
Saat Sanaya dan Abimanyu sedang dalam keadaan yang begitu ruwet, di tempat lain Sagara dan Ariel sedang menikmati kencan pertama mereka.
"Kamu yakin pilih film ini?" tanya Ariel saat melihat judul film yang di beli oleh Sagara.
"Hemmm! Kenapa? Apa ada yang salah?"
"Enggak sih, hanya aneh saja!"
"Aneh kenapa?"
"Ternyata kamu suka film romantis, aku kira kamu akan memilih film Faithing misalnya!"
Kata paman Rangga kemarin suruh pilih film yang ini, gimana sih ....., nggak bener nih paman Rangga ....
"Ayo masuk, film nya sudah mau di mulai!" ajak Ariel membuatnya tersadar.
"Ayo!"
Mereka menikmati filmnya, di menit-menit awal sih tidak ada masalah tapi belum juga setelah dari film itu di putar ternyata Sagara sudah tertidur pulas di bahu Ariel.
Ariel tersenyum, lucu sekali dia ....
Sepanjang menonton Ariel bukan melihat jalannya cerita tapi dia malah sibuk mengamati wajah tampan yang sedang tertidur di bahunya itu.
Kita memang baru bertemu, tapi di setiap perhatian kecilmu membuat hatiku tiba-tiba merasa nyaman dekat denganmu, dulu aku pikir aku tidak akan jatuh cinta padamu, tapi hatiku terus menuntut ku untuk menerima setiap sentuhan mu ....
Tiba-tiba tubuh Sagara bergerak, sepertinya ia sudah terbangun.
Sagara mengucek matanya, "Ariel, kenapa sudah sepi? Kemana semuanya?"
Ia mengedarkan pandangannya, sudah tidak ada siapapun kecuali mereka berdua. Lampu juga sudah kembali terang.
"Filmnya sudah selesai setengah jam yang lalu!"
"Jadi aku tertidur sangat lama?" tanya Sagara dan Ariel pun menganggukkan kepalanya.
"Kenapa tidak membangunkan aku?"
"Tidak pa pa!" Ariel melihat jam yang melingkar di tangannya, "Masih jam empat, jadi kita masih punya banyak waktu hari ini!"
"Hehhh?"
"Ayo!"
Ariel menarik tangan Sagara,
"Kita mau ke mana?"
"Kita akan kencan seperti anak-anak lainnya!"
Dia ngapain coba ....., batin Sagara bingung. Dia tidak mempersiapkan apapun untuk kencan pertama ini.
"Kenapa kita ke parkiran?"
"Kita harus pergi dari sini! Kita harus ke suatu tempat yang lebih menyenangkan!"
"Kemana?"
"Ada deh! Pakai helm mu!"
kali ini Ariel yang duduk di depan. Dia memang sudah mahir membawa motor, apalagi ini hanya motor matic.
"Pegangan!" perintah Ariel.
"Hahhh?"
"Becanda! Nggak usah pegangan, pegang sini aja!" ucap Ariel sambil menarik ujung bajunya.
__ADS_1
"Hehhh?"
"Ayo pegang ini!"
Akhirnya Sagara pun memegang ujung baju Ariel. Dan Ariel pun segera melajukan motornya. Kali ini Ariel sengaja mengajak Sagara berkeliling.
"Kamu mau mengajak ku ke mana?"
"Ini yang namanya jalan-jalan! Keliling-keliling sambil naik motor, kamu nggak akan tahu dunia luar kalau kerjaannya cuma di dalam kantor, di rumah dengan buku-buku yang bertumpuk!
Sesekali kita butuh hiburan, bukan hiburan yang mahal, cukup dengan keliling-keliling kompleks! Lalu makan jajanan jalanan!"
Hingga mereka sampai juga di sebuah rest area.
"Kita berhenti di sini sebentar ya!" ucap Ariel.
"Ngapain?"
"Makan!"
"Makan tuh di restoran, bukan di sini!"
"Kamu nggak tahu enaknya makan di sini!"
Ariel pun memarkir motornya di pinggir jalan dan melepas helmnya, ia berjalan begitu saja sambil mengedarkan pandangannya mencari makanan yang ingin dia makan.
Tapi saat menyadari Sagara masih berdiri di tempatnya ia segera berbalik.
"Ayo!"
"Aku di sini saja!"
Hehhhh
Ariel menghela nafas, ia pun berjalan kembali menghampiri Sagara.
Sagara memang tidak seperti Sanaya yang terbiasa makan di mana saja, pergi ke mana saja. Sejak kecil setiap kali mom Ara dan papa Agra mengajaknya ke luar, dia lebih memilih tetap di rumah dan bermain dengan PS nya atau hanya sekedar menghabiskan waktunya dengan buku-buku.
Sagara juga bukan anak yang hunble yang bisa dekat dengan siapa saja, dia lebih cenderung introvert.
"Itu ada siomay, kita makan somay saja ya!"
"Hahhh?"
"Somay, kamu tahu kan siomay?"
Melihat ekspresi wajah Sagara, ia jadi tidak yakin jika anak laki-laki itu pernah makan siomay.
"Ayo!"
Ariel memilih kedai dengan tulisan di gerobaknya 'Siomay Bandung'
"Mbak Siomay nya dua porsi ya!"
"Baik, silahkan duduk!"
Ariel pun memilih duduk di kursi plastik warna biru yang ada di bawah pohon.
"Duduk di sini lebih nyaman!"
"Nyaman apanya!?" gerutu Sagara.
"Dari pada kita duduk di restoran ber-AC, mending di sini adem, anginnya asli!"
Tidak berapa lama, pemilik kedai siomay itu kembali dengan dua piring siomay di tangannya.
"Silahkan mbak mas!"
__ADS_1
"Terimakasih!"
Ariel segera mencomot siomay dengan sendok garpu yang sudah di sediakan, dia dengan lahap memakannya bahkan kuah kacangnya sampai menempel di sudut bibirnya.
"Ayo makan, jangan di liatin aja!"
"Iya!"
Sagara bingung harus memakannya bagaimana, dia terbiasa table manner. Dan ini untuk pertama kalinya dia makan makanan di pinggir jalan.
Enak .....
Sagara mempercepat kunyahannya, rasanya tidak jauh beda dengan masakan restoran.
"Gimana enak kan?" tanya Ariel yang penasaran dan Sagara pun menganggukkan kepalanya.
"Lumayan!"
"Ya iya lah enak!"
Bersama Ariel, Sagara mendapatkan pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan Sanaya tidak pernah bisa memaksanya untuk melakukan hal itu.
...**"**...
Sanaya sampai di rumah, ia segera masuk ke dalam kamarnya.
Ia cukup tahu konsekwensinya apa jika sampai omanya tahu tentang perasaan Abimanyu.
"Bagaimana kalau oma sampai tahu?" gumamnya, ia duduk di tepi tempat tidur dengan wajah cemasnya.
Di tempat lain, Abimanyu pun juga mengalami hal yang sama, ia beberapa kali harus meluapkan kekesalannya dengan terus memukul dinding kamarnya. Ia mengutuki kebodohannya.
"Seharusnya aku tidak melakukan hal itu! Ini akan jadi masalah buat Aku atau kakek, terutama Sanaya, kenapa aku ceroboh sekali ....!"
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, Abi tahu siapa orangnya. Pasti berita tentang tadi sudah sampai di telinga nyonya Ratih.
"Abi, kakek ingin bicara!"
Abimanyu pun mengusap air matanya dan segera menghampiri pintu membuka pintu itu lalu kembali duduk di tepi tempat tidur.
Kakek Mun mengikutinya, ia duduk di samping cucu satu-satunya.
"Maafkan aku kek, Abi hanya tidak bisa mengendalikan perasaan Abi!"
"Kakek tahu, tapi ingatlah Abi siapa kita dan siapa nona Sanaya itu, rasanya tidak pantas jika kita menginginkannya lebih!"
"Tapi kek, bukan kan nyonya Ara juga bukan dari keluarga terpandang pandang seperti kita tapi nyonya besar mau mengangkatnya untuk menjadi menantunya!"
"Karena nyonya Ratih tahu, jika nyonya Ara jauh lebih baik dari pada wanita yang sedang bersama tuan Agra, untuk melepaskan pengaruh buruk itu, nyonya besar memilih nyonya Ara, tapi nona Sanaya, dia masih terlalu muda!
Mumpung belum terlalu dalam, tepislah perasaan itu, lagi pula nanti kamu akan menemani tuan muda kuliah di luar negri, jadi lupakan perasaanmu pada nona Sanaya!"
Kakek Mun keluar meninggalkan. Abimanyu yang masih terdiam dengan luka yang begitu besar.
Ia tahu bukan karena statusnya yang hanya sebagai cucu seorang sopir yang membuatnya tidak masuk sebagai kriteria nyonya besar sebagai pendamping cucunya, tapi masa lalu ibunya yang menjadi akar dari semua ini.
Jika dulu bukan karena kebesaran hati tuan Agra, mungkin nyonya Ratih sudah membatalkan memilihnya sebagai tangan kanan Sagara saat tahu siapa ibu kandungnya sebenarnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading đ„°đ„°đ„°đ„°