
“shittt ...” Agra mengusap wajahnya kasar, ia bingung harus
menjelaskan bagaimana
Hiks hiks hiks
“aku sudah menahannya agar tidak menagis ...., tapi ini sakit
sekali” Ara menutup wajahnya dengan kedua tangan yang sikunya di sandarkan pada
kedua lututnya yang di tekuk
“ jangan menangis ....., maafkan
aku, itu tak seperti yang kamu lihat, ya memang aku akui Viona menemuiku karena
ingin mengajakku untuk memperbaiki hubungan, tapi aku menolaknya...., aku
bersumpah ......” Agra mengacungkan kedua jarinya dan mendekat kembali pada Ara
“ aku mengatakan yang sebenarnya ra ...., aku benar-benar tak
melakukan yang tidak-tidak ...., aku menolaknya ...., tapi ternyata penolakanku
membuatnya semakin berani, dia malah menciumku”
“ tapi aku tidak membalasnya......, kamu percaya kan ...” Agra berusaha
menjelaskan
***
Flasback on
Wanita cantikdengan gaun selutut dan lengan terbuka berwarna merah
marun yang serasih dengan sepatu hak tingginya dan tas yang warnanya
senada, ia memasuki gedung perkantoran milik
keluarga Wijaya,
ia berjalan begitu anggun bak
sedang berjalan di atas podium melewati beberapa karyawan yang menyapanya, ia
hanya tersenyum angkuh, senyum yang menampakkan kesombongan
“pak agra nya ada?” ia menghampiri meja reseposionis
“maaf nona...., pak agra sudah berpesan jika nona datang ke sini,
anda tidak di perbolehkan masuk” ucap resepsionis itu dengan wajah yang sudah
pias
“lancang sekali kau ini....., kau tidak tahu siapa saya?” ucap
wanita itu dengan lantang dan sangat angkuh
“maaf nona, tapi ini perintah dari pak Agra” resepsionis sudah
benar-benar di buat cemas karena ulahnya
Tapi belum sempat ia melancarkan protesnya, dari kejauhan sudah
terlihat orang yang sedang di carinya, ia adalah Agra Agra masuk ke dalam gedung bersama dengan Rendi,
mereka berjalan beriringan dan selalu jadi pusat perhatian karena karisma dan
ketampanannya yang membuat para karyawan wanita sering mencuri pandang berharap
bisa dekat dengan salah satu dari mereka
Wanita itu segera berlari mendekati mereka,memotong langkah Agra, resepsionis yang berusaha mengejarnya tak di
hiraukan, langkahnya kalah cepat karena kaki wanita itu lumayan jenjang karena
dia seorang model
“nona ..., nona ...., berhentilah nona ...” teriakan resepsionis tak
di hiraukan, ia berhenti tepat di depan Agra dan Rendi
“Gra ....” teriaknya hingga menjadi pusat perhatian karena keadaan
yang cukup ramai menbuat Agra dan Rendi menghentikan langkahnya dengan wajah
dinginnya, entah sejak kapan ekspresi yang di tunjukkan kedua pria itu terlihat
sama
“maaf pak ..., nona Viona memaksa masuk ...” gadis dengan tag di
kemeja bertulis Santi itu menunduk takut karena telah teledor
“pergilah ...” agra memerintahkan Santi untuk meninggalkannya
“baik pak ...” Santi pun segera meninggalkan mereka tanpa bantahan
“ada apa kau ke sini?” tanya Agra dingin
“aku mau minta maaf gra..., aku benar-benar menyesal” Viona mendekat
dan hendak memeluk Agra, tapi tangan Rendi sudah lebih dulu menghalanginya
“jangan buat keributan di sini nona ...” ucap Rendi
“kau selalu saja bikin aku kesel ya, aku nggak ngomong sama kamu,
aku ngomong sama Agra” bantah Viona
“ikut aku ...” agra malah berjalan dan di ikuti Rendi dan Viona di
belakangnya
Agra mengajak mereka ke ruangannya, ia tak mau masalah pribadinya
menjadi konsumsi publik apa bila sampai di ketahui oleh orang luar apalagi itu
tempat ramai banyak mata dan telinga di sana
Setelah sampai di depan ruangan Agra, ia menghentikan langkahnya
“tinggalkan kami berdua di dalam...., jangan biarkan orang lain
masuk, biar ku selesaikan masalahku dengan wanita rubah ini”
“baik pak ...” Rendi segera menundukkan kepalanya dan mundur
beberapa langkah
Agra segera menarik tangan Viona masuk ke dalam ruangannya dan
menutup pintu, setelah berada di dalam ruangan, agra segera menghempaskan
tangan Viona kasar
“cepat katakan ..., aku tak punya banyak waktu...” ucap Agr dingin
sambil berdiri membelakangi Viona
“aku menyesal Gra ..., berilah aku satu kali kesempatan lagi, aku
tidak akan mengulanginya ..., aku mohon”
__ADS_1
Pyaaarrrrrr
Bukannya menjawab tapi Agra malah mengambil gelas kosong di
ruangannya dan menjatuhkannya ke lantai
“kau lihat itu ....” Agra menunjuk pada gelas yang sudah pecah
berkeping itu
“hatiku juga seperti itu, setelah pecah, maka kau tidak akan pernah
menemukan cara untuk menyusunnya lagi ...”
“aku akan mengambil gelas yang baru..., kita mulai dari awal dengan
gelas yang baru ...” ucap Viona dengan lembut dan tampak begitu di buat-buat
“ya kau benar ..., berarti kita harus mencari yang baru kan, tidak
mungkin kita gunakan gelas yang sudah pecah itu, dan aku sudah menemukan
gelasku yang baru”
“maksudmu ....?”
“aku sudah mencintai orang lain ....., yang lebih baik segalanya
dari kamu ....”
‘kau tidak benar-benar melakukan itu kan? Kau pasti Cuma mau
menghindar dariku, aku tahu betapa kau mencintaiku ...”
‘kau salah ..., dan juga aku salah selama ini, yang ku kira cinta
ternyata hanya obsesiku saja, dan sekarang aku sudah mengerti apa itu cinta”
‘gra ....” viona segera memeluk Agra dari belakang sambil menangis,
“lepaskan ....” Agra berusaha melepaskan kaitan tangan Viona, tapi
wanita itu malah mempereratnya
‘aku tidak akan melepaskanmu jika kau tidak memaafkanku ...”
“aku sudah memaafkanmu”
‘benarkah ...” viona segera melepas pelukannya dan agra beralih
menatapnya
“benar ..., aku akan sangat membuang waktu jika terus menyimpan
dendam padamu ...., itu percuma, bahkan aku sudah benar tidak memikirkanmu”
“kau jahat gra ....” Viona menangis memunjukkan sisi lemahnya
supaya Agra goyah, tapi sayangnya Agra hanya diam saja, viona melancarkan cara
terakhirnya, ia paling tahu Agra akan luluh dengan memberi ciuman pada pria itu
Viona segera beralih menatap Agra, ia berdiri cukup dekat di depan
agra, ia segera menjijitkan kakinya dan mencium Agra, membuat Agra sedikit
tercengang dengan kelakuan wanita di depannya, tapi belum sempat Agra
menghindar Viona sudah mengalungkan tangannya di leher Agra
Dan sialnya lagi Ara datang di waktu yang tidak tepat, saat Agra
belum sempat menghindar dari Viona
Flasback of
setelah menceritakan semuanya
“jadi itu ulahmu ....?” Ara menunjuk pada pecahan gelas yang masih
berserakan di lantai
“iya .....”
“jika aku yang memecahkan gelas itu, bagaimana ...?”
“aku tidak akan membiarkan gelas itu sampai pecah, aku akan
menjaganya walau dengan nyawaku”
“benarkah ...?”
“cehhh ...., kau ini ...., bisa tidak kali ini percaya padaku ...?”
“tapi kenapa kau menghindariku selama ini?” tanya Ara yang masih
belum mendapat jawaban atas rasa penasarannya, Agra yang berjongkok di depan
Ara segera ikut duduk di samping Ara di sofa yang sama, ia menatap Ara dengan
sangat intens
“aku tak bermasud seperti itu, aku Cuma belum yakin jika aku
mencintaimu” Agra kembali meraih tangan Ara, menggenggamnya dengan sangat erat
“lalu ...?”
“Sekarang aku yakin jika aku mencintaimu, Ra...”
“setelah apa?”
“ya ...., setelah ciuman itu ...”
“ciuman yang mana?”
“setelah aku membandingkan ciuman itu dengan ciuman tadi ...”
“jadi kau menikmati ciumanmu bersama nona Viona ...?, kau jahat
sekali, sebenarnya siapa yang kau cintai , aku apa nona Viona ? aku benar-benar
tak percaya ini ....” Ara kembali mengerucutkan bibirnya
“ kau sungguh ingin membuatku gila ya ...., menyebalkan sekali
....., sungguh merepotkan jika jatuh cinta pada gadis cerewet sepertinya”
gerutu Agra karena bingung harus menjelaskan seperti apa lagi
“kau yang membuatku banyak bertanya, jadi sekarang jangan protes
....”
“baiklah ...., baiklah .....” Agra hanya bisa pasrah
“memang apa bedanya ciuman itu ..., seakan dia tahu aja..., dasar
..., katanya cinta, tapi malah menikmati ciuman dengan wanita lain” gumam Ara
Cup
Agra mengecup singkat bibir Ara, membuat mata ara membulat sempurna
“itu adalah ciuman cinta .....” ucap Agra setelah menjauhkan
__ADS_1
bibirnya dari bibir Ara, tapi ara masih terpaku dengan gerakan tiba-tiba Agra,
jantungnya seakan berhenti berdetak, sedetik dua detik
“apa kau suka .....?” tanya Agra saat melihat Ara masih terpaku,
membuat Agra melengkungkan bibirnya
“hehhh ....” tapi belum sepat protes , bibirnya sudah lebih dulu di
bungkam oleh bibir Agra
Cup
Bermula dari kecupan singkat yang di berikan Agra, tapi kecupan di
bibir Ara itu lama dan semakin lama dan semakin dalam, Agra menarik tengkuk
Agra, Agra ******* bibir bawah Ara, sekaan aliran darah di antara mereka mengucur
deras, bibir yang saling bertaut itu seakan
mengalirkan aliran listrik yang memabukkan
Setelah sekian lama mereka berciuman, akhirnya ciuman itu terlepas
saat udara di rongga dada mereka terasa habis
“kenapa kau menciumku?” setelah menormalkan nafasnya, Ara kembali
melontarkan protesnya
“biar kamu tahu apa bedanya ciuman itu dengan ciuman ini”
“cihhhh ...., kau membodohiku .....”
‘kau belum menjawabku”
“apa lagi ....?”
“apa kau memaafkanku? Bisakah kau menemaniku dan tak akan melepasku,
maukah kau jadi istriku yang sesungguhnya?”
“ya ....”
“ya apa?”
“ya ..., aku mencintaimu AGRA ANUGRA PUTRA, aku bersedia jadi
istrimu yang sesungguhnya dan selalu bersamamu”
“benarkah ...?”
“kenapa sekarang jadi kau yang meragukanku ...?” Ara berdecak kesal
pada Agra
“i love you my wife”
“i love you too my bos”
“bos?” Agra mengerutkan keningnya
“kamu kan belum memecatku”
“kau ini ya ...., sekarang berjanjilah padaku ...”
“apa?”
“jika nanti kau di hadapkan pada pilihan yang sulit, maka jangan
aku yang kau lepaskan, bisakah kau berjanji ...?”
“ya .....” Ara menjawabnya dan segera memeluk suaminya, Agra pun
membalas pelukan Ara
Setelah sekian detik mereka berpelukan, mereka melepaskan pelukan
itu, mata mereka saling berpandang, Agra mencakup kedua pipi Ara, ia
mendekatkan kembali bibirnya ke atas bibir ramum Ara, saat bibir mereka sudah
saling bersentuhan tiba-tiba ....
Kreggg
Tiba-tiba ada yang membuka pintu dari luar, membuat dua sejoli itu
saling menjauhkan diri
“shitttt...., sial lo ,Rend....” Agra berdecak kesal saat melihat
siapa yang masuk ke dalam ruangan, Ara hanya bisa menyembunyikan wajahnya di
balik punggung suaminya karena malu
“maaf, anda bisa melanjutnya kembali, saya permisi” Rendi pun
hendak keluar kembali
“berhenti ...” tapi langkahnya terhenti ketika mendengar teriakan
Agra
“kenapa dia menghentikannya ..., aku malu ..., mau aku taruh mana
mukaku ....” batin Ara, dengan wajah yang sudah memerah karena malu
“iya pak” Rendi segera menoleh pada Agra
“saya mau pulang...., kamu jadwal ulang semua pertemuanku untuk
hari ini ....” Agra hendak berdiri, tapi tangannya di tahan Ara
“sebentar, aku ambil jas dulu ya ....” akhirnya Ara hanya
mengangguk pasrah, ia sungguh tak berani menatap Rendi yang masih berdiri di
depan pintu
Agra segera mengambil jasnya yang teronggok di kursi kebesarannya ,
ia pun memakainya dengan cepat
“apa anda tidak kembali ke kantor hari ini?” tanya Rendi pada Agra
“tidak ...., urus jadwalku untuk besok”
“baik pak”
Rendi kemudian menatap Ara yang masih menunduk, ia terus
memperhatikan Ara
“berhenti memandang istriku, mau matamu ku colok” bentak Agra
sambil mengarahkan kedua jarinya ke depan mata Rendi
“cehhh, dasar pencemburu “ batin Rendi
Rendi ikut senang dengan apa yang terjadi, ia tersenyum tipis
melihat mereka, ada kelegaan di dalam sana, walaupun yang paling dalam ia harus
__ADS_1
segera merelakan