My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 53


__ADS_3

  Ada pepatah


mengatakan “apakah rumput mengeluh saat mereka diinjak ?. Mereka baru menyerah


saat mereka dicabut”


Hidup yang engkau keluhkan terkadang adalah


hidup yang orang lain inginkan. Maka bersyukurlah.


***


Siang ini begitu terik tapi sayang karena gadis itu masih berada di


rumah saja, hawa AC menyelimuti tubuhnya


"mataharinya cerah sekali ....." gumam Ara sambil memandangi langit cerah


Ara merasa sangat bosan, ia hanya bisa berlari-lari di dalam rumah


besar itu, kakinya terasa kaku, gadis yang biasanya tidak bisa diam di satu


tempat harus terkurung di istana itu


Ingin rasanya Ara pergi ke kantor, bekerja seperti biasanya,berkutat


dengan pekerjaannya, menghadiri berbagai pertemuan dan pulang kembali ke rumah


pada waktu petang


Ara mengambil ponselnya mencari kontak seseorang, ia yakin sekarang sudah jamnya makan siang


tut tut tut


hanya sekali panggilan sudah langsung di angkat


"hallo ..., kenapa kau menelponku ...?" suara dari seberang sana


"kenapa kau berteriak ...?" Ara menjauhkan ponselnya dari telinga "dia suka selai berteriak" gerutu Ara


"kenapa? apa kau sudah merindukan aku? jika iya ...., aku akan segera pulang" Agra menggoda Ara dari balip ponselnya


"aku menyesal menelponmu ..."


"bilang saja kau merindukanku ...,"


"baiklah ....., aku ...."


"benrakan ....."


"kau menyebalkan ..." gerutu Ara sambil menutup telponnya sepihak, dan segera melempar kembali ponselnya ke atas meja kecil di depannya


sedangkan di kantor Agra telah tersenyum puas karena berhasil menggoda Ara


"dia menggemaskan sekali pasti ...., aku ingin melihat wajahnya yang merah itu ..." gumam Agra sambil menikmati makan siangnya


"anda tidak pa pa pak?" Rendi yang juga menikmati makan siangnya bersama Agra merasa penasaran


tapi agra hanya membalas dengan senyuman dan tetap melanjutkan makannya tanpa berkeinginan untuk menjawabnya


Ara yang sudah di buat kesal kembali uring-uringan


"dasar ...., bukannya membatu malah ...., mengejekmu ...."


"ini kenapa juga pipiku terasa panas ..." Ara memegangi pipinya yang terasa panas "ahhh ...., tidak-tidak ...., ini tidak boleh ..." Ara menggelengkan kepalanya keras sambil terus memegangi pipinya yang memerah, ada rasa yang aneh saat mendengarkan suara suaminya


rasa aneh itu menjalar begitu jantungnya bekerja lebih cepat, aliran darahnya seakan mengalir lebih cepat


"kau sudah gila Ara ......, berhenti seperti ini ..." Ara mengeluh pada dirinya sendiri


Dulu ia selalu mengeluh karena bosnya selalu memberi tugas yang


lebih hingga tak ada waktu untuk memanjakan diri


Jika melihat keadaannya sekarang , mungkin waktu itu bisa lebih di


syukuri karena ia bisa terbang bebas, tidak seperti sekarang bagai burung dalam


sangkar


Tapi memang hidup itu tiodak boleh selalu mengeluh, karena di dalam


keluh kesah itu akan terasa lebih berat


 ia bukan tipe orang yang


hanya suka berdiam diri di rumah, walaupun segala fasilitas terpenuhi tak


membuatnya nyaman dengan keadaannya sekarang, bahkan kartu yang di berikan ibu


mertua dan suaminya tak pernah ia pakai sedikit pun, bukannya apa, ia seolah


tidak kekurangan apapun


bahkan baju yang sekarang ia kenakan merupana brend dunia, ia tidak


perlu menabung untuk memilikinya, baju itu sudah berjejer rapi di lemarinya,

__ADS_1


sepatu, tas semuanya sudah ada


 tapi apapun keputusannya


saat ini tak bisa di putuskan sendiri, kini dia juga harus memikirkan Agra,suaminya,


walaupun tak ada cinta di antara mereka , tapi dengan seringnya mereka bersama


menyimpan ikatan tersendiri


 kalau Cuma dia yang di usir


mungkin tidak apa- apa tapi kalau Agra juga ikut di usir bagaimana? Itulah yang


selalu ara pikirkan, ia sudah terbiasa hidup susah tapi Agra? Mungkin akan jadi


pukulan yang begitu berat


Apalagi ia juga pernah memeriksa berkas-berkas kantor mengenai


saham Agra yang ternyata hanya lima persen dan 95% nya milik keluarga Agra yang


belum di alihkan atas nama Agra


Tapi sekarang setidaknya Ara tahu jika mungkin alasannya karena


kakak beda ibu itu, mungkin masih ada kendala karena alasan itu, ada orang yang


sedang menginginkan kekuasaan ini


Apa jadinya kalau Agra juga ikut di usir, ia merasa Agra nggak akan


bisa hidup susah seperti dirinya, apalagi jika melihat Agra yang begitu menurut


kepada ibunya, mungkin ada masalah yang besar di dalamnya


Brerttt brertttt brerttt


Tiba-tiba ponsel yang bergetar menyadarkannya dari lamunan, ia


segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke meja kecil tempatnya menaruh


ponsel


*nomor tak dikenal


Bisa ketemu nggak?


“siapa ya ...., aku nggak kenal nomor ini” gumam Ara, Ara berusaha


mengabaikan pesan itu, tapi rasa penasarannya mengalahkan keraguan Ara


Siapa?


Tak berapa lama dari Ara menjawab pesan itu, lagi-lagi berdering,


Ara segera menyambar ponselnya kembali setelah di letakkan kembali di atas meja


*ntar lo juga tahu, ini penting


Temui gue di kafe @#&*


“penting ...., tapi apa ya ....” gumam Ara kembali


Ara jadi penasaran dengan siapa yang sudah mengirim pesan padanya, tidak


begitu banyak orang yang ia kenal, ia tidak terlalu suka berteman


kemudian ia berfikir mungkin ini cara nya biar bisa keluar dari


rumah, Ara pun merasa mendapat angin segar, ia segera berlari menemui bi Anna,


ia mencari-cari ternyata bi Anna ada di dapur


“bi ...” bi Anna yang sedang mengawasi para pelayan memasak segera


menoleh ke sumber suara


“iya nona” bi Anna segera menghampiri Ara karena khawatir dengan


gerakan Ara yang terlalu cepat menurutnya,


“ada yang bisa saya bantu nona?” bi anna segera menundukkan punggungnya


saat sudah di hadapan Ara


“baisa saja bi ...” Ara malah memukul punggung bi Anna pelan


‘maafkan saya nona ...”


“cehhh..., kau menakutiku sebelum aku meminta ijin” gerutu Ara


“bolehkah aku keluar sebentar bi?” Ara memasang senyum dengan giginya


yang berjejer rapi sedikit memiringkan wajahnya supaya bi Anna melihatnya


“maaf nona ...”

__ADS_1


“cihhhh ...., memang tah ada jawaban lain apa?” gerutu Ara


“jadi nggak boleh ya ...” ara menunjukkan wajah melasnya “tapi ini


penting bi ...”


Tapi tetap saja bi Anna tidak merespon ucapan Ara, ia hanya


menunduk


“ijinkan  aku keluar sebentar”


“bibi nggak berani non”


“ayolah bik sebentar saja, biar aku yang ijin ibu, bagaimana?”


‘aku pergi dengan pak mun” Ara terus meyakinkan bi anna


Setelah berfikir panjang, akhirnya bi Anna mengijinkan tapi dengan


berbagai syarat salah satunya harus di antar pak Mun, meminta ijin terlebih


dahulu kepada nyonya besar.


 walaupun sedikit keberatan


tapi demi kebebasan akhirnya Ara menyetujuinya


“tapi dengan satu syarat lagi nona”


“apa itu?”


“nona harus sudah pulang sebelum nyonya dan tuan muda pulang”


‘iya bi aku janji ...” Ara berhambur memeluk bi Anna, bi Anna yang


mendapat pelukan hanya bisa diam mematung, ia merasa tidak pantas di perlakukan


begitu istimewa oleh majikannya


“jangan seperti ini nona, jika ada yang lihat ...” mendengar


penuturan bi anna, Ara pun segera melepaskan pelukannya


“maafkan aku bi ...”


“tapi maaf nona, para pengawal tetap harus mengikuti anda”


“yaaaah ......”


“saya harus melakukannya nona”


Ara hanya bisa pasrah, memang seperti itu aturan hidupnya sekarang,


apapun yang ia lakukan akan melibatkan banyak orang


Seharusnya bukan hal sulit hanya untuk menurut dan melakukan apa yang


di perintah, tapi Ara bikan orang yang terlalu suka di atur membuatnya begitu


sulit bahkan hanya untuk bilang “ya”


-


-


-


-


-


Dalam hidup ini, kita akan


mendapatkan banyak pilihan yang harus dipilih. Pilih dengan bijak, kemudian


jalani tanpa adanya satu keluhan dan penyesalan. Karena itu semua adalah


pilihan hidupmu


Mengeluh hanya akan menambah


masalahmu, menghambat doamu dan membuat kesal orang-orang disekitarmu.


-


-


-


-


-


-


aku panjangin lagi ya .... READER

__ADS_1


KOMNTAR DAN LIKENYA JANGAN SAMPEK LUPA


KASIH VOTE NYA JUGA


__ADS_2