
Setelah mendapatkan informasi dari anak buahnya, agra
menutuskan untuk menunda kepulangan mereka ke Indonesia, ia tidak
memberitahukan alasannya pada arak arena ia tidak ingin melihat istrinya ikut
cemas. Ia percaya Rendi punya jawaban yang tepat nanti, ia mungkin harus lebih
sabar lagi menunggu hingga saat itu tiba.
“Bby, bagaimana? Apa kita jadi pulang hari ini?” Tanya Ara.
“Kita tunda dulu ya, kepulangan kita!”
“kenapa?”
“Karena urusanku dengan mr. Lee masih belum selesai!”
“Serius ya bby?”
“Enggak saying …., ini hanya masalah kontrak biasa!”
“Tapi wajahmu terlihat begitu tegang!”
“Mungkin aku hanya kecapekan, karena tak ada Rendi yang
menemaniku!”
“kasihan sekali, sini aku pijitin!” ara pun segera berdiri
di balik punggung suaminya, memijat pundak suaminya agar rasa capek itu sedikit
berkurang.
“Sayang …., apa aku begitu menyusahkanmu?” Tanya Agra dengan
mata yang terpejam.
“Kenapa bertanya seperti itu sih bby?” Ara menghentikan
pijatannya.
“Enggak, aku hanya ingin tahu saja. Kra-kira apa alas an
seseorang meninggalkan pasangannya?”
“Selingkuh mungkin!”
“Apa hanya itu alasan yang paling mungkin?”
“Iya …, aku rasa hanya penghianatan yang membuat sebuah
hubungan hancur atau seseorang memutuskan untuk pergi!”
Setelah membicaraan panjangnya dengan Ara, agra kembali
mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia memilih menyendiri dan menjauh
dari jangkauan ara dan kedua buah hatinya, ia tidak ingin mereka ikut merasakan
beban pikirannya.
Ia duduk di salah satu kursi yang berada di taman, sambil
menikmati pemandangan dan memikirkan kemungkinan yang terjadi pada Rendi dan
Nadin, ia juga berusaha menghubungi nmor Nadin dan Rendi secara bergantian.
Tapi hasilnya nihil, taka da yang mengangkat telponnya, bahkan nomor nadin
tidak aktif.
Hal itu membuar Agra semakin cemas, ia tidak tahu harus
melakukan apa lagi.
“Apa mungkin mereka sedang bertengkar?”
“Apa Rendi berselingkuh, atau Nadin yang berselingkuh?”
“Tapi mana mungkin, Rendi selama ini tidak mengenal satu
wanita pun selain Nadin, kalau Nadin? Selingkuh dengan siapa di korea, mana
mungki8n dia lari dengan oppa-oppa korea, tapi dia begitu menyukai oppa-oppa
korea!”
__ADS_1
Agra bermonolog seorang diri, mencoba memecahkan teka-teki
yang sengaja ia buat sendiri dengan segala kemungkinan.
Satu hari telah berlalu, dan tetap saja ia tidak menemukan
jawabannya. Agra sudah harus memutuskan ia kembali atau tetap di korea, tapi
tidak mungkin ia menunda lagi kepulangannya, ini akan membuat banyak orang
curiga. Tapi dari Indonesia juga tidak ada yang menghubungi mereka perihal
kepulangan Rendi ataupun Nadin.
Dan akhirnya yang di tunggu dating juga, pengawal pribadinya
sudah dating dengan membawa informasi yang di inginkan.
“Bagaimana?” Tanya Agra setelah pengawal pribadinya dating
menemuinya dengan mengajak informan itu.
“dari hasil penyelidikan kami, nona Nadin juga sudah kembali
ke Jakarta tapi dengan pesawat yang berbeda dengan pak Rendi, nona Nadin
bersama pengawalan yang ketat dengan menyewa satu pesawat pribadi atas nama
tuan Kevin Alexander .”
“kevin Alexander?”
“Iya tuan!”
“Bukankah perusahaan tuan dengan perusahaan Kevin Alexsander
bersaing selama ini?” Tanya pengawal pribadi dari Agra.
“Iya kau benar, Alex …, dari mana Nadin mengenal Alex?
Selidiki lebih lanjut, untuk itu kita harus segera kembali ke Indonesia!”
“Baik tuan!”
Agra semakin di buat penasaran, ia terus menghubungi Rendi,
tapi pria dingin itu tak juga menjawabnya, ia segera menyiapkan keberangkatan
Sesampai di Indonesia, mereka langsung di sambut oleh
keluarga besar, tak terkecuali ayah Roy dan ibu Dewi. Mereka juga menanyakan
keberadaan Nadin dan Rendi. Dan Agra terpaksa berbohong sebelum ia menemukan
jawabannya dari Rendi.
Agra tak mau berlama-lama, ia segera berpamitan pada Ara
untuk menemui Rendi. Agra memeluk tubuh Ara, seperti biasa ia akan mencium
kening istrinya itu begitu lama.
“Aku harus pergi dulu, tidak pa pa ya?”
“Kenapa cepat sekali, bukankah kita baru sampai?” ara begitu
keberatan, mereka barus aja sampai di rumah dan suaminya sudah akan pergi lagi.
“Ada yang harus segera aku selesaikan, sayang …, aku janji
tidak akan pulang telat hari ini, sebelum makan malam aku sudah kembali!”
“Baiklah ….!”
“Wajahnya jangan di tekuk seperti itu!” ucap Agra sambil
menakup kedua pipi Ara. Ia benar-benar tak tega melihat istrinya yang cemberut.
“tersenyumlah sayang ….”
Ara pun walau terpaksa, ia tersenyum. “Nah gitu cantik!”
Agra kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Ara, menempelkan bibirnya ke bibir
Ara, menciumnya sebentar dan melepaskan pelukannya.
“Aku pergi sebenar!”
__ADS_1
Agra pun segera keluar dari kamarnya, ia melihat pintu yang
beraeda di sebelah kamarnya terbuka sedikit, ia menghentikan langkahnya, itu
adalah kamar Sagara dan Sanaya, ia memutar langkahnya. Menghampiri pintu itu
dan melihat ke dalam, ia melihat dua malaikat kecilnya itu sudah tertidur di
temani dua babysitternya, Agra tersenyum sebentar dan menutup kembali pintu
itu. Agra melajutkan kembali langkahnya, ia menuruni tangga, sedikit
mempercepat langkahnya.
“Nak …!” sebuah panggilan berhasil menghentikan langkahnya,
ia menoleh ke sumber suara, seorang wanita paruh baya dengan penampilan yang
selalu elegan berdiri di tangga yang berbeda sedang berjalan menghampirinya.
“Ibu!” Agra pun menunggu hingga nyonya Ratih berada di
dekatnya.
“Kenapa buru-buru sekali, apa ada masalah?”
“Hanya masalah sedikit, ibu!”
“Tentang Rendi?”
“Ibu mengetahui sesuatu?”
“Ibu tidak tahu banyak, tapi kemarin Rendi menghubungi ibu!”
“Dia menghubungi ibu?” nyonya Ratih pun mengangguk.
“Rendi mengatakan apa bu?”
“Dia hanya mengatakan ingin bertemu dengan ibu, apa ada hal
yang serius?”
“Aku akan menemuinya bu!”
“Hati-hati!” Agra pun menggaguk, ia segera meninggalkan
ibunya, meminta seseorang menyiapkan mobil untuknya.
“Kita ke apartemen Rendi!” perintah Agra saat ia sudah
berada di dalam mobil.
“Baik pak!”
Mobil pun melaju meninggalkan halam luas rumah besar itu,
sudah sore sudah waktunya orangpulang kerja, jalanan masih begitu ramai,
walaupun jarak rumah beszar dengan apartemen Rendi tidak begitu jauh tapi jika
jalanan ramai seperti ini membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai.
Setelah menembus ramainya jalanan ibu kota, akhirnya mereka
sam[pai juga di apartemen milik Rendi, Agra pun segera turun dari mobil, ia
tidak menungu pengawalnya, ia berjalan dengan cepat menuju ke pintu lift,
setelah pintu lift terbuka ia segera masuk. Ia benar-benar tak sabar untuk
segera bertanya pada Rendi.
Lift pun terhenti di lantai teratas, lantai milik rendi, di
lantai itu hanya ada dua pintu, kedua pintu itu milik Rendi. Agra segera menekan
beberapa tombol di pintu, setelah itu barulah pintu terbuka, hanya ada tiga
orang yang mengetahi tombol kunci apartemen Rendi, Rendi sendiri, Nadin dan
Agra.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘