
Setelah menjenguk Nadin dan memastikan jika adiknya itu baik-baik saja, Agra dan Ara pun segera pulang ke rumah karena Ara sudah meninggalkan Sagara dan Sanaya cukup lama.
Saat mereka sampai di halaman rumah, Sagara sudah menyambut mereka di depan pintu dengan berkacak pinggang.
Agra yang menyadari jika putranya itu sekarang sedang marah, ia pun berinisiatif menghampirinya terlebih dulu.
"Selamat sore sayang, ada apa? Kenapa cemberut seperti itu?" tanya Agra sambil berjongkok di depan putranya.
"Gala malah cama pap!" ucap sagara sambil melipat lengannya di depan dada, bergaya marah.
"Marah kenapa? Apa kesalahan papi?" tanya Agra tanpa rasa bersalah.
"Karena pap udah buat mom nggak pulang-pulang, pap pasti mau menguacai mom cendili kan?!"
Ara yang merasa kasihan sama suaminya, ia pun segera menghampiri dua pria yang begitu di sayangnya itu.
"Sini peluk mom sayang ....!" ucap Ara sambil merenggangkan tangannya bersiap untuk di peluk, dan benar saja sagara segera berhambur ke dalam pelukan Ara.
"Mom kangen banget tahu sama Sagara dan Sanaya!" ucap Ara sambil menciumi seluruh wajah Sagara setelah melepaskan pelukannya, tapi seperti biasa Sagara segera menahan ciuman mominya.
"Ada apa sayang, kenapa momi nggak boleh cium lagi!"
"Cudah cukup mom ...., kacian papi, mom!"
"Memang kenapa dengan papi?" tanya Agra yang sedari tadi menyimak pembicaraan putra dan istrinya.
"Papi pasti cembulu cama cagala." Ara yang mendengarkan celotehan Sagara hanya bisa tersenyum, sedangkan Agra mendengus kesal.
__ADS_1
"Cehhh ...., siapa yang sudah mengajarinya seperti itu."
"Mom ...., kenapa pulangnya telat?" tanya Sagara kemudian.
"Maafkan momi sayang ...., tadi unty Nadin masuk rumah sakit, jadi mom sama pap harus jenguk unty Nadin dulu!"
"Unty Nadin cakit apa mom? Cagala pengen jenguk unty Nadin!"
"Iya sayang, nanti kalau unty Nadin sudah boleh pulang dari rumah sakit ya ....!"
"Nggak boleh cekalang jenguknya mom?"
"Nggak boleh sayang, kan anak kecil nggak boleh ke rumah sakit!"
"Tapi mom halus janji ya cama cagala, kalau unty Nadin cudah kelual dali lumah cakit, kita jenguk unty Nadin!"
"Ye ye ye ....!" Sagara menari-nari senang, mendengar ucapan mominya.
Ara pun segera mencubit pipi putranya itu ganas, setiap kali tingkah Sagara berhasil menyita perhatian orang.
"Mom ...., hentikan!" ucap Sagara sambil melepaskan tangan Ara dari pipinya.
"Kenapa?"
"Aku nggak cuka ya kalau mom cubit-cubit pipi gala, gala cudah becal ...., kalau mau cubit-cubit, cubit pipinya Nay aja mom!" memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Sagara benar-benar memiliki sikap yang sama dengan papinya.
"Oh iya ...., dimana Nay, sayang?" tanya Agra pada putranya itu.
__ADS_1
"Nay lagi bantu bi Anna buat matanan, tatanya mau biatin matanan untuk pap and mom!"
"Masak?" tanya Agra dan Ara bersamaan, dan Sagara dengan menggemaskannya mengangguk.
Agra segera menggendong jagoan kecilnya. "Ayo kita lihat, Nay masak apa!"
Mereka segera menghampiri Sanaya yang berada di dapur dengan beberapa pelayan, ternyata bukannya membantu bi Anna tapi Sanaya malah membuat dapur itu begitu berantakan.
Melihat kegemasan Sanaya, sontak membuat Agra dan Ara tertawa terbahak-bahak. Sanaya yang merasa sedang di tertawakan dengan wajah cemongnya segera menoleh ke sumber suara."Mom ....!" teriak Sanaya dan segera berlari menghampiri Ara dan memeluknya.
"Pap tidak di peluk nih?" protes Agra.
"Pap ...., tenapa pap curah pulang?" tanya Sanaya heran karena melihat papinya yang sudah pulang masih sore.
"Jadi nggak suka lihat pap pulang nih?"
"Nay ...., ceneng liat pap pulang!" Sanaya pun segera melepaskan pelukan dari mominya dan beralih pada papinya, Sanaya memang lebih dekat dengan papinya. Memang sudah menjadi hukum alam mungkin, jika seorang anak perempuan pasti lebih dekat dengan bapaknya ketimbang emaknya.
BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘
__ADS_1