My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 59


__ADS_3

terkadang memendam adalah pilihan satu-satunya agar semua terlihat


baik-baik saja#


Rendi mengantar Ara untuk pulang, ia menyuruh pak Mun dan dua


pengawalnya untuk pulang terlebih dahulu


“aku akan mengantarmu pulang ...”


‘tidak usah ...., aku akan sangat merepotkanmu...” Ara berusaha


menolak, ia tak mau membuat kesalah pahaman antara bAgra dan Rendi lagi,


sepertinya hubungan mereka memang tak baik-baik saja


“aku memaksa ...”


“kau suka sekali memaksa ...”


“pak Mun sudah pulang, jadi kau tak ada pilihan lain kan ...?”


“baiklah ...., apa boleh buat ...., aku terlanjur bersamamu ...,


dari pada pulang jalan kaki ...” Ara terpaksa mengiyakan


‘mari masuk” Rendi membukakan pintu mobil dan Ara masuk dan duduk


di samping kemudi


Mobil melaju sedang , sambil menikmati jalanan di malam hari, ya


tanpa mereka sadari mereka telah melewatkan setengah harinya bersama,


pemandangan yang jarang Ara dapatkan akhir-akhir ini


“apa kau akan baik-baik saja?” tanya Rendi sambil fokus pada


jalanan


“ya setidaknya aku sekarang lebih baik”


jika memendam rasa begitusulit dan menyakitkan, tapi mengapa


hatiku masih enggan menyerah hingga detik ini#


 



“apa kau akan tetap pergi ...?”


“jika dia menahanku, mungkin aku akan tinggal”


“dia akan menahanmu...”


“kau yakin sekali ....”


“karena dia sahabatku ...”


“ya ...ya ..., aku hampir lupa ...”


Tanpa terasa mobil sudah berhenti di halaman rumah besar itu,


kebebasan yang Ara dapatkan beberapa menit lalu seketika menghilang kembali, ia


harus kembali ke dalam belenggu besi yang dengan sendirinya mengikat tubuhnya


tanpa memberinya kesempatan untuk sekedar bernafas


“silahkan nona ...” Rendi sudah lebih dulu turun dan membukakan


pintu untuk Ara


‘cihhh ..., kau kembali seperti Rendi yang aku benci ...” Ara turun


sambil mencebirkan bibirnya melihat perubahan sikap Rendi padanya


“maaf nona ..., selamat istirahat ...”


‘terimakasih untuk hari ini .....” dan rendi hanya menanggapinya


dengan senyum tipis di biirnya dan segera menunduk memberi hormat, Ara tahu


jika itu tandanya ia sudah menyuruh Ara untuk segera masuk


“baiklah ..., aku masuk ...” Ara pun meninggalkan Rendi, setelah


Ara tak terlihat lagi, Rendi segera memasuki mobilny dan melaju meninggalkan


rumah besar itu


Ara segera menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar, ia melihat


lampu kamarnya belum menyala


“ Agra pasti belum pulang” gumamnya sambil menyalakan lampu


Tapi betapa terkejutnya dia saat melihat Agra sudah duduk di atas

__ADS_1


sofa dengan melipat kaki, dengan menggunakan kaki sebelah sebagai tumpuannya


“kau ......, kau sudah pulang ...” Ara menormalkan jantungnya yang


terkejud dan berjalan mendekati tempat Agra duduk


“kenapa terkejut ......? bagaimana kencanmu hari ini? Menyenangkan


ya ...” ucap Agra begitu dingin, dingin yang menurut Ara begitu menakutkan


seperti penghisap darah


Sebelum Ara sampai di tempatnya, Agra sudah lebih dulu bejalan


mendekatnya, membuat Ara memundurkan langkahnya, memberi jarak antara mereka,


Ara semakin mundur karena Agra tetap menepis jarak itu, hingga tanpa terasa


punggung Ara sudah terhimpit diantara tembok dan tubuh Agra, tangan kekar Agra


mengunci di kiri kanan Ara membuatnya sulit untuk bergerak


‘kencan .....?” Ara terkejut kembali saat Agra menyebut kata KENCAN,


Ara segera mendorong tubuh Agra hingga ia bisa keluar dari kungkungan Agra, ia


berjalan menghindari Agra


“makan es krim bersama ...., tertawa bersama ...., benar-benar


romantis ....”


‘aku tidak kencan ...., aku bertemu dengan Rendi karena kebetulan


...”


Agra yang masih dian di tempat segera  menghampiri ara, mendekati tubuhnya hingga Ara


harus memundurkan tubuhnya lagi dan lagi, tapi sayang kakinya harus terhalang


sofa di di belakangnya hingga membuat tubuhnya terperangkap antar sofa dan


tubuh Agra, tubuh Agra tepat berada di atas tubuh Ara, menindihnya tapi masih


dia tahan dengan satu lengannya ke badan sofa


Tapi bukannya bangun dari atas tubuh Ara, Agra malah semakin


mendekat ke wajah Ara, membuat jantung Ara berpacu lebih cepat tanpa terkontrol


“a-pa yang akan kau lakukan ...” Ara gemetar begitu takut, keringat


“kau bilang kebetulan ..., kebetulan yang mengharuskannya keluar di


jam kerja” Agra terus mendekatkan wajahnya ke wajah Ara hingga tak ada jarak


lagi di antara mereka, hidung mereka saling bersentuhan, hingga udara panas


yang keluar dari hidung dan mulut Agra dapat Ara rasakan


“aku tidak tahu ...” ara segera menggeser kepalanya menjauhi Agra,


tapi agra tidak tinggal diam , ia segera neraih dagu Ara hingga mereka tatap


berhadapan dengan sangat dekat


“kau bilang tidak tahu ...., kau menhubunginya dan bertemu


diam-diam di belakangku, kau bilang tidak tahu ...”


“dia tiba-tiba da ....” ucapan Ara menggantung saat tiba tiba benda


kenyal itu mendarat tepat di bibirnya, matanya membelalak sempurna, mata mereka


saling bertemu


Cup


kecupan singkat pada bibir ara, menbuatnya membungkam


“apa ini yang kau dapat dari pria itu ...?” Agra menunjuk ke bibir


Ara dengan telunjuknya dan mengusapnya kasar


“aku akan menghapusnya jika iya ....”


Ara hanya bisa menangis mendengarkan tuduhan Agra, hatinya terasa sakit


saat Agra tak mempercayainya


Cup


Kecupan kedua terjadi lebih dalam dan bibir mereka saling bertaut,


Agra memperdalam ciumannya,******* bibir bawah Ara , menutup seluruh rungga


mulut ara dengan bibirnya hingga Ara hampir saja kehabisan nafas , membuat Agra


segera melepas ciumannya

__ADS_1


Huk huk huk


Ara benar-benar kehabisan nafas, membuatnya terbatuk


“kau jahat .....”


Ara mendorong tubuh Agra keras , walaupun tak membuat tubuh Agra


terjatuh tapi berhasil menciptakan jarak antara mereka


Agra hanya diam dalam penyesalan saat melihat air mata Ara, rasanya


begitu sakit


Agra memukul sofa di samping Ara dengan satu kepalan, ia  segera berndiri dari atas tubuh Ara, dan belalu


meninggalkan Ara,


Agra keluar dari kamar dan membiarkan Ara sendiri,  ia menuju ke ruang kerjanya, membuang semua


yang ada di atas meja kerjanya hanya dengan sekali tebas dengan kedua tangannya


Ia memukul tembok keras, melampiaskan kekesalannya pada dirinya


sendiri karena telah melampai batas,


entah apa yang membuatnya begitu marah saat melihat Ara bersama


pria lain walaupun itu sahabatnya, ia marah pada dirinya sendiri karena telah melukai


perasaan Ara


‘apa yang kau lakukan Agra ...., kenapa kau tak bisa mengendalikan


dirimu ...” Agra memaki kebodohannya sendiri


Ia menggaruk kasar rambutnya untuk melampiaskan kekesalannya pada


dirinya sendiri. Ia jongkok dan menopang siku dengan kedua lututnya. Bibirnya


menipis, pikirannya kalut membayangkan betapa terlukanya Ara


Sedangkan Ara terus saja menangis, entah yang mana yang telah


membuatnya sakit, hatinya begitu sakit, begitu sesak, rasanya untuk bernafas


pun sulit


“ini sakit ....., kenapa dia lakukan ini?” Ara terus saja menangis


Ia terus menangis hingga rasa capek membuatnya tertidur tanpa mandi


terlebih dahulu, ia meringkukkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan Air mata


yang masih tersisa di wajahnya



 


-


-


-


-


-


mungkin karena matanya, mungkin karena senyumnya, mungkin karena


dia apa adanya, aku jatuh cinta kepadanya. Namun aku hanya bisa jatuh cinta


diam diam tanpa dia ketahui#


-


-


-


-


-


-


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YA


BIAR AUTHORNYA TAMBAH SEMANGAT


TRUS MONTA VOTE NYA JUGA DONG .....


PLIIIISSSSSS ..............


 


 

__ADS_1


__ADS_2