My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 122


__ADS_3

Setelah dari penjara, Agra terpaksa harus singgal dulu ke kantor


karena ada beberapa berkas yang harus di tandatangani. Beberapa kali pria itu


menatap jam yang tergantung di dinding, ingin rasanya cepat pulang dan bertemu


dengan istrinya. Rasa rindunya seakan tak bertepi, hingga untuk berpaling


sebentar saja ia merasa berat.


Jam sudah menunjuk ke angka 8, tapi berkas yang ada di hadapannya


masih bertumpuk, ia sedikit meregangkan badannya untuk mengurangi penat. Rendi


yang sedari tadi duduk tak jauh darinya hanya bisa mengamati dengan seulas


senyum yang tak terlihat.


“apa dia tidak menghyubyungiku?” tanya Agra pada rendi tiba-tiba,


membuat pria berwajah dingin itu segera menengok kembali ke sumber suara.


“maksud anda?” Rendi berbicara formal, karena masih dalam ranah


kantor. Ya selama di kantor atau bekerja maka ponsel milik Agra akan di


serahkan pada Rendi.


“sungguh menyebalkan, apa dia tidak merindukanku.” Gumam Agra, yang


masih bisa di dengar oleh Rendi.


“nona muda tidak menghubungi anda pak ..”


“tanyakan apa yang di lakukan sekarang?”


“baik ...” Rendi pun menuliskan beberapa pesan yang di tujukan ke


nomor Ara, menggunakan ponsel Agra. Lima menit, sepuluh menit, lima belas


menit, setengah jam.


“apa dia membalasnya?” tanya Agra yang tidak sabar.


“maaf, pak. Tapi belum ada balasan. Bahkan nona muda belum


membacanya.”


“sedang apa dia? Hingga mengabaikan pesanku.” Gumam Agra lagi.


“apa perlu saya bertanya pada orang rumah?” tanya Rendi memberi


penawaran.


“terserah kau saja lah ...” Agra kembali pada pekerjaannya. Dan


berharap segera selesai dan pulang.


Rendi pun nampak menelpon seseorang. Mungkin salah satu pelayan di


rumah itu. Setelah selesai dengan panggilannya. Rendi kembali menghampiri Agra.


“Bagaimana?’ tanya Agra tak sabar.


“Nona muda sudah tidur, pak. Semenjak tadi sore ...”


“tidur ....” tak biasanya Ara akan tidur sesore ini. Apa dia masih


sakit? Agra tak tenang. “apa dia baik-baik saja?”


“nona baik-baik saja, hanya traumanya tadi siang sedikit kambuh,


tapi tak berlangsung lama. Nona tidur setelah makan malam.”


“Trauma?” Agra masih bingung dengan yang di maksud trauma, Aruni


juga menyebutkan itu. Dan sekarang Rendi juga.


“ya pak, nona mengalami trauma yang menyebabkan ia tidak sadarkan


diri beberapa waktu lalu. Dan kemungkinan hal itu akan sering kambuh jika ia di


hadapkan pada keadaan yang membuatnya trauma. Atau semua hal yang berhubungan


dengan kejadian itu.”


“Termasuk aku?”


“ya mungkin saja. Itu penjelasan yang saya dapat dari dokter Frans.


Untuk lebih jelasnya anda bisa menanyakan langsung pada dokter Frans.”


“kenapa kau selalu saja lebih tahu keadaan istriku dari pada aku,


aku benci hal itu. Besok buat janji dengan dokter Frans.” Mendengar perkataan


Agra. Rendi mendengus kesal.


“dasar pecemburu ..., masih saja dia ....” batin Rendi

__ADS_1


kesal. Ia pun tak mempedulikan lagi perkataan atasannya yang menyebalkan itu.


Ia lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya sembari menunggu Agra.


Jarum jam yang tergantung di dinding sudah menunjuk ke angka


sebelas. Pekerjaan Agra yang bertumpuk sudah selesai. Agra pun segera


meninggalkan ruangan dan di ikuti oleh Rendi. mereka menyusuri kantor yang


sudah sepi, tak ada lagi karyawan di sana. Hanya tinggal penjaga malam dan para


security.


Rendi segera melajukan mobilnya. Memecah keheningan malam. Nampak di


samping Rendi, Agra begitu gelisah. Ia benar-benar tak sabar untuk sampai di


rumah. Rendi memacu mobilnya lebih cepat, tak mau membuat sahabat sekaligus


bosnya itu gelisah terlalu lama. Karena sudah malam, jalanan tidak macet.


Mereka sampai di rumah besar itu hanya dalam waktu lima belas menit, berbeda


jika siang hari. Mereka membutuhkan waktu setengah jam hanya untuk sampai di


kantor.


“Langsunglah pulang, jemput aku lagi besok pagi ...” perintah Agra


sebelum turun dari mobil. Rendi juga merasa sangat capek. Ia senang jika sudah


tak ada tugas lagi. Ia pun segera mengangguk. Setelah Agra turun dari mobil.


Rendi segera melajukan kembali mobilnya meninggalkan halaman luas itu. Beberapa


penjaga memberi hormat pada Rendi, saat mobil yang di kemudikan Rendi melintas


di hadapannya.


Agra masuk ke dalam rumah, para pelayan sudah siap membukakan


pintu. Para pelayan memang di wajibkan menunggu tuan rumah sampai tuan rumah


tidur. Jika ada panggilan di malam hari mereka pun harus ikut terjaga. Ya ,


pelayan di rumah itu cukup banyak, hampir tiga puluh orang dengan tugas yang


berbeda-beda dan sif yang berbeda pula. Jadi tidak ada kekosongan pelayan.


“apa tua ingin makan malam ...?” tanya pelayan yang terlihat


senior. Dia bi Anna. Pelayan senior di rumah itu. Ia sudah melayani rumah besar


“tidak bi ..., apa istriku makan malam?”


“iya tuan, sebelum tidur. Nona muda makan malam.”


“apakah banyak?”


“ya tuan ..., porsinya lebih banyak.”


“apa dia sedih?”


“Tidak, tuan. Hanya tadi sedikit kecewa.”


“kenapa?”


“Karena tuan tak kunjung pulang.”


“Baiklah ..., istirahatlah, aku juga akan istirahat.”


“Baik, tuan. Selamat malam ...”


Agra pun segera meninggalkan para pelayan.ia menaiki tangga dengan


cepat. Rasanya tidak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya. Agra melihat


jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan jam setengah dua belas malam. Dia


sebenarnya juga lelah, tubuhnya masih sedikit sakit apalagi di bekas tusukan


itu, jahitannya belum mengering sempurna. Agra pun segera masuk ke dalam kamar


setelah tidak menemukan istri kesayangannya di manapun.


Dia melihat Ara tengah tertidur. Dengan mengendap-endap ia memasuki


kamar. Ia berhasil berada di dekat Ara tanpa membuat wanita itu terbangun.


Agra bersimpuh di samping ranjang. Ia menatap wajah Ara yang sedang


tertidur nyenyak. Tangannya dengan lembut menelusuri wajah Ara. Menyibak


rambut-rambut halus yang menutup sebagian wajah Ara. Agra mendekatkan wajahnya


dan mencium kening Ara dengan lembut.


Dapat melihat kembali wanita itu membuat Agra bersyukur. Kejadian

__ADS_1


beberapa waktu lalu hampir membuatnya tak bisa bernafas saat melihat wanita di


depanny6ya takkunjung membuka mata. Agra mencubit pipi Ara dengan begitu gemas.


Perasaan takut, sedih, sakit, khawatir bercampur menjadi satu.


“sayang ..., apa yang ku rasakan ini? Aku takut, sangat takut,


hingga aku sulit untuk bernafas jika mengingat kejadian itu. Apa yang kau


perbuat padaku? Hingga aku tidak mampu berpaling darimu, hanya memikirkan mu


terluka bisa membuatku sesakit ini.” Agra mencium tangan Ara, “aku benar-benar


mencintaimu, sayang ..., lebih dari diriku sendiri. Aku tidak akan pernah


berhenti mengatakannyanya. Walaupun mungkin kau akan bosan mendengarnya.”


Agra kembali mengecup tangan Ara. Kemudian dia beralih ke kening


dan bibir Ara. Agra bangun dari posisinya, kemudian dia naik ke atas ranjang


dan berbaring di samping Ara. Kejadian itu begitu membekas hingga membuatnya


semakin tidak ingin kehilangan Ara.


Agra merengkuh Ara dalam pelukan. Dia menghadiahi kening Ara dengan


ciuman yang bertubi-tubi. Tanpa sadar Ara bergerak mendekat padanya. Tangan Ara


melingkar di dada Agra. Sementara kepalanya berusaha mencari kehangatan. Agra


mendekat tubuh Ara dengan sangat erat.


“I Love You , sayang ...” bisik Agra kemudian ikut tertidur


bersamanya.


***


Ara merasa sangat hangat. Dia semakin menelusupkan kepalanya. Dia


sangat nyaman. Ia tidak ingin terbangun. Rasanya sudah lama sekali tidak


merasakan kehangatan seperti yang di rasakan sekarang. Ara membuka matanya. Dia


menatap dada bidang di depannya, kemudian ia menatap wajah di atasnya. Senyum


mengembang dari bibirnya.


“bby ...” Ara mengelus pipi Agra dengan lembut.


“iya sayang ...” Agra menyahut tapi dengan mata yang masih


tertutup.


“sudah pagi ....”


“aku masih ngantuk ...”


“tapi ini rumah ibu bby ...., mereka pasti sudah menunggu di luar


kamar”


“biarkan saja mereka.” Agra malah kembali mengeratkan tangannya di


pingggang Ara


Tok tok tok


Benar saja. Belum sampai sepuluh menit suara pintu di ketuk


terdengar.


“tuan muda, nona muda ..., sarapan sudah siap ...” ucap pelayan


dari luar, saat ara hendak menyahuti, Agra segera membekap mulut Ara.


“husttt ...., biarkan saja, kita tidur saja ...” bisik Agra.


“tapi ...?”


“nggak ada tapi-tapi, diam disini...., temani aku tidur, hari ini


aku libur kerja.” Bisik Agra lagi.


Setelah lama tak mendapat sahutan dari dalam kamar. Pelayan itu


kembali berucap.


“baik kami pergi, silahkan istrirahat, tuan, nona ...”


Agra bahkan melupakan janjinya pada Rendi. rendi sudah


memakluminya. Ia dengan sabar menunggu hingga Agra keluar dari kamarnya. Sambil


menunggu Rendi lebih suka menghabiskan waktunya untuk mengecek beberapa


pekerjaan melalui layar ipad yang ada di tangannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


HAPPY READING 😘😘😘😘


__ADS_2