My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Sanaya ku


__ADS_3

“Bisa berhenti atau aku yang akan memaksamu berhenti!”


Ucapan Abimanyu berhasil membuat Sanaya terdiam, ia


tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh Abimanyu tapi ia lebih suka jaga-jaga.


“Ariel, pergilah …!” perintah Abimanyu, walaupun


terpaksa ia tetap mau meninggalkan mereka.


Kini hanya tinggal Abi dan Nay di sana, gadis itu


begitu tidak suka Abi terus ikut campur dengan urusannya. Ia memilih membalik


badannya dan hendak meninggalkan Abimanyu, tapi kerah belakang bajunya sudah lebih dulu di tarik kebelakang oleh Abimanyu hingga membuat tubuh Sanaya condong ke


belakang.


“Lepasin Bi …, lepas …!”


“Ikut denganku!”


Abimanyu terus menarik kerah belakang bajunya persis


seperti membawa anak kucing.


‘Ini keterlaluan namanya, mau kamu ajak ke mana


aku?” Sanaya terus protes tapi Abimanyu memilih tetap diam tanpa menjawab


cerocosan Sanaya.


Ternyata Abimanyu membawa Sanaya ke kantin,


“Bi …, aku nggak punya uang saku!”


“Duduk dan diam saja!”


Abimanyu mendudukkan Sanaya di salah satu bangku yang


masih kosong. Di sudut lain juga terlihat Riska bersama teman-teman yang lain.


“Nay …!” panggilnya membuat Sanaya menoleh padanya,


ia tersenyum.


“Itu ada Riska, aku ke sana ya!”


“Sudah aku bilang, duduk diam, atau aku akan


mengikat kakimu!”


“Issttttt …, memang ada pengawal yang seberani itu


sama nona nya!” gerutu Sanaya tapi Abimanyu hanya menatapnya tidak suka, ia


melambaikan tangannya dan seorang pelayan kantin mendekati mereka.


“dua mangkuk bakso dan dua gelas orange jus!”


“Baik!”


Pelayan itu kembali meninggalkan mereka dan


hanya  dalam waktu lima menit saja, dua mangkuk bakso dan dua gelas orange jus datang.


“Makanlah!”


Sanaya menatapi Abimanyu, ia hanya berpikir mungkin


saja anak itu tahu kalau dia sedang di skors uang jajan.


“Jangan menatapku seperti itu, aku bisa kepedean


nanti!”


“Ini gratis?”


“Enggak!”


Hehhhh


Sanaya menjauhkan lagi mangkuknya tapi Abimanyu


menggesernya lagi mendekat. Dan itu terjadi beberapa kali.


“Aku nggak punya uang untuk membayarnya!”


“Hehhh …, ana pemilik perusahaan sampai tidak mampu

__ADS_1


membayar semangkuk bakso!”


“jangan becanda!”


“Aku tidak becanda, kalau hanya untuk membeli satu


container bakso kamu juga bisa, tapi bukan itu yang aku mau!”


“Apa dong?”


“Nanti sore datanglah ke taman belakang rumah besar,


kita belajar di sana. Aku mau nanti nilai Sanaya ku menjadi bagus!”


Sanaya mengerutkan keningnya, ia sampai menghentikan


mengunyah bakso yang sudah terlanjur ke dalam mulut, untung saja tidak sampai tersedak. Sanaya Ku …, maksudnya apa?


“Ku …? Maksudnya apa nih?” Sanaya sampai harus


memiringkan kepalanya hanya untuk mengetahui bagaimana ekspresi pria di depannya.  Bahkan rambutnya yang sebahu


hampir saja mengenai kuah bakso yang penuh dengan saos sambal, untung saja


Abimanyu begitu cekatan menyingkirkan rambut itu kembali ke belakang.


“Jangan salah penafsiran, aku hanya meneruskan


ucapan mu dulu aja!”


Sanaya kembali menegakkan kepalanya, mungkin bagi


sebagian orang yang melihatnya ini sebuah adegan romantis saat seorang anak laki-laki menyisihkan rambut si gadis, tapi nyatanya ini beda. Kita tidak bisa melihat sesuatu hanya dari satu sisi saja,


“Memang aku pernah mengatakan apa?”


Mungkin saat itu memang Sanaya tidak mengingatnya,


tapi kata itu selalu terngiang di telinga Abimanyu. Ia benar-benar ingat saat gadis itu menangis di samping tubuhnya yang berlumuran darah dan mengatakan jika dia tidak mau kehilangan dirinya.


Dan aku membuktikannya …


“Tidak pa pa jika kamu tidak mengingatnya, tapi kamu


harus tahu satu hal butuh usaha yang besar untuk membuktikannya, saat aku


merasa tidak ada yang perlu aku pertahankan dan kata-katamu itu membuatku ingin


“terserahlah …, anggap saja aku mengingatnya!”


Sanaya sudah menghabiskan baksonya, ia juga meneguk


habis jus jeruknya. Sepertinya memang dia sudah sangat lapar dan haus karena terus


marah-marah.


Srekkkkkk


Ia menggeser bangkunya ke belakang dan berdiri,


menundukkan kepalanya,


“Terimakasih atas semangkuk bakso dan segelas jusnya,


sampai jumpa nanti!” untuk pertama kalinya Sanaya bersikap formal pada Abimanyu.


Setelah mengatakan hal itu, ia berlalu begitu saja


meninggalkan anak laki-laki itu. Berjalan dengan santainya melewati beberapa


ruang kelas, bahkan sepatu putihnya sesekali berbunyi saat menapak di lantai,


tangannya sibuk dengan ponselnya. Menggeser ke bawah laman gossip yang beredar


di group media sosial sekolah, lagi-lagi namanya menjadi perbincangan hangat,


bahkan adegan makan bersama di kantin pun sudah terpampang di sana.


Hehhhhhh


Sanaya mulai menghela nafas, ia memikirkan bagaimana


nantinya jika sampai ia benar-benar jadian dengan pria yang bernama Abimanyu


itu. Sosok Abimanyu memang sebelas dua belas dengan sosok Sagara. Hanya bedanya


Sagara sedikit lebih hangat sedangkan Abimanyu sangat misterius, karena sikap


misteriusnya ini yang sering membuat anak-anak perempuan begitu penasaran.

__ADS_1


“Banyak sekali yang memata-mataiku, jadi seperti


artis saja …!” gumamnya, tanpa terasa ia sudaha sampai di depan kelas. Tapi kali


ini ia memilih untuk menghentikan langkahnya, ia menengok ke kelas sebelah. Mencari sosok berantakan itu.


Jika kelasnya di situ, pasti kelihatan kan sekarang …


Masih sepi, sepertinya dia tidak di kelas …


Plekkk


Sebuah tangan mendarat di bahunya dengan reflek


Sanaya mensejajarkan bahunya lagi dan menoleh ke belakang.


“Nyariin siapa, aku ya?” Aditya berdiri di belakangnya, entah dari mana asalnya. Sepertinya memang anak itu suka sekali


datang tiba-tiba seperti itu.


“Kamu ..! eh maksudnya, bukan kamu!” sanaya sampai


harus meralat ucapannya.


“Lagian nggak pa pa kali kalau aku, ngapain?”


“Mau masuk ke kelas!”


“Ya udah sana masuk!”


Sanaya pun kembali melangkahkan kakinya, tapi


terlihat sekali kalau dia sangat ragu. Memang ada yang ingin di bicara kan dengan anak itu. Sanaya menghentikan kakinya, ia berdiri tepat di depan pintu.


Hemmmmm


Ia berdehem, ingin menyelaraskan bibirnya dengan


pikirannya agar sesuai. Ia kembali menoleh ke belakang dan anak itu masih di


tempatnya.


“Maaf seragam mu belum aku bawa!”


“Aku tahu!”


Dengan entengnya Aditya menjawabnya tanpa bertanya


ini itu, membuat Sanaya cukup kesal.


“Jangan sok tahu …!”


Sanaya memilih meninggalkan Aditya dan benar-benar


masuk ke dalam kelasnya. Ia bukan tipe cewek yang bisa sabar menghadapi cowok


yang bicaranya menang sendiri seperti itu. Ia duduk di bangkunya sambil


mengendalikan emosinya, beberapa kali menghela nafas agar tidak tambah kesal.


Tidak berapa lama Riska masuk ke dalam kelas bersama


teman-teman yang lain, ia segera berdiri di depan meja Nay dan menyilangkan lengannya di depan dada.


“Ada apa sih?” tanya Nay yang terkejut melihat


kedatangan Riska dengan wajah kesalnya.


“jadi itu urusannya? Kamu nggak mau ke kantin sama


gue gara-gara mau ke kantin sama kak Abi?”


“Nggak gitu Ris!”


“Trus gimana dong? Atau mungkin kamu memang suka di


gosipin deket sama dia, nggak peka banget!”


Riska memilih berlalu


dan duduk di bangkunya sendiri, Nay hanya terus menatap Riska heran. Ia bingung


dengan apa yang di maksud nggak peka ini.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2