
Kini Sanaya sudah kembali di kelasnya, pelakunya
tidak meninggalkan apapun di tempat itu. Jelas saja karena memang pelakunya
melemparkan bukunya dari atas jadi tidak mungkin pelakunya meninggalkan jejak
kecuali ada saksi mata.
Sanaya terus mengamati Riska, tidak ada yang
mencurigakan dari anak itu.
Lalu siapa?
Karena terlalu fokus dengan siapa pelaku yang sudah
membuang bukunya membuat Sanaya lupa kalau dia punya tugas rumah yang tidak ia
kerjakan sebelumnya.
“Sanaya mana tugasmu?”
Astaga …., kenapa Abi juga nggak ngingetin sih …., batin Sanaya, sepertinya dia sudah terlanjur tergantung pada pria itu. Sedangkan pria itu
bukan di tugaskan untuk menjadi asisten Sanaya tapi jadi asistennya Sagara.
Tapi apa di kata, Sanaya begitu tergantung padanya.
sampai Abi lah yang selalu mengingatkan PR Sanaya.
“Maaf bu, saya lupa!”
“Enteng sekali bicaranya!” bu guru terlihat geram dengan ulah Sanaya, “Baiklah, nanti saat istirahat kerjakan dua puluh lima soal selanjutnya!”
“Banyak banget bu!”
“Ya mau bagaimana, kamu milih yang banyak ketimbang
yang sedikit!”
Setidaknya Sanaya lebih beruntung karena dia tidak
di minta untuk keluar saat itu juga. Tapi ia masih harus menyiapkan jawabannya
setelah istirahat dan mengumpulkannya di ruang guru sebelum jam pulang sekolah.
Akhirnya guru keluar juga saat bel istirahat berbunyi, awalnya Sanaya berniat untuk mengerjakan tugasnya di kelas, tapi ternyata kelas bukan tempat yang tepat karena kelasnya begitu gaduh.
Sanaya pun keluar dari kelas, ia berjalan menyusuri
teras kelas. Ingin sekali ke perpus tapi rasanya akan sangat aneh jika dia ke
sana.
“Tangga …!”
Ia teringat sebuah tempat yang sepi, tangga yang
menghubungkan antara aula dengan lab bahasa. Ia segera mempercepat langkahnya
dan benar saja, jarang sekali anak yang mau duduk di sana karena jauh dari
kantin.
Sanaya segera menggelar bukunya di sana, mengisi
beberapa soal yang ia bisa jawab dan sebagian besarnya ia tidak bisa.
“Mana ada dua puluh lima soal yang bisa cuma sepuluh!”
keluh Sanaya sambil memukul kepalanya sendiri, sebenarnya hanya menjawab tanpa
menghitung, jika dia sedikit rajin saja pasti bisa menjawab semua soal itu dengan benar.
“Di hukum lagi?” tanya seseorang membuat Sanaya
mengedarkan pandangannya, tidak ada siapapun.
Ternyata ada Aditya di sana, di balik tangga yang
ada di atasnya.
“Kamu? Ngapain di situ?”
Aditya pun segera turun, ia membawa sebuah kotak
makan siang.
“Lagi makan siang!”
“Makan siang tuh di kantin, bukan di sini!”
“Tapi lebih enak masakan bunda ku dari pada ke kantin!”
“Dasar anak bunda!”
“Aku bangga sih jadi anak bunda!”
Sanaya tidak ma uterus menanggapi ucapan Aditya,
lagi pula tidak akan ada habisnya. Ia memilih melanjutkan membaca beberapa
soalnya.
Aditya cukup penasaran, dia pun menengok ke arah
__ADS_1
Sanaya.
“Suka banget di hukum!”
“jangan komen kalau nggak mau bantu!”
“Mana sini kan buku mu!”
“Serius?”
“Iya!”
Sanaya pun menyerahkan bukunya pada Aditya.
“bawakan kotak makan ku!”
Kini sudah berganti. Kotak makan itu berpindah ke
tangan Sanaya dan buku Sanaya berpindah ke tangan Aditya.
Terlihat Aditya begitu lancar mengerjakannya, bahkan
hanya lima menit saja ia sudah menyelesaikan lebih dari lima soal. Ada beberapa
jawaban sanaya yang ia hapus kembali karena salah.
Sanaya sibuk mengamati kotak makan itu, perutnya
bertambah lapas saja. Beberapa kali ia harus menelan salivanya, isi kotak makan
itu membuat perutnya semakin minta di isi.
“Sudah selesai!” ucap Aditya.
“Cepet banget?”
“Makanya belajar, bandel boleh asal pinter!”
“Ittttsssss!”
“Mana kotak makan ku!” pinta Aditya dan sanaya pun
segera menyerahkannya. Aditya segera membukanya dan kembali menyodorkannya
untuk Sanaya.
“Untuk kamu!”
“Untukku?” tanya Sanaya tidak percaya, ia sampai
menunjuk dirinya sendiri.
“Iya!”
“Yakin buat aku?”
hampir saja Aditya menarik kembali kotak makannya dan sanaya segera meraihnya.
“Ya mau dong!”
Sanaya segera memakan makanan itu, nasi liwet bakar.
“Pelan aja makannya, aku juga nggak akan minta!”
“Abis enak sih!”
***
Setelah bel istirahat berbunyi, Abimanyu segera
meninggalkan bangkunya.
“Mau ke mana?” tanya Sagara.
“Ada urusan sebentar!”
“Jangan bilang mau menemui Sanaya?”
“Dia belum sarapan tadi!”
“Jangan terus memanjakan Nay, jangan sampai dia
ketergantungan sama kamu!”
“Tenang aja! Kamu fokus saja sama hukuman kamu, biar
aku yang jaga Nay!” ucap Abimanyu, ia pun benar-benar meninggalkan kelasnya.
Tujuan utamanya adalah kelas Sanaya, tapi saat masuk
ke kelas sanaya ia tidak menemukan gadis itu.
Ia pun mendekati anak yang biasanya dekat dengan
Sanaya.
“Hay!”
“Kak Abi!”
Dia Riska, terlihat sekali jika Riska begitu senang Abimanyu
menyapanya.
“Ada apa kak?”
__ADS_1
“Lihat Sanaya nggak?”
Nay lagi kan …., Riska begitu kesal. Selalu sanaya dan
Sanaya.
“Nay ya …!”
“hmmm!”
“Tadi sih di hukum sama guru suruh mengerjakan soal,
mungkin di perpus deh kak!”
“Terimakasih ya!”
Abimanyu pun segera meninggalkan kelas Sanaya,
seperti yang di katakan Riska, ia mencari Sanaya di perpus.
Ia mengedarkan matanya ke seluruh penjuru perpus,
bahkan dia juga mencari Sanaya di sela-sela rak buku, tapi tetap saja tidak
ada.
“Dimana Nay? Kenapa aku bisa tidak tahu kalau dia ada tugas …!” gumam Abimanyu, ia berjalan menyusuri halaman sekolah. Ia berharap bisa menemukan orang yang di cari.
Memang kemarin dia harus ke kantor untuk menggantikan pekerjaan Sagara untuk sementara waktu selama Sagara menerima hukumannya. Makanya ia sampai lupa mengecek jadwal Sanaya.
Hingga akhirnya langkah Abimanyu terhenti di dekat
sebuah lorong, seseorang yang sedang ia cari sedang duduk di atas tangga bersama seseorang yang baru saja ia kenal.
Sanaya terlihat begitu senang, bahkan mereka terlihat tertawa bersama. Sanaya juga sedang makan di sana.
“Dia sudah ada yang menjaga …!” gumam Abimanyu, ia berniat untuk pergi tapi kembali ia urungkan. Abimanyu pun memilih menghampiri
mereka.
“Makanya minum dulu habis makan!” ucap Aditya sambil
menyodorkan botol minumnya yang masih penuh.
“Serius nih, minumnya juga buat aku?”
“Iya!”
Sanaya pun meneguk minuman itu, tapi tiba-tiba sebuah tangan menarik botol itu hingga membuat airnya sedikit mencuat ke bajunya.
“Apaan sih?!” umpat Sanaya kesal, kemudian ia melihat siapa yang melakukannya. “Abi …!”
“Ayo ikut aku!” ucap Abimanyu dingin.
“kemana? Ngapain?”
Tanpa menjawab pertanyaan Sanaya, Abimanyu pun
segera menarik tangan Sanaya.
Sanaya pun segera mengambil bukunya dan meninggalkan
Aditya begitu saja.
“kamu apa-apaan sih Bi?” keluh Sanaya.
Akhirnya mereka pun berhenti di samping taman sekolah. Abimanyu segera melepas tangan Sanaya dan berbalik menatapnya.
“Kamu kenapa?” tanya Sanaya.
“Kamu yang kenapa?”
Sanaya mengerutkan keningnya, “Memang aku kenapa?”
“Kamu nggak kenal sama cowok itu, jadi jangan
dekat-dekat, kamu tidak tahu apa maksudnya mendekati kamu! Siapa tahu dia yang sebenarnya menyembunyikan buku kamu!”
“kamu kok jadi curigaan gitu sih?”
“Dari pada menuduh orang lain yang jelas-jelas dia
tidak mungkin melakukannya, seharusnya kamu mencurigai orang yang mungkin
melakukannya!”
“kamu kok jadi nyalahin aku sih! Nih maksudnya kamu
bela Ariel kayak Gara juga?”
“Bukan bela siapa-siapa, tapi aku cuma nggak mau
kamu terlalu dekat sama dia!”
“terserah lo lah …!”
Sanaya memilih pergi dengan kesal meninggalkan
Abimanyu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰