My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 90


__ADS_3

Matahari bersinar cerah pagi ini, langit biru seolah terbentang


tanpa batas, awan pun enggan bertengger di sana, Agra sudah berangkat, kini meninggalkan Ara yang masih sibuk di dapur membuat pesanan, hari ini mbak Rini belum bisa membantu Ara , sehingga Ara tidak membuka lapak kue tradisionalnya


Selain itu Ara juga memiliki rencana lain, setelah selesai dengan


semua pesanan, Ara akan pergi ke pasar, ia ingin membuktikan sesuatu tentang


suaminya, ia ingin melihat sendiri apa yang di omongkan Arman


Setelah semua pesanan telah di antar, Ara pun segera menaiki angkot


menuju ke pasar tradisional tidak jauh dari tempatnya tinggal, 15 menit


kemudian Ara telah sampai di pasar


Setelah memberi ongkos dan turun dari angkot, ara segera menyusuri


pasar, tak lama ia berjalan, dari kejauhan ia melihat Agra, ara pun segera


bersembunyi di balik pedagang sayuran


“mas ..., bisa angkatin ini nggak?” seorang ibu-ibu tampak


menghampiri Agra sambil menunjuk dua karung belanjaan


“baik bu ..., di bawa ke mana bu?” Agra segera mendekati karung


yang di tunjuk ibu itu


“ke sana ya ..., itu ada mobil boks di depan” ibu itu sambil


menunjuk sebuah mobil boks di ujung jalan


Tak menunggu waktu lama Agra pun segera mengangkat karung itu


beberapa kali angkat


“terimakasih ya mas” setelah Agra selesai dengan pekerjaannya ibu


itu kembali menghampiri Agra dan menyerahkan dua lembar uang lima ribuan


“wah ... terimakasih ya buk, besok lagi ya buk” Agra menerima uang


itu dengan senyum yang tersungging di bibirnya


Ara yang melihat pekerjaan suaminya tanpa terasa air matanya


meleleh tanpa di suruh, ia melihat segitu beratnya pengorbanan suaminya demi


menghidupinya


Ara terus mengikuti suaminya hingga tengah hari, ia melihat semua


aktifitas suaminya di pasar, selain sebagai kuli panggul ternyata suaminya juga


berdagang dengan cara mengoper barang dari pedagang yang satu ke pedagang yang


lain, dengan kemampuan marketingnya yang di dapat dari bangku kuliah, membuat


Agra mudah untuk mendapatkan pelanggan, dan tampak pedagang-pedagang besar di


sekitar pasar mencari Agra untuk meminta bantuan menjualkan barang-barangnya, hasilnya


lumayan lebih banyak dari pada gajinya per hari di kafe


Setelah setengah hari, Agra pun segera mandi di kamar mandi umum


dan mengganti pakaiannya yang tadinya mengenakan kaos oblong dan celana jeans


kini sudah berganti dengan pakaian yang di kenalannya saat berangkat tadi pagi


dengan lebih rapi dan berangkat ke kafe, karena dapat sif sore, jam kerjanya di


kafe di mulai jam 16.00, dan berati malam ini Agra akan pulang ke rumah pukul


23.00


Setelah melihat Agra berangkat ke kafe, Ara pun berhenti mengikuti Agra, ia pun meninggalkan pasar dan menuju ke kafe B tempat ia membuat janji dengan Rendi


Ara memasuki kafe dan memilih salah satu meja di dekat pintu masuk, agar Rendi bisa dengan mudah menemukannya


“maaf nona, saya terlambat ...” Rendi menundukkan kepalanya memberi


hormat setelah berada di dekat Ara

__ADS_1


“aku bukan nona mu lagi, jangan terlalu formal padaku, duduklah ...”


Rendi pun tak ada niat untuk membalas kata-kata Ara, ia langsung menggeser


tempat duduk di hadapannya


Mereka pun berada dalam keheningan beberapa saat, tak ada yang berniat memulai pembicaraan, rasanya begitu canggung saat mereka hanya bertemu berdua tanpa Agra hingga seorang pelayan datang menawarkan pesanan memecah


keheningan diantara mereka, mereka pun memilih minuman yang sama


Setelah pelayan pergi keheningan pun kembali tercipta di antara


mereka, hingga Ara mencoba menetralkan suasana


“Hmmm” Ara mencoba menormalkan suaranya yang seakan tercekat di


tenggorokan


“Rend ...” Ara meremas ujung kaosnya di balik meja, untuk


mengurangi kegugupannya


“iya nona” Rendi masih saja bersikap formal


“sudah ku bilang jangan panggil aku nona” Ara meninggikan suaranya


jengkel hingga orang-orang yang duduk di dekat mereka memperhatikan mereka, Ara


yang merasa jadi pusat perhatian hanya bisa tersenyum kikuk, sambil menyatukan


kedua tangannya di depan dada memohon maaf tanpa suara


“aku nggak suka kamu panggil aku nona, jadi aku mohon berhentilah


memanggilku nona” kini Ara memberi penegasan dengan menajamkan matanya pada


Rendi dengan suara yang sedikit berbisik, tapi ternyata tatapan Ara tak membuat


Rendi bergeming


“maaf nona”


“ahhh ..., terserah lah, lagian tujuanku ke sini bukan untuk


membahas itu, terserah kau saja ...” Ara mendesah jengkel sambil menyandarkan


“bagaimana aku bisa bicara santai sama dia kalau dianya kaku banget gitu sikapnya ...” batin Ara sambil terus bersungut memandang Rendi sambil


melipat kedua tangannya di depan perut


“apa yang bisa saya bantu nona?” Rendi yang melihat Ara sudah mulai


kesal, membuatnya tak tega membiarkannya diam dalam kekesalan


 “tolong beritahu aku, apa


alasan ibu membiarkan Agra keluar dari rumah” akhirnya Ara mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya selama tiga bulan ini tanpa penjelasan


“Maaf nona, saya tidak bisa memberi tahu anda” Rendi yang awalnya terkejut segera menetralkan kembali alir mukanya supaya tampak datar, akhirnya yang di takutkan Rendi selama ini terjadi juga


“ok jika kamu tidak mau memberi tahuku, aku akan bertanya sendiri pada ibu atau mungkin pada orang yang menyuruh  Viona menjebak suamiku” Ara sebenarnya hanya


menerka-nerka tentang kemungkinan yang terjadi


“maksud nona? Nona bertemu seseorang?” Rendi berusaha mencari informasi dari Ara


“jadi benar ada orang yang sengaja ingin mencelakai Agra ,,,” batin Ara


“ya ..., sekarang terserah kamu mau cerita atau tidak ...” mendapat ancaman dari Ara , Rendi berusaha mencari alasan agar Ara tidak sampai menemui ibunya Agra ataupun Divta, karena mungkin akibatnya akan lebih buruk


“Anda tidak akan mendapat jawaban dari mereka nona” Rendi berusaha sewajar mungkin.


“kenapa?” Ara benar-benar tak mau mengalah dengan penegasan Rendi


yang terlihat begitu menutupi alasan kepergiannya dari rumah, raut wajah yang


di tunjukkan sama dengan yang di tunjukkan Agra saat Ara menanyakan hal yang


sama, membuat ara semakin curiga


“Mereka tidak ada hubungannya nona, pak Agra sendiri yang


menginginkan pergi dari rumah”


“aku bukan anak kecil Rend, aku juga bukan orang bodoh, jika memang aku tidak mendapatkan jawaban darimu jangan salahkan aku jika aku menemui

__ADS_1


seseorang, permisi ...”


Ara pun sudah tidak sabar mendengar jawaban Rendi yang


seolah berputar-putar, Ara pun berdiri dari duduknya dan meninggalkan Rendi.


Setelah melangkah lima langkah dari duduknya, langkahnya terhenti saat tiba-tiba Rendi kembali memanggilnya


“tunggu nona ...”


Tapi Ara tak jua menoleh ke belakang ia hanya menghentikan


langkahnya, berharap rendi melanjutkan bicaranya dan benar Rendi pun akhirnya


menyerah


Akan lebih gawat jika ia tahu dari Viona pasti Viona akan melebih


lebihkan semuanya


“saya akan memberi tahu nona”


Ara menghela nafas lega dan berbalik duduk kembali di bangkunya, sebenarnya ada rasa was-was dalam hatinya, apakah akan sama setelah ia tahu


kebenarannya?


Rendi terlihat memposisikan diri untuk memulai bicara, ia


membetulkan jas dan dasinya walaupun tidak berantakan, sedangkan Ara sudah


menyiapkan diri untuk mendengarkan penjelasan Rendi


“Apa alasannya?” Ara benar-benar tak sabar


“karena anda nona” Rendi begitu tertekan untuk mengatakannya


“saya ...?”


“ya nona, karena nyonya ingin melindungi anda dan tuan muda ..”


“Sebentar ..., stop..., melindungi apa maksudnya ...? apa kau tahu


apa yang di alami Agra sekarang, dia bekerja keras banting tulang”


“Maafkan saya nona, nyawa tuan muda dan nona akan terancam jika tetap berada di dekat nyonya besar, mengertilah nona ....” Rendi menjelaskan panjang lebar, dan Ara hanya sesekali membenarkan letak kaca matanya yang sama


sekali tak bergeser


“Apa nona mengerti?” karena tak kunjung mendapat tanggapan dari Ara , Rendi pun kembali bertanya


“hehhh ...., aku nggak paham ...” baginya memang penjelasan Rendi cukup rumit untuknya dapat langsung paham


“bisa gunakan bahasa yang mudah untuk saya pahami, intinya saja”


“baik nona, jadi intinya anda harus selalu hati-hati, dan tetap


sembunyikan jati diri anda”


“kenapa?”


“karena tuan muda mencintai anda”


“apa yang salah dengan cintanya?”


“karena anda adalah titik kelemahan tuan muda, akan sangat mudah mencari titik lemah dari pada menyerang dengan terang-terangan”


“Tapi ini salah Rend ..., aku nggak boleh egois, seharusnya aku yang pergi! Agra nggak boleh menderita karena saya, aku harusnya tidak berada di


sisinya jika hanya membuatnya menderita, bilang pada ibu aku yang akan pergi!"


Tangis Ara pecah, walaupun tak tampak bergetar tapi air mata yang tanpa ijin itu terus keluar


“Jangan lakukan itu nona, anda akan semakin membuat pak Agra terpuruk, anda satu-satunya penyemangat dalam hidupnya”


“Aku tidak janji, aku pergi ...!” ucap Ara, ia pun segera bangun dari duduknya, ia keluar dari kafe masih dengan air mata yang berurai, dan menyetop


taksi yang kebetulan lewat


Di dalam taksi Ara hanya bisa terus menangis, ia merasa hidupnya benar-benar tak berguna, apalagi untuk suaminya yang paling ia cintai, bahkan


pengorbanan besar suaminya tak dia ketahui


BERSAMBUNG


jangan lupa kasih upah dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya

__ADS_1


kasih VOTE juga


__ADS_2