
Mungkin masa lalu memang bisa menyakitkan. Tetapi kamu tetap bisa memilih untuk lari atau belajar darinya
****
Ara hanya terduduk lemas di depan ayahnya, ayahnya masih enggan untuk
bicara , ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi, ayahnya begitu kecewa padanya. Putri yang selama ini menjadi kebanggaannya ternyata sudah mempermalukan keluarganya.
“Ayah ini tidak benar yah, maafkan aku” Ara berusaha untuk menjelaskan semuanya, ia duduk bersimpuh di kaki
ayahnya hingga air mata pun tak mampu terbendung, ia benar-benar terluka melihat ayahnya mendiamkannya, tak apa jika orang lain yang menganggapnya butut tapi jangan ayahnya.
“ayah kecewa sama kamu, ayah tidak pernah mengajarkan hal buruk itu padamu!” ayah Roy sama sekali tak mau memandang putrinya itu.
"tapi ayah aku bisa jelaskan, ini tak seperti itu, semuanya tak sesuai kenyataannya, ini hanya salah paham ....!" ara bersimpuh di kaki ayahnya yang sedang duduk, ia tidak tahu bagaimana lagi cara menjelaskan pada ayahnya.
"Ada apa ini?" nadin yang baru masuk begitu terkejut melihat ayah dan kakaknya yang tidak sehangat seperti biasa.
"Ada apa?" Nadin menatap Kaka dan ayahnya bergantian.
"ayah jelaskan padaku ..." Nadin ikut bersimpuh di kaki ayahnya di samping Ara, ia tidak mungkin membiarkan hubungan ayah dan kakaknya hancur karena alasan yang tidak jelas.
"kakak tolong jelaskan padaku ..." Nadin beralih pada kakaknya, ia memegang tangan kakaknya, meminta penjelasan pada kakaknya.
"Besok kakakmu akan menikah ..." ucap Roy dengan begitu dingin, setelah mengatakan itu, Roy beranjak dari duduknya dan meninggalkan kedua putrinya. Nadin menatap kakaknya tak percaya.
"Ayah ...., maafkan aku ..." Ara hanya bisa menangis, ia tak punya kekuatan lagi untuk menyusul ayahnya, semuanya sudah hancur, hancur sehancur hancurnya.
"Kakak, jelaskan padaku apa yang terjadi?" Nadin masih setia di samping Ara, mengusap air mata kakaknya itu.
"ini hanya salah paham, percayalah padaku" ara menggenggam tangan adiknya sambil terus menangis. "Kamu percaya kan sama kakak?"
"iya kak, tapi salah paham apa? jelaskan padaku" Nadin semakin di buat bingung, salah paham seperti apa yang di maksud kakaknya itu.
"ini tak seperti yang mereka pikir" suara Ara semakin melemah, ia sudah putus asa. rasanya pembelaannya pun tak akan ada gunanya.
"iya kak, tapi jelaskan padaku, agar aku bisa membantu" Nadin pun memeluk kakaknya memberi rasa tenang pada kakaknya.
Ara mengusap air matanya, melepas pelukan pada adiknya, ia menatap adiknya dengan penuh keyakinan.
"Dek, aku harus pergi sebentar, jaga ayah ya " Ara pun langsung melepaskan diri dari pelukan adiknya dan beranjak dari duduknya, ia meraih tas kecil juga ponselnya
"kakak mau kemana?" teriak Nadin saat Ara sudah keluar meninggalkan rumah.
__ADS_1
"aku keluar sebentar, ada yang ingin kakak urus, aku pinjam motornya ya " Ara kembali masuk ke dalam rumah, ia pun menyambar kontak motor di meja dan berlalu meninggalkan rumah
***
Setelah kepergian Ara, Nadin pun mencari-cari keberadaan ayahnya, ia begitu mencemaskan ayahnya,
"Yah kemana lagi?" ia sudah memeriksa seisi rumah, tapi ia tak menemukan ayahnya di dalam rumah, kemudian ia mencari di toko
"kak, lihat ayah nggak?" Nadin bertanya pada pegawai ayahnya.
"Tadi aku lihat ayah mbak ke taman belakang rumah" ucap pegawai itu.
"baik terima kasih kak" Nadin pun segera menuju taman kecil dibelakang komplek rumahnya
Ia begitu lega saat mendapati ayahnya sedang duduk di sebuah bangku, sambil mengawasi anak-anak yang sedang bermain bola.
"ayah ..." Roy menoleh sebentar ke sumber suara dan kembali fokus pada anak-anak yang sedang bermain bola.
"duduklah ..." Nadin pun segera duduk di samping ayahnya dan ikut melihat anak-anak yang sedang bermain bola
"nggak terasa waktu berjalan begitu cepat, putri-putri ayah sekarang sudah dewasa, rasanya baru kemarin ayah menggendong, menimang kalian, bersama ibu kalian, memanjakan kalian"
"ayah ..., kami tetap putri kecil ayah sampai kapanpun yah ..." Nadin menyandarkan kepalanya ke pundak ayahnya, begitu nyaman, pundak itu yang selalu menjadi penopang di saat mereka terluka, pundak yang selalu memberi kekuatan dan kenyamanan.
"Apa benara kakak akan menikah?" Nadin menanyakan kejelasan omongan ayahnya tadi dan Roy hanya mengangguk.
"Dengan siapa yah?"
"Agra, bos kakakmu"
"kak Agra?"
"iya"
"kok bisa, bukankah kakak baru putus sama kak Dio, dan sekarang aku kira akan berlabuh pada kak rendi, tapi kenapa sekarang jadi kak Agra?" gumam Nadin tapi masih bisa di dengar oleh ayahnya
"Sudah jangan di pikirkan, ayo pulang ...." Roy mengusap puncak kepala putrinya dan menggandeng tangannya mengajaknya pulang
"Setelah ini buatkan ayah kopi yang paling enak, ayah rindu kopi buatan mu"
"ah ..., ayah ini lebay ..."
Karena Nadin, ayah Roy bisa kembali tersenyum, setidaknya ia bisa melupakan sebentar masalah berat yang akan di hadapi keluarganya.
__ADS_1
****
Ara pun sampai di depan gedung perkantoran milik Agra, ia memarkirkan motornya di tempat parkir karyawan, setelah melepas helmnya ia pun berlari menuju ke lobi kantor , dan tepat di sana ada orang yang sedang di carinya
agra sedang berjalan dengan beberapa jajaran direksi. Dengan langkah cepatnya, Ara sedikit berlari menghampiri Agra.
"pak agra ...., kita harus bicara" ia berteriak tanpa mempedulikan orang di sekeliling memperhatikannya, mungkin mereka akan mengatakan beraninya dia berkata seperti itu di depan bis besar itu.
"Permisi, saya ada urusan sebentar, kalian bisa melanjutkan pekerjaaan kalian" Agra meminta ijin para doreksi, dan orang orang berjas itu segera meninggalkan Agra dan Ara. Agra menatap tajam pada Ara.
"ada apa?"
"aku ingin bicara"
"ikut aku" agra menarik tangan Ara keluar dari gedung menuju ke halaman, tepat di bawah pohon besar itu agra menghentikan langkahnya
"ada apa?"
'besok ibumu menyuruh kita menikah, kenapa kau bisa setenang ini?"
"memangnya aku harus apa?" agra berteriak meninggikan suaranya membuat ara kehilangan keberaniannya
"memangnya aku harus salto, atau berlari keliling lapangan, atau menangis sehari semalam"
"kenapa jadi kau yang marah?"
"aku memang terlalu pengecut, aku ini cuma boneka, aku nggak bisa mempertahankan hidupku sendiri, kau puas ...'
"percuma ngomong sama kamu, aku pergi ..." ara meninggalkan agra dengan rasa kecewa karena bukannya mendapatkan pertolongan malah agra memarahinya
"Maafkan aku ...., karena kau harus masuk ke dalam kehidupanku yang rumit ini." gumam Agra setelah Ara pergi.
Bersambung
karena hidup bergerak terlalu cepat. Kalau kamu tidak berhenti dan sesekali melihat sekelilingmu maka kamu bisa melewatkannya.
jangtan lupa LIKE dan KOMENTARNYA ya, kasih Vote juga yang banyak ya ......
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘
__ADS_1