
“Bisa berhenti atau aku yang akan memaksamu berhenti!”
Ucapan Abimanyu berhasil membuat Sanaya terdiam, ia
tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh Abimanyu tapi ia lebih suka jaga-jaga.
“Ariel, pergilah …!” perintah Abimanyu, walaupun
terpaksa ia tetap mau meninggalkan mereka.
Kini hanya tinggal Abi dan Nay di sana, gadis itu
begitu tidak suka Abi terus ikut campur dengan urusannya. Ia memilih membalik
badannya dan hendak meninggalkan Abimanyu, tapi kerah belakang bajunya sudah lebih dulu di tarik kebelakang oleh Abimanyu hingga membuat tubuh Sanaya condong ke
belakang.
“Lepasin Bi …, lepas …!”
“Ikut denganku!”
Abimanyu terus menarik kerah belakang bajunya persis
seperti membawa anak kucing.
‘Ini keterlaluan namanya, mau kamu ajak ke mana
aku?” Sanaya terus protes tapi Abimanyu memilih tetap diam tanpa menjawab
cerocosan Sanaya.
Ternyata Abimanyu membawa Sanaya ke kantin,
“Bi …, aku nggak punya uang saku!”
“Duduk dan diam saja!”
Abimanyu mendudukkan Sanaya di salah satu bangku yang
masih kosong. Di sudut lain juga terlihat Riska bersama teman-teman yang lain.
“Nay …!” panggilnya membuat Sanaya menoleh padanya,
ia tersenyum.
“Itu ada Riska, aku ke sana ya!”
“Sudah aku bilang, duduk diam, atau aku akan
mengikat kakimu!”
“Issttttt …, memang ada pengawal yang seberani itu
sama nona nya!” gerutu Sanaya tapi Abimanyu hanya menatapnya tidak suka, ia
melambaikan tangannya dan seorang pelayan kantin mendekati mereka.
“dua mangkuk bakso dan dua gelas orange jus!”
“Baik!”
Pelayan itu kembali meninggalkan mereka dan
hanya dalam waktu lima menit saja, dua mangkuk bakso dan dua gelas orange jus datang.
“Makanlah!”
Sanaya menatapi Abimanyu, ia hanya berpikir mungkin
saja anak itu tahu kalau dia sedang di skors uang jajan.
“Jangan menatapku seperti itu, aku bisa kepedean
nanti!”
“Ini gratis?”
“Enggak!”
Hehhhh
Sanaya menjauhkan lagi mangkuknya tapi Abimanyu
menggesernya lagi mendekat. Dan itu terjadi beberapa kali.
“Aku nggak punya uang untuk membayarnya!”
“Hehhh …, ana pemilik perusahaan sampai tidak mampu
__ADS_1
membayar semangkuk bakso!”
“jangan becanda!”
“Aku tidak becanda, kalau hanya untuk membeli satu
container bakso kamu juga bisa, tapi bukan itu yang aku mau!”
“Apa dong?”
“Nanti sore datanglah ke taman belakang rumah besar,
kita belajar di sana. Aku mau nanti nilai Sanaya ku menjadi bagus!”
Sanaya mengerutkan keningnya, ia sampai menghentikan
mengunyah bakso yang sudah terlanjur ke dalam mulut, untung saja tidak sampai tersedak. Sanaya Ku …, maksudnya apa?
“Ku …? Maksudnya apa nih?” Sanaya sampai harus
memiringkan kepalanya hanya untuk mengetahui bagaimana ekspresi pria di depannya. Bahkan rambutnya yang sebahu
hampir saja mengenai kuah bakso yang penuh dengan saos sambal, untung saja
Abimanyu begitu cekatan menyingkirkan rambut itu kembali ke belakang.
“Jangan salah penafsiran, aku hanya meneruskan
ucapan mu dulu aja!”
Sanaya kembali menegakkan kepalanya, mungkin bagi
sebagian orang yang melihatnya ini sebuah adegan romantis saat seorang anak laki-laki menyisihkan rambut si gadis, tapi nyatanya ini beda. Kita tidak bisa melihat sesuatu hanya dari satu sisi saja,
“Memang aku pernah mengatakan apa?”
Mungkin saat itu memang Sanaya tidak mengingatnya,
tapi kata itu selalu terngiang di telinga Abimanyu. Ia benar-benar ingat saat gadis itu menangis di samping tubuhnya yang berlumuran darah dan mengatakan jika dia tidak mau kehilangan dirinya.
Dan aku membuktikannya …
“Tidak pa pa jika kamu tidak mengingatnya, tapi kamu
harus tahu satu hal butuh usaha yang besar untuk membuktikannya, saat aku
merasa tidak ada yang perlu aku pertahankan dan kata-katamu itu membuatku ingin
“terserahlah …, anggap saja aku mengingatnya!”
Sanaya sudah menghabiskan baksonya, ia juga meneguk
habis jus jeruknya. Sepertinya memang dia sudah sangat lapar dan haus karena terus
marah-marah.
Srekkkkkk
Ia menggeser bangkunya ke belakang dan berdiri,
menundukkan kepalanya,
“Terimakasih atas semangkuk bakso dan segelas jusnya,
sampai jumpa nanti!” untuk pertama kalinya Sanaya bersikap formal pada Abimanyu.
Setelah mengatakan hal itu, ia berlalu begitu saja
meninggalkan anak laki-laki itu. Berjalan dengan santainya melewati beberapa
ruang kelas, bahkan sepatu putihnya sesekali berbunyi saat menapak di lantai,
tangannya sibuk dengan ponselnya. Menggeser ke bawah laman gossip yang beredar
di group media sosial sekolah, lagi-lagi namanya menjadi perbincangan hangat,
bahkan adegan makan bersama di kantin pun sudah terpampang di sana.
Hehhhhhh
Sanaya mulai menghela nafas, ia memikirkan bagaimana
nantinya jika sampai ia benar-benar jadian dengan pria yang bernama Abimanyu
itu. Sosok Abimanyu memang sebelas dua belas dengan sosok Sagara. Hanya bedanya
Sagara sedikit lebih hangat sedangkan Abimanyu sangat misterius, karena sikap
misteriusnya ini yang sering membuat anak-anak perempuan begitu penasaran.
__ADS_1
“Banyak sekali yang memata-mataiku, jadi seperti
artis saja …!” gumamnya, tanpa terasa ia sudaha sampai di depan kelas. Tapi kali
ini ia memilih untuk menghentikan langkahnya, ia menengok ke kelas sebelah. Mencari sosok berantakan itu.
Jika kelasnya di situ, pasti kelihatan kan sekarang …
Masih sepi, sepertinya dia tidak di kelas …
Plekkk
Sebuah tangan mendarat di bahunya dengan reflek
Sanaya mensejajarkan bahunya lagi dan menoleh ke belakang.
“Nyariin siapa, aku ya?” Aditya berdiri di belakangnya, entah dari mana asalnya. Sepertinya memang anak itu suka sekali
datang tiba-tiba seperti itu.
“Kamu ..! eh maksudnya, bukan kamu!” sanaya sampai
harus meralat ucapannya.
“Lagian nggak pa pa kali kalau aku, ngapain?”
“Mau masuk ke kelas!”
“Ya udah sana masuk!”
Sanaya pun kembali melangkahkan kakinya, tapi
terlihat sekali kalau dia sangat ragu. Memang ada yang ingin di bicara kan dengan anak itu. Sanaya menghentikan kakinya, ia berdiri tepat di depan pintu.
Hemmmmm
Ia berdehem, ingin menyelaraskan bibirnya dengan
pikirannya agar sesuai. Ia kembali menoleh ke belakang dan anak itu masih di
tempatnya.
“Maaf seragam mu belum aku bawa!”
“Aku tahu!”
Dengan entengnya Aditya menjawabnya tanpa bertanya
ini itu, membuat Sanaya cukup kesal.
“Jangan sok tahu …!”
Sanaya memilih meninggalkan Aditya dan benar-benar
masuk ke dalam kelasnya. Ia bukan tipe cewek yang bisa sabar menghadapi cowok
yang bicaranya menang sendiri seperti itu. Ia duduk di bangkunya sambil
mengendalikan emosinya, beberapa kali menghela nafas agar tidak tambah kesal.
Tidak berapa lama Riska masuk ke dalam kelas bersama
teman-teman yang lain, ia segera berdiri di depan meja Nay dan menyilangkan lengannya di depan dada.
“Ada apa sih?” tanya Nay yang terkejut melihat
kedatangan Riska dengan wajah kesalnya.
“jadi itu urusannya? Kamu nggak mau ke kantin sama
gue gara-gara mau ke kantin sama kak Abi?”
“Nggak gitu Ris!”
“Trus gimana dong? Atau mungkin kamu memang suka di
gosipin deket sama dia, nggak peka banget!”
Riska memilih berlalu
dan duduk di bangkunya sendiri, Nay hanya terus menatap Riska heran. Ia bingung
dengan apa yang di maksud nggak peka ini.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰