
Akhirnya langkah Sanaya terhenti juga di depan kamar mandi yang juga sudah sepi, ia mengeluarkan sebuah kaos berwarna hitam dari dalam tasnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi wanita.
Ia melepaskan seragam putihnya dan menggantinya dengan kaos hitam polos lengan panjang itu.
Setelah itu ia melipat kembali kemeja putihnya dan memasukkannya ke dalam tas punggungnya yang memang besar.
Sebenarnya kehidupan Sanaya lebih beruntung karena hidupnya tidak begitu di atur seperti hidup saudara kembarnya, mungkin. Seingatnya seperti itu.
Hidupnya lebih ngalir seperti anak-anak seumurannya, dia boleh main, boleh berteman dengan siapa saja, hanya saja ada aturan yang memang tidak boleh di langgar.
Kini ia keluar dari kamar mandi
dengan kaos dan bawahan masih rok abu-abunya. Ia berhenti sebentar untuk merapikan penampilannya di depan cermin besar yang ada di kamar mandi.
Setelah memastikan rambutnya sudah rapi, ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.
Langkahnya terhenti saat di depan kamar mandi saat seseorang yang sangat ia kenal sedang berdiri di depannya.
Dia juga ada di sini? Apa jangan-jangan ....., Sanaya malah terbengong, ingatannya kembali ke kejadian yang baru saja terjadi. Bahkan ia sama sekali tidak berpindah dari tempatnya.
“Permisi!”
Ucapan anak perempuan itu menyadarkannya.
"Lo di sini?"
"Kenapa? Heran banget gue di sini. Ini kan sekolahku juga!"
"Lo ya yang kerjain gue?"
"Apaan sih lo, tiba-tiba nuduh kayak gitu!"
Mana mungkin dia bakal ngaku kalau dia yang nglakuin itu .....,
“hehhhh …, gue paling males kalau ketemu sama lo!
Bawaanya pengen marah aja!”
“Emang sekarang salah gue apa lagi?”
“Lo pasti yang udah naruh surat kaleng itu di laci gue kan? Lo juga kan yang udah dengan sengaja jatuhin pot itu”
“Tuduhan macam apa lagi si ini? Kenapa sih lo selalu berpikir buruk sama gue?”
“Karena lo emang buruk di mata gue!”
“Sudah gue bilang kan saat itu gue nggak sengaja, kenapa sih lo pendendam banget?”
“Karena gue udah baik banget dulu sama lo, tapi lo tega banget sama gue! Tapi ingat Riel, gue bukan Nay yang dulu yang suka ngalah sama lo!”
“Gue juga bukan Ariel yang dulu, harusnya lo ngerti dong! Kita sudah besar Nay,, bukan anak-anak lagi …!”
“Terserahlah …!”
Sanaya memilih pergi begitu saja dengan penuh kekesalan, ia meninggalkan Ariel yang masih berdiri di tempatnya.
"Ada apa sih dengan nya? Aku salah apa lagi coba?" gumam Ariel.
Ting
Tiba-tiba ponselnya berdering, ada notif pesan masuk. Ariel segera merogoh saku rok abu-abu nya dan mengambil benda pipih itu.
"Papa!"
Ariel segera menggeser layar ponselnya dan membuka pesan dari papa nya.
__ADS_1
//Sayang ..., papa sudah di depan//
Ariel pun segera mengetikan pesan balasan.
^^^//Iya pa, tunggu bentar ya, lima menit lagi pa//^^^
Ariel pun segera memasukkan kembali ponselnya, kali ini bukan ke saku roknya tapi ke dalam tasnya.
Ariel pun memilih mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi. Ia segera ke depan karena papa Jerry sudah menunggunya.
“Pa …!”
Ariel memeluk papanya dan menangis.
“Tuan putri papa kenapa nih?”
“Apa Ariel terlalu buruk pa, apa Ariel memang tidak pantas untuk di maafkan?”
“Cerita sama papa, ada apa?”
“Sanaya masih marah sama Ariel!”
“Memang kalian satu sekolah?”
Ariel pun menganggukkan kepalanya. Jerry tidak tahu jika sekolah baru putrinya itu mempertemukannya dengan teman masa kecilnya.
“Jangan khawatir sayang, kalau kamu nggak salah dan
bersikap baik pasti suatu saat mereka akan mengerti jika kamu sudah berubah!”
“Makasih ya pa!”
Ia tahu siapa yang di maksud putrinya itu, putri dari wanita yang pernah mengisi hatinya di masa kecil dan akan tetap seperti itu. Ara sudah menempati tempat yang paling istimewa di hatinya.
Ariel melepaskan pelukan papanya, ia tahu papanya pasti sedang mengingat kembali cinta masa lalunya. Sedikit banyak dia tahu apa yang terjadi dengan papanya.
“Iya sayang!"
"Papa tidak pa pa kan?"
"Enggak sayang, sekarang kita ke mana?”
“Mama menandatangi kontrak tanpa bertanya dulu sama
Ariel pa?”
“Lalu?”
“Ariel nggak mau pemotretan lagi!”
“Semua keputusan papa serahkan sama kamu sayang,
jika menurut kamu itu tidak baik buat kamu, jangan lakukan!”
“Tapi mama?”
“Nanti biar papa yang bicara!”
"Terimakasih ya pa!"
"Iya ...., ayo kita pulang dan makan siang, papa sudah masak makanan kesukaanmu!"
"Siap papa!"
Mereka pun masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan area sekolah. Ariel masih sangat baru, dia tidak punya banyak teman di sekolah jadi ia tidak ada kegiatan lain di luar sekolah bersama teman-teman barunya.
__ADS_1
...***...
Di tempat lain, Sanaya menuju ke gedung lapangan basket.
Di depan lapangan basket itu sudah banyak berkumpul anak-anak dengan seragam yang berbeda dari seragam. Sanaya sudah bisa menduga kalau itu pasti pendukung dari tim sekolah sebelah.
Di sisi lain juga ada anak-anak yang Sanaya kenal, mereka adalah pendukung tim basket sekolahnya.
Para anak-anak cirliders juga sudah bersiap dengan kostumnya.
Walaupun dia juga pendukung basket sejati tapi dia tidak begitu tertarik untuk ikutan cirliders.
Dia lebih memilih untuk duduk diam di tempatnya sambil menyaksikan pertandingan tanpa memperlihatkan sorak soray nya seperti anak-anak gadis lainnya.
Sanaya pun segera memasuki lapangan basket, kursi penonton masih sepi. Memang di luar masih sangat ramai, mereka sepertinya menunggu saat pertandingan di mulai.
Sanaya memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari tempat duduk yang paling di depan agar lebih jelas. Hari ini sedikit istimewa, ada orang lain yang juga ingin ia dukung selain Abi dan Gara.
Pertandingan kali adalah pertandingan persahabatan
dengan sekolah lainnya. Makanya diluar juga banyak anak-anak yang terasa asing untuk Sanaya.
Sanaya memilih tempat duduk di deretan paling depan, di belakang tempat duduk pemain.
Ia menoleh ke belakang, biasanya ia menyaksikan pertandingan bersama Riska, tapi belakangan ini anak.itu lebih memilih mendiamkannya.
"Hai Nay!" sapa beberapa anak perempuan yang menghampirinya.
"Hay!"
"Sendiri aja? Boleh kami duduk di samping kamu nggak?"
"Oh iya silahkan!"
Gadis-gadis itu adalah teman sekelas dengan Sagara dan Abimanyu.
"Gara nggak ikutan ya?"
"Nggak!"
Mereka adalah penggemar Sagara.
"Yah sayang sekali, padahal aku pengen liat dia tanding, dia sakit ya?"
"Enggak!"
Ini yang paling tidak di sukai oleh Sanaya berada di atara para penggemar Sagara. Mereka pasti akan sok akrab seperti ini.
Satu persatu pendukung dari sekolah lain berdatangan, begitu juga dengan pendukung dari sekolah mereka. satu persatu
pemain basket memasuki lapangan, sanaya bisa melihat Aditya dan juga Abimanyu
berbarengan dengan pemain yang lain.
Spesial visual Abimanyu
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰