
Sanaya sudah berada di dalam ruangan bu kepala.
Di sekolah ini tidak ada yang tahu jika Sanaya dan Sagara adalah cucu dari bu ketua.
Bahkan bapak kepala sekolah pun tidak mengetahuinya.
"Ada apa Nay? Kenapa mencari oma di sini?"
"Ada yang ingin Nay bicarakan sama oma!"
"Katakan!"
"Di kelas Nay, tan Nay ada yang kesulitan biaya, Nay nggak mau sampai teman Nay nggak bisa ikut ujian nanti Oma!"
"Lalu?"
"Bisa nggak oma kasih beasiswa buat temen Nay?"
"Apa dia anak yang berprestasi?"
Sanaya hanya menggelengkan kepalanya.
"Lalu atas dasar apa oma harus memberinya beasiswa?"
"Atas dasar kemanusiaan, Bukankah oma sendiri yang mengatakan jika kita bisa hidup berkecukupan karena dua ribu lima ratu lebih karyawan kita yang mungkin hidupnya kurang sejahtera, oleh karena itu kita tidak boleh mengabaikan mereka yang membutuhkan uluran tangan kita dan saat ini teman Nay butuh uluran tangan kita!
Oma boleh ambil uang jajan Nay kalau itu bisa jadi gantinya, tapi Nay tidak mau teman Nay tahu kalau Nay yang sudah membantunya!" ucap Sanaya panjang lebar, ia berharap omanya bisa mengerti dengan alasannya.
"Siapa namanya?"
Sanaya tersenyum, "Riska oma, Riska pratiwi!"
"Baiklah kamu boleh kembali, sebentar lagi jam istirahat berakhir!"
"Baik oma, terimakasih oma, oma baik deh!"
"Jangan panggil oma kalau di sini!"
"Siap oma! Ehhh maksudnya ibu ketua!"
Sanaya pun segera meninggalkan ruangan omanya.
Ia tidak menyangka jika di balik watak keras dan tegas omanya, ternyata begitu baik.
...**""**...
Pulang sekolah ini Sanaya sengaja menunggu Ariel di depan sekolah. Dia hanya ingin minta maaf dan memperbaiki semuanya.
Ariel yang barus saja keluar dari kelas begitu terkejut saat melihat Sanaya menghampirinya.
"Nay!"
Sanaya melambaikan tangannya, "Hai Riel!"
Ariel segera mempercepat langkahnya, "Ada apa?"
Sanaya berhenti tepat di depannya,
"Ada apa?" tanya Ariel lagi.
"Gue cuma mau minta maaf karena selama ini gue sudah nuduh lo!"
"Tidak pa pa, bukan hal yang serius kok!"
__ADS_1
"Bisa nggak setelah ini kita berteman?"
"Tentu!"
Mereka pun saling berpelukan seperti teman lama yang baru bertemu kembali.
"Seneng lihat kalian akur kayak gini!" ucap seorang pria membuat mereka menoleh.
"Papa!"
Ariel menarik ke tangan Sanaya untuk menghampiri papanya.
"Selamat siang om!"
"Siang Nay, masih ingat kan sama om?"
"Ingat dong om! Om Jerry kan?"
"Benar! Lama ya Nay kita nggak ketemu, gimana kalau om traktir Nay buat makan siang, sama Ariel juga!"
"Yang bener om?"
"Bener dong, masak om bohong!"
"Ok deh, Nay mau!"
Akhirnya Jerry mengajak Nay dan Ariel makan siang di restauran terdekat.
"Makasih banyak lo om, sering-sering aja traktir Nay kayak gini!"
"Gampang sayang, nanti Nay bisa main ke rumah Ariel biar om masakin makanan yang enak!"
"Om baik banget sih sama Nay!"
Papa Jerry hanya tersenyum melihat senyum Sanaya seperti melihat senyum Ara.
...****...
Pagi ini memang tidak ada surat kaleng lagi, tapi ternyata ada gosip panas yang sedang beredar.
Ternyata perdebatan dan pengakuan Riska kemarin ada yang sengaja merekamnya dan menyebarkannya di group sekolah.
Riska benar-benar kesal, ia segera menarik Sanaya ke lapangan hingga semua siswa bisa melihat perdebatan mereka.
"Ada apa sih Ris?"
"Lo sengaja kak ingin mempermalukan gue, kalau lo pengen permaluin gue sekarang aja lo umbar semuanya, semuanya tentang gue! Ayo pumpung semua anak melihat kita!"
"Ini apa-apaan sih Ris, gue nggak ngerti!"
"Lo jangan pura-pura deh, lihat ini!"
Riska menunjuk sebuah rekaman yang beredar di group sekolah. Maklum jika Sanaya tidak mengetahuinya karena Sanaya bukan orang yang suka melihat gosip.
"Ini?"
"Lo kan yang lakuin? Iya kan?"
"Serius, gue nggak pernah lakuin ini!"
Sagara dan Abimanyu yang mendengar anak-anak lain heboh membicarakan pertengkaran Riska dan Sanaya di tengah lapangan membuat mereka segera keluar dan berlari menuju ke lapangan.
Di kelas lain, Aditya juga melakukan hal yang sama. Tetap saja ia tidak bisa mengabaikan apapun tentang Sanaya.
__ADS_1
Tapi saat melihat Sagara dan Abimanyu yang sudah lebih dulu berlari menghampiri Sanaya, Aditya memilih untuk berhenti.
Ariel yang berada di perpustakaan juga segera berlari menghampiri Sanaya.
Dia juga tahu kejadian yang sebenarnya. Ia pun segera berlari menghampiri Sanaya.
Sebelum Sagara dan Abimanyu sampai, Ariel sudah lebih dulu sampai membuat Sagara meminta Abimanyu untuk berhenti saja dan melihat dari kejauhan.
"Nay ada apa?" tanya Ariel yang sudah berdiri di sampingnya.
Riska segera menoleh pada Ariel, Ia mengerutkan keningnya daj menajamkan matanya, ia ingat siapa anak yang berada di sampingnya itu,
"Atau jangan-jangan lo kan yang nyebarin semua ini, kemarin ada Lo kan?"
"Kenapa nih bawa-bawa gue?"
"Kalian benar-benar berhasil kalau mau buat gue hancur sehancur hancurnya!"
"Gue serius Ris, gue nggak nglakuin ini!" Sanaya benar-benar tidak terima dengan tuduhan yang di lontarkan oleh Riska.
"Gue nggak percaya! Jika mau kalian gue harus pergi dari sini, gue akan pergi!"
Mendengar ucapan Riska membuat Sanaya panik. Dia memang yang sudah membuat Riska sampai seperti ini, tapi dia tidak tahu jika ada yang usil dengan mereka.
"Please ...., jangan pergi dari sekolah ini Ris, nggak akan ada yang gangguin kamu lagi setelah ini, gue janji!"
"Lo siapa sampai ngasih gue janji kayak gitu, emang lo pemilik sekolahan ini? Heh?"
"Bukan seperti itu tapi ....!"
"Saya akan menjamin beasiswa untuk kamu sampai kamu lulus dari sini!" ucap seseorang membuat mereka menoleh ke sumber suara.
Seorang wanita paruh baya yang masih tetap elegan dan cantik dengan baju resminya berwarna abu-abu berjalan menghampiri mereka.
Oma .....
Sagara dan Abimanyu pun tidak kalah terkejutnya.
"Oma ....!"
"Nyonya besar!"
Kedatangannya sontak menjadi pusat perhatian, siapa yang tidak di tahu dengan sosok berwibawa itu. Dia adalah pemilik yayasan sekolah itu sekaligus ketua tertinggi finityGroup.
"Nyonya!"
Sanaya dan Ariel pun segera menyingkir memberi jalan buat oma Ratih agar mendekat ke Riska.
"Riska Pratiwi, selamat ya kamu mendapatkan beasiswa karena kamu terpilih dari seratus siswa yang kami seleksi, beasiswa sampai kamu lulus!"
"Benarkah itu nyonya?"
"Iya, dan besok kamu sudah bisa menandatangani nya!"
Riska begitu senang, "Terimakasih nyonya!"
Nyonya Ratih hanya mengangguk lalu pergi begitu saja. Tanpa aba-aba kerumunan itu menghilang begitu saja, anak-anak kembali ke kelasnya masing-masing.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading đ„°đ„°đ„°đ„°