
Agra yang mendengar pintu terbuka segera meletakkan berkasnya di atas meja dan melihat ke arah pintu karena penasaran, tak ada yang
masuk ataupun meminta ijin untuk masuk. Senyumnya mengembang saat melihat wajah
imut yang berada di balik pintu itu.
“Sayang …, apa kau mencoba bermain-main dengan
papi!” ucap Agra sambil tersenyum pada putrinya itu.
“Pap ….., kenapa papi bisa tahu?” keluh Sanaya
sambil masuk ke ruangan papinya di ikuti oleh Ara, sebelum itu ia segera
menutup pintunya kembali.
“Papi bisa mengenalimu sayang walaupun itu dari kejauhan!” ucap Agra sambil berjalan mendekati putrinya itu dan segera
mengangkat tubuh mungil Sanaya, membawanya berputar-putar.
“Kau bawa apa untuk papi sayang?” Tanya Agra sambil memangku Sanaya.
“Mommy membuatkan kue untuk kita pap!”
“Ehmmmm …, aromanya harum sekali, papi jadi lapar!”
Ara segera mengeluarkan kue itu dan
memeotong-motongnya menjadi beberapa bagian.
“Mommy …, sepertinya kalau di suapi akan lebih enak, iya kan sayang?” Tanya Agra meminta pendapat pada putrinya itu.
“Papi manja ..!” ledek sanaya pada papinya.
Tapi Ara tanpa di minta pun menyuapi agra dan Sanaya bergantian, mereka menghabiskan makan siang sambil bercanda. Sungguh keluarga yang bahagia, bahagia itu sederhana.
“Nay kenyang mom …, Nay bosan di sini mom nay mau jalan-jalan. Apa boleh Nay ke tempatnya uncle Div, uncle Div di sini kan, pasti
ada dedek Divia!”
“Nanti kalau sendiri kesasar sayang!”
“Ya udah biar papi suruh, sekertaris papi ngantar kamu ketemu sama uncle Div!”
“Hore …!”
Akhirnya Agra meminta sekretarisnya untuk mengantar Sanaya ke ruangan Divta. Divta selalu membawa Divia ke kantor, ia tidak
membiarkan Divia jauh darinya.
Ara merebahkan tubuhnya di sofa, ia menyelonjorkan kakinya yang sedikit nyeri.
Setelah mengantar Sanaya menemui sekretarisnya, Agra segera
kembali masuk ke ruangannya, melihat istrinya sedang tiduran di sofa segera
menghampirinya.
“Sayang …, capek ya?” Tanya Agra sambil memijat kaki Ara, membuat Ara terkejut dan segera bangun dari tidurnya, ia duduk dan
menggeser tubuhnya agar suaminya juga bisa duduk.
“Kenapa malah bangun?” Tanya agra lagi sambil duduk di samping Ara.
“Nggak pa pa, tadi kakiku cuma nyeri sedikit saja!”
__ADS_1
“Apa saja yang kamu lakukan sebelum ke sini?” Tanya Agra.
“Harus cerita ya?”
“Kalau nggak keberatan sih, aku kan Cuma pengen tahu istriku melakukan apa saja selama jauh dari aku!”
“Baiklah …, my hubby ….!” Ara menakup wajah suaminya itu dengan penuh cinta.
“Jadi aku tuh nganter Sanaya ke sekolah, aku kan sudah bilang aku malas ketemu sama mak mak rempong itu, dan lagi pula aku udah janji
mau bikini kue buat kamu, jadi aku ke toko kue, aku buat kue, tapi aku di bantu
sama mbak Rini kok, beneran …!”
“Cuma itu?”
“Iya …, lalu aku jemput Nay lagi trus ke sini!”
“Cuma itu? Yakin nggak ada yang lain?”
Agra tahu tadi istrinya bertemu dengan seseorang di toko, tapi ia hanya ingin istrinya menceritakan sendiri padanya dan mengatakan
apa yang mereka bicarakan.
Ara menatap Agra penuh selidik, ia belum sadar jika suaminya itu mengetahui sesuatu. Tapi kemudian ia teringat pada percakapannya
dengan Viona.
“bby …!”
“Iya?”
“jangan marah ya!” ara begitu takut jika sampai Agra marah karena ia berbicara dengan Viona, ia begitu hati-hati.
“kenapa aku harus marah sayang? Katakana saja!”
“Aku sudah tahu!”
“Kamu tahu?” Tanya Ara terkejut dan Agra hanya mengangguk. Agra sudah mulai beraksi dengan tangannya, tangannya mulai tak mau
diam menjelajahi tubuh istrinya itu.
“Astaga …, seharusnya aku sudah menduganya!” keluh Ara karena melupakan sesuatu, ia tidak akan pernah bisa lepas dari pantauan suaminya, ada mata suaminya di manapun ia berada.
“Seharusnya kau bersyukur karena memiliki suami yang luar biasa!” ucap Agra dengan menyombongkan diri, wajah tengilnya kembali
muncul.
Ara berdecak. “bahkan sampai kata itu pun dia tahu!”
“Aku menarik ucapanku yang itu!” ucap Ara lagi.
“Mana bisa seperti itu, kata yang keluar seharusnya tidak bisa di tarik lagi!”
“Terserah aku, aku yang mengatakannya!”
“Tapi itu berhubungan denganku!”
Mereka kembali berdebat dan kemudian tertawa bersama. Menertawakan perdebatan tidak penting mereka, sesekali berdebat dan
kemudian kembali baikan.
Setelah selesai dengan tawa mereka, mereka pun kembali terdiam tapi tidak dengan tangan dan bibir Agra yang terus menjalar
kemana-mana.
__ADS_1
“Bby …!”
“Iya?”
“boleh nggak aku tanya sesuatu?”
“Tanya saja sayang!”
“Apa dulu kamu pernah melakukan hal ini pada nona Viona?”
Pertanyaan Ara berhasil membuat kegiatan yang di lakukan agra terhenti, ia menjauhkan bibirnya dari wajah istrinya itu, ia
menatap istrinya.
“Maksudnya?” bukannya belum mengerti maksud pertanyaan istrinya tapi saat ini ia hanya memastikan dengan apa yang di
tanyakan istrinya itu benar.
“Melakukan seperti yang kamu lakukan padaku,
maksudku ini …, gimana ya bicaranya?” Ara bingung sendiri harus memperjelas
bagaimana pertanyaannya.
“Melakukan hubungan suami istri?” akhirnya Ara tidak mau berputar-putar lagi.
Agra menatap istrinya, ia kemudian memejamkan
matanya. Mencoba menahan amarahnya, ia tidak mau sampai emosinya ia luapkan
pada istrinya, ia yakin jika Viona sudah bicara macam-macam pada istrinya.
“Viona yang mengatakannya?”
“Nggak …!” jawab Ara dengan cepat sambil
mengibas-kibaskan tangannya.
“Nggak …, bukan nona Viona yang mengatakannya, aku hanya …, hanya …!”
“Hanya apa?”
“Hanya penasaran saja!”
“Jangan suka menduga-duga hal yang belum tentu kebenarannya, kamu percaya kan sama aku?” Tanya Agra dan Ara pun menganggukkan
kepalanya.
“Aku tidak pernah melakukan apapun yang lebih selain
berciuman!”
“Iya …, aku percaya bby …!”
Seenggaknya ucapan suaminya saat ini sedikit
membuatnya tenang. Ia punya alasan untuk tetap percaya pada suaminya.
Sebuah kepercayaan akan membangun hubungan yang lebih baik dari pada kemewahan apapun, cintai dia sewajarnya
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘