
Pasukan Rendi datang di
waktu yang tepat. Setelah Agra dan Ara pergi. Mereka membantu divta melawan
para penjahat itu. Tapi sayang dua dari mereka berhasil lolos sebelum
kedatangan Rendi. mereka mengejar Agra
dan Ara.
"kamu ..., tolong selamatkan Agra dan Ara ...." teriak Divta dengan sisa kekuatannya.
"mereka di mana?" tanya Rendi.
"Mereka lari ke ujung hutan ini, ada dua orang yang mengejarnya!" ucap Divta sebelum kehilangan kesadarannya.
"kalian ...., jaga tuan Divta, dan sebagian dari kalian ikut aku ...!" ucap Rendi memberi komando pada pasukannya.
Rendi pun meninggalkan Divta bersama beberapa anak buahnya. sedangkan dia bersama anak buahnya yang lain mengejar Agra dan Ara.
***
Agra yang menyadari masih ada yang mengejar mereka. Segera
menggendong kembali tubuh Ara. Ia menggunakan sisa tenaganya untuk terus
berlari menjauh dari mereka. Tapi tetap saja langkah Agra tak lebih cepat dari
mereka berdua.
Hingga langkah mereka terhenti di ujung tebing. Agra tak bisa lagi
berlari.
“mau lari kemana lagi kau ....” ucap kedua penjahat itu. diiringi dengan tawa puas karena berhasil mengejar mangsanya.
“tetap di sini sayang ....” Agra menurunkan Ara di bawah pohon.
“jika terjadi sesuatu denganku..., larilah ....”
“bby .....” Ara hanya bisa terus menangis.melepaskan tangan Agra.
“demi anak-anak kita ..., larilah ..., kau pasti bisa ...”
Agra mendekati dua pria itu. Ia mencari tempat yang sedikit luas
untuk bisa bertarung dengan mereka.
“ternyata kita dapat dua mangsa sekaligus. Bos pasti sangat
senang.” Ucap salah satu dari mereka dengan senyum yang tersamarkan dalam
gelap.
Mereka pun segera menyerang Agra. Agra masih bisa terus melawan
walaupun tampak sekali tubuhnya sudah sangat kuwalahan. Ia hanya bisa terus
berharap semoga pertolongan cepat datang. Hingga akhirnya Agra benar-benar
tumbang karena pisau salah satu dari mereka berhasil menembus kulit perutnya.
“bby ....” Ara yang menyaksikannya segera bangun dari duduknya, ia
berteriak sekuat tenaga, ia hendak berlari menghampiri Agra, tapi tangan Agra
memberi isyarat pada ara untuk segera pergi. Ara tak mau mendengarkan perintah
Agra, ia terus mendekati tubuh Agra yang tergeletak dengan gelak tawa para
penjahat itu.
“bagus ..., kemarilah manis ..., matilah bersama suami tercintamu
....hahaha....” seolah tak mendengar ucapan penjahat itu, Ara terus saja
menghampiri Agra.
Ara tak perduli lagi. Ia segera bersimpuh di samping tubuh Agra. Ia
meraih tengkut Agra, menjadikan tangannya sebagai bantalan.
“bby ..., bertahanlah ....” Ara terus saja menangis
“pergilah sayang ..., pergilah ...” Agra terus memaksa Ara untuk
meninggalkannya, tapi tetap saja Ara hanya menggeleng.
“ucapkan selamat tinggal pada dunia ....” Hingga tanpa Ara sadari
salah satu dari penjahat itu sudah menghunuskan pisaunya yang hendak di arahkan ke punggung Ara.
Agra menyadarinya ia mengerahkan kekuatannya untuk menangkis pisau
itu hingga tidak sampai menyentuh tubuh Ara. Ara yang terkejut hanya bisa
memeluk tubuh Agra yang sudah kembali bangun dengan menahan serangan penjahat
itu, ia terus menahan pisau itu. Rasa sakit di perutnya dan darah yang terus
mengalir seakan tak terasa lagi. ya ia pikirkan hanya bisa menyelamatkan istri dan anak-anaknya yang belum lahir.
“larilah dari sini sayang ..., selamatkan anak-anak kita ...” tapi
__ADS_1
Ara tetap keras kepala.
‘aku tidak mau ...” teriak Ara
Saat pisau hampir mengenai tubuh agra lagi. Tiba-tiba seseorang
menyerang penjahat itu dengan timah panas dari belakang. Orang itu adalah
Rendi.
Rendi menyerang dua penjahat itu dengan membabi-buta seorang diri. Tak memberi kesempatan pada anak buahnya untuk membantu. Rasa kesal bercampur khawatir telah membutakannya.
Hingga mereka berhasil dilumpuhkan.
“bby ...., bertahanlah ...” ara terus menangis sambil memeluk tubuh
agra yang sudah hampir kehilangan kesadarannya.
***
Ara terus menangis memeluk tubuh suaminya. Sara sakit di tubuhnya
tak di rasakan lagi.
“bby ..., jangan seperti ini, bangunlah kau menakutiku ....” ucap
Ara sambil mengguncang tubuh Agra yang sudah mulai kehilangan kesadaran.
“Agra ...” Rendi segera menghampiri Ara dan Agra dengan
tergesa-gesa setelah berhasil meringkus semua penjahat dan di serahkan pada
anak buahnya.
“bersabarlah Gra ..., pertolongan akan segera datang ...” ucapnya
tak kalah panik dari Ara. Apalagi saat melihat darah yang terus merembes dari
balik baju Agra.
Rendi pun menelpon seseorang.
tut tut tut
"hallo ...."
"lo kirim dokter terbaik lo ke rumah sakit dekat daerah X, secepatnya."
"bagaimana keadaan mereka? kalian sudah menemukannnya?" tanya dokter Frans khawatir.
"iya..., kami menunggu bantuan."
"baiklah bantuan segera datang."
Cukup lama, mereka harus menunggu satu jam hingga bantuan itu
datang lengkap dengan polisi dan ambulans. Karena medan yang cukup sulit dan
jauh dari pemukiman. Agra , ara dan Divta pun segera di larikan kerumah sakit
oleh ambulans. Sedangkan Rendi mengurus semuanya.
Mereka di bawa ke rumah sakit terdekat dari tempat itu. Setelah
menempuh perjalanan satu jam barulah mereka sampai juga di rumah sakit.
Beberapa perawat yang melihat kedatangan merekapun segera menghampiri. Dokter Frans pun sudah menunggu di sana, bersiap untuk menangani Agra dan
ara. Mereka di tempatkan di kamar yang sama karena Ara ngotot ingin tetap bersama Agra
. sedangkan Divta di rawat di ruang yang berbeda.
Agra masih belum sadarkan diri, begitu juga dengan Ara. Ternyata
tubuh Ara juga mulai melemah. Tak berapa lama Ratih yang mendengar kabar
mengenai Ara dan Agra ikut menyusul ke bogor. Menggunakan jet pribadinya.
“Rendi ...” Ratih yang baru datang segera menghampiri Rendi yang
sedang berada di depan ruang perawatan agra dan Ara.suara langkah kaki Ratih
yang tergesa-gesa menggema di lorong rumah sakit.
“dimana mereka?” tanyanya dengan wajah panik saat langkahnya baru
saja ia hentikan.
“sedang di tangani di dalam nyonya.” Jawab Rendi datar
“ya Tuhan, jangan biarkan hal buruk terjadi pada mereka. Putraku,
menantuku, cuu-cucuku ...”
“bersabarlah nyonya ..., dokter pasti melakukan yang terbaik.”
***
“bagaimana dengan Aruni? Apa kau sudah menanganinya?”
“sudah nyonya ..., beberapa polisi tadi sudah meringkusnya.”
“aku akan menghukumnya dengan sangat berat, beraninya dia menyakiti
__ADS_1
keluargaku ...” Ratih mengeratkan gigi-giginya. Amarahnya kembali meledak
hingga membuat Rendi semakin menunduk. Ya , selama hampir 30 tahun ia menganal
Ratih baru kali ini ia melihat kemarahan yang tampak begitu besar.
“bagaimana dengan Divta?” tanya Ratih tanpa menoleh ke arah Rendi,
karena matanya terus saja mengawasi pintu perawatan yang tidak segera terbuka.
“dia baik-baik saja nyonya, hanya ada beberapa luka ringan di
tubuhnya.”
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Ratih untuk menghentikan
percakapannya bersama Rendi. Seorang dokter terlihat keluar dari ruangan
tersebut.
“bagaimana putra dan menantu saya dok?” Ratih segera menghampiri
dokter yang tidak di ketahui namanya itu dan bertanya dengan tergesa-gesa.
“putra anda sudah melewati masa kritis, kami sudah menghentikan
pendarahan di perutnya”
“lalu menantu saya? Cucu-cucu saya?”
“menantu anda masih sedikit syok sehingga kami harus memberikan
obat penenang, kandungannya sedikit melemah tapi kami akan tetap memantau
keadaannya, semoga baik-baik saja.”
“apa saya bisa menemui mereka?”
“tentu saja nyonya, tetapi mereka belum sadarkan diri. Jadi biarkan
mereka istirahat untuk sementara waktu.”
Ratih pun menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dirinya mengerti. Ia
dengan segera masuk ke dalam ruangan. Berjalan menghampiri ranjang dorong yang
nampak dua orang sedang berbaring di ranjang yang berbeda, ia berada di antara
keduanya.
Tangannya kini mengelus kepala putranya. Bibirnya menghujami begitu
banyak ciuman di puncak kepala putranya. Cairan bening menggenangi kedua sudut
matanya. Ratih benar-benar merasa takut. Perasaannya dan pikirannya dipenuhi
kecemasan yang berlebih. Ada trauma mendalam dalam dirinya.
“maafkan ibu nak ...”
Pandangan Ratih beralih menatap Ara yang juga terkulai lemas di atas
ranjang. Ia pun membawa tubuhnya mendekati menantunya, mengusap kepala
menantunya dengan sangat lembut dan mendaratkan beberapa ciuman di wajah
menantunya.
“maafkan ibu karena telah menempatkanmu dalam situasi seperti
ini...” Ratih terlihat begitu terpukul, air matanya tak juga mengering. Begitu
banyak penyesalan, hingga membuat ini semua terjadi.
Tapi menantunya tak juga kunjung membuka matanya. Di tengah
keheningan itu. Tiba-tiba pintu di ketuk. Ratih segera menghapus air matanya.
“masuklah ....” perintah Ratih. Muncul dari balik pintu, seorang
pria paruh baya yang selalu mendanpingi wanita itu selama ini. Dia adalah
Salman.
“maaf nyonya..., saya mengganggu waktu anda.”
“ada apa?”
“dokter ingin bicara dengan anda ...”
“baiklah ..., aku akan menemuinya, tolong kamu jaga di sini.”
“baik nyonya ...” Ratih pun segera beranjak dari duduknya. Ia
meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang ragu. Ia ingin melihat kedua
anaknya bangun, tapi dia juga harus segera tahu keadaan mereka melalui
keterangan dokter.
BERSAMBUNG
HAPPY READING 😘😘😘😘😘
__ADS_1