My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Sosok lain


__ADS_3

Di tempat lain, Abimanyu sedang duduk termenung di samping rumah sambil menatap kolam ikan. Hatinya sedang hancur saat ini, ia baru tahu dari sahabatnya jika Sanaya akan di jodohkan dengan pria itu.


Ia di temani dengan segelas coklat hangat kesukaannya, bahkan asap dari dalam gelas itu sudah tidak terlihat sama sekali. Terlihat sudah berapa lama anak laki-laki duduk di situ.


Sudah hampir dua jam tanpa melakukan apapun kecuali tangannya sesekali menyentuh permukaan air.


Pak Mun, kakeknya sedari tadi hanya memperhatikan dari kejauhan. Tapi semakin malam ia merasa tidak tega dengan cucunya itu. Ia pun memutuskan untuk menghampirinya.


"Abi, sudah malam!"


Anak laki-laki itu menoleh ke sumber suara, "Kakek!"


Abimanyu menggeser duduknya, memberi tempat untuk kakeknya.


Pak Mun pun ikut duduk di sampingnya.


"Langit nya cerah ya hari ini!" ucap pak Mun sambil mendongakkan kepalanya menatap langit.


"Hemm!" Abimanyu pun melakukan hal yang sama, ia juga tertarik untuk melakukannya.


"Lihatlah Abi, di atas sana! Di langit itu, walaupun cerah tapi tetap ada mendung yang menyelimuti, tidak banyak dan pasti akan segera berpindah!"


Abimanyu memperhatikan awan putih yang menutupi sebagian langit itu dan benar saja, tidak berapa lama awan itu berpindah karena terbawa angin.


"Kamu tahu, saat kita sedih! Kita kecewa, itu tidak akan bertahan lama karena angin akan membawanya pergi luka itu! Jangan terlalu sedih, karena mungkin besok akan ada kebahagiaan yang hadir!"


"Terimakasih kek!"


"Nona Sanaya mungkin memang bukan jodohmu, tapi nanti Tuhan pasti akan menggantinya dengan yang terbaik untuk kamu! Doakan saja agar nona Sanaya baik dan bahagia!"


"Aku hanya sedang mencoba untuk menyembuhkan luka saja kek, tidak lebih!"


"Iya, tapi jangan lama-lama!"


Pak Mun pun segera berdiri dari duduknya, ia menepuk pundak Abimanyu.


"Segeralah masuk, malam semakin larut, udara malam tidka baik bagi kesehatan!"


"Iya kek, sebentar lagi, setelah menghabiskan coklat hangat ku!"


"Bahkan coklat mu tidak hangat lagi!" ucap pak Mun sambil tersenyum lalu berlalu meninggalkan cucunya itu.


Abimanyu segera meneguk coklatnya, memang sudah tidak hangat. Bahkan cenderung dingin.


Ting


Sebuah notif pesan masuk ke dalam ponselnya membuat Abimanyu menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan kembali gelasnya dan beranjak menuju ke sebuah meja kecil yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Ia mengambil benda pipih itu dan melihat siapa yang mengirimnya pesan malam-malam seperti ini.


Tiba-tiba keningnya berkerut saat membaca siapa nama pengirim pesan.


"Sanaya!"


Dengan cepat Abimanyu menggeser layar ponselnya dan membaca pesan singkat itu.


...Sanaya...


...online...


*Bi, besok bisa ketemu nggak?


^^^Ada apa?^^^


Gitu banget tanyanya!


^^^Di mana?^^^


Kita ketemu di gedung opera ya sekalian liat pementasan opera.


^^^Baik^^^


Nggak tanya jam berapa?

__ADS_1


^^^Sudah tahu jadwalnya*^^^


Terlihat jika Sanaya sudah menutup laman pesannya di pesan terakhir.


...Sanaya...


...21.16 ...


Sekarang sudah jam 21.25,


"Dia mungkin sudah tidur!"


Rasanya begitu sulit melepaskan yang jelas-jelas selalu di depan mata. Yang jauh saja sudah apalagi ini setiap hari bertemu.


"Abi ...., kamu pasti bisa!"


Anak itu menyemangati dirinya sendiri agar tidak lemah. Ia punya tanggung jawab yang lebih besar ketimbang memikirkan perasaannya yang masih labil.


...***...


Karena hari ini hari libur, Sanaya terlihat santai pagi ini. Setelah joging dengan Sagara, ia memilih melihat acara tv kesukaannya sambil menikmati snack.


"Enak banget santai!" ledek Gara sabil mengusap kepala saudarinya itu.


"Ya iya dong!"


Sanaya pun menoleh pada saudaranya yang sudah terlihat begitu rapi,


"Rapi banget mau ke mana?"


"Mau kerja!" jawab Sagara sambil mencomot snack yang ada di tangan Sanaya.


"Sama Abi juga?"


"Iya, kenapa?"


Kan aku ada janji sama Abi ...., dia beneran bisa nggak ya ...


"Sibuk banget nggak?"


"Kok tergantung?"


"Kalau cepat selesai berarti nggak sibuk-sibuk banget, tapi kalau nggak cepet selesai berarti ya sibuk banget!"


"Usahain biar cepet selesai ya!"


"Kok maksa! Ya udah aku berangkat! Jangan banyak makan entar gendut!"


"Issstttttt!"


Sanaya melanjutkan menontonnya saat Sagara sudah meninggalkan nya. Hari ini walaupun hari libur tetap saja ia di rumah sendiri, mom Ara sedang berkunjung ke rumah unty Nadin. Sebenarnya tadi dia di ajak, tapi karena ada janji nanti siang ia pun memutuskan untuk tidak ikut.


"Nona, ada tamu mencari nona Sanaya!" ucap seorang pelayan yang menghampirinya.


Sanaya mengerutkan keningnya, "Siapa? Masak Abi? kalau Abi pasti langsung masuk!" gumamnya.


"Siapa bi?"


"Katanya Aditya, nona!"


Aditya ...., ngapain ke sini?


"Baiklah, buatkan minum ya bi!"


"Baik nona!"


Sanaya pun mematikan tv nya dari tombol remote control di tangannya. Ia pun segera keluar menghampiri Aditya.


Dan benar saja, Aditya sudah berdiri di depan rumah itu dengan jaket khasnya.


"Hai Nay!" sapa Aditya sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Hay Dit, ngapain di sini?"


"Gitu banget nyapanya! Suruh masuk kek, atau suruh duduk kasih minum, haus tahu!"


"Masuklah!"


Mereka pun masuk ke ruang tamu dan duduk di sana, bibi yang tadi sudah membawakan segelas jus untuk Aditya.


"Minumlah!"


"Ini gratis kan?"


"Tergantung, kalau lo ke sininya bikin kesel, gue suruh bayar lo!"


"Gitu banget!"


Aditya pun segera mengambil gelasnya dan meminumnya.


"Lega!" ucapnya sambil mengusap leher depannya.


"Kayaknya haus banget, abis ngapain sih?"


"Abis ngejar cinta kamu!"


"Ihh..., garing!"


Mereka pun kembali terdiam, Aditya mengedarkan pandangannya. Rumah terlihat sepi.


"Kemana semua?"


"Pergi, ada urusan! Lo ngapain ke sini?"


"Ada urusan!"


"Urusannya apa?"


"Dapetin hati kamu!"


"Gombal banget!"


"Ayo jalan!" ajak Aditya. Sanaya mengerutkan keningnya. Ia tidak mungkin pergi dengan Aditya karena dia sudah ada janji dengan Abimanyu.


"Gue nggak bisa!"


"Kenapa?"


"Karena gue ada janji!" ucap Sanaya dengan penuh penyesalan. Ia tidak mungkin mengatakan kalau dia akan bertemu dengan Abimanyu.


"Sama Abimanyu? Si wajah es?"


Ternyata tanpa di beri tahu, Aditya sudah tahu. Ia mungkin sudah bisa menduganya dari ekspresi wajah Sanaya.


"Iya!"


"Ya sudah kalau gitu kita ngobrol-ngobrol di sini aja ya sambil nunggu kamu ketemuan sama Abimanyu!"


"Lo nggak marah?"


"Emang aku punya hak buat marah? Kamu itu aneh, kita masih belum nikah, nggak ada hak buat gue marah sama kamu! kalau kecewa sih kecewa, sakit juga Nay, tapi kan kamu belum menjadi siapa-siapa aku!"


Mendengar ucapan Aditya, kini Sanaya jadi tahu sisi lain dari pria yang akan di jodohkan padanya.


Kelihatannya saja ugal-ugalan dan urakan, tidak tahu aturan tapi saat berbicara berdua seperti ini, ia seperti menemukan sosok lain dari Aditya.


"Terimakasih ya Dit!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2