
Ara hendak menghampiri wanita itu, tapi langkah Ara
terhenti saat melihat siapa yang sedang bersamanya.
Pria itu masuk ke dalam
halaman sekolah mengantarkan anak perempuan itu hingga ke ruang kelas, ruang
kelas yang sam dengan ruang kelas Sanaya. Mereka sepertinya tidak menyadari
keberadaan Ara di sana, tubuh Ara terhalang benner promosi sekolah yang ada di
halaman.
Hingga pria itu kembali menghampiri wanita yang tetap berdiri di samping mobilnya. Mereka pun masuk ke dalam mobil kembali.
“ini tidak mungkin, aku tidak salah lihat kan?” Ara benar-benar tak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Bagaimana bisa mereka bersama? Dan anak?” gumam Ara lagi.
Ara hanya bisa terdiam di tempatnya tak percaya hingga mobil itu berjalan meninggalkan gerbang sekolah Sanaya. Ara kembali duduk dengan wajah terkejutnya.
“Sejak kapan?”
Ara terus saja memikirkan yang ia lihat hingga
seseorang menghampirinya, sepertinya dia juga salah satu wali murid yang sedang
menunggu anaknya.
“Pagi bun!” sapa wanita dengan gaya bak super model, sepertinya dia salah satu ibu-ibu yang bergerombol dengan teman-teman sosialitanya
tadi.
“Iya?” Ara mendongakkan kepalanya memastikan bahwa dia yang sedang di ajak bicara.
“Kenapa menyendiri bun, gabung sama kita-kita, lihat di sana banyak temannya ....!" wanita itu sambil menunjuk pada sekumpulan makluk yang sama dengannya, tas branded, sepatu branded, wajah dengan segala macam aksesoris di dalamnya.
"Iya terimakasih, saya di sini saja!" jawab Ara, ia berpikir mungkin tidak akan bisa nyaman jika bersama mereka, apa yang akan di bicarakan, mungkin gaya fashion terbaru.
Mana tahu aku hal hal seperti itu .....
Membayangkannya saja sudah membuat Ara bergidik ngeri.
"Sayang sekali, padahal kita sedang mengadakan arisan loh, kalau mau bunda bisa ikutan!”
“Maaf, saya tidak tertarik dengan hal-hal seperti
itu!”
“Kalau di lihat dari penampilan bunda, pasti suami bunda dari karyawan biasa ya, bun jangan khawatir, arisannya tidak banyak kok,
__ADS_1
satu bulan sekali cuma 10 juta saja!” ucap wanita itu dengan nada mengejeknya,
Apa dia bilang, dia meremehkan suamiku .....!
Wanita itu lalu memperhatikan penampilan Ara yang apa adanya, penampilan Ara memang tidak menggambarkan bahwa dia seorang istri dari seorang presdir, wajar saja jika
wanita itu berfikir seperti itu.
Jangan melihatku seperti itu ....., untung suamiku tidak di sini ....
awas saja kalau sampai suamiku datang aku akan memamerkannya padamu ....., sok keren ....
“Maaf, tapi saya benar-benar tidak tertarik!” Ara
begitu malas untuk menanggapi ucapan wanita itu.
“Baiklah …, tapi saya heran loh, bagaimana bisa
orang kalangan bawah bisa masuk ke sekolah ini, padahal biaya sekolah di sini
sangat mahal loh …, apa bunda beneran nggak salah kamar nih, pumpung belum
terlanjur loh bun, bunda bisa pikirkan lagi, pumpung masih awal tahun ajaran
baru!”
Astaga kenapa dia banyak sekali bicara …., ya Allah
Ara hanya diam dan tersenyum, akan sangat percuma
bicara dengan ibu-ibu sosialita itu, jika menanggapi hanya akan membuatnya
pusing.
“Ya sudah ya bun, kalau bunda berubah pikiran bisa ikut bergabung di sana, jangan khawatir kalau bunda tidak punya uang, kami bisa
traktir kok nanti!”
Untung saja tak butuh waktu lama, akhirnya kelas Sanaya selesai, Sanaya segera berlari menghampiri Ara.
“Mom …!” teriak Sanaya lalu memeluk mominya.
“bagaimana sekolahmu sayang?”
“Nay dapat teman banyak di sekolah mom, ada Al,
Kevin, Marsya,Angel.., Bian, Ve..!” Sanaya menghitung teman-temannya dengan
jarinya dan beberapa kali mendongakkan kepalanya mengingat-ingat nama-nama
temannya satu persatu.
__ADS_1
“Mereka semua baik?’
“Ya Mom, mereka baik sama Nay!”
“Ya sudah ayo kita pulang!” Ara mengandeng tangan
putrinya dan bangun dari duduknya, mereka berjalan hendak menuju ke gerbang
karena pak Mun sudah menunggunya di sana, tapi belum sampai mencapai langkah mereka
menggapai gerbang. Sanaya menghentikan langkahnya.
“Bentar mom!”
“Kenapa sayang?”
Bukannya menjawab, Sanaya menunjuk pada seorang anak
perempuan yang sedang duduk menunggu di bangku kecil ,menghadap jalan.
“Dia teman Nay, mom. Bisakah kita temani dia dulu mom?”
“baiklah …, ayo …!”
Mereka pun menghampiri gadis kecil itu, gadis kecil itu terus menunduk. Sepertinya sedang menunggu jemputan.
“Hai sayang ….!” Sapa Ara.
Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya, ia tidak
langsung menjawab. Terlebih dulu ia menatap Sanaya.
‘hai Aril!” sanaya melambaikan tangannya. “Aku teman sekelas mu, kau tadi datang terlambat ya, kalau kau mau kita bisa berteman!”
Sanaya mengulurkan tangannya tapi gadis itu tetap diam.
Tin tin tin
Gadis kecil itu mendongak ke arah sumber suara, saat melihat mobil itu. Gadis kecil itu langsung berdiri dan berlari begitu saja
meninggalkan Sanaya dan Ara tanpa sepatah kata pun.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘
__ADS_1