
"Jika kau tahu aku tak dapat peran, lalu kenapa kau masukan aku ke dalam drama cintamu?"
***
Ara terus berlari tak tentu arah menumpahkan segala kekesalannya, kesedihannya, air matanya pun tak mau berhenti menetes.
Walaupun kakinya terasa sakit tapi rasa sakit di hatinya lebih besar, ia merasa di khianati berkali-kali hingga mungkin kata maaf itu tak mampu lagi di ucapkan.
"Wanita yang benar-benar mencintaimu mungkin akan marah karena berbagai alasan, tapi dia tidak akan pernah meninggalkanmu karena ribuan
alasan."
"tapi apakah aku semulia itu hingga dengan mudah memaafkan mu ..."
tiiiiinnnnnnnnnnnn
cittttttttttt.....
suara klakson dan decitan rem yang begitu di paksakan terasa begitu nyaring di telinga ara hingga Ara pun berjongkok , memejamkan mata dan menutup telinganya
sebuah mobil berhenti tepat beberapa inci dari ara berdiri, seorang pria segera keluar dari mobilnya dan pria itu adalah Agra
Agra segera meraih tubuh ara dan menariknya kepelukannya
"Sudah buka matamu ..., kau sudah aman!" Agra pun bersuara sambil terus memeluk Ara.
"Kenapa kau suka sekali melamun, coba jika aku tidak cekatan menginjak pedal rem apa yang akan terjadi, lain kali jangan lakukan itu lagi" agra memarahi ara saat pelukannya terlepas dan ara pun masih diam saja karena terlalu syok
"kenapa diam saja ...., kau tahu kan ini jalan raya ..., apa kau ini sudah tidak waras!?" agra masih terus memarahi ara dengan nada tinggi
"Ayo ikut aku ...!" agra menarik tangan ara masuk ke dalam mobil dan diapun berlari mengitari mobil menuju pintu mobil yang lainya, ia pun masuk
tanpa di sadari di seberang jalan ada yang sedang memperhatikan mereka, awalnya ia berlari hendak meraih tubuh ara ketika akan tertabrak tapi langkahnya terhenti saat melihat siapa yang keluar dari mobil itu
pria itu adalah rendi,
"apa kau mencintainya?" mungkin aku akan merelakannya jika kau mencintainya ..." Rendi pun segera kembali masuk ke dalam mobilnya dan hendak menuju ke rumahnya karena ayahnya ingin bertemu
***
di dalam mobil Agra, agra pun segera menjalankan mobilnya menyingkir dari tengah jalan, ia mengambil sebotol minuman di jok mobilnya dan menyerahkan pada ara
"minumlah ....." Ara pun segera meneguknya, hanya dengan sekali teguk air itu sudah berpindah seluruhnya dari botol ke dalam tenggorokan ara
"jadi kau benar-benar haus ya ...., beruntunglah kau bertemu denganku, kau benar-benar seperti orang linglung"
__ADS_1
"terimakasih ..." Ara berucap lirih hingga agra tak terlalu mendengarnya
"Apa? bicara yang jelas"
"Terimakasih karena telah menolongku"
"Tidak perlu ..., sebenarnya apa yang terjadi?"
"hiks hiks hiks hiks hiks hiks
bukannya menjawab, ara malah menangis keras, membuat agra panik
"jangan menangis, hei ..., berhenti menangis, nanti jika ada yang lihat, dikira aku sudah berbuat jahat padamu"
"berhentilah ..., kumohon ...."
"boleh aku pinjam bahu bapak ..." tapi belum sempat agra menjawab ara sudah lebih dulu bersandar di bahu agra dan menumpahkan air matanya
"dasar ....., kau membasahi kemejaku ..." gerutu agra tapi tak juga menolaknya, ia membiarkan bahunya menjadi sandaran ara
begitu lama ara menangis, hingga hampir setengah jam mereka berhenti
"saya sudah selesai..." Ara segera bangun dari bahu agra dan menghapus sisa air matanya
"kenapa kau menangis?"
"siapa yang kamu maksud, si brengsek itu?" agra tak melanjutkan pertanyaannya ketika ara sudah ingin melanjutkan tangisannya
"sudah berhenti jangan menangis lagi, aku tidak akan bertanya lagi, sekarang aku antar kamu pulang" ara pun hanya mengangguk, agra segera melajukan mobilnya menuju rumah ara
***
di tempat lain, Rendi memasuki rumah orang tuanya
"selamat datang tuan" seorang pelayan menyambut kedatangan Rendi
"dimana ayah bi ...?"
" di ruang kerjanya tuan, anda sudah di tunggu tuan"
"baiklah bi, saya menemuinya dulu"
rendi pun segera menuju ke lantai atas, ke ruang kerja ayahnya, Salman
tok tok tok
__ADS_1
Rendi mengetuk pintu
"masuklah ..." terdengar suara dari dalam yang ia kenali itu suara ayahnya, rendi pun segera membuka pintu dan masuk ke dalam
"siang ayah ..."
"duduklah ..." Rendi pun segera duduk di sofa di depan ayahnya, tampak ayahnya sedang sibuk memeriksa berkas-berkas di depannya
"ada ayah menyuruhku pulang?"
"apakah kau kenal dengan gadis ini?" Salman menyerahkan selembar foto pada Rendi
"Ara ....?" Rendi terkejut saat melihat foto ara di tangan ayahnya
"kau sudah menyelidikinya? nyonya bilang orang-orang mu sudah menyelidiki latar belakangnya?"
"iya..., sudah yah ..., lalu apa maksud dengan semua ini yah?"
"kau sudah menelitinya?"
"iya, bahkan aku turun langsung sendiri yah untuk menyelidikinya"
"baguslah ..."
"tapi untuk apa semua ini yah?"
"nyonya menginginkan gadis itu sebagai pendamping tuan muda"
"pendamping agra?" Rendi kembali terkejut tak percaya, bagaimana nyonya besarnya malah memilih ara sebagai pendamping putranya yang jelas-jelas ara bukanlah dari kalangan atas
"ia..., besok kami akan menemui keluarganya"
"jadi ini alasan nyonya menyuruhku mencari tahu tentang ara" batin Rendi
ada rasa tak terima, ia masih berharap bisa dekat dengan gadis itu, tapi apa yang bisa ia lakukan, seluruh hidupnya ia habiskan untuk mengabdi dengan keluarga sahabatnya itu
ia tak mau cintanya membuatnya berkhianat, mungkin ia cinta pada ara tapi rasa cintanya tak lebih besar dari rasa cinta dan rasa hormatnya pada keluarga Agra
Dalam hidup, terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Tapi saat kita mendapatkan apa yang kita inginkan, akhirnya kita tahu bahwa yang kita inginkan kadang tidak membuat hidup
menjadi lebih baik."
hai reader..., kali ini sudah aku banyakin sampek tengah malam lo ....
aku cuma minta tanda cintanya dong kakak-kakak
__ADS_1
like dan komentarnya begitu aku rindukan
apalagi seberkas vote membuat cinta ini bertambah besar ....