
Matahari bersinar cerah pagi ini, langit biru seolah terbentang
tanpa batas, awan pun enggan bertengger di sana, Agra sudah berangkat, kini meninggalkan Ara yang masih sibuk di dapur membuat pesanan, hari ini mbak Rini belum bisa membantu Ara , sehingga Ara tidak membuka lapak kue tradisionalnya
Selain itu Ara juga memiliki rencana lain, setelah selesai dengan
semua pesanan, Ara akan pergi ke pasar, ia ingin membuktikan sesuatu tentang
suaminya, ia ingin melihat sendiri apa yang di omongkan Arman
Setelah semua pesanan telah di antar, Ara pun segera menaiki angkot
menuju ke pasar tradisional tidak jauh dari tempatnya tinggal, 15 menit
kemudian Ara telah sampai di pasar
Setelah memberi ongkos dan turun dari angkot, ara segera menyusuri
pasar, tak lama ia berjalan, dari kejauhan ia melihat Agra, ara pun segera
bersembunyi di balik pedagang sayuran
“mas ..., bisa angkatin ini nggak?” seorang ibu-ibu tampak
menghampiri Agra sambil menunjuk dua karung belanjaan
“baik bu ..., di bawa ke mana bu?” Agra segera mendekati karung
yang di tunjuk ibu itu
“ke sana ya ..., itu ada mobil boks di depan” ibu itu sambil
menunjuk sebuah mobil boks di ujung jalan
Tak menunggu waktu lama Agra pun segera mengangkat karung itu
beberapa kali angkat
“terimakasih ya mas” setelah Agra selesai dengan pekerjaannya ibu
itu kembali menghampiri Agra dan menyerahkan dua lembar uang lima ribuan
“wah ... terimakasih ya buk, besok lagi ya buk” Agra menerima uang
itu dengan senyum yang tersungging di bibirnya
Ara yang melihat pekerjaan suaminya tanpa terasa air matanya
meleleh tanpa di suruh, ia melihat segitu beratnya pengorbanan suaminya demi
menghidupinya
Ara terus mengikuti suaminya hingga tengah hari, ia melihat semua
aktifitas suaminya di pasar, selain sebagai kuli panggul ternyata suaminya juga
berdagang dengan cara mengoper barang dari pedagang yang satu ke pedagang yang
lain, dengan kemampuan marketingnya yang di dapat dari bangku kuliah, membuat
Agra mudah untuk mendapatkan pelanggan, dan tampak pedagang-pedagang besar di
sekitar pasar mencari Agra untuk meminta bantuan menjualkan barang-barangnya, hasilnya
lumayan lebih banyak dari pada gajinya per hari di kafe
Setelah setengah hari, Agra pun segera mandi di kamar mandi umum
dan mengganti pakaiannya yang tadinya mengenakan kaos oblong dan celana jeans
kini sudah berganti dengan pakaian yang di kenalannya saat berangkat tadi pagi
dengan lebih rapi dan berangkat ke kafe, karena dapat sif sore, jam kerjanya di
kafe di mulai jam 16.00, dan berati malam ini Agra akan pulang ke rumah pukul
23.00
Setelah melihat Agra berangkat ke kafe, Ara pun berhenti mengikuti Agra, ia pun meninggalkan pasar dan menuju ke kafe B tempat ia membuat janji dengan Rendi
Ara memasuki kafe dan memilih salah satu meja di dekat pintu masuk, agar Rendi bisa dengan mudah menemukannya
“maaf nona, saya terlambat ...” Rendi menundukkan kepalanya memberi
hormat setelah berada di dekat Ara
__ADS_1
“aku bukan nona mu lagi, jangan terlalu formal padaku, duduklah ...”
Rendi pun tak ada niat untuk membalas kata-kata Ara, ia langsung menggeser
tempat duduk di hadapannya
Mereka pun berada dalam keheningan beberapa saat, tak ada yang berniat memulai pembicaraan, rasanya begitu canggung saat mereka hanya bertemu berdua tanpa Agra hingga seorang pelayan datang menawarkan pesanan memecah
keheningan diantara mereka, mereka pun memilih minuman yang sama
Setelah pelayan pergi keheningan pun kembali tercipta di antara
mereka, hingga Ara mencoba menetralkan suasana
“Hmmm” Ara mencoba menormalkan suaranya yang seakan tercekat di
tenggorokan
“Rend ...” Ara meremas ujung kaosnya di balik meja, untuk
mengurangi kegugupannya
“iya nona” Rendi masih saja bersikap formal
“sudah ku bilang jangan panggil aku nona” Ara meninggikan suaranya
jengkel hingga orang-orang yang duduk di dekat mereka memperhatikan mereka, Ara
yang merasa jadi pusat perhatian hanya bisa tersenyum kikuk, sambil menyatukan
kedua tangannya di depan dada memohon maaf tanpa suara
“aku nggak suka kamu panggil aku nona, jadi aku mohon berhentilah
memanggilku nona” kini Ara memberi penegasan dengan menajamkan matanya pada
Rendi dengan suara yang sedikit berbisik, tapi ternyata tatapan Ara tak membuat
Rendi bergeming
“maaf nona”
“ahhh ..., terserah lah, lagian tujuanku ke sini bukan untuk
membahas itu, terserah kau saja ...” Ara mendesah jengkel sambil menyandarkan
“bagaimana aku bisa bicara santai sama dia kalau dianya kaku banget gitu sikapnya ...” batin Ara sambil terus bersungut memandang Rendi sambil
melipat kedua tangannya di depan perut
“apa yang bisa saya bantu nona?” Rendi yang melihat Ara sudah mulai
kesal, membuatnya tak tega membiarkannya diam dalam kekesalan
“tolong beritahu aku, apa
alasan ibu membiarkan Agra keluar dari rumah” akhirnya Ara mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya selama tiga bulan ini tanpa penjelasan
“Maaf nona, saya tidak bisa memberi tahu anda” Rendi yang awalnya terkejut segera menetralkan kembali alir mukanya supaya tampak datar, akhirnya yang di takutkan Rendi selama ini terjadi juga
“ok jika kamu tidak mau memberi tahuku, aku akan bertanya sendiri pada ibu atau mungkin pada orang yang menyuruh Viona menjebak suamiku” Ara sebenarnya hanya
menerka-nerka tentang kemungkinan yang terjadi
“maksud nona? Nona bertemu seseorang?” Rendi berusaha mencari informasi dari Ara
“jadi benar ada orang yang sengaja ingin mencelakai Agra ,,,” batin Ara
“ya ..., sekarang terserah kamu mau cerita atau tidak ...” mendapat ancaman dari Ara , Rendi berusaha mencari alasan agar Ara tidak sampai menemui ibunya Agra ataupun Divta, karena mungkin akibatnya akan lebih buruk
“Anda tidak akan mendapat jawaban dari mereka nona” Rendi berusaha sewajar mungkin.
“kenapa?” Ara benar-benar tak mau mengalah dengan penegasan Rendi
yang terlihat begitu menutupi alasan kepergiannya dari rumah, raut wajah yang
di tunjukkan sama dengan yang di tunjukkan Agra saat Ara menanyakan hal yang
sama, membuat ara semakin curiga
“Mereka tidak ada hubungannya nona, pak Agra sendiri yang
menginginkan pergi dari rumah”
“aku bukan anak kecil Rend, aku juga bukan orang bodoh, jika memang aku tidak mendapatkan jawaban darimu jangan salahkan aku jika aku menemui
__ADS_1
seseorang, permisi ...”
Ara pun sudah tidak sabar mendengar jawaban Rendi yang
seolah berputar-putar, Ara pun berdiri dari duduknya dan meninggalkan Rendi.
Setelah melangkah lima langkah dari duduknya, langkahnya terhenti saat tiba-tiba Rendi kembali memanggilnya
“tunggu nona ...”
Tapi Ara tak jua menoleh ke belakang ia hanya menghentikan
langkahnya, berharap rendi melanjutkan bicaranya dan benar Rendi pun akhirnya
menyerah
Akan lebih gawat jika ia tahu dari Viona pasti Viona akan melebih
lebihkan semuanya
“saya akan memberi tahu nona”
Ara menghela nafas lega dan berbalik duduk kembali di bangkunya, sebenarnya ada rasa was-was dalam hatinya, apakah akan sama setelah ia tahu
kebenarannya?
Rendi terlihat memposisikan diri untuk memulai bicara, ia
membetulkan jas dan dasinya walaupun tidak berantakan, sedangkan Ara sudah
menyiapkan diri untuk mendengarkan penjelasan Rendi
“Apa alasannya?” Ara benar-benar tak sabar
“karena anda nona” Rendi begitu tertekan untuk mengatakannya
“saya ...?”
“ya nona, karena nyonya ingin melindungi anda dan tuan muda ..”
“Sebentar ..., stop..., melindungi apa maksudnya ...? apa kau tahu
apa yang di alami Agra sekarang, dia bekerja keras banting tulang”
“Maafkan saya nona, nyawa tuan muda dan nona akan terancam jika tetap berada di dekat nyonya besar, mengertilah nona ....” Rendi menjelaskan panjang lebar, dan Ara hanya sesekali membenarkan letak kaca matanya yang sama
sekali tak bergeser
“Apa nona mengerti?” karena tak kunjung mendapat tanggapan dari Ara , Rendi pun kembali bertanya
“hehhh ...., aku nggak paham ...” baginya memang penjelasan Rendi cukup rumit untuknya dapat langsung paham
“bisa gunakan bahasa yang mudah untuk saya pahami, intinya saja”
“baik nona, jadi intinya anda harus selalu hati-hati, dan tetap
sembunyikan jati diri anda”
“kenapa?”
“karena tuan muda mencintai anda”
“apa yang salah dengan cintanya?”
“karena anda adalah titik kelemahan tuan muda, akan sangat mudah mencari titik lemah dari pada menyerang dengan terang-terangan”
“Tapi ini salah Rend ..., aku nggak boleh egois, seharusnya aku yang pergi! Agra nggak boleh menderita karena saya, aku harusnya tidak berada di
sisinya jika hanya membuatnya menderita, bilang pada ibu aku yang akan pergi!"
Tangis Ara pecah, walaupun tak tampak bergetar tapi air mata yang tanpa ijin itu terus keluar
“Jangan lakukan itu nona, anda akan semakin membuat pak Agra terpuruk, anda satu-satunya penyemangat dalam hidupnya”
“Aku tidak janji, aku pergi ...!” ucap Ara, ia pun segera bangun dari duduknya, ia keluar dari kafe masih dengan air mata yang berurai, dan menyetop
taksi yang kebetulan lewat
Di dalam taksi Ara hanya bisa terus menangis, ia merasa hidupnya benar-benar tak berguna, apalagi untuk suaminya yang paling ia cintai, bahkan
pengorbanan besar suaminya tak dia ketahui
BERSAMBUNG
jangan lupa kasih upah dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
__ADS_1
kasih VOTE juga