
Sagara mengantar Ariel hingga sampai di depan rumahnya. Ariel segera turun dari motor dan menyerahkan helmnya.
"Aku masuk ya!"
Langit sudah gelap, ia tidak mungkin menawari Sagara untuk mampir. Sagara tersenyum dan menatap gadis yang berdiri di sampingnya dengan tas di tangannya. Mungkin punggungnya capek menenteng tas hingga ia harus menentengnya di tangan.
"Terimakasih ya untuk hari ini! Hari ini akan menjadi hari bersejarah bagiku!"
"Berlebihan sekali!" gumam Ariel yang masih bisa di dengar oleh Sagara.
"Nanti kamu juga akan tahu bagaimana menjadi aku, sekali lagi terimakasih!"
"Sama-sama!"
Ariel melambaikan tangan saat Sagara memakai kembali helmnya.
"Sampai jumpa besok!"
Motor itu kembali melaju melintasi jalan yang sama, jalanan setapak yang ada gang masuk rumah Ariel.
***
Gadis itu sedang duduk sendiri di bangku taman, ia beberapa kali terlihat memutar ponselnya.
Hatinya sangat ragu, ingin rasanya menghubungi seseorang, tapi begitu takut.
Abi ...., kamu kenapa mengatakan hal itu? Aku takut nanti tidak akan sama lagi ....
Ia cukup tahu konsekwensinya apa jika sampai omanya tahu tentang perasaan Abimanyu kepadanya.
Selama ini, dia bukannya tidak peka tapi dia memilih diam dan membuat semuanya biasa saja.
Beberapa kali bahkan dirinya memperingatkan Abi untuk tidak terlalu memberi perhatian lebih untuknya.
"Aku harus bertemu dengannya!" gumamnya. Ia segera mengetikan pesan dan mengirimkannya pada seseorang.
Bi ..., aku ingin bertemu!!
Terlihat di layar ponselnya pesan itu sudah centang warna biru artinya sudah di baca. Cukup lama hingga ada tanda mengetik, begitu lama ....
Baiklah!
"Cuma gini jawabnya!" gerutu Sanaya. Ia pun kembali mengetikkan sesuatu.
Aku tunggu di taman belakang, sekarang!
Hemmm
"Dia benar-benar menyebalkan!" gumam Sanaya. Ia pun segera keluar dari rumahnya dan mengambil sepeda yang terparkir di garasi.
Ia mengayuh sepedanya melewati beberapa penjaga. Sebentar lagi malam membuat para penjaga menghentikan Sanaya.
"Nona muda mau ke mana?"
"Ada perlu sebentar, tidak sampai setengah jam!"
"Tapi nona!?"
"Saya janji!"
"Baiklah nona!"
Akhirnya penjaga membukakan pintu gerbang, sepeda Sanaya melaju pelan menyusuri jalanan yang sepi itu, hingga ia berhenti di samping sebuah taman.
Ia meletakkan sepedanya begitu saja, menunggu hingga seseorang yang di tunggunya datang. Ia memilih duduk di rerumputan. Taman sudah terlihat sepi karena langit sudah mulai gelap.
Lima menit ia menunggu, hingga seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya.
Sanaya menoleh ke sampingnya, "Bi!"
Abi pun juga menatap Sanaya, "Maafkan aku!"
"Bisakah setelah ini semuanya akan tetap sama?" tanya Sanaya membuat Abimanyu mengalihkan tatapannya. Ia tidak yakin semuanya akan sama.
"Aku tidak tahu!"
__ADS_1
"Lalu kenapa kalau kau tidak yakin, kamu melakukan hal itu, Bi? Kenapa?"
"Karena aku tidak tahu bagaimana caraku menyembunyikan semuanya! Aku tidak yakin bisa melihatmu dengan yang lain!"
"Maksudnya Adit?"
Abimanyu menganggukkan kepalanya.
"ckkkk, Dia bukan siapa-siapa Bi!" Sanaya berdecak, ia tidak suka dengan pemikiran Abimanyu.
"Mungkin sekarang seperti itu, tapi besok? lusa? Dan lusanya lagi?"
"Berjanjilah Bi, jika nanti semuanya tidak lagi sama, berbahagialah meski tanpa aku!"
"Itu berat Nay, kau sama seperti memberi syarat agar aku tetap bernafas tanpa oksigen Nay!"
"Aku bukan oksigenmu, ada oksigen lain yang nanti akan membuat kamu bernafas!"
"Lupakan tentang itu Nay, aku akan bahagia jika kamu bahagia!"
"Aku akan bahagia!"
"Berjanjilah!"
"Aku janji!"
Mereka mengakhiri pembicaraan mereka saat seseorang pengawal menghampiri mereka.
"Maaf nona, nyonya besar meminta anda untuk kembali!"
"Baiklah!"
Sanaya segera berdiri dan menepuk bajunya yang sedikit kotor.
"Aki pulang Bi, sampai jumpa besok!"
"Iya!"
Sanaya segera berlalu meninggalkan Abimanyu yang masih terdiam di tempatnya.
Sanaya yang sampai di rumah segera menuju ke ruangan omanya.
"Oma memanggil ku?"
"Hmmm, duduklah!"
Sanaya segera duduk di sofa yang ada di ruang kerja omanya.
"Ada apa oma?"
"Oma cuma ingin mendengarkan penjelasan dari kamu!"
"Mengenai apa oma?"
"Menurutmu tidak ada yang kamu sembunyikan?"
"Maksud oma?"
"Apa oma yang perlu menjelaskan padamu?"
"Sanaya benar-benar tidak mengerti oma!"
"Jauhi Abimanyu, atau oma yang akan menjauhkan Abimanyu dari kamu!"
"Oma kok kayak gitu sih oma!?" protes Sanaya.
"Terserah kamu, ingin Abimanyu tetap melanjutkan pendidikannya atau jauhi dia?"
Sanaya menghela nafas,
"Nay yang akan jauhi Abi, tapi jangan apa-apa Abi oma, Nay janji!"
"Bagus, sekarang kamu boleh keluar!"
"Baik oma!"
__ADS_1
Sanaya segera keluar dari ruangan itu. Ia hanya diam sampai ia tidak menyadari sedang berpapasan dengan seseorang.
"Nay!?" Sagara mengerutkan keningnya melihat saudarinya yang sepertinya sangat terpukul.
"Kamu kenapa?" tanya Sagara lagi.
"Nggak kenapa-kenapa!" ucap Sanaya lalu berlalu begitu saja, saat akan sampai di kamarnya ia kembali bertemu dengan mom Ara.
"Sayang, tadi mom cari kamu di kamar tapi tidak ada, kamu dari mana?" tanya mom Ara tapi Sanaya memilin berlalu begitu saja meninggalkan mommy nya dan masuk ke dalam kamarnya.
Mom Ara mengerutkan keningnya menatap pada Sagara dan putranya itu malah mengangkat kedua bahunya tidak mengerti dan memilih masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa sih sama Sanaya?"
Mom Ara pun memilih menghampiri suaminya yang ada di dalam kamar, suaminya yang baru saja selesai mandi segera duduk di sofa untuk meminum kopi panasnya.
Melihat istrinya kembali lagi, ia pun meletakkan kembali cangkirnya dan menatap istrinya.
"Kenapa kembali sayang? Sanaya nya nggak ada ?"
Mom Ara pun segera duduk di samping suaminya itu.
"Aku nggak jadi ngomong sama Nay, bby!"
"Kenapa?"
"Kayaknya suasana hati Nay sedang tidak baik!"
"Benarkah?"
Mom Ara pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah biar aku aja yang bicara!"
Papa Agra pun berdiri dari duduknya, ia segera keluar kamar dan menuju ke kamar putrinya.
Tok tok tok
"Nay sayang, ini papa! Boleh nggak papa masuk?"
"Masuk aja pa, nggak di kunci!" teriak dari dalam.
Agra pun segera membuka pintu kamar itu dan melihat putrinya sedang tidur tengkurap di atas tempat tidurnya.
Papa Agra pun duduk di samping putrinya dan mengusap kepala putrinya itu.
"Ada apa sayang?"
Sanaya bukannya menjawab pertanyaan papanya, ia memilin untuk bangun dan memeluk papanya itu.
"Nay kesal pa sama oma!"
"Kesal kenapa sayang?"
"Nay nggak suka di atur-atur sama oma!"
Papa Agra pun segera menarik menjauh tubuh Sanaya hingga terlepas dari pelukannya. Ia menatap wajah putrinya itu.
"Nay sayang, Nay tahu nggak dulu papa juga sangat marah dan benci sama oma, dulu pas papa masih muda, bahkan papa lebih memilih tidak punya ibu seperti oma!"
Sanaya mengerutkan keningnya,
"Benarkah?"
"Benar sayang!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading đ„°đ„°đ„°đ„°
__ADS_1