
Sanaya dan Sagara memang selalu berangkat bersama begitu juga dengan Abimanyu.
Kakeknya selalu datang pagi-pagi ke rumah besar membuatnya ikut datang pagi-pagi pula.
Sarapan adalah saat di mana semua anggota keluarga harus berkumpul terutama nyonya Ratih.
Semua di meja makan terlihat hening dan sibuk memakan makanannya. Lalu nyonya Ratih menatap cucu laki-lakinya itu.
"Sagara, selamat ya atas presentasi kamu, kemarin, kata Salman presentasi kamu sangat bagus, nenek bangga padamu!"
Kini Sagara sudah menjelma menjadi anak sekolah lagi dengan baju seragamnya bukan Sagara yang memakai setelan jas rapi.
Nenek ihhhhh, pagi-pagi udah mulai drama aja ....., batin Nay kesal. Ia tahu setelah ini dia yang akan jadi sasaran.
"Terimakasih nek atas pujiannya!" ucap Sagara tapi ia menggerakkan matanya menatap saudara kembarnya itu. Ia bisa melihat wajah kesal dari saudara kembarnya itu.
"Lihatlah Sanaya, Sagara sudah banyak prestasinya di usianya yang masih muda, kamu juga harus berusaha seperti itu!" ucap nyonya Ratih pada cucu perempuannya.
"Iya nek!"
Papa Agra bisa melihat wajah kesal putrinya itu, ia tidak mau ibunya terus mencerca putrinya.
"Bagaimana pertemuanmu kemarin Gara?" tanya papa Agra di sela-sela sarapan mereka, ia tidak mau ibunya terus memojokkan putrinya tapi ternyata pertanyaan itu di tanggapi sebaliknya oleh Sanaya, wajahnya semakin kesal saja.
"Katanya pihaknya akan mengirimkan jawaban melalui email perusahaan!"
"Baguslah, papa bangga padamu!"ucapnya, tapi kemudian ia beralih menatap putri nya, ia mau jika putranya membanggakan bisa juga putrinya juga membanggakan. Kalau bukan di dunia bisnis setidaknya biarkan dia mendapatkan prestasi di akademi.
"Kalau kamu Sanaya, bagaimana ulangan mu kemarin?"
Karena seingat papa Agra kemarin Nay mengeluh akan ulangan. Sebenarnya Nay bukan anak yang bodoh, dia cuma sedikit protes dengan neneknya yang jarang menganggapnya. Ia juga ingin mendapatkan nilai semampunya.
"Nay ...., papa kamu tanya loh, di jawab dong sayang!" mom Ara mencoba menasehati putrinya itu.
"Iya pa, Nay tahu ...., papa minta hasil ujian Nay kan? Nanti aja papa ambil sendiri di kamar Nay!"
Belum sampai mom Ara menjawabnya lagi, Sanaya pun sudah lebih dulu berdiri.
"Ayo Gara kita berangkat, sudah siang nihhh!"
Nay pun segera meninggalkan meja makan dan keluar.
"Nay ...., tunggu!" panggil mom Ara tapi Nay tidak mempedulikannya lagi. Ia bukannya membenci mom Ara atau pap Agra, tapi ia tidak suka jika papa nya menanyakan tentang prestasi di depan neneknya, sudah pasti dia yang akan menjadi bulan-bulanan oleh neneknya.
Di depan ternyata sudah ada Abimanyu yang menunggu.
"Pagi Nay!"
"Pagi!"
__ADS_1
Abimanyu melihat wajah kesal Sanaya.
"Ada apa Nay!"
"Bukan urusanmu juga kenapa banyak sekali yang bertanya padaku bagi ini!"
Dia memang sedang PMS, biasanya juga tidak se- sensitif itu. Karena Nay sepertinya sedang tidak bersahabat, Abimanyu memilih membukakan pintu mobil untuk Nay agar segera masuk ke dalam mobil.
"Ini salah kalian karena telah memanjakan Sanaya!" ucap nyonya Ratih yang gantian menyalahkan papa Agra dan mom Ara.
Sagara yang tidak mau melihat orang tuanya juga ikut di salahkan pun segera berdiri.
"Mom, pa, nek, Gara berangkat dulu ya!" pamit Sagara dengan menunduk hormat pada ketiga orang yang ia sayangi itu.
"Iya sayang!"
Sagara segera meninggalkan meja makan dan menyusul Sanaya.
"Dimana Nay?" Tanya Sagara saat hanya melihat Abimanyu di depan rumah.
Abimanyu hanya menunjukkan dengan jari telunjuknya ke arah mobil.
Sanaya sudah berada di dalam mobil, Sagara pun menyusulnya masuk.
"Ayo kita berangkat!" teriaknya lagi saat sudah berada di dalam mobil.
Abimanyu pun segera berlari mengitari mobil dan duduk di bangku kemudi, usianya dua tahun lebih tua dari Sagara, sudah sembilan belas tahun, ia sudah punya SIM sedangkan Sagara masih proses pembuatan karena terkendala dengan usia.
"Nay!"
"Aku tahu kamu mau marah kan, kalau marah marah saja, emang aku peduli!"
Sanaya menjawab tanpa menatap Sagara, ia memilih memalingkan wajahnya keluar jendela mobil.
"Kalau ada orang bicara itu diam dan dengarkan tatap orangnya!" Sagara tidak kalah kesalnya dengan kelakuan adik kembarnya itu.
Akhirnya Sanaya pun mau menatap Sagara. Ternyata hati kecilnya juga merasa bersalah karena sudah membuat kekacauan di pagi hari.
"Kamu sudah menyakiti mom!" ucap Sagara dengan menatap tajam pada adik kembarnya itu, tatapan yang itu sudah cukup untuk membuat nyali Sanaya menciut.
"Maaf!"
"Bukan padaku, tapi mom!"
Tidak perlu berteriak atau memaki, cukup dengan kata-kata nya yang tegas dan matanya yang bicara sudah membuat lawan bicaranya berpikir dua kali untuk membatah.
Sekarang Abimanyu faham dengan apa yang terjadi. Ia tidak perlu lagi bertanya dan sudah tahu jawabannya. Hal seperti ini sudah sering kali terjadi dan gadis yang duduk sendiri di belakang itu pasti nanti akan menangis di belakang sekolah dan sudah menjadi tugasnya untuk menenangkan.
...****...
__ADS_1
10.00 wib, di belakang sekolah
Entah tempat favorit atau apa, tapi selalu di sini dan di tempat yang sama.
"Mau minum!" Abimanyu menyodorkan sebotol minuman dingin di kepala Sanaya yang sedang duduk dan menjadikan lututnya sebagai tempat paling nyaman untuk menyembunyikan wajahnya.
Sanaya segera mendongakkan kepalanya menatap anak laki-laki yang berdiri di depannya itu.
"Abi!"
Abimanyu pun duduk di samping Sanaya, di rumput hijau yang baru saja di potong itu. Ia membukakan segel botol minum itu dan kembali menyerahkannya pada Sanaya. Sanaya pun mengambilnya dan meminumnya, tenggorokan nya sudah sangat kering karena terlalu banyak menangis.
"Terimakasih ya!" Sanaya kembali menutup botol yang isinya tinggal setengah itu dan mengusap air matanya.
"Jangan menangis!"
Abimanyu memang tidak begitu banyak bicara, ia hanya bicara seperlunya saja dan selebihnya ia lebih suka menjadi pendengar yang baik, dia juga kutu buku jadi tidak heran jika tempat favorit nya di perpustakaan sekolah sedangkan Sanaya sebaliknya, ia begitu anti dengan perpustakaan tapi dia cukup aktif mengikuti ekstrakurikuler, baginya dengan mengikuti ekstrakurikuler ia tidak perlu banyak menghabiskan waktu di rumah lagi pula ia juga ingin menunjukkan kepada neneknya kalau di juga bisa berprestasi.
"Aku jahat banget ya Abi? Aku anak yang egois, aku tidak sepintar Sagara kan?"
"Kamu pintar, mau aku ajari sesuatu?"
"Apa?"
"Aku bisa jadi guru privat kamu!"
"Mana bisa, kamu kan sibuk?"
"Aku bisa, aku akan meluangkannya untukmu, bagaimana?"
"Benarkah?"
"Iya ...., kalau kau mau sih!"
"Aku mau!"
"Baiklah, sebelum pulang sekolah atau di sela jam ekstrakurikuler mu, kita bisa bertemu di sini dan mulai belajar!"
"Baiklah ..., aku setuju!"
Abimanyu mengusap kepala Sanaya gemas, saat berdua seperti ini Sanaya memang tidak suka jika di perlakukan seperti anak atasan dan bawahan. Mereka berteman sejak kecil, bahkan Abimanyu yang sudah menyelamatkan nyawanya waktu itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading đ„°đ„°đ„°đ„°