My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Lembar yang indah


__ADS_3

Kini Aditya sudah membawa Sanaya masuk ke dalam villa dengan di pandu oleh penjaga villa menuju ke kamar Sanaya.


"Terimakasih ya mang!"


"Sama-sama den, mamang tinggal dulu ya!"


"Iya mang!"


Setelah mang Ucok pergi, Aditya segera masuk ke dalam kamar yang sudah terbuka itu. Ia menidurkan Sanaya di atas tempat tidur dan melepaskan sepatu yang dikenakan oleh gadis itu.


Sebelum pergi, ia tertarik untuk menatap wajah cantik Sanaya. Ia duduk berjongkok di samping Sanaya, menatap wajahnya membuat Aditya cukup senang.


Kenapa dia cantik sekali, sayang dia judes kalau sudah bangun ....


Kedua tangannya ia gunakan untuk menyanggah dagunya. Matanya bergeming, rasanya begitu sayang membiarkan pemandangan ini berlalu begitu saja hingga ....


Plekkkkkk


Sebuah tamparan mendarat di pipinya,


"Aughhhhh!"


Karena teriakan Aditya lah yang berhasil membangunkan Sanaya. Sebenarnya ia tanpa sengaja menampar Aditya.


Matanya melotot sempurna saat melihat Aditya berada di depannya, "Kamu? Ngapain di sini?"


Aditya masih mengusap pipinya yang kebas gara-gara tamparan Sanaya, bahkan pipinya sampai memerah dan membekas tangan.


"Kamu tuh yang apa-apaan, sakit tahu! Tidur udah kayak kebo lagi!"


"Kamu ngapain di sini?"


Aditya begitu kesal, ia pun berdiri dengan masih mengusap pipinya,


"Memang kamu jalan sendiri apa ke sini?"


Sanaya mengedarkan pandangannya, dan benar saja dia ternyata sudah berada di kamar bukan lagi di mobil,


"Aku di sini?"


"Iya! Terbang kali tadi!"


Aditya pun memilih berlalu begitu saja meninggalkan Sanaya yang masih bingung.


Aditya terus menggerutu sepanjang jalan setelah keluar dari kamar Sanaya,


"Sudah mending aku mau menggendongnya, eh malah kena tampar lagi! Keterlaluan sekali!"


"Kenapa Dit?"


Pertanyaan seseorang berhasil menghentikan langkahnya, ia pun menoleh ke sumber suara.


"Ariel, kamu nggak ikut pergi?"

__ADS_1


Ariel berjalan mendekat, sepertinya dia sudah mandi karena bajunya juga sudah berganti dengan baju yang lebih santai,


"Nggak, tadi aku milih tinggal soalnya mau mandi! Gimana Sanaya? Nggak bangun?"


"Bangun!"


"Kenapa pipimu?"


"Nggak pa pa, cuma kena tampar aja sama Sanaya!"


"Kamu mau cium tanpa ijin ya?"


"Enak aja, aku bukan orang yang suka maksa! Ya sudah lah aku juga mau mandi dulu!"


Aditya meninggalkan Ariel yang masih sibuk mengamati Aditya dari kejauhan. Ia begitu penasaran apa penyebab oma Ratih lebih memilihnya di banding dengan memilih saudaranya, Abimanyu. Jelas terlihat kalau Abimanyu lebih dari dia.


"Mungkin hanya nyonya Ratih yang tahu apa alasannya, saudaraku yang malang!" gumam Ariel.


...🍀🍀🍀...


Malam ini mereka mengadakan barbeque di halaman belakang, terlihat sedari tadi Sanaya terus mengeluh karena dia tidak di ajak untuk membeli bahan untuk barbeque.


Ia sudah menyiapkan kan banyak hal untuk jalan-jalan sore, tapi ternyata malah tertidur dan tidak ada yang membangunkannya.


Udara di pegunungan saat malam hari begitu dingin, mereka harus memakai baju hangat selama di tempat itu, bahkan udara yang keluar dari nafas mereka terlihat mengembun.


Terlihat sekali saat ini Sagara dan Ariel sedang menikmati waktunya berdua, mereka sibuk membakar beberapa sosis dan daging yang sudah di beri bumbu,


"Terimakasih ya untuk beberapa bulan terakhir ini!"


"Tidak pa pa, hanya ingin berterima kasih saja, siapa tahu nanti aku tidak akan pernah bisa mengungkapkannya lagi!"


"Jangan berterima kasih, karena terimakasih hanya untuk orang yang tidak dekat!"


Mungkin kita tidak akan bisa sedekat ini lagi Gara .....


"Boleh nggak aku bersandar di bahumu sampai aku bosan!?"


Sagara mengerutkan keningnya dengan tangan yang masih memegang tusuk sosis, "Kenapa harus bertanya? Kamu bisa bersandar di sini sepuas kamu karena bahu ini milikmu!"


Srekkkk


Tanpa aba-aba Ariel menyenderkan kepalanya di bahu Sagara,


"Terimakasih ya, ini nyaman sekali!"


Sagara hanya tersenyum dan mengusap kepala Ariel, menepuk-nepuk nya pelan.


"Kamu tahu, kamu adalah bagian terindah dari beberapa lembar perjalanan hidupku, aku mau hari ini hingga tiga hari ke depan menjadi catatan terindah di satu halaman yang tidak akan pernah aku sobek!" ucap Ariel.


"Kenapa kata-kata mu seperti mengisyaratkan kalau kita tidak akan bertemu lagi? Kamu jangan menakuti ku!"


Ariel mendongakkan kepalanya menatap wajah Sagara dengan masih bersandar di bahu ternyaman itu,

__ADS_1


"Kamu akan ke luar negri Gara dan kita akan sangat lama tidak bertemu!"


"Jangan khawatir, aku akan pulang satu bulan sekali atau aku akan memintamu untuk menyusulku, kita jalan-jalan di sana!"


"Jangan!?"


Sagara mengerutkan keningnya mendengar ucapan Ariel,


"Kenapa?"


"Kamu harus fokus dengan pendidikanmu, berjanjilah padaku!"


"Apa?"


"Ada atau tidak aku nanti, tetaplah jadi Sagara yang kuat! Fokus dengan pendidikan mu dan berjanjilah nanti kamu akan jadi orang yang sukses dan mampu berdiri di atas kakimu sendiri!"


"Pasti?! Tapi dengan dirimu!"


Ariel tidak mau mendebat lagi ucapan Sagara, ia memilih untuk menikmati bersandar di bahu Sagara. Ia tidak tahu apakah nanti akan bisa melupakan saat-saat seperti ini.


Tidak jauh dari mereka terlihat Sanaya berada di antara Aditya dan Abimanyu, dua pria yang ada di samping-samping Sanaya sedang berebut memperhatikan Sanaya,


"Aku bisa kekenyangan kalau kalian begini!"


Mulut Sanaya penuh dengan makanan karena sedari tadi dua pria itu hanya sibuk memanggangkan beberapa sosis dan daging untuk Sanaya.


"Nay, kamu harus makan yang banyak! Nanti saat aku pulang dari luar negri kamu harus sudah besar!" ucap Abimanyu sambil mengusap kepala Sanaya, tapi Aditya segera menepis tangannya.


"Jangan pegang-pegang ya, awas saja berani pegang-pegang calon istriku!"


"Ckkkk....!" Abimanyu berdecak, "Masih juga calon!?"


"Setidaknya gue ada masa depan dengan Nay!?" Aditya tidak begitu suka dengan ucapan Abimanyu.


"Jangan ribut aja napa?"


Sanata berdiri dari duduknya.


"Mau kemana Nay?" tanya Abimanyu.


"Ngantuk mau tidur, pusing denger kalian berantem terus!"


Sanaya segera meninggalkan tempat itu, dia tidak mau terus menjadi pusat perdebatan kedua pria itu.


...Jika kamu harus berada di salah satu lembaran kehidupanku, makan aku akan menghias lembaran itu agar aku tidak akan lupa untuk kembali ke halaman yang sama setiap kali membukanya...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2