
Beberapa hati ini Agra begitu terlihat sibuk dengan perusahaan barunya, banyak klien yang berdatangan, walaupun juga banyak yang mengundurkan diri menjadi kliennya setelah mendengar berita yang di sebarkan oleh Aruni, mereka takut jika berita miring itu akan berimbas pada perusahaannya.
tapi tak sedikit dari mereka menganggap gosip miring tentang Agra dan istrinya akan segera berlalu. dan juga masih banyak yang percaya pada perusahaan Agra karena kemampuan Agra yang tak bisa di ragukan lagi.
Siang ini Agra sedang mendesains salah satu iklan. Tiba-tiba ponselnya berdering, menghentikan kegiatannya yang sedang
serius dengan komputernya.
Berrrt berrrttt berrrtttt
Rendi calling....
“hallo ...”
“hallo Rend..., ada apa?”
“besok lo datang kan ke agenda rapat direksi?”
Mendengar ucapan Rendi, Agra jadi teringat pada map yang sempat di
simpannya, yang telah Rendi berikan beberapa bulan lalu. ia belum sempat membukanya. sehingga ia tidak tahu harus apa.
“tunggu saja besok, aku tidak yakin” jawab Agra ragu. ia harus mengiyakan atau menolaknya. pria itu tak begitu tertarik dengan perusahaan itu. ia bisa membangun perusahaan sendiri tanpa tameng perusahaan besar itu. walaupun perusahaan yang ia rintis bepum sebesar itu tapi ia yakin dalam hitungan tahun perusahaan itu bisa menyamai perusahaan keluarganya kalau ia terus bekerja keras seperti ini.
“kami benar-benar mengharapkan kedatanganmu..., nyonya mengandalkanmu
...” mendengar kata nyonya, ia menjadi teringat ibunya. bagaimana ia bisa mengabaikan ibunya. setelah apa yang di ceritakan oleg Rendi tentang ayahnya. ini bukan lagi soal perusahaan tapi tentang keadilan dan kebenaran yang harusnya segera terungkap.
“jam berapa?”
“jam 10”
“baiklah ....”
Tanpa menunggu jawaban dari Rendi, Agra segera menutup telponnya,
ia meletakkan ponselnya asal. Pikirannya sedang berada di dua persimpangan.
Agra menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menutup matanya
berharap bisa menghilangkan rasa penatnya
Tok tok tok
Agra segera membuka matanya, setelah mendengar ketukan pintu dari
luar. ia menyunggingkan senyumnya begitu melihat siapa yang berada di balik pintu.
“bby ...” ternyata Ara datang dengan membawakan secangkir kopi.
“iya sayang ...” Agra segera menegakkan badannya
“aku bawakan kopi buat kamu bby ....” Ara meletakkan cangkir itu di atas meja kerja suaminya.
“makasih sayang .....”
Ara memperhatikan wajah suaminya yang sepertinya begitu banyak
pikiran, membuatnya terpancing untuk mendekati suaminya, ia duduk di meja depan
suaminya
“ada apa bby ...?”
“apa kau keberatan, atau kau akan marah padaku ...?” wajah Agra
begitu serius menatap istrinya. mendengar ucapan yang begitu serius dari suaminya. Ara pun segera memfokuskan diri.
“apa ...?”
“jika aku memilih untuk mengikuti permintaan ibu”
“maksud kamu bby ...?”
“maksudku..., Rendi dan ibu memintaku untuk mengikuti rapat dereksi
besok”
Mendengar ucapan Agra, Ara pun segera turun dari duduknya dan
melangkah menuju ke depan jendela, Agra pun mengikuti istrinya di belakang dan memeluknya.
“sebenarnya berat bby, sangat berat ..., aku lebih suka kita
seperti ini, hidup sebagai orang biasa, mengurusi usaha kecil kita” Ara
menghela nafas berat dan sedikit menitikkan air matanya. hatinya begitu tidak rela.
“tapi kita tidak boleh egois
kan bby..., aku pernah bilang jika memintamu untuk tetap bersamaku dan memilih
kehidupan ini, tapi setelah semua apa yang kita lalui, aku yakin padamu bby,
semua akan baik-baik saja...”
“jadi ...?” tanya Agra
__ADS_1
“jadi ..., pergilah ..., perjuangkan apa yang menurutmu benar
bby..., aku akan tetap menunggumu ...”
"kau tidak akan pergi dariku?" tanya Agra memastikan.
"tidak ...., aku akan tetap menunggumu kembali ...."
“teimakasih sayang ...” Agra segera membalik badan istrinya dan kembali memeluknya, ia begitu
senang, sangat senang dan berharap semua akan baik-baik saja setelah ini semua selesai.
“kita makan siang bby ...”
“bentar ya sayang ..., aku harus memeriksa isi map yang sempat
Rendi berikan padaku”
“apa isinya bby ...?”
“belum tahu sayang ..., aku belum sempat membukanya”
“baiklah aku tunggu di atas ya bby ...”
“iya sayang ...”
setelah Ara keluar. Agra pun segera mencari map yang di berikan Rendi. ia membuka lembar demi lembar. raut wajahnya terlihat begitu serius.
"begitu banyak kecurangan yang telah ia perbuat, aku akan berdosa jika terus membiarkannya ..." gumam Agra setelah sampai pada halaman terakhir.
"aku harus mencari lebih banyak bukti lagi ..."
setelah puas dengan urusannya. Agra pun menyimpan kembali map itu ke dalam brangkas. ia tidak mau membuat istrinya menunggu terlalu lama.
***
Setelah menyelesaikan makan siang bersama, Agra ada acara keluar untuk bertemu
dengan kliennya. entah klien perusahaan tau ada rencana yang lain , jelas Agra yang lebih tahu
“bby setelah ini, kamu mau kemana?” tanya Agra yang terlihat kembali bersiap-siap.
“aku akan menemui klien di daerah xx”
“brati melewati danau tak jauh dari rumah ayah ya ....”
“iya ....”
“boleh aku ikut ..., aku ingin ke sana ...”
“sendiri ....?” Agra begitu khawatir
nunggunya lama aku kan bisa ke rumah ayah ....”
“baiklah ..., tapi jangan lama-lama di sananya ya ..., kalau sudah
lelah,capek. cepetan ke rumah ayah ...”
“baik bby ....”
***
Di tempat lain Divta menghampiri mamanya yang sengaja memanggilnya
untuk bertemu
“siang mam ...” sapa Divta yang baru masuk dan berdiri tegap persis
seperti yang di lakukan Agra saat berhadapan dengan ibunya, walaupun jauh
mereka tetaplah saudara yang memiliki banyak kesamaan
“kamu sudah datang sayang ...” Aruni segera bangun dari duduknya
dan memeberikan sebuah pelukan hangat untuk putranya
“what happen mam , memanggilku ...?”
“ besok di adakan rapat direksi, mama besok akan memperkenalkan
kamu di depan para direksi”
“are you sure ,mam..., bagaimana kalau kita kalah ...”
“kamu jangan khawatir sayang ..., mama sudah mempersiapkan semuanya”
“maksud mama?”
“kamu tunggu saja besok, kita bertemu di sana besok”
“tapi jika tak sesuai dengan yang mam harapkan bagaimana?”
“aku akan berlaku sedikit kasar ...”
“maksud mama?”
“biarlah itu menjadi urusan mama ...”
__ADS_1
“baiklah ..., aku keluar dulu mam ...”
“kau mau kemana?”
‘aku mau jalan-jalan ...”
Divta pun segera meninggalkan mamanya, ia ingin sekali mengunjungi
tempat yang dulu waktu kecil sering ia kunjungi ..., ada rasa nyaman di sana
terlepas dari semua kejadian dalam hidupnya
Divta melajukan mobilnya memecah ramainya jalanan ibu kota di siang
hari, ia menghentikan mobilnya di sebuah taman yang langsung terhubung dengan
sebuah danau buatan
Ia turun dari mobilnya, dengan langkah pasti ia menikmati udara
yang telah begitu lama ia tinggalkan, di tempat itu dulu ia sering menghabiskan
waktu nya , ia meninggalkan rumah karena selalu melihat ayah dan mamanya
bertengkar, setiap kali ayahnya datang selalu terjadi pertengkaran
Di sana ia selalu bertemu dengan gadis kecil yang begitu manis. Temannya
saat semua anak meninggalkannya.
“aku merindukan tempat ini ...., ternyata tempat ini masih sama ya
...” ucapnya sambil melangkah ke sebuah bekas air mancur yang sepertinya sudah
lama tidak di gunakan, tempatnya sekarang juga sudah sepi dan tak terlalu
terawat
Tapi langkahnya terhenti saat pandangannya tanpa sengaja menangkap
sosok yang beberapa kali ia temui, dia adalah Ara
Ara sedang duduk di kursi besi tak jauh dari bekas air mancur ,
menghadap ke danau yang cukup luas, semilir angin yang sudah mulai berhembus
menampakkan kesejukannya
Matahari sudah mulai condong ke barat sehingga sinarnya tidak
begitu menyengat, membuat Ara begitu betah berlama di tempat itu
Divta menatap Ara penuh makna, entah kenapa bayangan-bayangan masa
lalu saling berkelebat meminta untuk di ingat, senyum sedikit terukir di
bibirnya saat melihat tingkah ara
“dia tidak berubah ...’ gumam Divta
Divta pun semakin berjalan mendekati Ara, hingga langkahnya
terhenti tepat di samping tempat duduk Ara, ia menatap jauh ke tengah danau dan
kedua tangannya di sakukan ke dalam saku celana
“ternyata tempat ini masih sama ya ...” ucap Divta tanpa
mengalihkan pandangannya, Ara yang tak menyadari kedatangannya begitu terkejut
“kak Divta ...” wajah Ara berubah menjadi pias. ada rasa takut yang menyelimuti perasaannya. ia hanya bergikir untuk melindungi anaknya. jika pria di hadapannya akan berbuat jahat.
“aku dulu sering sekali datang ke sini saat suasana hatiku begitu
buruk, di sini aku bertemu dengan gadis kecil yang begitu cerewet”
“kakak ....” Ara menatap Divta dengan seksama. rasa takutnya sedikit memudar. diganti dengan rasa penasaran.
“ya aku anak laki-laki yang sering sekali di panggil kakak, dan
sering sekali di kerjai suruh mengambil layang-layang yang nyangkut di atas
pohon” ucap Divta sambil sedikit melengkungkan senyum di bibirnya
“aku senang bisa bertemu kakak lagi ..., tapi aku akan lebih senang
jika bertemu denganmu dalam keadaan yang lebih baik”
“maksud kamu ...?”
“aku begitu mencintai suamiku ....” mendengar ucapan Ara,
sebenarnya entah di sebelah mana ada rasa tak terima pada diri Divta
“aku mohon kakak tidak akan berbuat sesuatu yang akan membuat saya
terluka, aku percaya sama kakak, aku tahu kakak orang baik ...”
__ADS_1
BERSAMBUNG