
Hingga suatu ketika
takdir mempertemukan kita, hari itu ia mengantar kuenya sendiri, aku begitu
senang. Jantungku berdetak begitu kencang, rasanya ingin lepas dari tempatnya.
Tapi kesenanganku itu musnah ketika sebuah kebenaran terungkap. Dia mengenaliku
tapi dia juga mengenali dirimu sebagai suaminya. Aku kira itu sebuah
kebohongan, tapi ternyata itu sebuah kebenaran, Ara sudah menjadi milik orang
lain yaitu dirimu.
Aku tidak terima, aku
terluka, aku selalu mencoba tersenyum di depanmu dan Ara walaupun hatiku
terluka. Aku meluapkan kekesalanku, sakit hatiku dengan mengunjungi klub malam,
aku menghabiskan malam ku dengan minum-minum hingga mabuk, di sana aku juga di pertemukan dengan gadis bodoh, gadis yang sepertinya sedang patah hati.
Sepanjang malam dia
juga hanya terus minum, hingga kami menghabiskan minuman kami bersama-sama.
Karena terlalu mabuk kami menghabiskan malam bersama-sama di sebuah kamar hotel.
Aku begitu merasa bersalah, aku terbangun di pagi hati tapi gadis angkuh itu
sudah tidak ada, dia hanya meninggalkan kartu namannya di sana.
Setelah malam itu kami
tidak saling bertemu, aku juga berusaha melupakan malam itu. Aku tidak berniat
mencarinya juga. Patah hatiku perlahan-lahan mulai sembuh seiring berjalannya
waktu, aku tidak lagi pergi ke klub malam.
Hingga suatu hari aku
di pertemukan dengan gadis angkuh itu lagi dalam keadaan yang berbeda. Dia
tidak membiarkanku menemuinya. Dia terus menghindari ku, aku juga sulit untuk
menemukannya. Dia sepertinya sedang hamil, hal itu membuatku terus
bertanya-tanya. Apa itu anakku? Jika di hitung dari malam itu sepertinya
perhitungannya sangat tepat.
Aku meminta seseorang
untuk menyelidiki wanita angkuh itu. Sebuah kebenaran terungkap. Dia adalah
mantan kekasihmu, Viona seorang model dan designer yang namanya besar berkat
namamu. Nama seorang Agra Anugra Putra, tapi sepertinya ia terlena dan masuk ke
dalam keserakahan.
Aku sempat ragu dan
mempertanyakan sebenarnya anak siapa yang sedang ia kandung saat itu. Aku
sempat mengira jika itu adalah anakmu, tapi sebuah kenyataan mematahkan
prasangkaku. Dia pernah menjebakmu dalam sebuah konspirasi yang di dalangi oleh
ibu tirimu dan kakak laki-lakimu.
Keinginanku untuk tahu
__ADS_1
kebenarannya semakin besar, tapi sepertinya Viona tidak pernah mengijinkanku
mengetahuinya. Ia tahu siapa aku, aku hanya seorang pemilik kafe, bukan
pengusaha besar sepertimu. Aku hanya bisa mengawasinya dan terus mencari
kebenarannya. Aku juga terus membangun perusahaan ini hingga menjadi seperti
ini. Aku ingin membuktikan jika benar itu anakku, aku akan bangga menjadi
seorang ayah.
Tapi lagi-lagi aku
tertipu, dia memalsukan identitas anak kami. Dia membuat bukti yang seolah-olah
itu bukan anakku tapi anakmu. Aku sempat marah padamu dan berpikir untuk
memberitahukan semua itu pada istrimu, tapi melihat kebahagiaan kalian, aku
urungkan kembali niatku.
Hingga satu tahun yang
lalu aku baru tahu jika dia benar-benar putriku saat Aril mengalami sebuah
kecelakaan, dia kehabisan banyak darah. Aku yang menolongnya dan membawanya ke
rumah sakit, ibunya saat itu tidak berada di tempat. Dokter membutuhkan donor darah, hingga aku
pun mendonorkan darhaku. Aku gunakan kesempatan itu untuk melakukan tes DNA.
Dan dari tes itu terbukti jika anak itu adalah putriku.
Awalnya Viona menolak,
tapi setelah ku berikan buktinya akhirnya ia menyerah. Kami memutuskan menikah
memisahkannya dengan ibunya, walaupun aku tahu selama ini Viona tidak pernah bisa
menyayangi Aril seperti ibu-ibu yang lain.
Jerry mengakhiri
ceritanya. Ada kelegaan di hati Agra, setidaknya ia bisa bernafas lega karena
Aril bukan anaknya. Walaupun ia yakin tidak pernah melakukan hubungan itu
dengan Viona, tapi ia tidak dapat mempercayai Viona. Apalagi saat itu Viona
telah memperinya obat hingga ia tidak sadarkan diri, walaupun Rendi sudah
mengatakan kalau dia tidak melakukan apa-apa tapi sebelum Rendi dan anak
buahnya datang, ia tidak yakin.
“terimakasih atas ceritamu, setidaknya ini membuatku lega …!”
“Aku juga lega karena mengetahui kebenarannya!”
Mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing,
sebenarnya masih ada yang ingin agra tanyakan lagi. Tapi sepertinya tidak
mungkin. Ini terjadi jauh sebelum Jerry mengenal Viona. Biarlah kebenaran ini
tetap dia yang tahu.
“Baiklah …, aku harus pergi sekarang!”
“Terimakasih atas kunjunganmu, sampai jumpa lagi!”
Jerry pun mengantarkan Agra sampai di bawah. Hari
__ADS_1
ini Agra tidak kembali lagi ke kantor walaupun masih siang. Ia tidak sabar
ingin segera menemui istrinya, suasana hatinya sedang sangat bagus.
“Sekarang jam berapa?” Tanya Agra pada sopirnya,
walaupun ia sudah tahu sekarang jam berapa tapi ia hanya ingin memastikan saja.
“Jam dua siang tuan!”
“Berarti Sanaya sudah pulang, ya sudah kita langsung
pulang saja!”
“baik tuan!”
Mobil melaju cukup lancar karena jalanan tidak
terlalu ramai, belum waktunya jam pulang kantor.
“Papi pulang ….!” Ucap Agra saat langkah kakinya
sudah sampai di ruang keluarga. Di sana hanya ada Sanaya yang sedang bermain.
“Papi …., papi pulang cepat ….?”
“Iya sayang …, mana momy mu?” Tanya Agra setelah
mengecup putrinya.
“Mommy sedang di panggil oma!”
“Oma?”
“Iya …., Gara bikin gara-gara lagi pap!”
“Gara-gara apa?”
“Gara meminta Abimanyu untuk memberinya contekan, tapi
Abimanyu menolaknya!”
“Anak itu …., baiklah tidak pa pa. mau papi beri
tahu satu rahasia?”
“Apa?”
“Papi dulu waktu kecil juga melakukan hal itu pada
uncle Rendi!”
“Dan uncle Rendi menolaknya?”
“Iya …, persis seperti Abimanyu!”
“Kasihan sekali uncle Rendi …!”
“Kenapa malah mengasihani uncle Rendi, papi tidak?”
“Uncle Rendi pasti menderita sekali, karena dulu papi nakal seperti Gara!”
“Kau ini …., masih kecil bicaramu seperti mommy mu saja!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘
__ADS_1