
pagi ini banyak yang harus di kerjakan Agra, ia memilih menyetujui permintaan istrinya untuk jalan-jalan bersama Nadin tapi dengan berbagai syarat yang harus di setujui oleh Ara.
"Jangan jauh-jauh dari pengawal, jangan menyapa orang asing, aku akan selalu memantau kalian!" ucap Agra panjang lebar sebelum benar-benar meninggalkan ruang makan.
"iya bby, aku tahu ....!" Ara begitu malas menanggapi celotehan suaminya itu.
"Pap janyan khawatil, mom bial cagala yang jaga!" sagara pun tak mau kalah, membuat Agra gemas. Agra menghampiri putranya itu dan mengusap rambut putranya yang selalu rapi itu.
"Pap percaya padamu jagoan kecilku, awasi mereka berdua!" ucap Agra sambil melirik ke arah Ara dan Sanaya yang seketika mendapat tatapan sinis dari Sanaya dan Ara.
"cagala yok jagoan ....!" ucap Sanaya sambil melipat lengannya di depan dada.
"Sayang ....., pap dan Sagara sangat khawatir padamu dan momi, iya kan Gara?" Sagara pun menjawab dengan anggukan kepala mantap.
Di tengah obrolan hangat itu, tiba tiba Rendi datang, seperti biasa ia menghampiri meja makan itu, tapi bukan untuk sarapan. Tujuan utamanya adalah menghampiri sahabat sekaligus atasannya itu.
"Maaf pak_!" belum sempat Rendi melanjutkan ucapannya, tangan Agra sudah memberi isyarat untuk menghentikan ucapan.
"Aku mengerti, kau benar-benar membuatku kesal saja setiap pagi!" keluh Agra. Rendi hanya bisa diam dan menunduk.
Agra berdiri dan menghampiri istrinya, Ara pun ikut berdiri.
"Ingat pesanku tadi!"
"Iya bby!" Ara merapikan dasi milik Agra.
"Beri aku sesuatu yang bisa membuat aku mengijinkan mu untuk jalan-jalan!" Ara mengerutkan keningnya, ia tidak paham dengan maksud suaminya.
Agra mendekatkan pipinya pada Ara, memiringkan wajahnya dan sedikit menunduk.
"Ada apa?" Ara hanya bisa diam sambil menaikan alisnya, Agra yang gemas dengan kepolosan Ara akhirnya memilih menarik tubuh Ara hingga begitu dekat.
cup
__ADS_1
Agra mendaratkan ciuman di bibir Ara, membuat Ara terkejut, dengan cepat Ara menjauhkan bibirnya dari Agra. Tapi Agra segera menahan tengkuk Ara hingga ciuman itu berlanjut.
Sedangkan Rendi dengan sigapnya berdiri di depan sagar dan Sanaya, menghalangi pandangan mereka hingga ciuman itu berakhir.
"Uncle What ....?" Sanaya yang berusaha melayangkan protes segera di tahan oleh Sagara.
"Hustt ....., Nay ini ulucan Olang dewaca!"
Akhirnya Agra melepaskan ciumannya pada Ara, Ara dibuat kesal oleh suaminya itu.
"Wajahnya jangan di tekuk seperti itu!" ucap Agra sambil menakup pipi Ara. "Atau aku akan ...!"
Mendengar suaminya akan segera melancarkan ancamannya untuk membuat Ara tidak pergi tanpa dia, Ara pun segera terseyum lebar.
"Nggak bby, kau bebas menciumku kapan saja ....!" ucap Ara dengan senyum yang di buat semanis mungkin.
Dasar ....., biro amat lah yang penting aku bisa jalan-jalan ....
"Bagus ....., istri pintar!" ucap Agra sambil mengusap kasar puncak kepala Ara, Agra mengambil jasnya yang asih menggantung di sandara kursi dan memakainya dengan cepat.
Di depan supir sudah menunggu Agra dan Rendi, ia sudah bersiap dengan membukakan pintu mobil untuk Agra, setelah Agra masuk ke dalam mobil, kini Rendi pun menyusul, ia duduk di samping sopir.
Mobil melaju meninggalkan resort, sebelumnya Rendi telah menyerahkan beberapa berkas yang harus di teliti oleh Agra, walaupun sebelumnya sudah di teliti oleh Rendi, tapi Agra tetap harus mempelajarinya.
Rendi diam di depan, tak ada suara yang keluar dari dalam mobil itu. Kecuali suara mesin mobil dan kertas dari berkas berkas yang ada di tangan Agra yang sedari tadi di bolak balik. Sepertinya sangat serius.
Setelah selesai meneliti semua berkasnya, Agra menaruhnya di samping tempat duduknya, ia menatap ke depan mengarah pada Rendi, dan seperti biasa Rendi selalu dengan sigap menoleh ke belakang.
"Apa ada masalah pak?" tanya Rendi dengan nada tegasnya.
"Bagaimana dengan Nadin? Sudah berapa kali golnya?" goda Agra membuat Rendi hanya bisa menghela nafas, ia salah sudah bertanya tentang hal itu pada sahabatnya itu.
"Kenapa diam, berani taruhan nggak, berapa bulan lagi Nadin hamil!"
__ADS_1
"Masih lama!" jawab Rendi sekenanya.
"Jangan bilang kalau kau menggunakan pengaman!?" tanya Agra penasaran.
hehhhh
Rendi hanya menghela nafas, ia malas untuk menanggapi, tapi tetap saja, dalam perjalanan yang cukup panjang itu Agra sibuk menggoda sahabatnya itu, tapi dasar Rendi balok es, ia bahkan untuk tersenyum saja tidak.
"Oh iya Rend, aku hampir lupa, tadi Ara mengeluh padaku, ia ingin pergi ke istana Changdeok, dia akan mengajak Nadin, kamu beri tahu Nadin buat siap-siap ya ....!"
"Tapi pak ....!" Rendi hendak melayangkan protesnya, ia tidak suka Nadin berkeliaran sendiri di tempat asing seperti ini.
"Jangan khawatir, pasukan mu kan banyak, minta mereka melakukan pengawalan ketat, kita meetingnya juga tidak akan lama, setelah makan siang kita bisa menyusul mereka!"
"Baik pak ....!" Rendi pun segera mengambil ponselnya, mengetikan beberapa pesan yang ia tujukan pada Nadin.
Mereka pun sampai di sebuah gedung pencakar langit, Agra dan Rendi keluar dari mobil, mereka langsung disambut oleh rekan bisnisnya.
"Selamat pagi Mr Agra!" sapa Mr Lee (dengan bahasa Korea ya 🤭) sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Selamat pagi Mr Lee, maaf sudah membuat anda menunggu!"
"Tidak pa pa, mari!"
Mereka pun di sambut dengan hangat, banyak yang harus mereka bicarakan. Hingga tengah hari mereka baru selesai dengan meetingnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 😘😘😘😘😘