
Sanaya memperlihatkan kertas itu dan menyerahkan kertas kecil itu.
“Ini apa?”
“itu ancaman dari anak yang ngefans sama lo!”
“Nggak usah di urusin, nih aku bawakan roti buat kamu, belum makan kan?”
“Baik banget sih kamu!” puji Sanaya.
Abimanyu hanya tersenyum tipis, dia suka Sanaya yang manis seperti itu.
Ia memilih duduk di depan bangku Sanaya, sebenarnya bohong jika ia tidak memikirkan siapa pengirim ancaman itu, tapi dengan dia memperlihatkan di depan Sanaya akan membuat gadis itu bertambah cemas.
"Bi!"
Abimanyu mengangkat kepalanya menatap ke arah Sanaya.
"Hmmm?"
"Apa yang menurut kalian buruk tentang Adit?"
Dia menanyakan itu padaku?
Abimanyu cukup terkejut karena dia tidak pernah berpikir jika Sanaya akan menanyakan itu padanya.
"Tuh kan kalian juga diam? Aku nggak ngerti jalan pikiran kalian, kenapa juga kalian membenci Adit padahal aku sama Adit hanya berteman biasa!"
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri apa penyebabnya, hal yang sama juga terjadi di pada pengirim kertas ini!"
"Maksudnya semacam jealous?"
"Sudah aku katakan, nanti kamu tahu sendiri! Aku ke kelas dulu ya, habiskan rotinya!" ucap Abimanyu, ia memilih berdiri dan meninggalkan Sanaya sendiri.
Gadis itu memegang roti di tangannya sambil terus menatap punggung Abimanyu yang menghilang di balik dinding kelas hingga kini tinggal terlihat sebagian kepalanya saja dari jendela.
Rumit ....., atau aku yang kurang peka .....
...****...
Bel sekolah berbunyi beberapa kali menandakan berakhirnya sekolah hari ini.
Pulang sekolah menjadi waktu yang paling di tunggu oleh setiap anak sekolah, karena setelah ini mereka bisa melakukan apapun
sebelum pulang kembali ke rumah nya masing-masing.
Gadis dengan kuncir kuda itu sudah berdiri di depan
gedung sekolah, ia akan mengganti pakaiannya tapi sebelum itu dia harus
meminta ijin pada kakak kembarnya itu.
“Nah itu dia …!” gumamnya lirih saat melihat yang di
tunggu-tunggu muncul menuruni tangga.
"Nay!" sapa anak laki-laki dengan wajah yang identik dengannya itu.
"Gara!"
“Ada apa? Ayo pulang!” ajak Gara tapi Sanaya mengibaskan tangannya cepat.
“Gue pulang belakangan!”
__ADS_1
Sagara mengerutkan keningnya, ia menyugar rambutnya ke belakang dan memperbaiki posisi tasnya yang hanya menggantung sebelah di bahu sebelah kirinya,
“Ada apa lagi, mau jalan lagi sama anak itu?”
“Kamu itu curigaan banget sih, lagian kalau aku jalan sama dia kenapa? Mom aja ngijinin!”
"Tapi aku nggak ngijinin!"
"Apa hak kamu?"
"Aku punya hak, karena aku kakak kamu!"
Ittttsssss, dia menggunakan kekuasaannya lagi ...., dasar diktaktor ....,
Sanaya terlihat begitu kesal. "Baiklah terserah kamu saja, tapi yang jelas aku bukan mau ketemu sama Adit!"
Maaf aku bohong, tapi memang benar aku tidak hanya bertemu dengan Adit, di sana juga ada Abi kan .....
“Trus?”
“Hari ini Abi kan tanding, aku mau kasih semangat sama dia!”
Sagara baru ingat jika memang hari ini sebenarnya jadwal nya tanding, tapi karena dirinya tidak ikut tanding kata pelatihnya ada yang menggantikannya. Anak dari tim lain yang memiliki kemampuan yang sama dengan dirinya.
“Yakin gara-gara itu!”
“Kalau nggak percaya ikut aja!”
Sebenarnya Sagara ingin sekali ikut, apalagi ia juga termasuk tim inti. Tapi hukumannya belum selesai, ia harus menyelesaikan
hukumannya sendiri. Lagi pula oma Ratih sudah menyiapkan pelatih khusus untuknya.
Sagara mengusap kepala adik kembarnya itu, “Jangan pulang telat!”
Sagara memilih pergi meninggalkan Sanaya, ia terpaksa pulang lebih dulu, ia tidak bisa melawan kemauan omanya untuk itu. Dari pada hukumannya bertambah, dia memilih untuk menurut saja.
Hehhhh, akhirnya ...., untuk oma baik ...., Sanaya tersenyum puas. Sedikit jahat untuk membuat semua baik-baik saja.
Sanaya mengedarkan pandangannya, ia menimang-nimang ke arah mana dia akan berjalan. Ia menimbang kamar mandi mana yang posisinya paling dekat dengannya saat ini.
"Yang dekat dengan kelas Gara aja deh!" gumamnya lirih, ia segera berjalan menyusuri tangga, sekolah itu terdiri dari tiga lantai dan kelas Gara juga Abimanyu ada di pantai dua.
"Awas Nay!" teriak seseorang membuat Sanaya menoleh ke sumber suara.
Tapi tiba-tiba saja .....
Srekkkkkkk
Tubuhnya berpindah dengan cepat, seseorang menarik tubuhnya dan ....
Bug
Terjatuh, sebuah pot yang terbuat dari tanah liat hampir saja menjatuhi tubuh Sanaya dari lantai atas.
"Aughhhhh!" keluh Sanaya saat merasakan sikunya sakit.
"Nay ...., bisa nggak berpindah dari atas tubuhku?"
Sanaya baru sadar jika tubuhnya menimpa tubuh anak laki-laki itu.
"Adit ...., maaf maaf ....!"
Dengan cepat Sanaya bangun dari tubuh Aditya.
__ADS_1
"Lo nggak pa pa?" tanya Aditya setelah bangun. Sepertinya punggungnya juga sakit karena menopang tubuh Sanaya.
"Nggak pa pa!"
Tapi mata Aditya menatap ke arah siku Sanaya yang berdarah karena terkena pecahan pot yang jatuh.
"Itu siku mu berdarah!"
"Cuka dikit, nggak pa pa!"
Aditya segera mencari sesuatu di dalam tasnya, akhirnya ia menemukan benda kecil itu.
"Pakek ini saja!" sebuah hansaplas berwarna coklat, Aditya segera menarik tangan Sanaya dan menutup lukanya dengan hansaplas.
Aditya mendongakkan kepalanya, ia memastikan jika tidak ada yang ganjal dengan insiden jatuhnya pot bunga itu.
Kecil sih tapi cukup bahaya jika mengenai kepala.
"Di sana siapa?" teriak Aditya saat seperti melihat bayangan seseorang di lantai tiga.
Sanaya ikut mendongakkan kepalanya, tapi tidak menemukan siapapun, mungkin orangnya sudah pergi.
"Siapa Dit?"
"Nggak tahu, nggak jelas!"
Jangan-jangan dia orang yang sama dengan yang mengirimkan surat kaleng tadi pagi ....., pikiran Sanaya tiba-tiba kembali ke ancaman surat kaleng tadi pagi.
"Kamu tahu sesuatu?" tanya Aditya saat melihat wajah Sanaya yang tiba-tiba cemas.
Aditya segera mengambil botol minumnya di tas dan menyerahkannya pada Sanaya. Sanaya dengan cepat meminumnya.
"Apa ada masalah?" tanya Aditya lagi saat melihat Sanaya sudah lebih tenang.
"Tidak pa pa, mungkin cuma kebetulan saja, lupakan! Bukankah kamu harus segera ke lapangan?"
"Nanti saja tidak pa pa!"
"Jangan begitu, aku juga mau ke kamar mandi untuk ganti baju, jadi kamu duluan saja!"
"Baiklah, aku duluan ya, hubungi aku jika terjadi sesuatu!"
"Iya!"
Aditya menepuk bahu Sanaya dan memastikan jika Sanaya baik-baik saja lalu berjalan meninggalkan Sanaya sendiri.
Sanaya tidak mungkin membicarakan tentang surat kaleng itu pada Aditya, anak itu tidak punya hubungan apapun dengannya.
Sanaya kembali mendongakkan kepalanya, sebenarnya siapa yang dengan sengaja menjatuhkan pot bunga itu. Atau memang pot itu terjatuh tanpa sengaja karena di terpa angin? Seingatnya di lantai tiga adalah lap bahasa dan ruang osis.
"Lupakan Sanaya, itu bukan unsur kesengajaan!" gumamnya mencoba berpikir positif.
Sanaya pun segera melanjutkan langkahnya untuk menuju ke kamar mandi. Suasana lantai dua sudah sepi, anak-anak sepertinya sudah meninggalkan kelasnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1