
Suara tawa anak kecil yang sedang belajar berjalan mengisi ruang keluarga yang begitu besar itu. Dua malaikat kecil itu sibuk-sibuknya berjalan ke sana kemari membuat seluruh pelayan heboh mengejarnya.
"Sanaya ....!" teriak mami Ara saat baby perempuan itu hendak terjatuh.
Tapi ternyata baby Sagara lebih cekatan menjaga adik perempuannya itu, dengan tangan mungilnya berhasil menggandeng tangan adiknya.
"Aghh ...., Abang baik banget, mami tambah sayang deh ....!"
"Jangan terlalu sayang, nanti papinya di lupain loh ...!" ucap Agra yang baru saja bergabung, ia duduk di samping istrinya, memberikan pelukan hangat pada istrinya dan mencubit gemas pipi istrinya.
"Bby..., sama anak masak cemburu ...!"
"Iya dong harus ...., aku akan jadi papi yang cemburuan, aku nggak akan biarin Sanaya di dekati sama cowok manapun, ya kan bang?" tanya Agra sama Sagara yang ternyata sudah berada di dekatnya sambil memukul-mukul pundak papinya, sepertinya baby boy itu marah saat maminya di dekati oleh papinya.
"Ada apa Gara? kamu setuju kan dengan apa yang papi katakan?"
Bukannya menjawab, Sagara malah menangis dengan sangat kerasnya, membuat Ara panik.
"Bby apa yang sudah kamu lakukan sama Gara?" tanya Ara yang segera mendekap putranya, tapi saat berada di dekapan maminya tangis Sagara segera menghilang.
"Abang ....., abang ngerjain papi ya, supaya mami marah sama papi ya?" tanya Agra sambil menunjukkan wajah melasnya. Sanaya yang tak jauh dari mereka pun segera ikut mendekat, seperti tahu dengan perasaan papinya, Sanaya segera memeluk papinya.
__ADS_1
"A ya ya ya ....!" entah apa yang ingin di katakan oleh baby girl itu, ia memeluk papinya .
"Sayang ....., papi seneng deh, ternyata mutiara papi ini sayang banget sama papi!" ucap Agra sambil memberikan pelukannya pada putri kecilnya itu.
"Cucu-cucu Oma ....., Oma pulang ...!"
Mereka berempat segera menoleh ke sumber suara.
"Ibu!"
"Ibu sudah pulang?" tanya Ara.
Sedangkan baby twins itu setelah melihat kedatangan Omanya, seakan lupa dengan mami papinya, mereka segera turun dari pangkuan mami papinya dan berebut mendekati Omanya.
Dengan penuh cinta, nyonya Ratih memeluk kedua cucunya itu.
"Oma bawa oleh-oleh buat kalian!" ucap nyonya Ratih sambil mengambil dua bungkus kado untuk kedua cucunya itu.
"Ini untuk Naya ....!" ucap nyonya Ratih sambil memberikan sebuah boneka panda.
"Dan ini untuk Saga ....!" ucap nyonya Ratih sambil memberikan sebuah mobil-mobilan untuk Sagara.
__ADS_1
"Ya ya ya .....!" celoteh Sagara dan Sanaya setelah mendapat mainan, mereka seakan lupa dengan siapa yang sudah memberikan mereka makanan.
Agra dan Ara yang sedari tadi hanya jadi penonton, segera menghampiri ibunya.
"Ibu sehat?" tanya Agra sambil meraih tangan nyonya Ratih, mencium punggung tangan nyonya Ratih.
"Ibu sehat, urusan ibu selesai lebih cepat, jadi ibu bisa cepat pulang. Ibu sudah rindu sama cucu-cucu ibu yang menggemaskan itu!" ucap nyonya Ratih, keangkuhan nyonya besar itu lambat lain mengikis, kehangatan kembali muncul dari wanita paruh baya itu.
"Seharusnya ibu istirahat saja di rumah, biar Agra yang menyelesaikan semuanya, sekarang sudah ada bang Divta juga yang akan membantu Agra, Bu!" ucap Agra pada ibunya, mereka sudah duduk di sebuah sofa, tapi pandangan mereka tetap bisa mengawasi dua baby yang menggemaskan itu.
"Iya kamu benar nak, ibu akan segera fakum dari perusahaan dan menjadi Oma yang baik buat mereka, sudah cukup aku kehilangan masa kecil kamu Gra, aku nggak mau melewatkan masa tumbuh kembang mereka!" ucap Ratih sambil memperhatikan cucu-cucunya, dan mengajak mereka bermain.
"Kami senang jika ibu berfikir seperti itu!" ucap Ara sambil memegang tangan ibu mertuanya itu.
Hubungan mereka kini sudah menjadi hangat, hubungan ibu dan anak yang dulunya begitu kaku dan penuh luka kini membaik dengan berjalannya waktu.
Hadirnya baby twins membuat hubungan yang dulu begitu renggang kini berubah 180 derajat.
***Jangan pernah menyalahkan keadaan, karena keadaan itu yang akan membuat kita mengerti arti dari sebuah ketidak mampuan.
follow Ig aku ya
__ADS_1
Tri.ani.5249***