
Ara mengerjapkan matanya, ia menyesuaikan dengan lampu ruangan yang
cukup asing baginya
"ini bukan kamarku, aku dimana?" ara memegangi kepalanga yang terasa berat, kepalanya masih terasa pusing,
kemudian ia melihat jam di
tangannya, sedikit kesulitan karena matanya yang masih kabur sambil terus meraba jamnya dan ternyata sudah jam 23.00
"ini sudah malam ..." Ara terus mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar
"kenapa rasanya mataku sembab sekali ..., pasti ini jelek sekali" Ara memegangi kelopak matanya yang membengkak karena terlalu banyak menangis
Kemudian Ara mengingat-ingat apa yang telah terjadi, ia mengingat kembali di kamar hotel itu, mengingat
penghianatan Dio dan kemudian ingatannya melayang pada bosnya, ia mengingat Agra yang telah memeluknya dan menghapus air matanya, bosnya yang galak itu telah melakukan hal yang seperti itu
"kenapa dia manis sekali ...." Ara mengingat bagaimana perlakuan bosnya padanya, kemudian Ara tersadar sesuatu
“hah ..., aku di apartemen bos, ayah pasti khawatir, ini sudah
malam” Ara pun bergegas untuk bangun dari tempat tidur, tapi kepalanya sangat
pusing hingga ia kehilangan keseimbangan
Tapi untunglah Agra datang tepat waktu dan dengan sigap menangkap
tubuh Ara yang hampir terjatuh
mata mereka saling berpadu, sejenak mereka terdiam dalam lamunannya masing masing
"ih ...my bos is my hero ..." batin Ara
"kenapa matanya sebengkak itu ..., benar-benar seperti panda, tapi terlihat begitu imut ...." batin Agra
"haahhhh, gue ini apa-apaan sih bagaimana ak bisa memuji orang matanya kayak panda seperti itu" batin agra lagi
“hati-hati ..., apa masih pusing?” suara Agra menghentikan lamunan
mereka yang sempat saling bertatap,Agra tidak mau terlalu larut dalam perasaan
yang aneh saat menatap mata Ara
Ara pun berusaha bangun dari pelukan Agra dan segera kembali duduk sebelum tubuhnya kembali ambruk
“sedikit pak, terimakasih ya pak”
“nggak usah sungkan” Agra pun mengambilkan segelas air putih di
atas nakas tempat tidur, Ara segera menghabiskannya
__ADS_1
setelah merasakan tubuhnya sudah lebih baik, ia pun segera mencari keberadaan sepatunya yang berada tak jauh dari tempat tidur
“saya harus pulang pak, ayah pasti cemas” Ara memakai kembali
sepatunya dan mencari- cari keberadaan tasnya, dan agra hanya diam tak percaya dengan yang dilakukan gadis di depannya
“apa bapak tahu di mana tas saya?” tapi agra hanya berdiri diam sambil melipat kedua lengannya di atas dada
“kamu nggak usah pulang, nginep di sini aja” Agra menghentikan kegiatan yang di lakukan Ara yang masih kesana kemari mencari-cari tasnya
“hah ...” lagi-lagi Ara membuka mulutknya lebar-lebar karena kaget, agra segera menghampiri Ara
“suth ...” Agra meletakkan telunjuknya di bibir Ara “ aku sudah
bilang sama ayah kamu, kamu pergi ke luar kota sama aku ada kerjaan mendadak”
“kenapa bapak ngomong kayak gitu?” Ara benar-benar tak mengerti dengan maksud bosnya, dan bagaimana mungkin ia tidur di tempat yang sama dengan orang laki-laki dewasa hanya berdua
“lihat tuh mata kamu sampek nggak keliatan gara-gara banyak nangis,
ntar kalau lo pulang dalam keadaan kayak gitu dikirain gue apa-apain lo lagi,
udah nurut aja”
Krukukk
Belum sempat Ara protes ternyata perutnya sudah terlebih dulu
protes minta di isi, karena ia terakhir makan tadi pagi itupun belum habis gara-gara liat Dio
Agra tertawa keras saat mendengar bunyi perut Ara membuat Ara
mengerucutkan bibirnya sebal
"kenapa bapak ketawa, memang ada yang lucu"
***
"ya udah kak dio pulang dulu, nanti kalau kakak hubungi aku kasih tahu kakak" Nadin segera turun dari motor dan melepaskan helmnya
"makasih ya Nad ..."
"nggak usah sungkan lah kak, aku seneng kok bisa bantu kakak ...."
"ya udah masuk gih ..., besok aku jemput ya ..."
"baik kak ..., hati-hati di jalan ..." Dio hanya menjawab dengan anggukan dan segera memutar motornya dan melajukannya ke jalan raya
"kakak benar-benar beruntung bisa di cintai sama kak dio ..., andai saja itu aku ...." Nadin benar-benar iri dengan kakaknya, walaupun berkaca mata tapi ara banyak sekali yang mendekati
__ADS_1
***
"lo tahu nggak siapa yang aku lihat di apartemen Agra" dua orang cowok tampan itu sedang berbincang di sebuah kafe tak jauh dari apartemennya, mereka memang suka menghabiskan weekend bersama biasanya mereka bertiga tapi kali ini mereka hanya berdua, mereka adalah Rendi dan Frans
"gue udah tahu ..." jawab Rendi datar
"jadi lo sudah tahu ...?" Frans memastikannya
"ya ..."
"jahat lo pada ya ..., tapi kenapa lo dingin banget, atau jangan-jangan gadis itu yang kau ceritakan itu ya, gadis manis berkaca mata yang menarik hati si robot ini"
"jangan banyak bicara ..., kalau sampek ada yang dengar urusannya bisa panjang"
"tapi gue benar kan?" dan rendi hanya mengangguk
"wah wah wah ..., kok bisa sama Agra, jangan jangan telah terjadi cinta segi tiga antara dua sahabatku ini"
"tidak seperti itu ceritanya ..."
"tapi sepertinya memang seperti itu ...., aku lihat wajah Agra begitu mencemaskannya saat gadis itu sakit, apa itu bukan cinta juga"
"benarkah seperti itu ...?'
"kenapa kau peduli sekali?" Frans begitu menyelidik
"bukan seperti itu, sepertinya aneh saja jika Agra menyukainya, ia baru saja putus dengan Viona"
"benarkah itu yang kau pikirkan ...?"
"kenapa kau penasaran sekali dengan yang aku pikirkan?"
"bukan begitu kawan ..., sepertinya kau akan kalah lagi dengan saudara kita itu"
"aku bersedia ...'
"benarkah semudah itu ..."
"iya ..." jawab Rendi dingin, seolah menyimpan banyak rahasia, mungkinkah memang seperti itu lebih baik karena memang ia dan Agra seperti dua mata pisau yang tak dapat di pisahkan, saling melengkapi
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
cinta memang rumit Reader ..., kayak benang kusut yang tak tau mana ujung mana pangkalnya
tapi mudah mudahan yang baca tidak ikut kusut ya