
Ada pepatah
mengatakan “apakah rumput mengeluh saat mereka diinjak ?. Mereka baru menyerah
saat mereka dicabut”
Hidup yang engkau keluhkan terkadang adalah
hidup yang orang lain inginkan. Maka bersyukurlah.
***
Siang ini begitu terik tapi sayang karena gadis itu masih berada di
rumah saja, hawa AC menyelimuti tubuhnya
"mataharinya cerah sekali ....." gumam Ara sambil memandangi langit cerah
Ara merasa sangat bosan, ia hanya bisa berlari-lari di dalam rumah
besar itu, kakinya terasa kaku, gadis yang biasanya tidak bisa diam di satu
tempat harus terkurung di istana itu
Ingin rasanya Ara pergi ke kantor, bekerja seperti biasanya,berkutat
dengan pekerjaannya, menghadiri berbagai pertemuan dan pulang kembali ke rumah
pada waktu petang
Ara mengambil ponselnya mencari kontak seseorang, ia yakin sekarang sudah jamnya makan siang
tut tut tut
hanya sekali panggilan sudah langsung di angkat
"hallo ..., kenapa kau menelponku ...?" suara dari seberang sana
"kenapa kau berteriak ...?" Ara menjauhkan ponselnya dari telinga "dia suka selai berteriak" gerutu Ara
"kenapa? apa kau sudah merindukan aku? jika iya ...., aku akan segera pulang" Agra menggoda Ara dari balip ponselnya
"aku menyesal menelponmu ..."
"bilang saja kau merindukanku ...,"
"baiklah ....., aku ...."
"benrakan ....."
"kau menyebalkan ..." gerutu Ara sambil menutup telponnya sepihak, dan segera melempar kembali ponselnya ke atas meja kecil di depannya
sedangkan di kantor Agra telah tersenyum puas karena berhasil menggoda Ara
"dia menggemaskan sekali pasti ...., aku ingin melihat wajahnya yang merah itu ..." gumam Agra sambil menikmati makan siangnya
"anda tidak pa pa pak?" Rendi yang juga menikmati makan siangnya bersama Agra merasa penasaran
tapi agra hanya membalas dengan senyuman dan tetap melanjutkan makannya tanpa berkeinginan untuk menjawabnya
Ara yang sudah di buat kesal kembali uring-uringan
"dasar ...., bukannya membatu malah ...., mengejekmu ...."
"ini kenapa juga pipiku terasa panas ..." Ara memegangi pipinya yang terasa panas "ahhh ...., tidak-tidak ...., ini tidak boleh ..." Ara menggelengkan kepalanya keras sambil terus memegangi pipinya yang memerah, ada rasa yang aneh saat mendengarkan suara suaminya
rasa aneh itu menjalar begitu jantungnya bekerja lebih cepat, aliran darahnya seakan mengalir lebih cepat
"kau sudah gila Ara ......, berhenti seperti ini ..." Ara mengeluh pada dirinya sendiri
Dulu ia selalu mengeluh karena bosnya selalu memberi tugas yang
lebih hingga tak ada waktu untuk memanjakan diri
Jika melihat keadaannya sekarang , mungkin waktu itu bisa lebih di
syukuri karena ia bisa terbang bebas, tidak seperti sekarang bagai burung dalam
sangkar
Tapi memang hidup itu tiodak boleh selalu mengeluh, karena di dalam
keluh kesah itu akan terasa lebih berat
ia bukan tipe orang yang
hanya suka berdiam diri di rumah, walaupun segala fasilitas terpenuhi tak
membuatnya nyaman dengan keadaannya sekarang, bahkan kartu yang di berikan ibu
mertua dan suaminya tak pernah ia pakai sedikit pun, bukannya apa, ia seolah
tidak kekurangan apapun
bahkan baju yang sekarang ia kenakan merupana brend dunia, ia tidak
perlu menabung untuk memilikinya, baju itu sudah berjejer rapi di lemarinya,
__ADS_1
sepatu, tas semuanya sudah ada
tapi apapun keputusannya
saat ini tak bisa di putuskan sendiri, kini dia juga harus memikirkan Agra,suaminya,
walaupun tak ada cinta di antara mereka , tapi dengan seringnya mereka bersama
menyimpan ikatan tersendiri
kalau Cuma dia yang di usir
mungkin tidak apa- apa tapi kalau Agra juga ikut di usir bagaimana? Itulah yang
selalu ara pikirkan, ia sudah terbiasa hidup susah tapi Agra? Mungkin akan jadi
pukulan yang begitu berat
Apalagi ia juga pernah memeriksa berkas-berkas kantor mengenai
saham Agra yang ternyata hanya lima persen dan 95% nya milik keluarga Agra yang
belum di alihkan atas nama Agra
Tapi sekarang setidaknya Ara tahu jika mungkin alasannya karena
kakak beda ibu itu, mungkin masih ada kendala karena alasan itu, ada orang yang
sedang menginginkan kekuasaan ini
Apa jadinya kalau Agra juga ikut di usir, ia merasa Agra nggak akan
bisa hidup susah seperti dirinya, apalagi jika melihat Agra yang begitu menurut
kepada ibunya, mungkin ada masalah yang besar di dalamnya
Brerttt brertttt brerttt
Tiba-tiba ponsel yang bergetar menyadarkannya dari lamunan, ia
segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke meja kecil tempatnya menaruh
ponsel
*nomor tak dikenal
Bisa ketemu nggak?
“siapa ya ...., aku nggak kenal nomor ini” gumam Ara, Ara berusaha
mengabaikan pesan itu, tapi rasa penasarannya mengalahkan keraguan Ara
Siapa?
Tak berapa lama dari Ara menjawab pesan itu, lagi-lagi berdering,
Ara segera menyambar ponselnya kembali setelah di letakkan kembali di atas meja
*ntar lo juga tahu, ini penting
Temui gue di kafe @#&*
“penting ...., tapi apa ya ....” gumam Ara kembali
Ara jadi penasaran dengan siapa yang sudah mengirim pesan padanya, tidak
begitu banyak orang yang ia kenal, ia tidak terlalu suka berteman
kemudian ia berfikir mungkin ini cara nya biar bisa keluar dari
rumah, Ara pun merasa mendapat angin segar, ia segera berlari menemui bi Anna,
ia mencari-cari ternyata bi Anna ada di dapur
“bi ...” bi Anna yang sedang mengawasi para pelayan memasak segera
menoleh ke sumber suara
“iya nona” bi Anna segera menghampiri Ara karena khawatir dengan
gerakan Ara yang terlalu cepat menurutnya,
“ada yang bisa saya bantu nona?” bi anna segera menundukkan punggungnya
saat sudah di hadapan Ara
“baisa saja bi ...” Ara malah memukul punggung bi Anna pelan
‘maafkan saya nona ...”
“cehhh..., kau menakutiku sebelum aku meminta ijin” gerutu Ara
“bolehkah aku keluar sebentar bi?” Ara memasang senyum dengan giginya
yang berjejer rapi sedikit memiringkan wajahnya supaya bi Anna melihatnya
“maaf nona ...”
__ADS_1
“cihhhh ...., memang tah ada jawaban lain apa?” gerutu Ara
“jadi nggak boleh ya ...” ara menunjukkan wajah melasnya “tapi ini
penting bi ...”
Tapi tetap saja bi Anna tidak merespon ucapan Ara, ia hanya
menunduk
“ijinkan aku keluar sebentar”
“bibi nggak berani non”
“ayolah bik sebentar saja, biar aku yang ijin ibu, bagaimana?”
‘aku pergi dengan pak mun” Ara terus meyakinkan bi anna
Setelah berfikir panjang, akhirnya bi Anna mengijinkan tapi dengan
berbagai syarat salah satunya harus di antar pak Mun, meminta ijin terlebih
dahulu kepada nyonya besar.
walaupun sedikit keberatan
tapi demi kebebasan akhirnya Ara menyetujuinya
“tapi dengan satu syarat lagi nona”
“apa itu?”
“nona harus sudah pulang sebelum nyonya dan tuan muda pulang”
‘iya bi aku janji ...” Ara berhambur memeluk bi Anna, bi Anna yang
mendapat pelukan hanya bisa diam mematung, ia merasa tidak pantas di perlakukan
begitu istimewa oleh majikannya
“jangan seperti ini nona, jika ada yang lihat ...” mendengar
penuturan bi anna, Ara pun segera melepaskan pelukannya
“maafkan aku bi ...”
“tapi maaf nona, para pengawal tetap harus mengikuti anda”
“yaaaah ......”
“saya harus melakukannya nona”
Ara hanya bisa pasrah, memang seperti itu aturan hidupnya sekarang,
apapun yang ia lakukan akan melibatkan banyak orang
Seharusnya bukan hal sulit hanya untuk menurut dan melakukan apa yang
di perintah, tapi Ara bikan orang yang terlalu suka di atur membuatnya begitu
sulit bahkan hanya untuk bilang “ya”
-
-
-
-
-
Dalam hidup ini, kita akan
mendapatkan banyak pilihan yang harus dipilih. Pilih dengan bijak, kemudian
jalani tanpa adanya satu keluhan dan penyesalan. Karena itu semua adalah
pilihan hidupmu
Mengeluh hanya akan menambah
masalahmu, menghambat doamu dan membuat kesal orang-orang disekitarmu.
-
-
-
-
-
-
aku panjangin lagi ya .... READER
__ADS_1
KOMNTAR DAN LIKENYA JANGAN SAMPEK LUPA
KASIH VOTE NYA JUGA