
Jalanan yang cukup sepi itu menjadi saksi awal perjuangan cinta
mereka
Di tengah teriknya mentari, Agra tak pernah lelah menanyakan
keadaan istrinya, pandangannya sesekali melihat sekeliling seperti menanam
dengan begitu dalam kenangan yang telah tercipta sebelumnya
“kita naik angkot tak apa ya ...?” tanya Agra pada Ara, dan Ara
hanya bisa mengangguk, mereka berjalan cukup jauh menuju ke jalan raya
"maafkan aku sayang" ucap Agra beberapa kali
"aku tak apa ...."Ara menjawab dengan senyum lembutnya, ia terus berjalan berlarian seperti kupu-kupu
“capek ya ...” Agra merasa tak tega melihat Ara yang sudah
bermandikan keringat karena harus berjalan kaki di tengah hari seperti ini
“tidak ...., ini menyenangkan, aku sudah lama sekali rasanya tak
seperti ini..., ini menyenangkan sekali” jawab Ara menutupinya, supaya Agra tak
terlalu menghawatirkannya
Hingga sampai di unjung jalan, tepat saat angkot sedang lewat, Agra
segera melambaikan tangannya untukmu k menghentikannya dan ia terus mengandeng tangan istrinya, mengajak Ara untuk masuk,
mungkin ini bukan yang
pertama buat Agra naik angkot, tapi itu sudah sangat lama membuatnya sedikit
harus belajar membiasakan diri
Mereka menuju ke pinggiran kota jakarta, setelah sampai pada
tujuannya, Agra dan Ara segera turun dari angkot
“kamu duduk di sini dulu ya” Agra menyuruh Ara untuk duduk di
sebuah kursi taman yang memang lokasinya tidak jauh dari lokasi jalan raya
“kamu mau kemana Gra?” Ara memegang tangan Agra dengan khawatir ,
Agra pun menghentikan langkahnya dan kembali berjongkok di depan Ara
“aku mau cari kontrakan dulu, kamu nggak papa kan aku tinggal di sini
sebentar, hubungi aku jika ada apa-apa” Ara pun hanya bisa mengangguk dan
membiarkan Agra pergi
Cukup lama Agra meninggalkan ara sendiri, di tengah menunggu Agra
kembali tiba tiba ponselnya berdering, notifikasi pesan masuk
Kling
Rendi
__ADS_1
nona, bagaimana keadaan pak Agra?
Ara
Baik
Rendi
Tolong jaga pak Agra, saya percaya pada nona
“sayang ...” sebuah suara tiba-tiba menghentikannya, tanpa
diketahui Ara, Agra sudah kembali
“dari siapa sayang?”
“e ..., itu ... anu ..., dari temen, gimana dapat?” Ara mencoba
mengalihkan perhatian Agra supaya tidak curiga
“sudah dapat, ayo sayang ...” Agra pun langsung menarik tangan Ara
sambil menenteng tas yang berisi pakaian mereka
Mereka pun sampai di depan sebuah rumah mungil dengan cat warna
biru muda tampak begitu asri dengan beberapa pot bunga di depannya
“ini rumah siapa mas?”
“ini rumah kita sayang ..., tidak papa ya kita tinggal di rumah
kecil ini untuk sementara”
“terimakasih sayang” Agra pun langsung memeluk Ara, ia merasa
beruntung karena istrinya bisa menerimanya apa adanya
“ya udah ayo kita masuk sayang” Agra pun melepas pelukannya dan
membuka pintu,
mereka pun menyusuri
ruangan, di sana ada ruang tamu yang masih kosong tak ada meja maupun kursi
hanya ada tikar,
ruang tamu langsung
terhubung dengan dapur kecil 3 x 2 meter dan sebelahnya ada kamar mandi dengan
bak kecil dan gayung yang jadi satu dengan toilet dengan ukuran yang lebih
kecil dari dapur,
di samping kanan ada sebuah pintu yang ternyata pintu kamar, ya
hanya ada satu kamar di sama dengan ukurang 3x3 meter dtanpa dipan , hanya ada
sebuah kasur spon dan lemari plastik yang tampak masih baru
“gimana sayang kamu suka?”
__ADS_1
“aku suka Gra, ini ... semuanya baru?” Ara sambil menunjuk ke arah
lemari plastik dan kasur spon di hadapannya
“iya maaf tadi aku terlalu lama karena harus membeli semuanya”
“kenapa nggak belinya bareng aku aja ...., kamu belinya di mana?”tanya
Ara menyelidik
“di pasar ...”
“tuh kan di pasar ..., harusnya ngomong dulu sama aku, kita
belanjanya sama-sama”
“kenapa? Kamu nggak suka?”
“kamu kan nggak tahu pasar itu seperti apa, orang yang nggak biasa
ke pasar bisa kena tipu, seharusnya harganya murah di jual mahal, kita har4us
jeli kalau mau beli”
Hahahaha
Tapi Agra malah tertawa mendengar kecrewetan istrinya
“kenapa tertawa ...?”
‘aku Cuma beruntung saja, untung saja cerewetmu ini nggak lupa dan
tertinggal di sana” Agra gemas sambil mencubit kedua pipi istrinya
“aku bicara sungguhan, bukan becanda ...”
“iya ... sayang, aku tahu, jangan lupa aku pernah tinggal di panti,
masalah pasar, jangan salah, aku dulu rajanya pasar ...”
“sombong ya ....”
“bukan sombong...., Cuma membanggakan diri aja ...”
“aku merasa tak berguna kalau kayak gini.....” Ara kembali murung
“berhenti berkata seperti itu sayang, dengan senyummu saja aku itu
sudah cukup membantuku sayang, senyummu itu bagaikan bahan bakar pemacu buat
semangat aku, jadi tetaplah tersenyum untukku”
“ah ... jadi tambah sayang dech ...” Ara pun bergelayut manja di
tangan Agra
“sayang jangan menggoda ya ..., apa kita lakukan sekarang sayang ,
kita coba kasur ini” tanpa menunggu persetujuan Ara, Agra pun sudah lebih dulu
menindih tubuh Ara, sore ini mereka berolah raga dengan sangat panas
**maaf ya hari ini up nya cuma sedikit, karena banyak nya pekerjaan di alam nyata
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan like dan komentar nya ya**