
Sanaya menoleh ke arah Aditya yang masih duduk di atas motornya.
"Gue sama Ariel aja!" ucap Sanaya lalu menarik tangan Ariel menjauh dari Aditya.
Kini Sanaya dan Ariel berjalan menyusuri lorong depan kelas, belum ada pembicaraan lagi hingga Ariel kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama yang belum sempat di jawab oleh Sanaya.
"Lo jalan sama Adit?" tanyanya membuat Sanaya menoleh sebentar lalu kembali fokus ke depan. Langkah kaki mereka begitu kompak tidak terlalu pelan juga tidak terlalu cepat.
"Menurut lo?"
"Iya!" Ariel memberi jeda pada ucapannya. "Lalu Abimanyu?"
Walaupun dia masih baru di sekolah itu, dia cukup tahu bagaimana hubungan mereka. Abimanyu begitu memanjakan Sanaya.
"Apa menurutmu Abimanyu akan berjuang?" Sanaya malah balik bertanya. Kali ini berhasil membuat Ariel menghentikan langkahnya hingga Sanaya mendahuluinya mebeberapa langka.
Apa masalahnya seserius itu ....?
"Ariel ...., ayo!" teriakan Sanaya berhasil menyadarkannya hingga ia harus mulai berjalan kembali.
Ariel memilih melupakan apa yang di tanyakan, walaupun ada rasa iba dengan Abimanyu. Dia begitu baik selama ini, entah apa alasannya. Tapi anak itu sudah membuatnya lebih nyaman di sekolah baru ini tentunya sekarang selain Sagara.
Ahhhh hampir lupa, seharusnya aku menanyakan Sagara ....
"Nay, Gara nggak masuk?"
Kali ini Sanaya menoleh sambil tersenyum. Memang tidak ada yang cerita, tapi dia cukup tahu bagaimana Sagara memandang Ariel. Andai saja dulu tidak terjadi kesalah fahaman mungkin sudah sejak dulu mereka berhubungan.
"Kangen ya?"
"Apaan sih Nay!?" Ariel terlihat tersipu, pipinya bersemu merah.
"Jangan khawatir, mana tahan dia nggak ketemu kamu lagi, kalau bisa mungkin dia akan menghapus hari libur!"
"Biar apa?"
"Biar bisa ketemu kamu setiap hari!"
Dua gadis itu tampak sesekali tertawa saat membicarakan hal yang lucu dan akhirnya harus terpisah di kelas Sanaya. Karena untuk ke kelas Ariel perlu melewati kelas Sanaya dulu.
"Sampai jumpa nanti ya!" ucap Sanaya.
"Nggak janji sih!"
"Kok gitu?"
"Karena sepertinya pesona Sagara lebih membuatku terpikat dari pada dirimu! Bye ...!"
Ariel melambaikan tangannya lalu berlalu begitu saja meninggalkan Sanaya. Sanaya hanya tersenyum menatap punggung sahabat barunya itu.
Saat Sanaya hendak masuk, tiba-tiba seseorang memanggilnya. Sanaya tahu itu suara siapa.
"Nay!"
Sanaya memilin berhenti, tapi tidak berniat untuk menoleh.
"Nay, maafin gue! Gue tahu gue salah!"
"Gue udah maafin lo, tapi maaf untuk bisa dekat kembali, gue tidak bisa, Riska!"
__ADS_1
Gadis itu mendekat dan menarik tangan Sanaya, menggenggamnya.
"please ...., Nay! Gue janji gue nggak bakal jahat lagi!"
Sanaya menepis tangan Riska. "Gue tahu!"
Sanaya memilih untuk meninggalkan Riska dan masuk ke dalam kelas. Ia duduk di bangkunya dan ternyata Riska masih mengejarnya. Ia menarik tempat duduk dan duduk di depan Sanaya.
"Please Nay, gue bakal ngaku siapa yang nyuruh gue buat nglakuin itu, tapi please ...., jangan marah lagi sama gue!"
Kali ini Sanaya mengerutkan keningnya, ia juga penasaran siapa orang yang di maksud.
"Siapa?"
"Dia mama nya kak Abimanyu!"
Sanaya begitu terkejut, "Mama nya Abi?"
Selama ini yang ia tahu Abimanyu hanya memiliki kakek, papa nya sudah meninggal dan mamanya ...
"Iya Nay!"
"Abi nggak punya mama Ris!"
"Percayalah Nay, kalau lo nggak percaya lo bisa datang ke alamat ini!" Riska menyerahkan secarik kertas yang berisi kartu nama salah satu pemilik butik ternama.
"Itu alamat nya dan lo bisa tanyakan langsung padanya apa benar dia mamanya kak Abi! Dia ingin kamu dan Abi salah faham Nay!"
"Gue bakal buktiin omongan lo!"
Sepanjang pelajaran Sanaya terus memikirkan ucapan Riska. Bahkan ia tidak bisa konsentrasi dengan soal ulangannya. Ia sampai mengumpulkan di urutan yang terakhir. Sepertinya pertanyaannya memang tidak begitu sulit tapi karena memang tidak belajar sebelumnya dan juga tidak terlaku konsentrasi, bahkan soal yang mudah pun dia kesulitan untuk menjawabnya.
Setelah memasukkan semua peralatan sekolahnya ke dalam tas, Sanaya pun segera meninggalkan bangkunya. berbeda dengan teman-teman nya yang lain yang masih betah di dalam kelasnya. Ia memilih buru-buru keluar.
Langkahnya sedikit terburu-buru, ia harus segera mendapatkan bus untuk menuju ke alamat yang di tunjukkan oleh Riska. Ia begitu penasaran dengan wanita yang di katakan sebagai ibunya Abimanyu.
Bug
"Aughhh ....!" pekiknya saat tampa sengaja ia menabrak seseorang karena kurang hati-hati.
"Maaf gue nggak sengaja!" ucap Sanaya sambil kembali bangun tanpa menatap siapa di depannya.
"Sengaja pun juga nggak pa pa!"
Kali ini Sanaya mengenali suara itu, "Adit!"
"Kenapa terburu-buru sekali?"
"Bukan apa-apa, gue hanya sedang ada urusan!"
Sanaya segera membersihkan rok abu-abunya dan kembali berjalan tapi Aditya masih mengikutinya.
"Kenapa ikutin gue sih Dit?" protes Sanaya.
"Karena ada yang lo bawa!" ucap Aditya dengan entengnya membuat Sanaya menghentikan langkahnya. Ia menoleh pada Aditya dan menatapnya tajam. Ia tidak tahu sudah membawa barangnya apa.
"Apa?"
"Hati aku ...!" ucapnya sambil menyentuh letak hatinya.
__ADS_1
"Issstttttt!"
Sanaya memilih melanjutkan langkahnya. Aditya pun memutuskan untuk terus mengejarnya.
"Katakan sesuatu yang membuat gue berhenti ngikuti lo!" ucap Aditya.
"Ayolah Dit, gue punya kehidupan sendiri, jadi jangan ikuti gue!"
"Tapi sayangnya lo bagian dari kehidupan lo, jadi bagaimana gue bisa pergi kalau bagiannya masih tertinggal!"
Sanaya menatap Adit dengan tatapan yang lebih melunak sekarang.
"Terserah lo lah!"
"Gue antar pakek motor ya?"
"Nggak, gue mau naik bus!"
"Baiklah!"
Akhirnya langkah mereka sampai juga di halte yang ada tepat di samping sekolah. Sudah banyak anak-anak yang mengantri di sana, kebanyakan bukan berasal dari sekolah mereka.
Seragam mereka berbeda dengan seragam yang di kenakan oleh Adit dan Sanaya.
Jelas saja sekolah mereka adalah sekolah untuk orang-orang elit, anak pejabat, pengacara ternama, pengusaha, artis. Jadi tidak heran jika teman-teman mereka memiliki kesibukan masing-masing.
Bahkan banyak dari mereka yang memang sudah menjadi artis atau model. Ada juga yang sudah di beri pendidikan sejak dini sebagai pengusaha seperti Sagara.
Setelah menunggu lima menit akhirnya bus sudah mulai terlihat dari ujung jalan. Hingga bus itu berhenti tepat di depan mereka. Anak-anak mulai berdesakan untuk masuk. Sanaya memilih urutan yang terakhir agar tidak perlu berdesakan dengan anak-anak lain.
Hingga akhirnya ia pun naik dan mengedarkan tatapannya mencari bangku yang masih kosong. Di urutan terakhir bangku itu masih kosong. Sanaya segera.melangkahkan kakinya menuju ke bangku itu hingga seseorang ikut duduk si sampingnya. Seseorang dengan seragam yang sama dengannya.
"Adit ...., ngapain ikut naik?"
"Nganter kamu!"
"Kan kamu bawa motor, ayo turunlah pumpung belum jauh!"
"Kan di sini ada kamu, masak aku suruh milih motor sih ketimbang kamu?"
"Lalu siapa yang jagain motor lo ntar?"
"Motor gue udah gede nggak perlu di jagain, mending jaga hati aja deh!"
Bersambung
NB :
Hallo semua, ada yang baru nih dari author. Author sendang mengikuti tantangan menulis dari noveltoon yaitu adaptasi komik menjadi novel. Komiknya berjudul Nona melawan dengan tuan muda.
Jadi novelnya juga aku buat judul sama sesuai permintaan noveltoon ya, tapi nam tokohnya sama pihak noveltoon suruh ganti, jadi aku ganti ya
Bisa di favorit nih sekarang juga. Kalau ada kesamaan alur, memang tuntutan dari sononya ya
*ini dia ...., di depan udah aku cantumkan kalau ini adaptasi komik ya,
Selamat membaca 🥰😘😘😘*
__ADS_1