
Gadis itu sudah berdiri di depan sebuah rumah dengan pagar setinggi dada. Rumah itu terlihat sepi tapi pagar itu tidak terkunci.
"Permisi!"
Beberapa kali Ariel memanggil pemilik rumah tapi tetap saja tidak ada sahutan.
"Kok sepi ya, apa Abi masih belum pulang?" gumamnya.
Ia kembali menatap rumah itu,
"Tapi kan tidak mungkin Abi tinggal sendiri di rumah ini!"
Ariel kembali menatap rumah itu, mencocokkan alamat yang berada di rumah itu dengan alamat yang ada di layar ponselnya.
"Benar, nggak salah!"
Ariel kembali mengetuk pagar itu, mengadu pengait dengan pagar hingga menimbulkan suara.
"Permisi, apa ada orang di dalam?"
Tetap saja tidak ada jawaban, hampir saja Ariel menyerah
Plekkkk
Hingga sebuah tangan mendarat di bahunya. Membuat Ariel terdiam sejenak.
"Mencari siapa?" pertanyaan dari seseorang yang berdiri di belakangnya dengan suara serah dan beratnya.
Ariel pun segera menoleh ke belakang, ada seorang kakek tua dengan postur tubuh yang masih tegak, ia mengenakan jas rapi.
"Hai kek, saya Ariel!"
"Hemm!"
"Apa benar ini rumahnya Abi?"
"Iya! Tapi Abi nya belum pulang!"
Ternyata Abi sangat mirip dengan kakeknya, dingin banget orangnya ....
"Sebenarnya saya ada perlu sama kakek!"
Kakek itu mengerutkan keningnya,
"Iya kek! Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan!"
"Baiklah, kita bicara di dalam!"
Kakek itu segera membuka pagar dan menyusuri halaman, Ariel hanya bisa mengikutinya di belakang hingga mereka sampai juga di ruang tamu.
"Duduklah!"
"Terimakasih kek!"
Pria tua itu masuk, Ariel memanfaatkannya untuk mengamati rumah itu. Ada banyak foto yang berada di atas lemari panjang, tapi Ariel tidak mengenali siapapun kecuali Abi.
Hanya ada kakek, nenek dan Abi, dan juga foto pria muda yang terpisah. Sepertinya itu ayah Abi.
Ternyata kakek hanya sebentar dan kembali dengan membawa segelas air putih.
"Minumlah!"
"Terimakasih kek!"
Kakek itu segera duduk di sofa yang ada di depan Ariel terpisah dengan sebuah meja kecil
Rumahnya sangat rapi dan bersih, ada foto Abi juga di sana.
Walaupun sudah tua, pria itu tampak berwibawa.
"Ada apa?" tanyanya.
"Apa kakek mengenal wanita bernama Viona?"
Pertanyaan Ariel berhasil membuat kakek itu terkejut tapi dengan cepat ia kembali menormalkan alir wajahnya. Kembali datar seperti tidak terjadi apa-apa.
"Saya tidak mengenalnya!"
"Benarkah?" tanya Ariel dan hal itu membuat wajah kakek terlihat kesal, "Maksud saya bukan seperti itu kek, wanita itu mengenal Abi!"
Dan lagi-lagi kakek itu terkejut, ia sudah begitu lama menyembunyikannya tapi seorang gadis kecil tiba-tiba datang dan kembali mengingatkan nama itu.
__ADS_1
"Saya atau cucu saya tidak mengenalnya, sepertinya kamu salah orang!"
"Tidak mungkin jika seperti itu!"
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"
"Saya putri wanita itu!"
Jadi dia saudara seibu dengan Abi ....
Kakek itu tercengang mendengar pengakuan Ariel.
"Kalau sudah tidak ada yang di bicarakan, kamu boleh pergi! Saya masih banyak urusan!"
"Tapi kek, saya harus tahu!"
"Tapi tidak ada yang harus saya beritahu, apapun itu!"
Melihat kakek itu sudah tidak seperti tadi membuat Ariel terpaksa harus segera meninggalkan rumah itu. Ia pun berdiri dan menundukkan punggungnya.
"Maaf sudah menggangu waktu kakek, saya permisi!"
Ariel pun segera meninggalkan rumah itu, saat sampai di depan rumah ternyata Abimanyu datang.
"Riel, kamu di sini, ada apa?"
"Bukan hal yang serius, hanya ada perlu sedikit dengan kakek kamu!"
"Kakek?"
"Hemmm!"
"Ada apa?"
Belum sampai Ariel menjawabnya tiba-tiba kakek sudah memanggilnya.
"Abi ...., masuk!"
Membuat mereka menatap kearah kakek.
"Aku pulang dulu, besok kita bicara lagi!"
Setelah Ariel pergi, Abi pun menghampiri kakeknya.
"Kek, Ariel dia kenapa ke sini?"
"Bukan hal yang penting, segeralah ganti bajumu dan tuan muda sudah menunggumu di kantor!"
"Baik kek!"
...****...
Di tempat lain, Sagara terlihat mondar-mandir di ruangannya, dia seperti terjebak dengan ucapannya sendiri.
"Bisa-bisanya aku mengajak Ariel kencan, nonton lagi!"
"Bagaimana ini?"
Sagara bingung karena dia tidka pernah tahu bagaimana yang di sebut nonton itu.
"Apa paman Div punya solusi ya ya!" gumamnya lagi. Dia pun segera keluar dari ruangannya dan menuju ke lift, ia menunggu hingga pintu itu terbuka.
Ia harus ke lantai paling atas di gedung itu untuk menemui pamannya.
Tok tok tok
"Masuk!"
Sebuah sahutan dari dalam menandakan jika pemilih ruangan itu sedang berada di dalam.
"Permisi paman!"
Pria dengan beberapa uban di rambutnya itu mendongakkan kepalanya.
"Gara, masuklah!"
Sagara pun segera masuk dan duduk di kursi kosong yang ada di depan meja kerja Div.
"Ada apa?"
"Apa paman pernah nonton?" tanyanya membuat Div mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Pernah, ada apa?"
"Bagaimana caranya?"
Lagi-lagi Div mengerutkan keningnya, ia tidak menyangka jika keponakannya itu sekarang sudah besar.
"Jadi ceritanya mau kencan ya?"
"Nggak paman, cuma nonton biasa aja!"
"Sebaiknya kamu sekarang pergi ke bioskop dan lihat apa yang mereka kerjakan di sana, dan besok kamu bisa melakukan hal yang sama!"
"Begitu ya paman?"
"Iya, ajaklah Rangga bersamamu dia cukup tahu situasinya!"
"Baiklah paman, terimakasih informasinya!"
"Lain kali tanya sama paman saja, papa kamu nggak akan tahu hal-hal seperti ini!"
"Siap paman!"
...***...
Kini Sagara dan Rangga sudah berada di sebuah gedung bioskop.
"Paman apa yang harus aku lakukan?"
Rangga pun mengedarkan pandangannya, ia mencari sepasang anak muda yang baru datang.
Itu dia ....
Rangga pun segera menunjuk nya.
"Lihat itu?"
"Apa?"
"Muda mudi itu!"
"Trus!"
"Ikut apa saja yang di lakukan mereka!"
"Lalu paman?"
"Saya akan ikut di samping kamu!"
"Baiklah!"
Sagara pun mengikuti muda mudi yang baru datang itu.
Dia berdiri di belakang mereka untuk mengantri tiket.
Bahkan Sagara juga membeli tiket yang sama persis seperti yang mereka beli.
Muda mudi itu meminta si cewek untuk menunggu sebentar sebelum masuk ke gedung bioskop untuk membeli pop corn.
"Ayo ikuti dia!" bisik Rangga dan Sagara pun mengikuti cowok itu lalu berdiri di belakangnya. Mengantri membeli pop corn dan sesekali melambaikan tangannya pada si cewek.
Masak aku juga harus melambai pada paman Rangga sih ....
Rangga melambaikan tangannya persis seperti yang di lakukan cewek di samping nya dan Sagara terpaksa membalasnya hal itu membuat beberapa pengunjung menatap mereka dengan tatapan aneh.
Hingga mereka pun memasuki gedung bioskop,
"Filmnya kok gini banget sih paman!" keluh Sagara.
"Ya kalau kencan, filmnya harus yang romantis kayak gini!"
Lagi-lagi mereka mendapat tatapan aneh dari penghuni bangku yang ada di sampingnya. Bagaimana dua pria beda generasi membicarakan soal kencan berdua, apalagi mereka terlihat begitu keren.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading đ„°đ„°đ„°đ„°
__ADS_1