
#Kehidupan dunia ini penuh dengan seribu macam hal yang manis,
tetapi untuk dapat mencapainya kau juga perlu seribu macam pengorbanan#
Pagi ini, Agra sudah siap untuk berangkat kerja, ia menyantap
sarapan terlebih dahulu yang sudah di siapkan istrinya, Ara walaupun
akhir-akhir ini merasakan badannya tak begitu segar seperti biasanya, ia tidak
mau terlihat lemah di depan suaminya
“bby ..., kenapa sih kok berangkat pagi pulangnya selalu malem?”
Ara sedikit protes karena suaminya itu selalu saja tak ada waktu untuknya
“sayang ..., aku harus ambil lembur, biar bisa cepet buka usaha
sendiri”
“tapi kan kesehatan itu penting , bby..., aku nggak mau kamu sakit”
“maaf sayang, nanti kalau sudah lebih baik, aku pasti meluangkan
banyak waktu buat kamu sayang”
Tok tok tok
Tiba-tiba ketukan pintu menghentikan obrolan mereka
“kamu lanjutkan saja sarapannya bby, biar aku saja yang buka” Ara
beranjak dari duduknya menuju ke pintu
Setelah pintu terbuka, di balik pintu ada mas Arman, mas Arman
adalah suami dari mbak Rini
“mas Arman ...”
“pagi mbak Ara ...” sapa mas Arman
“pagi mas Arman, ada apa ya?” Ara heran karena tak biasanya suami
mbak Rini datang ke rumah
“maaf ya mbak, hari ini istri saya nggak bisa bantu-bantu mbak Ara,
soalnya sedang kurang enak badan”
Agra yang mendengar istrinya sedang mengobrol dengan seorang
laki-laki dengan sangat serius membuatnya segera mengakhiri sarapannya dan
segera memhampiri istrinya
“siapa sayang ...?” Agra muncul di belakang Ara henda berangkat
kerja
“ini bby , suaminya mbak Rini ...”
“loh ... kok mas Agra ya ..., jadi mas Agra ini suaminya mbak Ara
to?” mas arman begitu terkejut melihat Agra, mereka sering bertemu di pasar,
bahkan Agra lah yang selalu menyetok barang-barang dagangan mas Arman, Agra
tampak tersenyum linglung seperti ada yang sedang di sembunyikan,
“loh ..., jadi mas Arman sudah kenal sama suami aku ya?” Ara
benar-benar tak menyangka jika mereka sudah saling kenal, pasalnya selama ini
belum pernah melihat mereka bertemu saat di rumah
“iya mbak , soalnya mas Agra ini yang sering menyetok semua sayuran
saya ....” Ara menatap suaminya penuh tanda tanya, Agra yang di pandang tampak
begitu bingung mencari alasan
“ya udah mbak, mas saya permisi dulu” untung saja Arman segera
berpamitan, Agra sedikit lega karena kehawatirannya sedikit menghilang
“oh iya mas...., nanti aku jenguk mbak Rini deh” jawab Ara
Arman pun meninggalkan mereka berdua, tapi belum sempat Ara
bertanya, Agra sudah lebih dulu mengecup kening istrinya
“aku berangkat dulu ya sayang, sudah siang ...”
“iya ..., hati-hati ...”
***
Siang ini setelah menyelesaikan semua pesanan Ara menyempatkan
menjenguk mbak Rini, karena tak ada temannya, Ara sengaja tidak membuka kiosnya
karena tak mau terlalu capek, ia hanya akan membuatkan untuk pesanan saja
“siang mbak Rini ...” sapa Ara pada wanita yang sedang duduk lemas
di atas tempat tidurnya
“eh mbak Ara ...” mbak Rini pun mencoba untuk bangun menyambut Ara
“nggak usah bangun mbak, mbak masih lemas gitu.., mbak rebahan
saja” tangan Ara seraya menahan tubuh mbak Rini untuk tidak bangun dari tempat
__ADS_1
tidur
‘nggak papa kok mbak, ini sudah mendingan..., terima kasih lo mbk
udah mau jenguk” tapi Rini tetap nekat untuk bangun karena badannya sudah
merasa enakan setelah meminum obat yang di belikan Arman suaminya
“nggak usah sungkan..” Ara pun ikut duduk di samping Rini
“sebenarnya selain ingin jenguk mbak, ada yang ingin aku tanyakan
sama mbak rini” terlihat Ara begitu ragu untuk menanyakan
“tanya apa mbak?” Rini yang melihat keraguan di wajah Ara tak mau
menunggu terlalu lama
“apa mas Arman pernah melihat suami saya di pasar?” Rini yang di tanya sedikit bingung,
ia merasa tidak enak untuk menceritakannya, Rini hanya bisa diam
Ara yang menyadari kediamannya, segera menjelaskan supaya tidak
terjadi kesalah fahaman
“tadi pagi mas Arman kan ketemu sama suami saya mbak, tapi katanya
mas Arman mengenal suami saya, apa mas
Arman pernah cerita sesuatu sama mbak?”
Melihat Ara yang begitu ingin tahu, membuat Rini tidak tega
menyembunyikan semuanya pada Ara
“sebenarnya baru tadi pagi mas Arman ceritanya setelah ketemu sama
mas Agra di rumah mbak” Rini masih ragu untuk menceritakan semuanya
“apa yang di ceritakan mas Arman mbak?”
“katanya mas Arman, mas Agra itu bekerja di pasar” mendengar itu
Ara merasakan sesak di dadanya, bagaimana bisa seorang CEO perusahaan besar
kini harus banting tulang hanya demi dirinya, matanya mulai mengkristal
“se-baga- i apa mbak?” Ara
masih berusaha menguatkan hatinya, matanya semakin terasa panas
“kata mas Arman, serabutan sih mbak, semua pekerjaa n di pasar ,
supaya lebih jelasnya , coba mbak Ara buktikan sendiri di pasar mbak” Rini tak
mau menjelaskan terlalu detail, karena melihat Ara yang sudah dengan mata yang
berkaca-kaca, karena ia tahu sedikit banyak cerita tentang Ara dan suaminya,
ceritanya membuat kehidupan Ara dan Agra semakin runyam.
***
Matahari semakin menenggelamkan sinarnya di balik awan , kini langit
mulai berganti dengan gelap, sore yang sedikit mendung, Ara tampak termenung di
teras menanti kedatangan suaminya
Ara masih memikirkan perkataan Rini tentang Agra, kemudian ia
mengambil benda pipih yang tergeletak di meja kecil di samping ia duduk,
“hallo...”
“iyaa nona”
“bisa kita ketemu besok?”
“ada apa nona, tiba-tiba saja nona ingin bertemu dengan saya?”
“ada hal penting yang ingin saya bicarakan, besok saya tunggu di
kafe B, jam 16.00”
“baik nona”
Ternyata Ara sedang menghubungi Rendi, dan yang di hubungi di
seberang sana merasa kebingungan, karena tak biasanya Ara menghubunginya bahkan
cenderung menghindarinya
“kenapa bro, muka lo kok langsung di tekuk kayak gitu?” Frans
ternyata ada di samping Rendi, mereka sedang menikmati senja di balkon rumah
Rendi
“nggak biasanya Ara menghubungi gue duluan, pasti ada yang serius,
jangan-jangan ada yang sudah menemuinya” Rendi mengusap kasar rambutnya
“lo terlalu ketinggian mikirnya, nggak mungkin lah..., lo kan udah
kirim orang buat ngawasin mereka, dan sampek saat ini belum ada tanda-tanda
orang-orangnya bang Divta nemuin mereka kan?” Frans menenangkan Rendi
“iya sih ..., tapi lama-lama gue kasian liat Agra, dia harus kerja
keras kayak gitu, gue jadi ngrasa bersalah”
__ADS_1
“nggak usah di pikirin, lagian kan ini juga pilihan dia, lagian
nyokapnya juga nggak bener-bener tega ngebuang dia”
***
Di tempat Ara, tepat pukul 21.00 Agra pulang, sedang Ara sudah
menyiapkan makan malam buat Agra, ia terus berpikir keras, bagaimana dia akan
menghadapi suaminya
“sayang ...” Agra segera memeluk Ara dari belakang, Ara yang tidak
mengetahui kedatangan Agra sedikit terkejut, Agra memang sangat suka mencium
aroma tubuh istrinya
“bby..., lepas bby geli ah ...” Agra terus saja menyesap tengkuk
Ara, hingga hembusan nafasnya membuat Ara geli di buatnya
“aku suka sayang ...”
“mandi dulu bby ...” Ara mencoba melepaskan pelukan Agra dan
mendorong Agra ke dalam kamar mandi, Agra hanya bisa pasrah dan mengikuti saja
perintah istrinya
Ara segera masuk kedalam kamar dan menyiapkan pakaian untuk Agra,
dan tak butuh waktu lama Agra pun sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk
yang hanya membalut bagian bawah tubuh Agra
“cepat sekali ...” Ara sedikit kaget karena Agra sudah masuk lagi
ke dalam kamar, padahal ia hanya meninggalkan Agra sebentar di kamar mandi
“aku pria, bukan wanita yang butuh berjam-jam hanya untuk berada di
kamar mandi sayang” Agra pun sambil memakai pakaian yang sudah di siapkan
istrinya
“emang bersih, mandi Cuma 5 menit, dasar jorok” gerutu Ara sambil
memungut handuk yang sudah di lepaskan agra dan menggantungnya di jendela kamar
“aku memang sengaja tidak membersihkan semua keringatku” Agra
berusaha membuat alasan
“memang kenapa?” Ara menengadahkan wajahnya mengadap Agra sambil
sedikit memicingkan matanya
“kamu kan akhir-akhir ini suka mengendus keringatku, aku Cuma ingin
membahagiakan istriku saja” Agra sambil tersenyum dan mengedipkan matanya
menggoda
“cih ..., kau ini selalu saja, ayo keluar dulu, kita makan” Ara pun
berjalan terlebih dahulu keluar kamar dan di inkuti Agra di belakannya
‘masak apa kali ini sayang?” tanya agra, Ara pun segera mengambil
piring dan mengisinya dengan nasi, sayur dan lauknya dan menyerahkannya pada
Agra
“wah ..., baik sekali istriku” Agra pun segera melahap makanan di
piringnya, Ara hanya memperhatikan suaminya yang dengan lahapnya menyantap
makanannya,
“pelan-pelan makannya bby..., kamu benar-benar lapar ya?” Ara
selalu merasa kasihan melihat suaminya yang seperti itu, ia jadi teringat
obrolannya pagi tadi dengan Rini, membuat dadanya kembali sesak
“bby ...”
“hemmm” Agra tak begitu menanggapi panggilan istrinya, ia masih terus
melahap makanannya dan sesekali menambahkan lauk ke dalam piringnya
“pelanin dong makannya ...”
“aku lapar sekali soalnya, tadi seharian aku nggak sempat makan”
Agra bicara sambil terus mengunyah makanan hingga mulutnya penuh dengan makanan
“hah ..., kejam sekali bosmu itu, biar aku marahi saja si gembul
itu ..., kejamnya dia hingga membuat suamiku ini kelaparan” gerutu Ara
“hehhhmmm hehhhmmm” Agra hanya bisa mengangguk karena mulutnya
masih penuh dengan makanan
***
#cinta bukanlah memiliki atau di miliki, namun cinta adalah
pengorbanan dan perjuangan#
jangan lupa jangan lupa kasih upah aku ya dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya
__ADS_1
serta kasih VOTE juga