My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 116


__ADS_3

Agra pun meninggalkan ruangan itu, tanpa mempedulikan ucapan Divta. ia mencari keberadaan Rendi


di ruangannya, tapi tak menemukannya.


saat kakinya baru saja mencapai halaman


kantor, nyaris masuk ke dalam mobil yang terparkir di sana, suara seseorang


yang tak asing dari kejauhan tiba-tiba meneriaki dirinya. Agra pun menoleh ke


sumber suara.


“bang Divta ...” Agra terkesiap saat melihat Divta menyusulnya


“ada apa lagi bang ...?”


“ijinkan aku ikut ..., aku akan membantumu ...., kita cari bersama-sama ..., aku mohon ....”


“baiklah ...” Agra menyetujui permintaan Divta.


Agra tergesa-gesa masuk ke dalam mobil.  Ia  memilih meninggalkan kantor dengan mengendarai mobil kantor, ia


menyusuri jalan berharap bisa segera menemukan istrinya.


Ia memacu mobilnya


dengan kecepatan tinggi untuk mencari Ara yang tidak di ketahui keberadaannya.


Berulang kali Agra berusaha menghubungi ponsel Ara, tetapi nomor istrinya itu


tidak aktif.


Sebuah pesan masuk ia terima saat ponselnya baru saja membunyikan


nada dering singkat. Agra kembali meraih ponselnya yang sempat ia taruh di


dalam dasbot mobil. Pesan singkat dari Rendi. Ia mengirimkan foto sebuah mobil warna


hitam yang terparkir di depan rumah yang nampak tidak terawat.


“pesan dari siapa?” tanya Divta saat menyadari ada kerutan di dahi


Agra.


“apa abang kenal tempat ini ?” Agra menunjukkan ponselnya pada


Divta. Ia menghentikan sejanak mobilnya di tepi jalan untuk ikut mengamati.


Saat mereka berdua sedang konsentrasi mengamati gambar itu,


tiba-tiba panggilan masuk dari Rendi membuyarkan konsentrasi mereka. Agra pun


segera menerima panggilan itu dan meletakkan benda pipih itu ke daun


telinganya.


“hallo, Rendi, apa maksud dari foto yang baru saja lo kirim?”


“Gra ..., foto itu di ambil oleh seseorang yang tidak sengaja


melihat Ara di culik. Karena orang itu tidak mau terlibat terlalu banyak ia


hanya mengirimi foto itu, kami akan mencari tahu tempat itu. Karena kata saksi


mata di taman memang Ara di bawa dengan mobil yang sama dengan mobil dalam


foto.”


Agra membisu dengan rasa kecemasannya yang semakin besar,


membayangkan Ara berada di tempat itu dengan orang-orang jahat itu.


“hallo, Gra ..., lo dengar gue ...?”


“ya aku mendengarnya, terus selidiki, jika ada kabar lo beri tahu


gue ...”


Suara Rendi menghilang saat Agra mengakhiri panggilan suara dari

__ADS_1


Rendi.


“sepertinya aku tahu tempat itu ....” tiba-tiba suara Divta


mengalihkan perhatian Agra, ia segera menatap kakak laki-lakinya itu.


“ya ..., aku ingat ..., itu adalah villa lama kami di bogor


yang  sudah lama sekali tak terawat, di


lihat dari bentuk bangunannya sepertinya iya , karena sudah 15 tahun kami tidak


menempatinya.” Ucap Divta meyakinkan Agra.


“baiklah, ayo kita ke bogor ....”


Agra hendak melanjutkan kembali NIATNYA UNTUK MENCARI Ara berebekal


keterangan dari Divta. Namun, sebuah pesan singkat ia terima lagi, kali ini


bukan dari Rendi. Melainkan dari .... Aruni.


“Agraku sayang, Agraku malang, sebenarnya aku tak bermaksud berbuat


kejam padamu, tapi kamu yang memulainya, maka jangan salahkan aku jika aku


lakukan ini, bersiaplah ucapkan selamat tinggal pada istrimu tercinta, sebelum


dia benar-benar pergi~ Aruni


Jantung Agra seketika mencelus. Pesan singkat itu begitu menakuti


dirinya. Divta yang berada di sampingnya segera mengambil ponsel milik Agra,


dan ikut membacanya.


“mama ...” Divta mengeratkan giginya. Ia mencoba menghubungi nomor


ponsel mamanya, ibu yang telah melahirkannya. Namun beberapa kali ia mencoba


menghubungi nomor mamanya, mamanya tetap tidak menjawab.


“mama ..., hal yang paling aku sesali saat ini adalah menjadi


telah di butakan dengan rasa sayangnya pada mamanya hingga selama ini


mengingkari kebenaran.


“Aruni ..., aku tidak akan memaafkanmu jika sesuatu terjadi kepada


istriku ...” Agra mengepalkan erat melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


“ya Allah ..., tolong lindungi Ara, lindungi istriku .” bibir Agra


tak henti-hentinya melontarkan kata-kata itu selama dalam perjalanan. Kedua


matanya memerah, cairan bening merembes di kedua sudut matanya. Sedangkan Divta


sibuk mencari-cari lokasi melalui googlemap.


***


Ara yang tengah meringkuk di dalam kamar yang cukup besar tapi


tampak tidak terawat, tidak ada tali yang mengikat kaki dan tangannya. Ia


mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya lampu yang ada di dalam


ruangan. Ia memikirkan kembali apa yang terjadi padanya terakhir kali.ia


mengelus perutnya yang sedikit buncit.


‘aku di mana?” Ara mengamati sekelilingnya. Tak ada orang, tapi


samar-samar terdengar suara orang yang sedang berbincang, Ara pun segera


bangun, ia mendekati pintu yang hanya satu-satunya.


“itu suara siapa?” Ara menempelkan daun telinganya ke daun pintu

__ADS_1


berharap bisa mendengarkan obrolan mereka. Tapi nyatanya percuma.


Tak terasa keringat menetes deras dari pelipis Ara saat tiba-tiba


pintu terbuka dan menampilkan seseorang di balik pintu, wanita yang akhir-akhir


ini tidak asing baginya.


“nyonya ...” Ara segera memundurkan badannnya sambil terus


memegangi perutnya dengan sangat protektif.


“ya ..., kamu kaget sayang ....” ucapnya dengan senyum yang


terlihat begitu menakutkan. Ara pun segera melangkah mundur menjauh dari Aruni.


Hingga kakinya mengenai sesuatu di belakangnya, membuat tubuhnya terhuyung ke


belakang. Ara mencoba bangkit tapi tangan Aruni meraih dan menyeret tubuhnya.


Grep


“lepaskan nyonya ....” Ara berusaha memberontak dan melepaskan diri


dari Aruni. Tapi tetap saja tenaganya tak lebih besar.


Aruni mengambil tali dari tangan anak buahnya. Ia mengikat Ara di


kursi yang memang sudah di siapkannya.


“lepaskan aku nyonya ....” Ara terus meronta, memohon untuk di


lepaskan.


“tenang sayang, aku tidak akan cepat membunuhmu ..., aku akan


menyiksamu terlebih dulu ...” ucap Aruni setelah selesai mengikat tubuh Ara.


“lepaskan aku, jangan lakukan ini, kasihan anak-anakku ...”


“oh iya ..., kamu hamil ya ..., aku sampai lupa..., mungkin ini


akan jadi permainan yang sangat bagus...” Aruni tertawa dengan lantangnya, dan


mendekati Ara, ia memegang perut Ara dengan lembut tapi tetap saja menakutkan.


“jangan nyonya ..., jangan sakiti kami ....” Air mata Ara tak henti


menetes, dan benar saja, Aruni memberi remasan kecil di perut Ara, hingga Ara


menjerit kesakitan, membuat Aruni tersenyum puas. Setelah puas. Ia pun


melepaskan perut Ara.


“apa salah saya nyonya ..., jangan lakukan ini nyonya ...”


“kau dan anakmu memang tidak salah ..., tapi ini semua gara-gara


suamimu yang sudah kurang ajar, jadi terimalah hukumannya ...”


Aruni mengambil cambuk , dan mengarahkan beberapa kali cambukan ke


punggung Ara,


"auhggg ...., sakit nyonya .....!" Ara hanya bisa meraung kesakitan dengan terus menunduk berusaha melindungi perutnya agar tidak terkena cambukan.


"aku benar-benar puas ....., biar wanita sialan itu menangis darah, menangisi cucu dan menantunya yang mati di tanganku .... hahaha ...." Ratih tertawa puas.


Ara hanya bisa pasrah sambil menahan sakit yang teramat di punggungnya. Dia hanya bisa menangis dang berdo'a, semoga akan segera datang bantuan padanya.


Puas mencambuk tubuh Ara, Aruni melempar cambuknya lalu meninggalkan


Ara begitu saja bersama para anak buahnya. Punggung Ara yang awalnya putih


bersih kini berhiaskan garis-garis merah darah yang kontras dengan kulitnya.Ara


pun hanya bisa menangis kesakitan. Hingga ia kembali terlelap, entah itu karena


pingsan atau tertidur.

__ADS_1


BERSAMBUNG


HAPPY READING 😘😘😘😘😘


__ADS_2