang buanyak ya ....
__ADS_1
Happy reading 😘😘😘😘😘😘**