
Akhirnya Ara membawa anak-anaknya ke dalam kamar, membacakan
dongeng kepada kedua buah hatinya. Sedangkan Agra, saat ia hendak menyusul istri dan anak anaknya, nyonya Ratih
menghentikannya.
“Tunggu!” langkah Agra terhenti di ujung tangga, ia menoleh
kembali ke arah ibunya.
“Aku ingin bicara!” ucap nyonya Ratih dengan nada tegasnya.
Agra sudah tahu apa yang akan di bicarakan ibunya itu, pasti
ibunya mempertanyakan tentang keputusan yang telah ia ambil. Pasti menurut ibunya keputusannya adalah sebuah pelampiasan sesaat karena amarahnya.
“Kita bicara besok ya, bu! ini sudah malam, istirahatlah bu, selamat malam!”
Agra sedang tidak ingin membicarakan hal itu, ia memilih
melanjutkan langkahnya menyusul istri dan anak-anaknya. Nyonya Ratih hanya bisa
menghela nafas.
“Aku harap keputusannya ini tidak menjadi masalah di
kemudian hari!” gumam nyonya Ratih saat Agra sudah berlalu dari hadapannya.
Nyonya Ratih menyerah, ia harus bersabar menunggu besok pagi
untuk bicara pada putranya itu, kadang ia merasa putranya terlalu gegabah.
Agra tidak langsung masuk ke kamarnya, ia menghentikan langkahnya di antara dua kamar itu, ia melilih berjalan ke pintu berwarna biru, ia memilih ke kamar
anak-anaknya untuk memastikan
anak-anaknya sudah tertidur.
Pintu itu tidak tertutup sempurna, dengan perlahan Agra membuka pintu itu, ia melihat
istrinya sedang menidurkan kedua putra putrinya, ia tidur memunggungi pintu,
menepuk nepuk perut putra putrinya bergantian.
Agra mendekat ke arah istrinya yang tidur membelakangi arah pintu, ia membungkukkan badannya dan mendekatkan
wajahnya ke wajah istrinya yang sedang terpejam.
Cup
Agra mengecup puncak kepala istrinya, membuat pemilik mata
indah itu membuka matanya.
“Bby!” ucap Ara lembut.
“Apa mereka sudah tidur?’ Tanya Agra sedikit berbisik.
“Mereka baru saja tidur, bby! Apa kau juga mau tidur di sini?” tanya Ara.
“Apa itu boleh?” Agra malah balik bertanya, selama ini Ara tidak pernah mengijinkan suaminya itu untuk ikut tidur di ranjang anak-anak nya karena jika berempat akan sangat sempit.
“Tentu!”
__ADS_1
Tapi malam ini sepertinya pengecualian, Ara menggeser tempat tidurnya, kini Agra tidur di
belakang Ara, ia memeluk pinggang istrinya, mengecup tengkuk istrinya dan
segera tertidur tanpa mengganti pakaiannya, Ara tetap dengan gaunnya dan Agra
dengan jasnya.
🌺🌺🌺🌺
Pagi ini seperti janjinya pada nyonya Ratih, sebelum berangkat kerja, Agra menyempatkan diri untuk menemui
ibunya di ruang kerjanya.
Ternyata saat sampai di depan pintu ruang kerja ibunya, di sana sudah ada paman Salman.
“Paman!” sapa Agra.
“Selamat pagi tuan muda!” sapa Salman balik sambil menundukkan kepalanya, sudah sangat jarang pria paruh baya itu berkunjung ke rumahnya, sama seperti putranya sepertinya paman Salman sengaja menjauh.
“Pagi paman, bagaimana kabar paman? sudah lama sekali tidak bertemu!"
“Kabar saya baik tuan, tapi akan sangat sibuk jika anda membuat sesuatu yang akan merepotkan, tuan!” ucap pria paruh baya itu, banyaknya
kerutan menandakan telah banyaknya persoalan yang telah berhasil ia selesaikan
walaupun terkadang ada beberapa yang terlewatkan.
“Maaf paman! Semua akan baik-baik saja, aku harus masuk ibu sudah menungguku!"
"Silahkan!"
Nyonya Ratih sudah menunggu di tempatnya, ia duduk di sofa
“Pagi bu!” sapa Agra sambil menunduk memberi hormat.
Agra pun segera duduk di hadapan ibunya, ia harus duduk
dengan sikap tegaknya walaupun berbicara dengan ibunya tapi sikap sebagai
putra mahkota tetaplah harus ada.
“Jelaskan padaku tentang tadi malam!” ucap nyonya Ratih tanpa mengubah posisinya. nyonya Ratih adalah salah satu putri dari anggota keraton di Jawa, jadi etitut sebagai anggota bangsawan tetap di pakai dan di itu juga berlangsung untuk Agra walaupun mereka sudah jauh tinggal di luar wilayah keraton.
“Ini hanya masalah kecil, ibu. Agra akan dengan cepat
menyelesaikannya, jangan khawatir ibu!”
“Menyelesaikan dengan memecat mereka semua dan menggantikannya
dengan yang baru?”
“Hanya mereka yang benar-benar memiliki etos kerja yang
tinggi yang akan saya pertahankan, dan untuk yang lainnya maaf ibu, saya tidak
bisa mempertahankannya. Ada beberapa dari mereka melakukan penggelapan dan
beberapa kecurangan lain!”
“Apa kau yakin?” tanya nyonya Ratih memastikan.
“Berkat ajaran dari paman Salman dan ibu, sekarang saya bertindak sesuai
__ADS_1
dengan bukti bukan hanya asal-asalan!”
Agra segera menyerahkan sebuah map yang sedari tadi berada
di tangannya.
Nyonya Ratih segera memeriksanya dan ternyata benar apa yang di
katakana oleh putranya itu.
Tugas menyelidiki yang di serahkan kepada Rendi sebelum Rendi mengundurkan diri selesai tepat waktu, dan ternyata dari hasil
penyelidikannya mereka menemukan beberapa penyelewengan uang perusahaan.
Setelah membaca dan memeriksa map itu, nyonya Ratih tersenyum tipis, begitu anggun.
“Baiklah , lakukan yang terbaik!”
Agra mengangguk, ia mengerti ibunya sudah mendukung keputusannya.
“saya permisi dulu, ibu!” Agra berdiri dari duduknya dan
meninggalkan ruangan itu.
Di depan ruangan itu ternyata sagara sudah
menunggunya.
“Bang ,…., kenapa di sini?” Tanya Agra sambil membungkuk
Agar bisa menjangkau wajah putranya. Sagara berkacak pinggang persis seperti
gayanya saat menyelidik.
“Apa papi melakukan kecalahan?” Tanya Sagara menyelidik.
“Tidak …, pap tidak melakukan kesalahan sayang!”
“Lalu apa ini? Oma memanggilmu pap, dia pasti memalahi pap!”
“Jangan sok tahu!” agra gemas pada putranya itu, ia mengusap
kepalanya dengan gemas.
Sagara hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya.sagara
berdecak persis sepertinya saat berdecak.
“Actaga …, pap belbohong padaku!” Sagara memegang dahinya dengan tangan satunya masih ia letakkan di pinggang
dan meninggalkan papinya begitu saja.
“Astaga sebenarnya di sini siapa yang dewasa sih, kenapa dia
menirukan semua gayaku!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 😘😘😘😘😘