
terkadang memendam adalah pilihan satu-satunya agar semua terlihat
baik-baik saja#
Rendi mengantar Ara untuk pulang, ia menyuruh pak Mun dan dua
pengawalnya untuk pulang terlebih dahulu
“aku akan mengantarmu pulang ...”
‘tidak usah ...., aku akan sangat merepotkanmu...” Ara berusaha
menolak, ia tak mau membuat kesalah pahaman antara bAgra dan Rendi lagi,
sepertinya hubungan mereka memang tak baik-baik saja
“aku memaksa ...”
“kau suka sekali memaksa ...”
“pak Mun sudah pulang, jadi kau tak ada pilihan lain kan ...?”
“baiklah ...., apa boleh buat ...., aku terlanjur bersamamu ...,
dari pada pulang jalan kaki ...” Ara terpaksa mengiyakan
‘mari masuk” Rendi membukakan pintu mobil dan Ara masuk dan duduk
di samping kemudi
Mobil melaju sedang , sambil menikmati jalanan di malam hari, ya
tanpa mereka sadari mereka telah melewatkan setengah harinya bersama,
pemandangan yang jarang Ara dapatkan akhir-akhir ini
“apa kau akan baik-baik saja?” tanya Rendi sambil fokus pada
jalanan
“ya setidaknya aku sekarang lebih baik”
jika memendam rasa begitusulit dan menyakitkan, tapi mengapa
hatiku masih enggan menyerah hingga detik ini#
“apa kau akan tetap pergi ...?”
“jika dia menahanku, mungkin aku akan tinggal”
“dia akan menahanmu...”
“kau yakin sekali ....”
“karena dia sahabatku ...”
“ya ...ya ..., aku hampir lupa ...”
Tanpa terasa mobil sudah berhenti di halaman rumah besar itu,
kebebasan yang Ara dapatkan beberapa menit lalu seketika menghilang kembali, ia
harus kembali ke dalam belenggu besi yang dengan sendirinya mengikat tubuhnya
tanpa memberinya kesempatan untuk sekedar bernafas
“silahkan nona ...” Rendi sudah lebih dulu turun dan membukakan
pintu untuk Ara
‘cihhh ..., kau kembali seperti Rendi yang aku benci ...” Ara turun
sambil mencebirkan bibirnya melihat perubahan sikap Rendi padanya
“maaf nona ..., selamat istirahat ...”
‘terimakasih untuk hari ini .....” dan rendi hanya menanggapinya
dengan senyum tipis di biirnya dan segera menunduk memberi hormat, Ara tahu
jika itu tandanya ia sudah menyuruh Ara untuk segera masuk
“baiklah ..., aku masuk ...” Ara pun meninggalkan Rendi, setelah
Ara tak terlihat lagi, Rendi segera memasuki mobilny dan melaju meninggalkan
rumah besar itu
Ara segera menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar, ia melihat
lampu kamarnya belum menyala
“ Agra pasti belum pulang” gumamnya sambil menyalakan lampu
Tapi betapa terkejutnya dia saat melihat Agra sudah duduk di atas
__ADS_1
sofa dengan melipat kaki, dengan menggunakan kaki sebelah sebagai tumpuannya
“kau ......, kau sudah pulang ...” Ara menormalkan jantungnya yang
terkejud dan berjalan mendekati tempat Agra duduk
“kenapa terkejut ......? bagaimana kencanmu hari ini? Menyenangkan
ya ...” ucap Agra begitu dingin, dingin yang menurut Ara begitu menakutkan
seperti penghisap darah
Sebelum Ara sampai di tempatnya, Agra sudah lebih dulu bejalan
mendekatnya, membuat Ara memundurkan langkahnya, memberi jarak antara mereka,
Ara semakin mundur karena Agra tetap menepis jarak itu, hingga tanpa terasa
punggung Ara sudah terhimpit diantara tembok dan tubuh Agra, tangan kekar Agra
mengunci di kiri kanan Ara membuatnya sulit untuk bergerak
‘kencan .....?” Ara terkejut kembali saat Agra menyebut kata KENCAN,
Ara segera mendorong tubuh Agra hingga ia bisa keluar dari kungkungan Agra, ia
berjalan menghindari Agra
“makan es krim bersama ...., tertawa bersama ...., benar-benar
romantis ....”
‘aku tidak kencan ...., aku bertemu dengan Rendi karena kebetulan
...”
Agra yang masih dian di tempat segera menghampiri ara, mendekati tubuhnya hingga Ara
harus memundurkan tubuhnya lagi dan lagi, tapi sayang kakinya harus terhalang
sofa di di belakangnya hingga membuat tubuhnya terperangkap antar sofa dan
tubuh Agra, tubuh Agra tepat berada di atas tubuh Ara, menindihnya tapi masih
dia tahan dengan satu lengannya ke badan sofa
Tapi bukannya bangun dari atas tubuh Ara, Agra malah semakin
mendekat ke wajah Ara, membuat jantung Ara berpacu lebih cepat tanpa terkontrol
“a-pa yang akan kau lakukan ...” Ara gemetar begitu takut, keringat
“kau bilang kebetulan ..., kebetulan yang mengharuskannya keluar di
jam kerja” Agra terus mendekatkan wajahnya ke wajah Ara hingga tak ada jarak
lagi di antara mereka, hidung mereka saling bersentuhan, hingga udara panas
yang keluar dari hidung dan mulut Agra dapat Ara rasakan
“aku tidak tahu ...” ara segera menggeser kepalanya menjauhi Agra,
tapi agra tidak tinggal diam , ia segera neraih dagu Ara hingga mereka tatap
berhadapan dengan sangat dekat
“kau bilang tidak tahu ...., kau menhubunginya dan bertemu
diam-diam di belakangku, kau bilang tidak tahu ...”
“dia tiba-tiba da ....” ucapan Ara menggantung saat tiba tiba benda
kenyal itu mendarat tepat di bibirnya, matanya membelalak sempurna, mata mereka
saling bertemu
Cup
kecupan singkat pada bibir ara, menbuatnya membungkam
“apa ini yang kau dapat dari pria itu ...?” Agra menunjuk ke bibir
Ara dengan telunjuknya dan mengusapnya kasar
“aku akan menghapusnya jika iya ....”
Ara hanya bisa menangis mendengarkan tuduhan Agra, hatinya terasa sakit
saat Agra tak mempercayainya
Cup
Kecupan kedua terjadi lebih dalam dan bibir mereka saling bertaut,
Agra memperdalam ciumannya,******* bibir bawah Ara , menutup seluruh rungga
mulut ara dengan bibirnya hingga Ara hampir saja kehabisan nafas , membuat Agra
segera melepas ciumannya
__ADS_1
Huk huk huk
Ara benar-benar kehabisan nafas, membuatnya terbatuk
“kau jahat .....”
Ara mendorong tubuh Agra keras , walaupun tak membuat tubuh Agra
terjatuh tapi berhasil menciptakan jarak antara mereka
Agra hanya diam dalam penyesalan saat melihat air mata Ara, rasanya
begitu sakit
Agra memukul sofa di samping Ara dengan satu kepalan, ia segera berndiri dari atas tubuh Ara, dan belalu
meninggalkan Ara,
Agra keluar dari kamar dan membiarkan Ara sendiri, ia menuju ke ruang kerjanya, membuang semua
yang ada di atas meja kerjanya hanya dengan sekali tebas dengan kedua tangannya
Ia memukul tembok keras, melampiaskan kekesalannya pada dirinya
sendiri karena telah melampai batas,
entah apa yang membuatnya begitu marah saat melihat Ara bersama
pria lain walaupun itu sahabatnya, ia marah pada dirinya sendiri karena telah melukai
perasaan Ara
‘apa yang kau lakukan Agra ...., kenapa kau tak bisa mengendalikan
dirimu ...” Agra memaki kebodohannya sendiri
Ia menggaruk kasar rambutnya untuk melampiaskan kekesalannya pada
dirinya sendiri. Ia jongkok dan menopang siku dengan kedua lututnya. Bibirnya
menipis, pikirannya kalut membayangkan betapa terlukanya Ara
Sedangkan Ara terus saja menangis, entah yang mana yang telah
membuatnya sakit, hatinya begitu sakit, begitu sesak, rasanya untuk bernafas
pun sulit
“ini sakit ....., kenapa dia lakukan ini?” Ara terus saja menangis
Ia terus menangis hingga rasa capek membuatnya tertidur tanpa mandi
terlebih dahulu, ia meringkukkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan Air mata
yang masih tersisa di wajahnya
-
-
-
-
-
mungkin karena matanya, mungkin karena senyumnya, mungkin karena
dia apa adanya, aku jatuh cinta kepadanya. Namun aku hanya bisa jatuh cinta
diam diam tanpa dia ketahui#
-
-
-
-
-
-
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YA
BIAR AUTHORNYA TAMBAH SEMANGAT
TRUS MONTA VOTE NYA JUGA DONG .....
PLIIIISSSSSS ..............
__ADS_1