
Bagianmu yang sesungguhnya dari dunia ini adalah yang memberimu kehormatan diri
#Ali bin Abi Thalib
“Banyak orang berpikir bahwa jika mereka berada di
tempat lain, atau memiliki pekerjaan lain, mereka akan bahagia. Namun, itu
meragukan. Oleh sebab itu, dapatkan kebahagiaan sebanyak-banyaknya dari apa
yang Anda lakukan semampu Anda dan jangan menunda untuk bahagia sampai masa
depan tiba.” By Dale Carnegie
***
Akhirnya Ara bisa pergi dengan di antar pak Mun dan dua pengawal
yang menggunakan mobil yang berbeda, mereka keluar dari rumah besar itu,
mobilnya melaju dengan begitu nyaman, Ara duduk di sebelah pak Mun, walau pun
awalnya pak Mun menyuruhnya untuk duduk di kursi belakang, Ara tetaplah Ara,
apa yang dia pikirkan itulah yang akan dia lakukan
Walaupun sekarang jarang ia mengenakan kaca matanya, tapi entah apa
yang membuatnya begitu nyaman dengan dengan kaca matanya, kaca mata ini akan
sedikit menutupi kesedihannya
“wah ..., aku benar-benar merasa seperti putri dari kerajaan, kemana-mana
harus di kawal” gumamnya saat melihat mobil yang mengikutinya dari belakang,
tapi bukan Ara orangnya jika tidak bisa menikmati setiap detik dalam
kehidupannya dengan selalu menyelipkan kebahagiaan
Di dalam mobil, ara benar-benar canggung dengan pak Mun karena
selalu diam saja dan bila di tanya pak Mun hanya menjawab seperlunya, pak Mun
hampir sama dengan bi anna , ia akan sangat menutup rapat apa pun yang bukan
ranahnya untuk bicara
“pak Mun boleh nggak aku tanya?” Ara menatap wajah pak Mun yang
masih menatap lurus ke depan
“silahkan nona” Pak Mun menjawab dengan wajah datarnya
“memang semua orang yang ada di tempat itu tak ada yang boleh
berekspresi ya, kenapa semuanya datar saja” batin Ara
Ara menghela nafas untuk memulai pertanyaannya, berharap dia akan
mendapatkan jawaban yang di butuhkan
“bagaimana masa kecilnya pak Agra?”
“silahkan nona tanya sendiri pada tuan muda nona” pak Mun menjawab
dengan cepat dan pasti
“tuh kan benar ..., kayaknya nggak ada yang boleh memiliki hatinya
sendiri deh, semua orang hanya harus patuh dan tunduk, membosankan sekali ...”
batin Ara lagi
“itu bukan jawaban pak, ya udah aku ganti, bagaimana hubungan ibu
dan pak Agra?”
“mohon maaf nona”
“ih..., nggak seru pak Mun” akhirnya Ara hanya bisa diam, percuma
mengorek informasi dari pak Mun tak juga mendapat jawaban
Tak berapa lama mereka sampai di plataran sebuah kafeyang di tunjuk
Ara, Ara mengamati kafe itu dari dalam mobil sebelum turun
“pak mun di mobil saja ya, aku Cuma sebentar kok”
“maaf nona, saya sudah berjanji pada nyonya”
Mendengar jawaban pak Mun jelas menbuat Ara kecewa, ia sungguh tak
bisa bernegosiasi kalau sudah berhubungan dengan nyonya besar mereka, karena
ini memang salah satu syarat yang lainnya, Ara boleh keluar rumah tapi harus
selalu di dampingi pak Mun atau pengawal yang lain, berasa tuan putri saja
“tapi pak mun pakek meja yang berbeda ya, awasi aku dari meja lain
saja, pura-pura saja tidak kenal”
‘baik nona”
Ara pun memasuki kafe dengan pak mun yang mengekor di belakangnya,
sebelum masuk si pemberi pesan sudah menunjukkan lokasinya,
Ara mengedarkan pandangan ke
segala penjuru, ia kembali lagi membuka pesannya
“aku memakai topi dan jaket
warna hitam di ujung samping kaca besar”
setelah melihat pesan itu, Ara
melanjutkan langkannya ke ujung kafe, dan benar di sana ada seseorang yang
sedang duduk membelakangi dari tempatnya berdiri
Seseorang itu mengenakan topi dan jaket warna hitam, tapi jika di
luhat dari belakang sepertinya seorang perempuan karena terlihat rambut
__ADS_1
panjangnya di balik topi itu
Ara pun segera mendekati orang itu
“selamat siang nona” Ara menyapa
Wanita itu pun berdiri, setelah Ara tepat di depannya , Ara pun
baru menyadari siapa yang sedang di temuinya, tau gitu ia tidak ngotot untuk
keluar, ara sedikit menyesal, seharusnya bukan itu yang dia lakukan, tapi
karena sudah terlanjur mau apa lagi
“nona Viona”
“akhirnya kau datang ...., duduklah ...” Viona pun mempersilahkan
Ara untuk duduk, Ara pun duduk
berhadapan dengan Viona,
“maaf aku harus berpenampilan seperti ini, karena aku tidak mau
menjadi pusat perhatian di sini, aku sengaja memilih tempat yang ramai, supaya
kau tidak merasa takut karena aku mengundangmu dengan sedikit misterius”
“tidak pa pa nona” Ara pun segera duduk di tempat yang memang hanya
menyediakan dua tempat duduk di meja itu, satu untuknya dan satunya lagi untuk
Viona
Pak mun dan dua pengawal itu duduk tak jauh dari tempatnyaAra dan
Viona, ia tidak mau luput dari pengawasannya karena keselamatan Ara adalah
tanggung jawabnya, karena ia telah menjadi sopir pribadi untuk Ara
“bagaimana kabar Agra? Maaf aku menanyakan ini padamu karena kau
yang paling dekat dengan Agra selama ini” ucap Viona sambil meneguk minuman di
depannya
“pak Agra baik nona, anda tidak usah sungkan”
“aku benar-benar merindukannya, ia mengabaikan telpon dan pesanku,
bahkan aku tidak di ijinkan untuk masuk ke kantornya, aku juga sudah tidak
menemukannya di apartemennya” Viona berucap dengan mata yang mulai berair,
seperti memendam rasa bersalah yang sangat besar
ada rasa bersalah dalam lubuk hati Ara saat berhadapan dengan
wanita ini, bagaimana pun kini ia telah menikahi kekasih wanita di depannya,
tapi tak bisa ia punkiri kini hatinya juga ikut teriris saat wanita di depannya
mengungkapkan perasaannya, sebenarnya matanya sudah mulai panas, tapi ia tetap
menahannya supaya wanita di depannya tidak melihat itu
terlalu berbasa-basi, rasanya aneh jika terlalu lama berhadapan dengan wanita
di depannya, ada rasa nyeri yang menjalar ketika mengingat kemesraan wanita di
depannya dengan Agra yang sekarang menjadi suaminya
“suami ...., kenapa dadaku bergetar saat mengingat kata itu ...”
batin Ara
“aku benar-benar menyesal saat itu, aku dan Vino hanya sebatas
pelampiasan, aku lebih mencintai Agra, dia begitu berti untukku”
“tapi nona telah membuat kesalahan besar dengan menduakannya”
“aku menyesal Ra..., aku ingin memulainya kembali dan tak akan ku
lakukan kesalahan yang sama” Viona terus berbicara sambil sesekali mengusap air
matanya yang mengalir derah melewati pipi bersihnya
‘apakah nona Viona sudah mengetahui hubunganku dengan pak Agra ya
..., hingga menyuruhku datang, jangan-jangan dia akan mencakar wajahku,
menjambak rambutku” batin Ara sambil bergidik ngeri
“kamu kenapa?” tanya Viona saat menyadari mata Ara yang ikut
memerah
‘tidak pa-pa, saya Cuma terharu mendengar penyesalan nona...” Ara
mencoba mencari alasan
“ya Tuhan ...., lindungi aku ......” batin Ara lagi sambil
mengambil gelas di depannya dan segera meneguknya
“maafkan aku sudah membuatmu ikut masuk dalam masalahku”
“maksud nona?”
“aku masih sangat mencintai Agra, Ra..., tolong aku, bantu aku”
“apa yang bisa aku lakukan nona?”
“tolong bujuk Agra untukku, buat agra kembali padaku, setelah ini
aku tidak akan melupakan jasamu, kau meminta berapapun aku akan berikan”
mendengar pernyataan Viona entah kenapa hati Ara seperti teriris belati, ada
rasa tak rela di dalam sana, di dalam lubuk hatinya yang terdalam
Melihat nonanya memegang dadanya dan mulai mengeluarkan iar mata,
membuat pak mun hampir saja berdiri dari duduknya, untuk saja ara segera
menyadari gerakan pak mun, ia segera menatap pak Mun dan sedikit menggelengkan
__ADS_1
kepalanya, memintanya untuk tetap di tempatnya
“Maksud nona?”
“aku tahu semuanya tidak gratis, aku akan membayarmu untuk
pekerjaan ini, aku akan memberi berapapun yang kau minta, setelah berhasil
melakukannya”
“maaf nona, aku tidak membutuhkannya” jawab Ara tegas, hatinya
terluka dengan sikap Viona
“cihhhh......, kau sombong sekali, aku tahu kau membutuhkan banyak
uang, janganbersikap kau tak butuh uang sama sekali”
“aku memang tak butuh uang untuk saat ini nona, aku punya gold card
yang tak akan pernah habis walau aku membeli seluruh isi kafe ini” batin Ara
menyombongkan diri karena tidak suka dengan ucapan Viona
“kenapa anda memilih saya? Anda bisa meminta bantuan pada pak Rendi
misalnya”
“Rendi tak begitu suka padaku ....”
“aku sebenarnya juga tak begitu suka padamu saat meluhat
kesombonganmu, awalnya aku simpati padamu, tapi kemudian kau menjatuhkan harga
dirimu sendiri dengan menyodorkan sejumlah uang” batin Ara kesal
“bagaimana ra? Apa kau setuju? Aku akan memberikan uang muka padamu
sebagai awal kesepakatan”
“simpan saja uang nona, aku akan membantu semampuku”
“janganlah meninggikan harga dirimu, kau hanya karyawan rendahan” Viona sedikit terlihat kesal
"cihhh ....., dia sonbong sekali ...., bagaimana bisa pak Agra cinta sama orang sesonmbong dan searogan ini" batin Ara
“maaf nona, sepertinya pembicaraan ini harus berakhir, saya permisi”
Ara segera berdiri dan menundukkan kepalanya memberi hormat
Ara meninggalkan Viona seorang diri, tak memperdulikan wanita yang
sedang menahan amarah itu, Viona menggebrak mejanya keras menumpahkan
kekesalannya
Tapi matanya terperangah seketika ketika melihat pak Mun dan dua
pengawal berjalan memunggungi tempatnya duduk , menuju pintu keluar beberapa
waktu setelah Ara keluar
“itu bukankah supirnya Agra? Kenapa dia di sini? Apa mungkin Agra
juga di sini, dimana dia?’
Viona mengedarkan pandangannya tapi tak juga
menemukan sosok yang ia cari, Viona tahu jika pak Mun adalah sopir pribadi Agra
sebelum beralih menjadi sopir pribadi Ara karena dulu saat mereka bersama sering
sekali pak Mun yang menjadi sopirnya, walaupun tidak tahu namanya tapi ia hafal
wajahnya
Maklumlah Viona adalah model terkenal, baginya tidak penting
mengingat nama orang yang di anggapnya tidak penting dalam hidupnya, tapi siapa
tahu suatu saat itu akan menjadi hal yang sangat penting untuk hidupnya
-
-
-
-
-
-
Menulislah dengan kepolosan dan
kejujuran hati, serta kesederhanaan pemikiran. Itulah nyawa bagi mata pena dan
tinta akan memberikan sikap yang baik bagi kata-kata.
by Firman Nofeki
-
-
-
-
-
AUTHOR PANJANGIN LAGI YA CERITANYA,
JANGAN LUPA KASIH DUKUNGANNYA DENGAN MENEKAN TOMBOL LIKE
TRUS KASIH KOMENTAR SEDIKIT
BALIK LAGI KE LAMAN DEPAN KASIH VOTE NYA YA ......
I LOPE YOU .....
BIAR TAMBAH LOPE LOPE DEH POKOKNYA
__ADS_1