My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Extra part 11


__ADS_3

Hati ini tampak Ara begitu sibuk, ia sibuk menyambut kedatangan ayah dan adiknya. Bi Anna sudah melarangnya untuk tidak melakukan sesuatu, tapi Ara tetaplah Ara.


"Nyonya tolong berhentilah ...., biar kami saja yang melakukannya ....!" ucap Bi Anna.


"Aah ...., bi biarkan aku melakukan sesuatu ....!"


"Tapi nyonya besar akan marah jika tahu nyonya muda melakukan semua ini ...., tolong jangan mempersulit kami nyonya ....!" ucap bi Anna dengan sangat menyesal.


"Baiklah .....!"


Akhirnya Ara menyerah, ia tak mau mempersulit pekerjaan pelayan di rumah itu, jangan sampai karenanya para pelayan mendapatkan masalah.


Ara pun ke ruang keluarga, menghampiri Sagar dan Sanaya. Mereka sedang di tidurkan di kereta dorong nya. Nita dan Reni setia mendampingi mereka.


"Biar saya saja mbak yang menjaga mereka, kalian bisa bantu-bantu di dapur ....!" perintah Ara pada dua babysister nya.


"Baik nyonya ...., kami permisi dulu ....!" Ara pun hanya mengangguk.


Agra yang baru saja keliar dari ruang kerjanya segera menghampiri Ara dengan kedua malaikat kecilnya.


"Sayang ...., bang Divta sudah ke sini belum?" tanya Agra sambil memeluk Ara dari belakang.


"Bang Divta?" tanya Ara.


"Iya ...., aku mengundang bang Divta juga ...., kamu nggak keberatan kan?"


"Enggak bby ...., aku malah senang ....!"


Baru saja mereka selesai membicarakannya, orang itu sudah muncul.


"Siang Gra ....!" sapa Divta.


"Bang ....! Saya kira bang Divta tidak akan datang ....!" ucap Agra sambil memberi pelukan pada saudara laki-laki nya itu.


"Pasti datang dong ...., ibu di mana?" tanya Divta sambil mengedarkan pandangannya.


"Ibu ada urusan sebentar, nanti sebelum makan malam, ibu janji akan pulang ...!"


"Baguslah .....!"


Mereka pun duduk di sofa panjang, bi Anna sudah menyuguhi mereka dengan minuman dan beberapa camilan. Ara sibuk mengajak bicara baby twins.


"Aku akan menyuruh pak mun menjemput mereka ....!" ucap Agra yang hendak meraih tombol yang ada di sampingnya, tombol yang mampu menghubungkan seisi rumah dengan hanya satu kali memencet tombol dengan nomor tombol yang berbeda-beda.


"Jangan ....!" ucap Divta mencegah Agra.


"Ada apa bang?" tanya Agra dengan sedikit terkejut, ia mengerutkan keningnya, tak mengerti apa yang akan di lakukan abangnya itu.


Mungkin aku akan tahu dimana persembunyian si ceroboh itu ...., tunggu aku girl ....


"Biarkan saya saja yang menjemputnya ....!" ucap Divta membuat Agra kembali terkejut.


"Ada apa ini ....?" tanya Agra, ia mengira ada maksud di dalamnya.


Kenapa bang Divta ngotot sekali ....? Apa ada sesuatu yang aku tidak tahu ....?

__ADS_1


"Aku cuma ingin saja ...., lagi pula pak Mun juga masih ada pekerjaan kan."


Aku rasa itu alasan yang bagus kan ....


Divta terus saja berusahan mencari-mencari alasan untuk bisa menjemput keluarga pak Roy.


Kenapa ini mencurigakan ya ....! Heh .... aku harus mencari tahu ....


"Ini benar ....? Apa ada sesuatu yang aku lewatkan ...!"


"Jangan curiga padaku ...., baiklah aku akan menjemput mereka ...., kirimkan alamatnya padaku ....!" ucap Divta, ia tak mau adiknya itu semakin mencurigainya.


Divta pun segera meninggalkan Agra yang masih bingung dengan kelakuan abangnya.


Divta mencari pak Mun dan meminta mobil yang besar untuk di bawanya.


"Biar saya saja tuan yang berangkat ...., tadi tuan Agra sudah memintaku ....!" ucap pak Mun sebelum menyerahkan kunci mobilnya.


"Tidak pak Mun ....!" ucap Divta sambil menepuk bahunya. "Biar aku saja yang menjemput mereka ...., Agra sudah menyetujuinya ...., pak Mun jangan khawatir ....!"


Akhirnya pak Mun dengan berat hati menyerahkan kunci mobil. Divta langsung menghampiri mobil dan dengan cepat ia membawa mobil itu melaju meninggalkan halaman luas rumah besar itu.


***


Tak berapa lama pak Roy dan keluarganya sampai juga di rumah besar. Divta mengantar mereka dengan selamat.


Agra sudah menyambut mereka di depan rumah bersama Ara.


"Bby ...., kenapa ramai sekali ...?" tanya Ara pada Agra saat melihat yang dayang dengan ayahnya bukan cuma adiknya.


"Najti kamu juga akan tahu sayang ....., bersabarlah .....!"


"Selamat datang ayah ....!" sapa Agra.


"Ayah senang bisa datang ke sini .....!" ucap Roy sambil memeluk menatunya itu.


Roy pun segera menoleh pada putrinya,


"Ayah .....!" sapa Ara, ia pun segera memeluk ayahnya. "Ara senang bisa lihat ayah lagi ....!"


"Ayah juga sayang ....!"


"Mari kita masuk yah ....!" ucap Agra mempersilahkan mereka masuk."Mari bu ...., nek ...., kami senang bisa menyambut kalian ....!"


Ara yang memang belum tahu menahu mengenai pernikahan ayahnya hanya bisa menatap satu persatu orang-orang baru yang bersama ayah dan adiknya itu.


"Mereka siapa bby ...?" bisik Ara pada Agra. Agra pyn harus menundukkan kepalanya agar istrinya tidak terlalu berjinjit.


"Biarkan mereka masuk, nanti ayah yang akan menjelaskan ....!" ucap Agra ikit berbisik pada Ara.


"Baiklah ..... !"


"Mari masuk ....!" Agra kembali mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah.


Mereka pun langsung menuju ke ruang keluarga yang sangat luas itu, di sana semua pelayan sudah menyambut mereka. Mereka memberikan berbagai cemilan dan minuman.

__ADS_1


"Sekarang ayah punya hutang penjelasan pada Ara!" ucap Ara pada ayahnya.


"Iya ...., maafkan ayah sayang karena tidak menceritakan ini dari awal ....!" ucap Roy.


"Jadi apa sekarang ayah mau menjelaskan padaku ...?!"


"Tentu sayang ...., kenalkan ini nenek Nani ...., ibu ayah ..., nenek kamu ....!"


"Jadi Ara masih punya nenek?"


"Iya sayang ....!"


"Nenek ....!" Ara pun segera menghampiri nenek Nani dan memeluknya. "Nenek ...., aku benar-benar tak percaya ...., ini nenek Ara ....!"


Ara menangis dalam pelukan neneknya. Agra pun segera mendekati istrinya dan menepuk punggung istrinya memberinya kekuatan. Setelah perasaan harunya sudah tak lagi meledak-ledak, Roy pun kembali melanjutkan bicaranya.


"Dan ini Dewi, ibu Dewi ...., beliau ini adalah istri dari saudara kembar ayah, dulu .....!"


"Dulu ....?" tanya Ara.


"Jadi saudara kembat ayah sudah meninggal dua tahun yang lalu ...!"


"Ayah yang sabar ya ....!" ucap Ara merasa prihatin dengan ayahnya, karena ia tahu bagaimana perjuangan ayahnya untuk bisa menemukan saudar kembarnya itu.


"Ayah tidak pa pa nak ....!"


"Salam ibu Dewi ...., Ara senang bisa bertemu dengan ibu Dewi . .!" ucap Ara sambil menyentuh tangan bu Dewi. bu Dewi pun tersenyum ramah pada Ara.


"Ibu juga senang bisa bertemu dengan Ara ...., semoga keluargamu akan selalu bahagia ..., ibu sudah mendengar semua perjuangan keluargamu dari ayahmu ...., ibu begitu salut dengan kegigihan kalian ...!"


"Terimakasih ibu ...!" Ara menghangat dengan sikap Dewi yang begitu keibuan.


"Ayah juga ada berita lagi untuk kamu sayang ...!"


"Apa itu ayah .....?"


"Bu Dewi ini sekarang sudah menjadi ibumu ...!"


"Maksudnya?"


"Ayah sudah menikah dengan ibu Dewi . ..!"


"Apa?" Ara begitu terkejut mendengar ucapan ayahnya.


*Bagaimana ayah menyembunyikan hal sebesar ini ...?


**Atention :


Di bab ini langsung ya aku pisahkan, walaupun dalam satu setting, tapi Author bakal menyuguhkan yang beda dari sudut pandang Ara dan Agra di my bos is my hero


dan dari sudut pandang Nadin dan Rendi di My block of ice***


**BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya

__ADS_1


Kasih Vote juga ya yang banyak


Happy Reading 😘😘😘😘**


__ADS_2