
Agra pun meninggalkan ruangan itu, tanpa mempedulikan ucapan Divta. ia mencari keberadaan Rendi
di ruangannya, tapi tak menemukannya.
saat kakinya baru saja mencapai halaman
kantor, nyaris masuk ke dalam mobil yang terparkir di sana, suara seseorang
yang tak asing dari kejauhan tiba-tiba meneriaki dirinya. Agra pun menoleh ke
sumber suara.
“bang Divta ...” Agra terkesiap saat melihat Divta menyusulnya
“ada apa lagi bang ...?”
“ijinkan aku ikut ..., aku akan membantumu ...., kita cari bersama-sama ..., aku mohon ....”
“baiklah ...” Agra menyetujui permintaan Divta.
Agra tergesa-gesa masuk ke dalam mobil. Ia memilih meninggalkan kantor dengan mengendarai mobil kantor, ia
menyusuri jalan berharap bisa segera menemukan istrinya.
Ia memacu mobilnya
dengan kecepatan tinggi untuk mencari Ara yang tidak di ketahui keberadaannya.
Berulang kali Agra berusaha menghubungi ponsel Ara, tetapi nomor istrinya itu
tidak aktif.
Sebuah pesan masuk ia terima saat ponselnya baru saja membunyikan
nada dering singkat. Agra kembali meraih ponselnya yang sempat ia taruh di
dalam dasbot mobil. Pesan singkat dari Rendi. Ia mengirimkan foto sebuah mobil warna
hitam yang terparkir di depan rumah yang nampak tidak terawat.
“pesan dari siapa?” tanya Divta saat menyadari ada kerutan di dahi
Agra.
“apa abang kenal tempat ini ?” Agra menunjukkan ponselnya pada
Divta. Ia menghentikan sejanak mobilnya di tepi jalan untuk ikut mengamati.
Saat mereka berdua sedang konsentrasi mengamati gambar itu,
tiba-tiba panggilan masuk dari Rendi membuyarkan konsentrasi mereka. Agra pun
segera menerima panggilan itu dan meletakkan benda pipih itu ke daun
telinganya.
“hallo, Rendi, apa maksud dari foto yang baru saja lo kirim?”
“Gra ..., foto itu di ambil oleh seseorang yang tidak sengaja
melihat Ara di culik. Karena orang itu tidak mau terlibat terlalu banyak ia
hanya mengirimi foto itu, kami akan mencari tahu tempat itu. Karena kata saksi
mata di taman memang Ara di bawa dengan mobil yang sama dengan mobil dalam
foto.”
Agra membisu dengan rasa kecemasannya yang semakin besar,
membayangkan Ara berada di tempat itu dengan orang-orang jahat itu.
“hallo, Gra ..., lo dengar gue ...?”
“ya aku mendengarnya, terus selidiki, jika ada kabar lo beri tahu
gue ...”
Suara Rendi menghilang saat Agra mengakhiri panggilan suara dari
__ADS_1
Rendi.
“sepertinya aku tahu tempat itu ....” tiba-tiba suara Divta
mengalihkan perhatian Agra, ia segera menatap kakak laki-lakinya itu.
“ya ..., aku ingat ..., itu adalah villa lama kami di bogor
yang sudah lama sekali tak terawat, di
lihat dari bentuk bangunannya sepertinya iya , karena sudah 15 tahun kami tidak
menempatinya.” Ucap Divta meyakinkan Agra.
“baiklah, ayo kita ke bogor ....”
Agra hendak melanjutkan kembali NIATNYA UNTUK MENCARI Ara berebekal
keterangan dari Divta. Namun, sebuah pesan singkat ia terima lagi, kali ini
bukan dari Rendi. Melainkan dari .... Aruni.
“Agraku sayang, Agraku malang, sebenarnya aku tak bermaksud berbuat
kejam padamu, tapi kamu yang memulainya, maka jangan salahkan aku jika aku
lakukan ini, bersiaplah ucapkan selamat tinggal pada istrimu tercinta, sebelum
dia benar-benar pergi~ Aruni
Jantung Agra seketika mencelus. Pesan singkat itu begitu menakuti
dirinya. Divta yang berada di sampingnya segera mengambil ponsel milik Agra,
dan ikut membacanya.
“mama ...” Divta mengeratkan giginya. Ia mencoba menghubungi nomor
ponsel mamanya, ibu yang telah melahirkannya. Namun beberapa kali ia mencoba
menghubungi nomor mamanya, mamanya tetap tidak menjawab.
“mama ..., hal yang paling aku sesali saat ini adalah menjadi
telah di butakan dengan rasa sayangnya pada mamanya hingga selama ini
mengingkari kebenaran.
“Aruni ..., aku tidak akan memaafkanmu jika sesuatu terjadi kepada
istriku ...” Agra mengepalkan erat melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“ya Allah ..., tolong lindungi Ara, lindungi istriku .” bibir Agra
tak henti-hentinya melontarkan kata-kata itu selama dalam perjalanan. Kedua
matanya memerah, cairan bening merembes di kedua sudut matanya. Sedangkan Divta
sibuk mencari-cari lokasi melalui googlemap.
***
Ara yang tengah meringkuk di dalam kamar yang cukup besar tapi
tampak tidak terawat, tidak ada tali yang mengikat kaki dan tangannya. Ia
mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya lampu yang ada di dalam
ruangan. Ia memikirkan kembali apa yang terjadi padanya terakhir kali.ia
mengelus perutnya yang sedikit buncit.
‘aku di mana?” Ara mengamati sekelilingnya. Tak ada orang, tapi
samar-samar terdengar suara orang yang sedang berbincang, Ara pun segera
bangun, ia mendekati pintu yang hanya satu-satunya.
“itu suara siapa?” Ara menempelkan daun telinganya ke daun pintu
__ADS_1
berharap bisa mendengarkan obrolan mereka. Tapi nyatanya percuma.
Tak terasa keringat menetes deras dari pelipis Ara saat tiba-tiba
pintu terbuka dan menampilkan seseorang di balik pintu, wanita yang akhir-akhir
ini tidak asing baginya.
“nyonya ...” Ara segera memundurkan badannnya sambil terus
memegangi perutnya dengan sangat protektif.
“ya ..., kamu kaget sayang ....” ucapnya dengan senyum yang
terlihat begitu menakutkan. Ara pun segera melangkah mundur menjauh dari Aruni.
Hingga kakinya mengenai sesuatu di belakangnya, membuat tubuhnya terhuyung ke
belakang. Ara mencoba bangkit tapi tangan Aruni meraih dan menyeret tubuhnya.
Grep
“lepaskan nyonya ....” Ara berusaha memberontak dan melepaskan diri
dari Aruni. Tapi tetap saja tenaganya tak lebih besar.
Aruni mengambil tali dari tangan anak buahnya. Ia mengikat Ara di
kursi yang memang sudah di siapkannya.
“lepaskan aku nyonya ....” Ara terus meronta, memohon untuk di
lepaskan.
“tenang sayang, aku tidak akan cepat membunuhmu ..., aku akan
menyiksamu terlebih dulu ...” ucap Aruni setelah selesai mengikat tubuh Ara.
“lepaskan aku, jangan lakukan ini, kasihan anak-anakku ...”
“oh iya ..., kamu hamil ya ..., aku sampai lupa..., mungkin ini
akan jadi permainan yang sangat bagus...” Aruni tertawa dengan lantangnya, dan
mendekati Ara, ia memegang perut Ara dengan lembut tapi tetap saja menakutkan.
“jangan nyonya ..., jangan sakiti kami ....” Air mata Ara tak henti
menetes, dan benar saja, Aruni memberi remasan kecil di perut Ara, hingga Ara
menjerit kesakitan, membuat Aruni tersenyum puas. Setelah puas. Ia pun
melepaskan perut Ara.
“apa salah saya nyonya ..., jangan lakukan ini nyonya ...”
“kau dan anakmu memang tidak salah ..., tapi ini semua gara-gara
suamimu yang sudah kurang ajar, jadi terimalah hukumannya ...”
Aruni mengambil cambuk , dan mengarahkan beberapa kali cambukan ke
punggung Ara,
"auhggg ...., sakit nyonya .....!" Ara hanya bisa meraung kesakitan dengan terus menunduk berusaha melindungi perutnya agar tidak terkena cambukan.
"aku benar-benar puas ....., biar wanita sialan itu menangis darah, menangisi cucu dan menantunya yang mati di tanganku .... hahaha ...." Ratih tertawa puas.
Ara hanya bisa pasrah sambil menahan sakit yang teramat di punggungnya. Dia hanya bisa menangis dang berdo'a, semoga akan segera datang bantuan padanya.
Puas mencambuk tubuh Ara, Aruni melempar cambuknya lalu meninggalkan
Ara begitu saja bersama para anak buahnya. Punggung Ara yang awalnya putih
bersih kini berhiaskan garis-garis merah darah yang kontras dengan kulitnya.Ara
pun hanya bisa menangis kesakitan. Hingga ia kembali terlelap, entah itu karena
pingsan atau tertidur.
__ADS_1
BERSAMBUNG
HAPPY READING 😘😘😘😘😘