
Di rumah milik keluarga Adrian, terlihat bunda Diah terus mondar-mandir di depan teras, dia sedang menunggu putranya untuk pulang, seingatnya tadi pagi memang putranya itu ijin untuk pulang telat karena ada pertandingan basket.
Dia juga mengatakan kalau hari ini meminta Sanaya untuk menyaksikan pertandingan basketnya.
"Apa Adit sama Nay ya?" gumamnya, wanita cantik itu masih terus mencoba menghubungi putranya itu tapi tetap saja panggilan di alihkan.
"Kamu di mana sih nak? Masak tanding basket sampek semalam ini sih!"
Jam dinding sudah menunjukkan angka dua belas malam, tapi putranya belum juga pulang.
Ini sebenarnya sudah terjadi beberapa kali dan terakhir kali Adit jatuh dari motor dan sekarang terulang lagi.
"Apa aku hubungi Nay saja ya!?" gumamnya, ia pun mulai mencari kontak nomor Sanaya. Ia hanya ingin tahu saja di mana putranya.
Tidak berapa lama sambungan telpon pun terhubung.
"Hallo bun, ada apa malam-malam menelpon?"
"Maaf ya Nay!"
"Nggak pa pa bun, ada apa? bunda cemas banget kayaknya?"
"Adit belum pulang Nay!"
"Belum pulang?"
"Iya, tadi dia bilang nggak mau mampir ke mana dulu?"
"Maaf bun tapi tadi siang Nay pulang duluan nggak nungguin sampai Adit selesai tanding!"
"Jadi dia nggak ngomong apa-apa ya?"
"Enggak bun! Memang biasanya Adit nongkrongnya di mana bun?"
"Biasanya sama temen-temen anak motor Nay, tapi akhir-akhir ini sudah jarang pulang malam, aku kira dia nggak ke sana lagi!"
"Boleh tahu tempat tongkrongannya nggak bun?"
" Buat apa? Jangan aneh-aneh loh Nay!"
"Nggak bun, siapa tahu aku kenal sama salah satu teman Adit bun!"
"Ya sudah, bunda kirim di WhatsApp ya Nay! Tapi ingat bunda nggak mau kamu aneh-aneh!"
"Iya bund!"
Bunda Diah pun mematikan sambungan telponnya dan mengirimkan alamat tongkrongannya Adit. Tapi dia tidak yakin putranya masih di situ karena ini sudah malam sekali.
...***"***...
Sanaya yang sudah hampir tertidur kembali terbangun, ia menunggu pesan dari bunda Diah.
Ting
Akhirnya notif pesan itu terdengar juga, dari bunda Diah.
Sanaya juga mencoba menghubungi anak itu tapi ternyata terap saja tidak di angkat. Panggilan sedang di alihkan.
"Lo kemana sih Dit? Ada ada aja!"
Sanaya pun memakai jaketnya, ia menuju ke kamar Sagara, kamar itu sudah terlihat gelap mungkin penghuninya sudah tidur.
Sanaya masuk dengan mengendap-endap,
"Kenapa mengendap-endap seperti maling?" tanya seseorang ternyata sedang duduk di sofa dengan headset yang melekat di kepannya.
"Astaga ....!" Sanaya benar-benar terkejut, dia sampai harus memegangi dadanya, "Kenapa gelap-gelapan sih Gara?"
"Kamu yang kenapa malam-malam ke kamar aku?"
"Nyalakan lampunya!"
"Nggak mau!"
"Ittttsssss!"
Dari pada terus berdebat Sanaya pun memilih mendekati saudara kembarnya itu. Ia duduk di samping saudara kembarnya.
"Ada apa?"
"Temani aku ya!"
__ADS_1
"Malam-malam mau ke mana?"
"Plisssss, ada yang urgent pokoknya!"
"Temani ke mana?"
"Cari Adit!"
"Ogah!" jawab Sagara dengan tegas, "Ngapain juga cari-cari dia kurang kerjaan banget!"
"Ayolah Gara!" Sanaya memaksa, ia sampai menggoyang-goyangkan tubuh Sagara.
"Nggak ya nggak!"
"Ayolah Gara! Kasihan sama bunda Diah!"
"Siapa bunda Diah?"
"Bundanya Adit, dia baik banget sama aku! Kalau kamu nggak mau aku bakal pergi sendiri!"
"Kamu nggak tahu ya ini malam!"
"Tahu, makanya aku minta temenin kamu!"
"Keras kepala banget sih jadi anak!"
"Kan kamu yang dapat ijin malam!"
Hehhhh
Sagara menghela nafas, ia tahu bagaimana sifat saudarinya ini. Dia tidak akan menyerah,
"Baiklah, tunggu sebentar!"
Sagara pun segera mengambil kunci sepeda motornya.
"Ayo!"
"Serius nih mau anterin?"
"Jadi nggak?"
Sebenarnya keluar malam cukup beresiko untuknya, tapi dia juga tidak mau sampai Sanaya nekat pergi sendiri.
"Kamu tunggu di sini, biar aku ijin sama mom dan papa dulu!"
"Serius mau ijin?"
"Emang mau kabur? Bikin masalah baru aja!"
Sanaya pun akhirnya menunggu di ruang keluarga sedangkan Sagara naik kembali ke kamar mom dan papa nya. Jam segini bisa jadi sekarang mereka pasti sudah tidur.
Tok tok tok
"Mom ....., pa ....! Ini Gara!"
Cukup lama Gara berdiri di depan pintu hingga pintu itu terbuka.
Ceklek
Mom Ara terlihat mengeryitkan matanya, sepertinya memang sudah tertidur.
"Gara? Ada apa?"
"Gara keluar sebentar boleh ya mom, Nay katanya laper, dia pengen makan ayam geprek yang ada di ujung jalan!"
"Malam-malam begini?"
"Kan bukanya malam, lagian Nay laparnya malam-malam sih mom!"
"Minta saja penjaga membelikannya!"
"Nggak usah mom, kasihan ngrepotin!"
"Siapa sayang?" ternyata papa Agra juga ikut terbangun, ia berdiri di samping istrinya dengan celana bokser pendeknya dan tanpa baju.
"Gara, ngapain malam-malam ganggu mommy kamu?"
"Kata Gara, Nay lapar dan pengen ayam geprek yang ada di ujung jalan bby!"
Papa Agra mengerutkan keningnya, sebenarnya ini bukan yang pertama, Sanaya sering sekali seperti itu.
__ADS_1
"Baiklah, tapi jangan lama-lama!"
"Tapi Bby!"
"Nggak pa pa sayang, mereka sudah besar, lagian cuma ke depan!"
"Gara bawa motor aja ya pa?"
"Iya!"
Akhirnya Gara dapat ijin juga, ia segera menghampiri kembali Sanaya.
"Gimana? Boleh nggak?"
"Boleh, ayo!"
Mereka memakai helmnya dan melewati penjaga.
"Tuan muda mau ke mana?"
"Ada urusan sebentar, papa Agra sudah mengijinkan!"
"Baik tuan muda!"
Akhirnya pintu gerbang di buka juga. Motor Sagara melaju dengan sedikit kencang. Jalanan sudah terlihat sepi karena sudah sangat larut.
Nyonya Ratih yang memang belum tidur mendengar suara motor Sagar keluar dari gerbang, dia segera ke depan untuk bertanya pada penjaga, karena menurut keterangan penjaga mereka sudah mendapat ijin dari Agra. Nyonya Ratih pun memilih kembali ke ruang kerjanya.
Sagara dan Sanaya sampai juga di markas yang di tunjuk oleh bunda Diah tapi di sana terlihat sepi.
"Nggak ada siapa-siapa di sini!"
"Trus di mana dong?"
"Ya mana aku tahu! Kamu salah informasi kali!"
"Nggak nih bener di sini!"
"Kita pulang saja!"
"Jangan dong, di cari sebentar ya!"
"Perhatian banget sama dia!"
"Bukan kayak gitu, ayo dong Gara, please ....!"
Karena Sanaya terus memohon, akhirnya Sagara tidak bisa mengelak lagi, mereka melewati jalan yang berbeda dari jalan yang mereka lalui sebelumnya. Menyusuri jalan hingga hampir setengah jam.
"Gara ...., Gara ...., itu rame-rame ada apa?" ucap Sanaya sambil menunjuk ke kerumunan anak-anak muda.
Sagara pun segera menghampiri kerumunan itu, dan ternyata ada balap motor liar.
"Itu motor Adit, Gara!" Sanaya menunjuk ke motor berwarna hijau itu. "Turun ...., turun ....!"
Sanaya sampai menepuk punggung Gara beberapa kali agar Gara menghentikan motornya.
Setelah motor berhenti, Sanaya pun segera turun dan melepas helmnya, ia segera menghampiri Aditya.
"Adit ....!" teriakan Sanaya berhasil membuat Aditya menoleh padanya.
"Adit ....!" lagi-lagi Sanaya memanggilnya dari kerumunan penonton yang sedang bersorak-sorai.
"Nay!" Aditya membuka kembali helm nya dan memastikan jika yang memanggilnya benar-benar Sanaya.
"Tunggu sebentar ya, lo gantiin gue pakek motor gue!" bisik Adit pada teman yang ada di sampingnya.
"Mana bisa kayak gitu! Gue nggak bisa, mereka pengennya tanding sama lo!"
"Bentar, gue ada urusan!"
Adit pun segera turun dari motornya begitu saja meninggalkan arena balap motor dan menghampiri Sanaya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading đ„°đ„°đ„°đ„°
__ADS_1