
Rasanya percuma memperingatkan sanaya untuk
tidak dekat-dekat dengan Aditya, Sanaya terlalu keras kepala.
Sagara harus melakukan hal yang lain.
Pagi ini Sagara sengaja menunggu Adit di depan sekolah sebelum jam pelajaran di mulai.
“Kamu duluan saja!” ucapnya pada Abimanyu. Sahabatnya itu mengerutkan keningnya.
“kamu mau ngapain sih?” tanya Abimanyu, tidak bisanya.
“Aku ada urusan sebentar!”
Melihat wajah serius Sagara, Abimanyu pun memilih untuk tidak bertanya terlalu banyak.
“Baiklah!”
Abimanyu memilih untuk pergi meninggalkan Sagara.
Sagara masih setia menunggu Adit di bawah pohon besar yang ada di depan sekolah. Ia menyandarkan punggungnya dengan kaki yang ia tekuk ke belakang memanjat pada pohon.
Sudah hampir setengah jam ia menunggu, tapi batang hidungnya juga tidak kelihatan.
"Apa jangan-jangan dia tidak masuk?" gumamnya.
Beberapa kali ia memperhatikan pergelangan tangannya. Jam
tangan yang melingkar di pergelangannya itu jarumnya terus berjalan tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda anak itu akan datang.
“Dia bisa buat aku terlambat nih!” gumamnya.
Masih ada waktu lima menit sampai bel berbunyi, ia
tidak mungkin terlambat lagi. Hukumannya masih kurang satu hari ini dan besok ia bisa sedikit merenggangkan otot-ototnya jangan sampai besok dia di hukum lagi.
Hampir saja dia menyerah, ia tidak mau terlambat lagi.
Menyerah .....
Saat kakinya hampir melangkah tiba-tiba suara khas motor itu sudah mulai terdengar. Sagara sudah langsung tahu itu suara motor siapa karena tempo hari saat ia terlambat juga suara motor itu yang terdengar.
Itu dia ....
Akhirnya yang di tunggu datang juga, motor itu melaju dengan cepat dari ujung jalan.
Sagara pun dengan cepat segera menghadang motor Aditya tepat di depan bam motor depannya, membuat pengemudi motor menekan pedal rem dengan cepat menimbulkan suara decitan.
Ciiiiiiiiiittttttt
Untung saja Aditya memiliki reflek yang bagus. Hingga membuat motor belakangnya terangkat ke atas.
Aditya membuka kaca helm full face berwarna hijaunya. Ia menatap Sagara kesal, memicingkan matanya mencoba menerka apa yang ingin di lakukan anak laki-laki di depannya. Ia baru ingat jika anak laki-laki itu adalah saudara kembar gadis yang beberapa hari terakhir ini cukup dekat dengannya.
Sialan ....
“Lo apa-apaan sih, mau mati?” teriak Aditya, ia begitu kesal dengan pria yang ada di depannya itu. Sebenarnya ia sudah mempersiapkan resiko ini dari awal tapi tetap saja saat berhadapan dengan nya emosinya masih memuncak.
“Turun!” ucap Sagara dengan wajah dinginnya. Bahkan Sagara tidak berpindah dari tempatnya. Beberapa anak yang masih tersisa di luar jadi tertarik untuk memperhatikan mereka.
Dua anak cowok yang cukup populer di sekolahnya dengan adu kekuatan.
Aditya tersenyum smirtt, ia bahkan tidak berpindah sedikitpun dari motornya. Hanya ia membuka helmnya.
“kalau gue nggak mau. Memang apa yang bisa lo lakuin?”
Sagara tidak mau berdebat lagi, waktunya tinggal lima menit, terlambat sebentar saja dia pasti akan tetap berada di luar gerbang. Bahkan jalanan terlihat sudah mulai sepi, mereka sudah berpindah ke dalam ruang sekolah.
Sagara berdiri tegak di sana.
__ADS_1
“Gue cuma mau peringatin sama lo, jauhi Sanaya!” ucap Sagara dengan begitu tajam.
“Kalau gue nggak mau?”
“Lo berhadapan sama gue! Jangan sampai gue bertindak
lebih jauh dari ini!”
Lawan yang sepadan, pria dingin dan keras berhadapan dengan pria selengekan yang juga tidak kalah keras kepalanya.
"Ckkk!" Abimanyu hanya bisa berdecak.
Sagara segera meninggalkan Aditya begitu saja, ia sedikit takut kalau sampai terlambat lagi. Aditya menatap kesal
pada Sagara.
“Dasar posesif, memang cuma dia yang punya adik perempuan! Gue juga nggak segitunya!” gumam Aditya.
Di tempat lain, Sanaya sudah hampir sampai di depan kelasnya. Ia menggunakan jasa sopir hari ini.
Sanaya memang jarang berangkat barengan dengan
Sagara dan Abimanyu, dia lebih sering berangkat di antar oleh sopir. Menurutnya jika setiap hari berangkat bersama, dia tidak bisa ke mana-mana setelah itu.
“Nay!” panggil seseorang membuat langkah Sanaya
terhenti di depan kelas, ia menoleh ke arah siapa yang memanggilnya.
Abi .....
Abimanyu mempercepat langkahnya dan berhenti tepat
di depan Sanaya.
Sanaya mengerutkan keningnya, bukankah jika ada yang ingin di bicarakan, mereka bisa bicara di rumah tadi. Seingatnya tadi di rumah juga bertemu,
“Ada apa?”
Jadi beneran mereka satu tim?
"Kenapa harus aku?"
"Ya karena kehadiran kamu akan sangat berarti!"
“Baiklah, aku usaha in!”
Abimanyu tersenyum menatap Sanaya.
“sampai jumpa nanti siang!”
Abimanyu meninggalkan Sanaya. Dari kejauhan terlihat Riska memperhatikan mereka, ia terlihat begitu kesal.
Riska ....
Riska pun berjalan mendekati Sanaya.
“Enak ya jadi lo!” ucapnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Hehhhhh
Sanaya menghela nafas, ia tidak begitu suka dengan sikap Riska yang ini.
“Lo masih marah ya sama gue?” tanya Sanaya.
“Bukan masalah kan buat lo, masih banyak yang perhatian sama lo, bahkan semua anak cowok di sekolah ini suka sama lo!”
“Bukan gitu Ris!”
Riska meninggalkan sanaya begitu saja.
__ADS_1
Dia beneran marah sama gue, jangan-jangan peneror itu Riska ...., batin Sanaya sambil menatap punggung gadis yang biasanya begitu dekat dengan nya itu.
Hehhhh
Lagi-lagi helaan nafas yang mengakhiri semua.
Akhirnya sanaya pun masuk, ia duduk di bangkunya. Saat meletakkan tasnya di dalam laci
tiba-tiba ada yang jatuh dari laci itu. Sebuah gulungan kertas.
Sanaya memperhatikan seisi kelas, tidak ada yang
mencurigakan, bahkan semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing, tidak ada
yang sengaja memperhatikannya.
Sanaya segera membuka sebuah pita kecil yang
mengikat gulungan kertas kecil itu. Sebuah surat.
//jauhi Abimanyu, atau gue akan bikin perhitungan sama lo//
“Surat kaleng!” gumamnya. Sayangnya tulisan itu
berupa ketikan jadi dia sulit untuk mencari tahu siapa pemilih kertas itu. Tangannya terus menggenggam kertas itu, menatapnya hingga ia tidak konsentrasi dengan pelajaran.
Hingga bel istirahat berbunyi, Sanaya masih betah di dalam
kelas. Ia masih berusaha mencari tahu siapa pemilik kertas itu dengan menerka-nerka.
Keyakinannya tentang Ariel beberapa saat mencuat jika Ariel lah yang melakukannya. Tapi ada lagi yang terpaksa ingin dia curigai.
Riska ...., tapi tidak mungkin ....
“Siapa sih sebenarnya ini?”
“Ada yang benci banget ya sama gue?”
Gumamnya beberapa kali, ia harus terus berpikir. Kemudian seseorang memanggilnya.
“Nay!” sanaya kenal suara siapa itu.
Sanaya mendongakkan kepalanya menatap anak cowok yang ada di depannya itu.
"Abi!"
"Kenapa Nggak keluar?"
"Males ....!"
“Ada apa?”
Sanaya memperlihatkan kertas itu dan menyerahkan kertas kecil itu.
“Ini apa?”
“itu ancaman dari anak yang ngefans sama lo!”
“Nggak usah di urusin, nih aku bawakan roti buat kamu, belum makan kan?”
“Baik banget sih kamu!” puji Sanaya.
Abimanyu hanya tersenyum tipis, dia suka Sanaya yang manis seperti itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰