My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 118


__ADS_3

Pasukan  Rendi datang di


waktu yang tepat. Setelah Agra dan Ara pergi. Mereka membantu divta melawan


para penjahat itu. Tapi sayang dua dari mereka berhasil lolos sebelum


kedatangan Rendi. mereka  mengejar Agra


dan Ara.


"kamu ..., tolong selamatkan Agra dan Ara ...." teriak Divta dengan sisa kekuatannya.


"mereka di mana?" tanya Rendi.


"Mereka lari ke ujung hutan ini, ada dua orang yang mengejarnya!" ucap Divta sebelum kehilangan kesadarannya.


"kalian ...., jaga tuan Divta, dan sebagian dari kalian ikut aku ...!" ucap Rendi memberi komando pada pasukannya.


Rendi pun meninggalkan Divta bersama beberapa anak buahnya. sedangkan dia bersama anak buahnya yang lain mengejar Agra dan Ara.


***


Agra yang menyadari masih ada yang mengejar mereka. Segera


menggendong kembali tubuh Ara. Ia menggunakan sisa tenaganya untuk terus


berlari menjauh dari mereka. Tapi tetap saja langkah Agra tak lebih cepat dari


mereka berdua.


Hingga langkah mereka terhenti di ujung tebing. Agra tak bisa lagi


berlari.


“mau lari kemana lagi kau ....” ucap kedua penjahat itu. diiringi dengan tawa puas karena berhasil mengejar mangsanya.


“tetap di sini sayang ....” Agra menurunkan Ara di bawah pohon.


“jika terjadi sesuatu denganku..., larilah ....”


“bby .....” Ara hanya bisa terus menangis.melepaskan tangan Agra.


“demi anak-anak kita ..., larilah ..., kau pasti bisa ...”


Agra mendekati dua pria itu. Ia mencari tempat yang sedikit luas


untuk bisa bertarung dengan mereka.


“ternyata kita dapat dua mangsa sekaligus. Bos pasti sangat


senang.” Ucap salah satu dari mereka dengan senyum yang tersamarkan dalam


gelap.


Mereka pun segera menyerang Agra. Agra masih bisa terus melawan


walaupun tampak sekali tubuhnya sudah sangat kuwalahan. Ia hanya bisa terus


berharap semoga pertolongan cepat datang. Hingga akhirnya Agra benar-benar


tumbang karena pisau salah satu dari mereka berhasil menembus kulit perutnya.


“bby ....” Ara yang menyaksikannya segera bangun dari duduknya, ia


berteriak sekuat tenaga, ia hendak berlari menghampiri Agra, tapi tangan Agra


memberi isyarat pada ara untuk segera pergi. Ara tak mau mendengarkan perintah


Agra, ia terus mendekati tubuh Agra yang tergeletak dengan gelak tawa para


penjahat itu.


“bagus ..., kemarilah manis ..., matilah bersama suami tercintamu


....hahaha....” seolah tak mendengar ucapan penjahat itu, Ara terus saja


menghampiri Agra.


Ara tak perduli lagi. Ia segera bersimpuh di samping tubuh Agra. Ia


meraih tengkut Agra, menjadikan tangannya sebagai bantalan.


“bby ..., bertahanlah ....” Ara terus saja menangis


“pergilah sayang ..., pergilah ...” Agra terus memaksa Ara untuk


meninggalkannya, tapi tetap saja Ara hanya menggeleng.


“ucapkan selamat tinggal pada dunia ....” Hingga tanpa Ara sadari


salah satu dari penjahat itu sudah menghunuskan pisaunya yang hendak di arahkan ke punggung Ara.


Agra menyadarinya ia mengerahkan kekuatannya untuk menangkis pisau


itu hingga tidak sampai menyentuh tubuh Ara. Ara yang terkejut hanya bisa


memeluk tubuh Agra yang sudah kembali bangun dengan menahan serangan penjahat


itu, ia terus menahan pisau itu. Rasa sakit di perutnya dan darah yang terus


mengalir seakan tak terasa lagi. ya ia pikirkan hanya bisa menyelamatkan istri dan anak-anaknya yang belum lahir.


“larilah dari sini sayang ..., selamatkan anak-anak kita ...” tapi

__ADS_1


Ara tetap keras kepala.


‘aku tidak mau ...” teriak Ara


Saat pisau hampir mengenai tubuh agra lagi. Tiba-tiba seseorang


menyerang penjahat itu dengan timah panas dari belakang. Orang itu adalah


Rendi.


Rendi menyerang dua penjahat itu dengan membabi-buta seorang diri. Tak memberi kesempatan pada anak buahnya untuk membantu. Rasa kesal bercampur khawatir telah membutakannya.


Hingga mereka berhasil dilumpuhkan.


“bby ...., bertahanlah ...” ara terus menangis sambil memeluk tubuh


agra yang sudah hampir kehilangan kesadarannya.


***


Ara terus menangis memeluk tubuh suaminya. Sara sakit di tubuhnya


tak di rasakan lagi.


“bby ..., jangan seperti ini, bangunlah kau menakutiku ....” ucap


Ara sambil mengguncang tubuh Agra yang sudah mulai kehilangan kesadaran.


“Agra ...” Rendi segera menghampiri Ara dan Agra dengan


tergesa-gesa setelah berhasil meringkus semua penjahat dan di serahkan pada


anak buahnya.


“bersabarlah Gra ..., pertolongan akan segera datang ...” ucapnya


tak kalah panik dari Ara. Apalagi saat melihat darah yang terus merembes dari


balik baju Agra.


Rendi pun menelpon seseorang.


tut tut tut


"hallo ...."


"lo kirim dokter terbaik lo ke rumah sakit dekat daerah X, secepatnya."


"bagaimana keadaan mereka? kalian sudah menemukannnya?" tanya dokter Frans khawatir.


"iya..., kami menunggu bantuan."


"baiklah bantuan segera datang."


Cukup lama, mereka harus menunggu satu jam hingga bantuan itu


datang lengkap dengan polisi dan ambulans. Karena medan yang cukup sulit dan


jauh dari pemukiman. Agra , ara dan Divta pun segera di larikan kerumah sakit


oleh ambulans. Sedangkan Rendi mengurus semuanya.


Mereka di bawa ke rumah sakit terdekat dari tempat itu. Setelah


menempuh perjalanan satu jam barulah mereka sampai juga di rumah sakit.


Beberapa perawat yang melihat kedatangan merekapun segera menghampiri. Dokter Frans pun sudah menunggu di sana, bersiap untuk menangani Agra dan


ara. Mereka di tempatkan di kamar yang sama karena Ara ngotot ingin tetap bersama Agra


. sedangkan Divta di rawat di ruang yang berbeda.


Agra masih belum sadarkan diri, begitu juga dengan Ara. Ternyata


tubuh Ara juga mulai melemah. Tak berapa lama Ratih yang mendengar kabar


mengenai Ara dan Agra ikut menyusul ke bogor. Menggunakan jet pribadinya.


“Rendi ...” Ratih yang baru datang segera menghampiri Rendi yang


sedang berada di depan ruang perawatan agra dan Ara.suara langkah kaki Ratih


yang tergesa-gesa menggema di lorong rumah sakit.


“dimana mereka?” tanyanya dengan wajah panik saat langkahnya baru


saja ia hentikan.


“sedang di tangani di dalam nyonya.” Jawab Rendi datar


“ya Tuhan, jangan biarkan hal buruk terjadi pada mereka. Putraku,


menantuku, cuu-cucuku ...”


“bersabarlah nyonya ..., dokter pasti melakukan yang terbaik.”


***


“bagaimana dengan Aruni? Apa kau sudah menanganinya?”


“sudah nyonya ..., beberapa polisi tadi sudah meringkusnya.”


“aku akan menghukumnya dengan sangat berat, beraninya dia menyakiti

__ADS_1


keluargaku ...” Ratih mengeratkan gigi-giginya. Amarahnya kembali meledak


hingga membuat Rendi semakin menunduk. Ya , selama hampir 30 tahun ia menganal


Ratih baru kali ini ia melihat kemarahan yang tampak begitu besar.


“bagaimana dengan Divta?” tanya Ratih tanpa menoleh ke arah Rendi,


karena matanya terus saja mengawasi pintu perawatan yang tidak segera terbuka.


“dia baik-baik saja nyonya, hanya ada beberapa luka ringan di


tubuhnya.”


Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Ratih untuk menghentikan


percakapannya bersama Rendi. Seorang dokter terlihat keluar dari ruangan


tersebut.


“bagaimana putra dan menantu saya dok?” Ratih segera menghampiri


dokter yang tidak di ketahui namanya itu dan bertanya dengan tergesa-gesa.


“putra anda sudah melewati masa kritis, kami sudah menghentikan


pendarahan di perutnya”


“lalu menantu saya? Cucu-cucu saya?”


“menantu anda masih sedikit syok sehingga kami harus memberikan


obat penenang, kandungannya sedikit melemah tapi kami akan tetap memantau


keadaannya, semoga baik-baik saja.”


“apa saya bisa menemui mereka?”


“tentu saja nyonya, tetapi mereka belum sadarkan diri. Jadi biarkan


mereka istirahat untuk sementara waktu.”


Ratih pun menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dirinya mengerti. Ia


dengan segera masuk ke dalam ruangan. Berjalan menghampiri ranjang dorong yang


nampak dua orang sedang berbaring di ranjang yang berbeda, ia berada di antara


keduanya.


Tangannya kini mengelus kepala putranya. Bibirnya menghujami begitu


banyak ciuman di puncak kepala putranya. Cairan bening menggenangi kedua sudut


matanya. Ratih benar-benar merasa takut. Perasaannya dan pikirannya dipenuhi


kecemasan yang berlebih. Ada trauma mendalam dalam dirinya.


“maafkan ibu nak ...”


Pandangan Ratih beralih menatap Ara yang juga terkulai lemas di atas


ranjang. Ia pun membawa tubuhnya mendekati menantunya, mengusap kepala


menantunya dengan sangat lembut dan mendaratkan beberapa ciuman di wajah


menantunya.


“maafkan ibu karena telah menempatkanmu dalam situasi seperti


ini...” Ratih terlihat begitu terpukul, air matanya tak juga mengering. Begitu


banyak penyesalan, hingga membuat ini semua terjadi.


Tapi menantunya tak juga kunjung membuka matanya. Di tengah


keheningan itu. Tiba-tiba pintu di ketuk. Ratih segera menghapus air matanya.


“masuklah ....” perintah Ratih. Muncul dari balik pintu, seorang


pria paruh baya yang selalu mendanpingi wanita itu selama ini. Dia adalah


Salman.


“maaf nyonya..., saya mengganggu waktu anda.”


“ada apa?”


“dokter ingin bicara dengan anda ...”


“baiklah ..., aku akan menemuinya, tolong kamu jaga di sini.”


“baik nyonya ...” Ratih pun segera beranjak dari duduknya. Ia


meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang ragu. Ia ingin melihat kedua


anaknya bangun, tapi dia juga harus segera tahu keadaan mereka melalui


keterangan dokter.


BERSAMBUNG


HAPPY READING 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2