
"Jauh sebelum kamu datang, aku sudah pernah jatuh cinta dan terluka. Maka kini aku terbiasa."
***
Pagi ini Ara di jemput oleh
orang-orang suruhan ibunya agra
tok tok tok
"bik tolong bukain pintu" Nadin menyuruh bibik yang biasa kerja di rumah mereka
"baik mbak" bibik pun langsung menuju ke pintu untuk membukanya
dan tak berapa lama ada beberapa orang berjas sedang berjalan di belakang bibik
“maaf nona kami harus membawa anda” salah satu perempuan berjas
nampak seperti pengawal pribadi menghampiri ara yang sedang berada di ruang
makan bersama ayahnya
“ayah ....” ara memelas pada ayahnya seolah meminta ayahnya untuk
menghentikan kegilaan ini
Walaupun ada dalam satu meja , mereka tak ada percakapan semenjak
semalam, ayahnya masih enggan berbicara pada ara, membuat hati ara semakin
rapuh
Sedangkan Nadin hanya bisa menghela nafas melihat kebisuan ayahnya,
walaupun ia tahu tentang kesalah pahaman itu, Nadin tak berfikir untuk
menceritakan kepada ayahnya, ia sebenarnya senang jika kakaknya menikah dengan
agra, walaupun dengan kesalah pahaman, ia berfikir jika agra akan bisa
membahagiakan kakaknya suatu saat nanti
“kakak akan baik-baik saja kak, kak agra orang baik” sebenarnya
hatinya ikut sakit melihat ayahnya yang mendiamkan kakaknya tapi apa boleh
buat, ia ingin kakaknya mendapatkan jodoh terbaik, dan ia rasa agra adalah yang
terbaik
“pergilah, nanti ayah dan nadin akan menyusul” sebenarnya ada rasa
tidak tega saat melihat ara yang berat hati untuk menjalani pernikahan ini,
tapi apa boleh buat sebuah kenyataan jika ara harus menikah dengan agra
membuatnya merelakan
Ara pun hanya bisa pasrah, ia pun mengikuti wanita berjas itu menuju
ke sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya
“silahkan masuk nona” wanita itu membukakan pintu mobil belakang,
ara pun mengikuti perintah wanita itu
Setelah ara masuk, wanita itu , ya wanita yang masih seumuran
dengan ara menutup pintu mobil dan membuka pintu depan samping kemudi , ia pun
ikut masuk dan duduk di samping sopir
Ara di bawa ke sebuah salon, tapi salon itu tampak sepi tanpa
pengunjung dan begitu banyak pengawalan di sana, di depan salon sudah ada dua
pria berjas yang berdiri di kiri kanan pintu masuk
“silahkan masuk nona” wanita itu mempersilahkan ara untuk masuk ke
dalam salon, yang sebelumnya ia sudah membukakan pintu untuk ara
__ADS_1
“emmm........, kamu ....” ara bingung harus memanggil apa pada
wanita itu
“tiara nona ....”
“mbak tiara ...”
‘tiara saja nona ...”
“tiara kenapa salon ini sepi?” ara heran karena salon seluas itu
tidak ada pelanggan yang masuk ke sana
“nyonya sudah menyewa tempat ini, sehari nona” ara pun hanya bisa
mengangguk
“memang sekaya apa sih, ibunya pak agra ...” batin ara
“silahkan duduk nona” salah satu pegawai salon, sepertinya juga
pemilik salon menyuruh ara untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan di depan
kaca besar yang di penuhi lampu
“permisi nona, biarkan kami melakukan tugas” ara pun hanya mengangguk
pasrah
mereka merias Ara dengan sangat cekatan,
ia benar-benar tak percaya hidupnya akan berakhir seperti ini, ia
harus menikah dengan pria yang tidak dicintai sedangkan ia baru saja mengalami
penghianatan
ia merasakan hidupnya terlalu tragis hingga tanpa terasa air mata
meleleh di pipinya
“nona menangis? Apa ini sakit nona?” melihat ara mengeluarkan air
“maaf mbak” Ara pun segera menghapus air matanya
“seharusnya kami yang meminta maaf nona, maafkan jika terjadi
kesalahan” Ara pun tersenyum tipis pada kepala salon itu
“aku tidak pa pa , sungguh ...”
Butuh waktu satu jam untuk melakukan perawatan pada tubuh ara dan
meriasnya
“sudah selesai nona, mari ikut saya” kepala salon itu mengajak ara
ke ruangan dalam
Di sana sudah berjejer berbagai model baju pengantin
“silahkan memilih nona”
Ara pun langsung melihat-lihat jejeran baju pengantin yang terlihat
begitu mewah, hingga ia menemukan salah satunya, gaun warna putih model ball gown yang merekah di bagian bawahnya. K bertingkat dengan bagian dalam terbuat dari
kain organza, lalu lapisi dengan kain brokat dengan pola yang indah.
“aku pilih ini saja”
“baiklah nona, mari saya bantu mengenakannya”
‘tidak usah , biar saya sendiri, tunjukkan saja ruang gantinya”
“di sana nona” kepala salon itu menunjuk ke sebuah ruang, tak
menunggu waktu lama ara pun langsung menuju ruang yang di tunjuk
Ara masuk ke dalam ruangan yang di lengkapi dengan cermin besar, ara
__ADS_1
mengganti pakaiannya dengan gaun yang telah di pilih, ia melihat pantulan
dirinya di cermin begitu lama
“aku benar akan menikah ...”
“haruskah seperti ini ...”
“apa aku benar-benar siap?”
Ara bermonolog sambil terus memandangi pantulan dirinya di dalam
cermin
Hari pernikahan yang Ara dambakan menjadi hari yang selalu dinanti-nanti semua orang.bahkan Ara sudah menyiapkan uang tabungan untuk pesta resepsi pernikahannya dengan Dio, tapi semua berubah setelah penghianatan itu.
seharusnya di hari pernikahan mempelai itu ibaratnya, kamu dan menjadi raja dan ratu seharian. memilih pernikahan yang di inginkan
“nona ...., nona tidak pa pa?” terdengar teriakan dari luar,
seperti suara Tiara
“aku tidak pa pa, aku akan keluar ...” ara tak mau membuat
keributan, tanpa ia sadari ternyata ara berada di ruang ganti sudah setengah
jam, membuat orang-orang di luar begitu cemas, apalagi hingga membuat Rendi
datang
Ara pun keluar dari ruang ganti, ternyata di luar sudah bertambah
satu orang lagi, dan orang itu adalah Rendi
“pak Rendi ...” ara terkejut dengan kedatangan rendi, rendi pun
demikian ia terpukau dengan wanita di hadapannya, wanita berkaca mata itu
sekarang bermetamorfosis menjadi bidadari yang begitu cantik
“pak ....” ara mengulang kata-katanya menyadarkan rendi
“anda tidak papa nona?” Rendi berbicara dengan sangat formal, dan sedikit terlintas rasa khawatir
“saya tidak apa apa”
“nona sudah di tunggu, jika sudah selesai mari ikut saya”
sebenarnya ada rasa sakit di hati rendi saat melihat ara memakai gaun pengantin
tapi bukan dengannya gadis itu akan menikah melainkan dengan sahabatnya
“apa sudah selesai ...” rendi bertanya pada kepala salon
“sudah tuan, tinggal sepatunya dan merapikan sedikit”
“lakukan yang terbaik”
“baik tuan”
“saya tunggu anda di luar nona” ara hanya menganggu
“kenap sikapnya jadi seperti itu, seperti aku ini atasannya saja
...., aku kan bawahannya ...” batin ara
“mari nona, biar kami rapikan” ara hanya bisa mengikuti apapun yang
di lakukan orang-orang itu
-
-
-
Kadang-kadang kita berharap lebih dari orang lain karena kita bersedia melakukan banyak hal untuk mereka.
-
-
__ADS_1
kakak kaka reader jangan lupa LIKE ,KOMENTAR dan VOTEnya ya kakak kakak
aku tunggu