My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 117


__ADS_3

   Ara kembali terbangun dari tidurnya,


ia masih di tempat yang sama tapi dalam keadaan yang sangat menyedihkan.


Tapi .....


bukan tempat yang sama lagi, ini tempat yang lebih luas dari kemarin dengan


penjagaan yang cukup ketat, banyak penjaga di sana. Entah siksaan apa lagi yang


akan di dapatnya kali ini.


Punggungnya terasa sangat nyeri. perih dan terasa kaku.


“aku harus pergi dari sini.” Gumam Ara di tengah isak tangisnya. Ara menatap para penjaga.


“kalian pasti kuat nak ....” Ara mengelus perutnya dengan tangan


yang terikat, sehingga cukup sulit untuk di gerakkan.


“akh...” rasa sakit kembali menyerangnya.


Suasananya menjadi gelap terlihat dari jendela di salah satu sudut ruangan.


Sepertinya sudah malam.Ara mengedarkan pandangannya. Mencari-cari keberadaan


wanita paruh baya itu. Tapi sepertinya wanita itu sudah pergi.


“bagaimana caranya agar aku bisa pergi dari sini, jika mereka semua


tetap berjaga.” Desah Ara


“bagaimana caranya?” ia begitu berfikir


Hingga sebuah keributan terdengar di ruang lain, beberapa penjaga


tampak keluar dari ruang itu dan beberapa saat kemudian salah satu dari mereka


kembali.


“ada penyusup ...” ucapnya memperi tahu teman-teman lainnya


“penyusup, apakah itu Agra?” gumam Ara, hatinya seketika merasa


aman,


“bby ...., bby ...., aku di sini bby ...” Ara berteriak sekuat


tenaga, berharap suaminya mendengarkan teriakannya.


“diam ....” bentak salah satu dari mereka. tapi ternyata sebelum


penolongnya sampai ke tempatnya,. Para penjahat itu membawa Ara keluar dari


rumah itu melalui pintu lainnya. Mereka membawa Ara ke dalam hutan yang begitu


gelap. Di sepanjang jalan, ara masih terus berteriak memanggil-manggil suaminya.


Berharap suaminya segera datang.


Salah satu dari mereka sepertinyasedang menghubungi seseorang


melalui ponselnya.


“hallo nyoya ...” ternyata dia menghubungi bosnya


“ada apa?”


“ada yang mencoba menyelamatkan tawanan kita nyonya ...”


“lenyapkan dia ...”


“baik nyonya ....”


Setelah sambungan ponselnya terputus, temannya segera bertanya


padanya. Dan percakapan itu pasti sangat di dengar oleh Ara.


“bagaimana? Apa kata bos?”


“kita di suruh melenyapkannya.”


“ya udah kita buang aja ke jurang ...”


“ide bagus ...”


“ya Allah ..., selamatkan aku ...., selamatkan kami ....” batin


Ara di tengah-tengah perlawanannya, walaupun tubuhnya begitu lemas, tenaganya


hampir meninggalkan tubuhnya.

__ADS_1


“ayo masuk .....” perintah mereka yang memegangi tubuh Ara, tubuh Ara di dorong, tapi


Ara terus saja meronta, sekuat tenaga ia berusaha menahan tubuhnya agar tidak masuk ke dalam mobil. hal itu membuat mereka sedikit kesulitan.


“lepaskan dia ...” teriak seseorang dari belakang, saat para


penjahat itu hendak menaikkan dengan paksa ara ke dalam mobil.


“kak Divta ....” Ara benar-benar di buat bingung, ia terus bertanya


kenapa yang datang Divta. Bukan Agra, lalu di mana Agra suaminya. Apa dia tidak


datang menyelematkannya? apa dia tidak datang? apa terjadi sesuatu padanya? hatinya mencelus.


Divta segera menyerang orang-orang bertubuh kekar itu seorang


diri, ia mendapat banyak pukulan di tubuhnya. Divta tampak kuwalahan, tapi dia tidak menyerah. Tapi ia tidak menyerah.


Saat


tubuhnya hampir kehilangan tenaga karena harus melawan sepuluh orang sekaligus.


Ara kembali di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang benar-benar sangat ia


harapkan. Rasa kecewa yang tadi sempat hinggap seketika menghilang. hatinya menghangat.


“bby ....” ucap Ara lirih, air tanya meleleh , ia begitu bersyukur karena suaminya


datang tepat waktu, ingin sekali rasanya menghambur ke pelukan suaminya. Tapi


sayang tubuhnya terus saja di tahan oleh dua dari mereka.


Melihat keadaan istrinya. Agra begitu membabi buta menyerang tanpa


arah.  setelah berhasil melewati beberapa


orang, akhirnya Agra berhasil mendekati Ara. Dan melepaskan Ara dari


cengkeraman penjahat itu.


“sayang ..., kau tidak pa pa?” tanya Agra terlihat begitu khawatir,


walau terdapat banyak luka di tubuhnya, darah mengalir di beberapa tubuh dan


wajahnya tak di hiraukan lagi. Ia segera memeluk istrinya.


Divta yang


memeluk Ara seperti Agra memeluknya. Seandainya ia bisa mengungkapkan rasa khawatirnya. Rasa iri itu ada. Apa lagi jika ia


mengingat alasan terbesarnya untuk datang kembali ke tanah air adalah bertemu


dengan gadis kecil itu, yang ternyata sekarang sudah menjadi milik adiknya.


Begitu sakit...


Tapi di saat bersamaan dari belakang sudah ada yang menghunuskan


pisaunya hendak menusuk punggung Agra. Ya ... penjahat-penjahat itu membawa


benda tajam sedangkan Agra dan Divta hanya menggunakan tangan kosong.


“bby ...” Ara yang menyadarinya segera berteriak. Sebelum pisau itu


mengenai punggung Agra. Ternyata seseorang sudah lebih dulu melumpuhkannya,


orang itu adalah Divta, Divta menahan pisau itu agar tidak sampai ke punggung


Agra hingga pisau itu berhasil terjatuh.


Agra pun kembali membantu Divta melawan pria –pria bertubuh kekar


itu, walau jumlah mereka sudah berkurang, tetap saja Agra dan Divta masih kalah


jumlah.


“lebih baik bawa Ara pergi dari sini ...” ucap Divta pada Agra


sambil terus menghalau serangan mereka.


“aku tidak mungkin ninggalin abang sendiri di sini.”


“aku tidak pa pa. Nyawa Ara lebih penting ...., cepatlah pergi ...”


Walau dengan berat hati. Akhirnya Agra mengajak ara pergi dari


tempat itu dan membiarkan Divta melawan mereka seorang diri.ia membopong tubuh


Ara sambil terus berlari menghindar dari para penjahat. Hingga mereka sampai di


tempat yang jauh dari tempat semula.

__ADS_1


Agra pun segera menurunkan Ara.


“apa kau bisa berjalan ...” tanya Agra, dan Ara hanya mengangguk.


Ia tidak mau memperlihatkan tubuhnya yang penuh luka pada suaminya.


“apa mereka baik-baik saja ...?’ tanya Agra lagi, dan lagi-lagi Ara


hanya mengangguk.


“tapi kak Divta?” tanya ara yang terlihat khawatir


‘bang Divta akan baik-baik saja”


  Agra pun kembali memeluk dengan erat


tubuh Ara. Tapi desisan Ara membuat Agra segera melepaskan pelukannya dan memperhatikan


kembali tubuh istrinya.


“ada yang sakit ...?” lagi-lagi Ara hanya menggeleng. Tapi Agra


kali ini tak langsung percaya, ia segera memeriksa seluruh tubuh Ara.


“aku tidak pa pa ...” Ara menolaknya, tapi Agra tetap tidak perduli


dengan penolakan istrinya, ia membuka kaos yang di kenakan istrinya. Dan betapa


terkejutnya saat melihat bbeberapa bekas cambukan di punggung istrinya.


Darahnya seketika itu segera mendidih. Ia kembali memakaikan kaos ke tubuh


istrinya.


“siapa yang melakukan semua ini ...?” tanya Agra dengan nada yang


begitu di tekankan, membuat siapapun yang melihatnya akan bergidik ketakutan.


Ara tak berani menjawabnya. Ia hanya bisa menunduk takut.


“katakan sayang ...? siapa yang melakukan semua ini?”


“nyo-nya ...Aruni ...” jawab Ara terbata-bata.


“aku tidak akan melepeskanmu Aruni ...., kau dengar itu ....”


teriak Agra, teriakan yang penuh dengan amarah.


"bby....., aku tidak pa pa ..., asal bisa bersamamu, luka ini tidak ada artinya ....." ucap Ara menenangkan suaminya.


"maafkan aku, sayang ...., seandainya ....!"


"husssttt ...!" ucapan Agra terhenti saat jari telunjuk Ara menempel di bibir suaminya.


"tak ada yang perlu di sesali bby ...., kamu bilang semua akan baik-baik saja ...., jadi semua akan baik-baik saja ....."


"aku beruntung memilikimu, sayang ..... , terima kasih atas cinta yang besar ini ...., aku rasanya tidak pantas menerimanya." Agra menggenggam tangan istrinya erat.


cup cup cup


Agra menciumi luka yang ada di wajah dan tangan istrinya, berharap ciumannya bisa sedikit menghilangkan rasa sakit pada istrinya.


"sekarang, apa lebih baik?" tanya Agra kemudian dengan memberikan senyum manisnya.


"lebih baik bby ...., lebih baik dari segala obat yang pernah ada."


"benarkah?" tanya Agra.


"memang aku pernah bohong?"


Agra kemudian menatap istrinya dengan serius.


"ada apa ,bby?"


"jika terjadi sesuatu padaku, aku mohon kamu harus selamat bersama anak-anak kita, jangan menyerah ya, demi aku ...!"


"bby .....!" mata Ara kembali berkaca-kaca, air seakan-akan segera tumpah dari sana.


"aku mohon .... , sayang ..., jangan menangis lagi setelah ini ....."


"bby ....., aku nggak suka ...., aku benar-benar benci dengan ucapan seperti itu ...."


"Berjanjilah ....."


"iya ....., aku berjanji tidak akan membiarkan siapapun pergi dari hidupku, termasuk kamu ...., ini hidupku ...." ucap Ara berapi-api, seakan begitu marah dengan ucapan suaminya.


Suasana kembali hening.


BERSAMBUNG


happy Reading 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2