
Setelah dari penjara, Agra terpaksa harus singgal dulu ke kantor
karena ada beberapa berkas yang harus di tandatangani. Beberapa kali pria itu
menatap jam yang tergantung di dinding, ingin rasanya cepat pulang dan bertemu
dengan istrinya. Rasa rindunya seakan tak bertepi, hingga untuk berpaling
sebentar saja ia merasa berat.
Jam sudah menunjuk ke angka 8, tapi berkas yang ada di hadapannya
masih bertumpuk, ia sedikit meregangkan badannya untuk mengurangi penat. Rendi
yang sedari tadi duduk tak jauh darinya hanya bisa mengamati dengan seulas
senyum yang tak terlihat.
“apa dia tidak menghyubyungiku?” tanya Agra pada rendi tiba-tiba,
membuat pria berwajah dingin itu segera menengok kembali ke sumber suara.
“maksud anda?” Rendi berbicara formal, karena masih dalam ranah
kantor. Ya selama di kantor atau bekerja maka ponsel milik Agra akan di
serahkan pada Rendi.
“sungguh menyebalkan, apa dia tidak merindukanku.” Gumam Agra, yang
masih bisa di dengar oleh Rendi.
“nona muda tidak menghubungi anda pak ..”
“tanyakan apa yang di lakukan sekarang?”
“baik ...” Rendi pun menuliskan beberapa pesan yang di tujukan ke
nomor Ara, menggunakan ponsel Agra. Lima menit, sepuluh menit, lima belas
menit, setengah jam.
“apa dia membalasnya?” tanya Agra yang tidak sabar.
“maaf, pak. Tapi belum ada balasan. Bahkan nona muda belum
membacanya.”
“sedang apa dia? Hingga mengabaikan pesanku.” Gumam Agra lagi.
“apa perlu saya bertanya pada orang rumah?” tanya Rendi memberi
penawaran.
“terserah kau saja lah ...” Agra kembali pada pekerjaannya. Dan
berharap segera selesai dan pulang.
Rendi pun nampak menelpon seseorang. Mungkin salah satu pelayan di
rumah itu. Setelah selesai dengan panggilannya. Rendi kembali menghampiri Agra.
“Bagaimana?’ tanya Agra tak sabar.
“Nona muda sudah tidur, pak. Semenjak tadi sore ...”
“tidur ....” tak biasanya Ara akan tidur sesore ini. Apa dia masih
sakit? Agra tak tenang. “apa dia baik-baik saja?”
“nona baik-baik saja, hanya traumanya tadi siang sedikit kambuh,
tapi tak berlangsung lama. Nona tidur setelah makan malam.”
“Trauma?” Agra masih bingung dengan yang di maksud trauma, Aruni
juga menyebutkan itu. Dan sekarang Rendi juga.
“ya pak, nona mengalami trauma yang menyebabkan ia tidak sadarkan
diri beberapa waktu lalu. Dan kemungkinan hal itu akan sering kambuh jika ia di
hadapkan pada keadaan yang membuatnya trauma. Atau semua hal yang berhubungan
dengan kejadian itu.”
“Termasuk aku?”
“ya mungkin saja. Itu penjelasan yang saya dapat dari dokter Frans.
Untuk lebih jelasnya anda bisa menanyakan langsung pada dokter Frans.”
“kenapa kau selalu saja lebih tahu keadaan istriku dari pada aku,
aku benci hal itu. Besok buat janji dengan dokter Frans.” Mendengar perkataan
Agra. Rendi mendengus kesal.
“dasar pecemburu ..., masih saja dia ....” batin Rendi
__ADS_1
kesal. Ia pun tak mempedulikan lagi perkataan atasannya yang menyebalkan itu.
Ia lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya sembari menunggu Agra.
Jarum jam yang tergantung di dinding sudah menunjuk ke angka
sebelas. Pekerjaan Agra yang bertumpuk sudah selesai. Agra pun segera
meninggalkan ruangan dan di ikuti oleh Rendi. mereka menyusuri kantor yang
sudah sepi, tak ada lagi karyawan di sana. Hanya tinggal penjaga malam dan para
security.
Rendi segera melajukan mobilnya. Memecah keheningan malam. Nampak di
samping Rendi, Agra begitu gelisah. Ia benar-benar tak sabar untuk sampai di
rumah. Rendi memacu mobilnya lebih cepat, tak mau membuat sahabat sekaligus
bosnya itu gelisah terlalu lama. Karena sudah malam, jalanan tidak macet.
Mereka sampai di rumah besar itu hanya dalam waktu lima belas menit, berbeda
jika siang hari. Mereka membutuhkan waktu setengah jam hanya untuk sampai di
kantor.
“Langsunglah pulang, jemput aku lagi besok pagi ...” perintah Agra
sebelum turun dari mobil. Rendi juga merasa sangat capek. Ia senang jika sudah
tak ada tugas lagi. Ia pun segera mengangguk. Setelah Agra turun dari mobil.
Rendi segera melajukan kembali mobilnya meninggalkan halaman luas itu. Beberapa
penjaga memberi hormat pada Rendi, saat mobil yang di kemudikan Rendi melintas
di hadapannya.
Agra masuk ke dalam rumah, para pelayan sudah siap membukakan
pintu. Para pelayan memang di wajibkan menunggu tuan rumah sampai tuan rumah
tidur. Jika ada panggilan di malam hari mereka pun harus ikut terjaga. Ya ,
pelayan di rumah itu cukup banyak, hampir tiga puluh orang dengan tugas yang
berbeda-beda dan sif yang berbeda pula. Jadi tidak ada kekosongan pelayan.
“apa tua ingin makan malam ...?” tanya pelayan yang terlihat
senior. Dia bi Anna. Pelayan senior di rumah itu. Ia sudah melayani rumah besar
“tidak bi ..., apa istriku makan malam?”
“iya tuan, sebelum tidur. Nona muda makan malam.”
“apakah banyak?”
“ya tuan ..., porsinya lebih banyak.”
“apa dia sedih?”
“Tidak, tuan. Hanya tadi sedikit kecewa.”
“kenapa?”
“Karena tuan tak kunjung pulang.”
“Baiklah ..., istirahatlah, aku juga akan istirahat.”
“Baik, tuan. Selamat malam ...”
Agra pun segera meninggalkan para pelayan.ia menaiki tangga dengan
cepat. Rasanya tidak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya. Agra melihat
jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan jam setengah dua belas malam. Dia
sebenarnya juga lelah, tubuhnya masih sedikit sakit apalagi di bekas tusukan
itu, jahitannya belum mengering sempurna. Agra pun segera masuk ke dalam kamar
setelah tidak menemukan istri kesayangannya di manapun.
Dia melihat Ara tengah tertidur. Dengan mengendap-endap ia memasuki
kamar. Ia berhasil berada di dekat Ara tanpa membuat wanita itu terbangun.
Agra bersimpuh di samping ranjang. Ia menatap wajah Ara yang sedang
tertidur nyenyak. Tangannya dengan lembut menelusuri wajah Ara. Menyibak
rambut-rambut halus yang menutup sebagian wajah Ara. Agra mendekatkan wajahnya
dan mencium kening Ara dengan lembut.
Dapat melihat kembali wanita itu membuat Agra bersyukur. Kejadian
__ADS_1
beberapa waktu lalu hampir membuatnya tak bisa bernafas saat melihat wanita di
depanny6ya takkunjung membuka mata. Agra mencubit pipi Ara dengan begitu gemas.
Perasaan takut, sedih, sakit, khawatir bercampur menjadi satu.
“sayang ..., apa yang ku rasakan ini? Aku takut, sangat takut,
hingga aku sulit untuk bernafas jika mengingat kejadian itu. Apa yang kau
perbuat padaku? Hingga aku tidak mampu berpaling darimu, hanya memikirkan mu
terluka bisa membuatku sesakit ini.” Agra mencium tangan Ara, “aku benar-benar
mencintaimu, sayang ..., lebih dari diriku sendiri. Aku tidak akan pernah
berhenti mengatakannyanya. Walaupun mungkin kau akan bosan mendengarnya.”
Agra kembali mengecup tangan Ara. Kemudian dia beralih ke kening
dan bibir Ara. Agra bangun dari posisinya, kemudian dia naik ke atas ranjang
dan berbaring di samping Ara. Kejadian itu begitu membekas hingga membuatnya
semakin tidak ingin kehilangan Ara.
Agra merengkuh Ara dalam pelukan. Dia menghadiahi kening Ara dengan
ciuman yang bertubi-tubi. Tanpa sadar Ara bergerak mendekat padanya. Tangan Ara
melingkar di dada Agra. Sementara kepalanya berusaha mencari kehangatan. Agra
mendekat tubuh Ara dengan sangat erat.
“I Love You , sayang ...” bisik Agra kemudian ikut tertidur
bersamanya.
***
Ara merasa sangat hangat. Dia semakin menelusupkan kepalanya. Dia
sangat nyaman. Ia tidak ingin terbangun. Rasanya sudah lama sekali tidak
merasakan kehangatan seperti yang di rasakan sekarang. Ara membuka matanya. Dia
menatap dada bidang di depannya, kemudian ia menatap wajah di atasnya. Senyum
mengembang dari bibirnya.
“bby ...” Ara mengelus pipi Agra dengan lembut.
“iya sayang ...” Agra menyahut tapi dengan mata yang masih
tertutup.
“sudah pagi ....”
“aku masih ngantuk ...”
“tapi ini rumah ibu bby ...., mereka pasti sudah menunggu di luar
kamar”
“biarkan saja mereka.” Agra malah kembali mengeratkan tangannya di
pingggang Ara
Tok tok tok
Benar saja. Belum sampai sepuluh menit suara pintu di ketuk
terdengar.
“tuan muda, nona muda ..., sarapan sudah siap ...” ucap pelayan
dari luar, saat ara hendak menyahuti, Agra segera membekap mulut Ara.
“husttt ...., biarkan saja, kita tidur saja ...” bisik Agra.
“tapi ...?”
“nggak ada tapi-tapi, diam disini...., temani aku tidur, hari ini
aku libur kerja.” Bisik Agra lagi.
Setelah lama tak mendapat sahutan dari dalam kamar. Pelayan itu
kembali berucap.
“baik kami pergi, silahkan istrirahat, tuan, nona ...”
Agra bahkan melupakan janjinya pada Rendi. rendi sudah
memakluminya. Ia dengan sabar menunggu hingga Agra keluar dari kamarnya. Sambil
menunggu Rendi lebih suka menghabiskan waktunya untuk mengecek beberapa
pekerjaan melalui layar ipad yang ada di tangannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
HAPPY READING 😘😘😘😘